Tags

FROZEN PLAYLISTt

Title                            : FROZEN PLAYLIST – Track 2

Author                    : @dcnirwana ( www.blameonblack.wordpress.com )

Genre                       : romance

Rate                           : General

Type                           : Drama Fiction

Main Cast              :

  • Park Nichan (OC)
  • Cho Kyuhyun

Disclaimer                  : I OWN THE PLOT and thank you for Melbourne by Winna Efendi for the inspiration (short term of remake) for this drama fiction 🙂

 

TRACK 2

CATCHING FEELINGS

-Park Nichan-

Cinta itu rumit, tapi setiap orang tidak sabar untuk jatuh ke dalam kerumitan itu dan ikut tersangkut dalam jaringnya. Jika ada orang yang bertanya seperti apa cinta bagiku, jawaban itulah yang aku berikan. Kita tidak akan benar-benar tahu apa itu cinta. Menangkap getar-getar dalam dada yang diselimuti rasa cemas namun membahagiakan lalu memberinya label dengan nama cinta.

Aku memang baru satu kali jatuh cinta. Bisa dibilang dia adalah cinta pertamaku. Sejauh yang aku rasakan, cinta pertama adalah ketika untuk pertama kalinya dalam hidup, kita mampu melihat segala sesuatu dengan lebih jelas, merasa lebih hidup, dan ingin jadi versi terbaik dari diri sendiri, saat dia berada di samping kita. Saat hidup berubah berantakan dan masih bisa berpikir, screw this mess, at least I still have him by my side.

Tapi dia sudah tidak disini lagi. Disampingku kini duduklah Evelyn masih saja berceloteh didepan mikrofon. “Okay, sebentar lagi musim gugur akan segera berakhir dan musim dingin akan datang. Musim dingin penuh keajaiban dan kesenangan. Harapan baru karena natal dan tahun baru. So, let’s ask Shana to confess the pray.”

Secepat itukah waktu berjalan mengubur detik-detik yang berlalu atas nama sejarah. Musim gugur sudah berlalu dan aku sedikit ragu untuk menyambut musim selanjutnya. Atau lebih tepatnya aku belum siap menyambut kembali musim gugur. Karena salju dan musim dingin membuat kenanganku tentang pria itu terkuak kembali. Tentang seorang Cho Kyuhyun.

“Shana?” Eve membuyarkan lamunanku. Aku memandangnya dan bergumam untuk merespon. Dia kembali bertanya dengan sedikit tidak sabar, “Your pray for winter?”

“Dedaunan yang menguning, untaian angin musim gugur, tolong katakan pada salju, bila aku jatuh cinta, tolong lukiskan cerita yang indah.”

Aku tak tahu harus mengucapkan lagi. Lagi pula, musim dingin selalu melambangkan cinta untukku. Kuharap, Evelyn tidak keberatan dengan apa yang aku katakan. Tapi aku justru menemukannya sedang menatapku seakan aku ini cincin dengan berlian sepuluh karat.

That’s deep.” Ujarnya. Aku tersenyum menanggapi. Kemudian dia kembali berceloteh tentang detail acara ini untuk malam minggu depan seperti tema dan bintang tamunya. Sementara aku mendapat tugas terakhir untuk memilih lagu penutup. Saat aku menikmati memilah lagu, ada satu lagu yang menarik perhatianku.

Back to you dari John Mayer.

Kurasa lagu ini lagu yang tepat untuk malam ini. Lagu yang tepat untuk menutup musim gugur dan menyambut kembali musim dingin. Lagu yang mengisyaratkan kembalinya sesuatu dari masa lalu. Karena nyatanya aku merasa aku ditarik kembali pada beberapa musim dingin yang telah berlalu. Mungkin aku tidak akan merasa terlalu terjebak masa lalu seandainya saja tidak ada pesan itu.

Someone from the past, huh?” Evelyn berujar menggodaku saat membaca pesan itu dari layar komputer khusus respon pendengar.

I have no idea and no answer deeper.” Responku.

Kulihat Evelyn memainkan mimik mukanya tidak percaya. Aku mengacuhkan pandanganku dan segera berjalan keluar studio. Kudengar derap langkahnya menyusulku kemudian aku menagih janjinya yang akan mengantarku pulang setelah siaran.

“Bisa antar aku ke Riverview? I need some latte.

Are you nuts? Latte? Malam-malam seperti ini?” Evelyn menatapku jengah. “Kau tidak mau tidur atau apa?”

“Aku hanya ingin santai malam ini. Novel yang bagus dan secangkir vanilla latte.”

“Kurasa darah ditubuhmu sudah berubah menjadi vanilla latte.”

Aku tidak peduli. Aku hanya ingin segera mendudukan diriku di atas sofa empuk di sudut kedai itu. Menyeruput secangkir hangat vanilla latte dan segera tenggelam dalam fiksi karya Jostein Gaarder. Setidaknya aku berharap hal itu akan membuatku melupakan tentang masa lalu, musim dingin dan pria itu.

Kalau boleh jujur, aku tidak pernah menganggap istimewa pertemuan pertamaku dengan dirinya. Bahkan aku tidak terlalu memerhatikannya karena yang ada dipikiranku adalah bagaimana aku menemukan ipod milikku. Pertemuan-pertemuan setelahnyalah yang cukup menarik perhatianku.

Aku melakukan rutinitas harianku. Sepulang kuliah, aku segera menuju Riverview untuk sekedar menikmati racikan khusus seorang barista berupa segelas green tea frappuccino. Gila memang karena itu saat penghujung musim gugur yang membawa angin musim dingin yang cukup memilukan tulang.

Setelah memesan minuman pada Max, aku segera melenggangkan kaki menuju spot faforitku. Sebuah meja tersembunyi di balik meja bar yang langsung menghadap pada dinding kaca yang menyajikan pemandangan danau dengan angsa-angsa putih yang berdansa dalam diamnya. Ah, membayangkan itu membuatku semakin ingin merebahkan diri dalam sofa empuk berwarna merah bata itu.

Kemudian saat aku tengah menikmati novel Wuthering Heights, Max mengangguku dan membawa seseorang dibelakangnya. Alasan Max membawanya karena Riverview saat itu sedang sangat ramai dan sudah tidak ada meja yang tersisa. Aku tidak menolak karena Max membawa faktor kampung halaman kami, Korea Selatan. Jadi aku terpaksa duduk satu meja dengannya.

Sebenarnya aku tidak suka saat waktu kesendirianku terusik oleh orang lain terlebih lagi orang asing. Lagipula hanya sehari ini aku harus duduk bersamanya sehingga aku tidak memermasalahkannya lebih jauh.

Namun, keesokan harinya dia kembali. Lalu setelah hari itu dan bahkan untuk hari-hari setelahnya, pria itu hadir lagi. Di tempat faforitnya. Aku sudah merasa jengah untuk mengalah untuk pergi lebih dahulu. Lagi pula, tempat ini sudah menjadi milikku dan aku tidak mau repot-repot untuk mencari tempat lain yang kurang ampuh menarik diri keluar dari rasa penatku. Jadi aku langsung merebahkan tubuhku di atas sofa lalu mengangkat kaki dan menyilangkannya. Kemudian menenggelamkan diri dalam novel yang baru kubeli.

Pria itu sibuk mengetik sesuatu sementara aku tenggelam dalam dunia fiksi. Meski sebenarnya aku tidak benar-benar membaca buku itu. Pikiranku saat itu sibuk mencerna tentang apa yang sebenarnya terjadi antara kami. Dalam beberapa hari kami duduk dalam meja yang sama. Pada beberapa waktu yang tak terduga, kami pernah bertatapan satu sama lain, lalu cepat-cepat mengalihkannya ketika kami sadar sudah menatap terlalu lama. Beberapa menit kemudian, kami akan berusaha melirik satu sama lain lagi secara diam-diam, tetapi sama-sama canggung untuk menyapa.

Untuk menyapa pria itu, aku merasa malas –malu lebih tepatnya. Lagi pula untuk apa? Sementara, pria itu terlihat belum menemukan saat yang tepat untuk menyapaku. Dan aku tidak terlalu mengharapkannya untuk terjadi.

Pada satu waktu, aku merasa selalu ingin memandang wajah pria itu. Meneliti setiap pahatan di wajahnya. Rambutnya yang hitam kecoklatan, tebal dan berantakan, seolah-olah dia membiarkannya selalu seperti itu. Alisnya tebal dan berwarna sedikit lebih terang dari rambutnya. Sementara kelopak matanya menyimpan bola mata yang tajam bercahaya meski kadang mata itu terlihat sayu. Hidungnya mancung dengan tegas. Bibirnya merah muda selalu bergumam kecil saat mengetik dengan serius.

Lalu, pada satu celah waktu, dia akan secara terang-terangan memandangiku dari balik kacamatanya. Dia akan tersenyum kecil saat aku terlalu tenggelam dalam duniaku sendiri. Aku selalu sadar akan hal itu –bahwa aku sedang dilihat olehnya. Biasanya aku akan salah tingkah. Tanganku yang bergetar akan kukamuflasekan dengan gerakan membalik halaman buku dan berdeham kecil.

Hingga ahirnya dia memutuskan untuk memecah keheningan kami. Saat itu dia sedang memandangku tanpa sekat. Jujur, aku merasa jengah dipandangi seperti ini. Bukannya aku tidak suka. Buktinya, senyum dibibirku saat itu sedang tersungging malu-malu. Bersamanya, ada sebuah sesak yang membahagiakan di dalam dada.

Aku hanya tidak terbiasa merasakannya.

Aku menghela nafasnya. Menyelipkan sebuah pembatas buku lalu menutup rapat novel itu. Aku menolehkan kepalanya kearah jendela. Matahari sudah nyaris terbenam. Angsa-angsa di danau itu berhasil terbang dengan indahnya.

Lalu aku mendengar suaranya untuk mengajakku menikmati senja di danau Bellevue di seberang kedai kopi ini. Harus aku akui caranya mengajakku keluar itu bukanlah cara pria sejati mengajak seorang wanita.

“Apa kau mau melihatnya angsa itu dari dekat dan menikmati senja di dermaga danau?” ucapnya waktu itu.

Aku hanya memandanginya dengan matanya yang membulat. Aku juga mengedipkan mata berulang kali. Saat itu mungkin aku terlihat bodoh. Setelah berhari-hari duduk bersama menikmati kopi masing-masing dalam diam, reaksi seperti ini tidak berlebihan, bukan?

Pria itu berdiri kemudian tersenyum. “Ayo!” ucapnya lalu segera berjalan keluar.

Aku hanya melongo saat meliat punggung itu berjalan menjauh. Namun, entah kenapa aku segera merapikan barang-barangku dan bergegas menyusulnya.

“Indah, kan?” Dia tersenyum. Matanya yang tidak dihiasi kaca mata itu menatap angsa-angsa yang masih berdansa dalam diam. Aku tidak menjawab tapi hatiku menyetujui pendapatnya.

“Oh, namaku Kyuhyun. Cho Kyuhyun.”

Entah kenapa aku menghembuskan nafas lega saat dia menyebutkan namanya. Kemudian aku menjawab uluran tangan pria itu dan menyebutkan namaku. Aneh, saat berjabatan, aku merasa hangat di bawah tekanan dinginnya angin musim gugur.

Pria itu –Kyuhyun sudah melepas tangannya dan menyimpannya ke dalam kedua saku celana hitamnya. Matanya kembali menikmati tarian angsa-angsa itu. Namun, aku tidak bergeming, aku masih menatap setiap lekuk wajah Kyuhyun. Kali ini tanpa rasa kikuk dan tidak perlu sembunyi-sembunyi.

“Apa kau akan terus menatapku seperti itu?” Kyuhyun kini bertanya sangsi.

Aku menelengkan kepalaku. “Aku hanya ingin melihat wajah orang asing yang sudah tanpa permisi duduk di mejaku.”

“Atas dasar apa kau mengklaim tempat itu?” Kyuhyun balik bertanya.

“Sejak tahun lalu aku selalu duduk di tempat itu dan tidak pernah duduk di meja lain. Tempat itu spot kesukaanku.”

“Tapi kau belum membeli hak miliknya, kan? Jadi tempat itu secara hukum bukan milikmu.” Kyuhyun menimpalinya dengan santai. “Lagi pula saat aku datang tempat itu masih kosong. Justru kau yang asing dan duduk di hadapanku.”

Aku menggembungkan pipinya pertanda kesal. Sementara aku melihatnya melipat kedua tangannya di depan dada. “Kau pria menyebalkan!”

“Karena kau gadis yang terlalu menyenangkan untuk digoda.” Selepas itu dia tertawa lepas. Tawa pertama yang dia tunjukan. Hal itu sekali lagi membuat perasaanku menjadi lebih hangat.

Hal yang terjadi selanjutnya, kalian bisa menebaknya. Kami saling berkenalan dan mengobrol panjang. Jujur aku bukan tipikal gadis yang cepat dekat dengar orang baru. Namun, Kyuhyun berhasil mencairkan suasana dan membiarkan percakapan kami mengalir alami. Aku tidak merasa jengah dan tidak perlu berpura-pura menikmati percakapan kami. Justru Kyuhyun berhasil mengundang tawaku sesekali. Terlebih saat dia membicarakan cahaya. “I love the ideas of light. Menurutku, cahaya itu mengagumkan.” Begitu katanya. Aku diam menikmati narasinya. Kyuhyun masih bercerita dengan gesturnya yang lengkap. Aku dengan setia mendengarkan dan dia tidak bisa berhenti tersenyum. Kurasa dia benar-benar menyukai topik cahaya.

Saat kami harus berpisah tidak ada tawa. Tidak ada senyum. Kami baru resmi berkenalan hari itu, tapi aku merasakan rasa sulit untuk berpisah.

“Besok kau akan ada disini lagi, kan?” dia bertanya pelan. “Selalu.” Aku mengangguk dan tersenyum.

Aku tidak tahu bagaimana persisnya mendefinisikan rasa yang kumiliki saat aku bersamanya saat itu. Apakah kagum, rasa tertarik, atau sekedar solidaritas karena kami memiliki sesuatu yang tidak dipahami orang lain. Namun, detik itu, aku merasakan sedikit percikan aneh dalam hatiku saat menikmati senja di Bellevue Lake dengannya. Saat itu aku mencoba untuk bertahan dan menikmatinya sedikit lebih lama.

Aku dengan perasaan ringan berjalan melawan arah. Rencananya aku ingin menghabiskan malam ini ditemani buku dan latte dari Riverview, namun tanpa bisa dikendalikan lagi, kakiku melangkah menuju bibir danau Bellevue. Sambil melangkah, aku mengamati sehelai daun yang menguning, diterpa angin musim gugur, melayang mengikuti irama angin yang membawanya dengan santai. Lalu jatuh ke atas tanah. Perlahan aku sadar, musim gugur bukan sekedar soal daun-daun yang menguning dan berlomba untuk berjatuhan dari ranting pohon. Melainkan tentang uap air yang menguap lalu terbang ke atmosfer. Lalu mendingin pada titik tertentu, kemudian menggumpal membentuk awan. Hanya butuh watu untuk turun ke bumi. Saat itu aku tidak sabar menunggu salju turun. Aku tidak sabar bertemu laki-laki itu lagi. Pria yang jatuh cinta dengan cahaya. Meski harus aku akui, justru obsesinya terhadap cahayalah yang menghancurkan hubungan kami.

“Shan, kau meninggalkan ipod milikmu di atas dashboard mobilku.” Evelyn menyodorkan ipod usang milikku. Aku mengambilnya dan mengucapkan terimakasih.

You’re welcome, weirdo.”

Aku tertawa kecil saat mendengar panggilannya padaku. “Now you call me weirdo?”

Evelyn memutar matanya. “Karena kau memang gadis aneh. Kau tahu, gadis mana yang akan menyimpan ipod shuffle generasi pertama itu? Bahkan tombol rewind dan fast forward disana sudah tidak berfungsi lagi. Aku tahu tabunganmu cukup untuk membeli sepuluh ipod model terbaru. Lalu kau pamit padaku untuk mengunjungi Riverview. But you end up here. Apa yang kau lakukan tengah malam begini di tepi danau Bellevue? Are you losing your mind?”

Aku tersenyum. “Kau tahu ada beberapa benda yang tidak bisa digantikan dengan yang baru, kan? Meski secara fisik dan fungsional bersifat sama. Tapi tidak dengan kenangannya. Ipod ini sangat bersejarah untukku.”

Whatsoever!” Evelyn memutar matanya lagi.

Go home, Eve! Ini sudah jam tiga pagi dan kau terlihat kacau. Apa kau masih sanggup membawa mobil? Apa kau mau kopi?”

Dia menguap kecil lalu menggeleng. “Aku butuh tidur bukan kopi. Ini gara-gara kau. Kalau kau tidak memintaku berbalik arah dan mengatarkanmu ke tempat ini, pasti aku sudah tidur di appartemenku yang nyaman sekarang.”

Aku meringis. Benar juga, ini memang salahku. “Mampirlah ke tempat Henry. Mungkin kau bisa menginap dirumahnya malam ini. Seingatku rumahnya tidak jauh dari sini.”

“Ah kau benar. Aku akan menginap di rumah mochi china itu.” Eve masih mencoba menunda kantuknya dengan mengerjapkan matanya berkali-kali. Lalu dia segera membalikan badannya dan berjalan menuju mobil. Saat tinggal beberapa langkah dari mobilnya, dia kembali menghadapku. “Kau tahu apa yang salah denganmu? Menyimpan sesuatu dari masa lalu hingga sekarang. And you live in it.”

 Untuk kali ini, aku tidak bisa menyangkal ucapan Evelyn. Tidak selamanya menyimpan sesuatu dari masa lalu adalah kesalahan dan sesuatu yang tabu untuk dilakukan. My ipod is something like the story of my life.

If I may tell you something, lagu-lagu dalam ipod seseorang itu mengungkapkan banyak hal tentang seseorang, hal-hal yang kita pikirkan dan apa yang membuat kita sedih atau bahagia. Benda itu diisi dengan lagu-lagu yang mewakili perasaan-perasaan itu dalam kehidupannya. It’s the  soundtrack of lives. Itulah yang menarik dari musik. Setiap orang memiliki soundtrack kehidupannya sendiri. “A song tells the story of your life, there’s always a personal history attached to it.” Begitu kata Kyuhyun. Dan aku sangat menyetujuinya. Dan, dari Kyuhyun jugalah aku baru menyadari alasanku memilih semua lagu-lagu yang aku masukan kedalam music player ponsel atau laptopku. Ternyata tidak hanya karena aku menyukai lagu-lagu itu, ada alasan lebih yang dia uraikan, just like how one particular song reminds me of a person I used to know.

Moreover, kehidupan itu memang seperti ipod tanpa tombol rewind or fast forward. Akan ada lagu yang paling kau suka dari deretan lagu dalam playlist. Lalu ketika lagu itu berakhir kita tidak bisa menekan rewind untuk kembali kepada saat-saat itu. Kita harus terus berjalan. Menikmati lagu-lagu yang sudah menunggu untuk siap didengar hingga akhirnya playlist itu berakhir. Kemudian kita kembali ke awal dan kembali menunggu untuk mendengar lagu itu kembali berputar. Bagiku, Kyuhyun sama seperti itu. Dia pergi dan aku tidak bisa untuk terjebak dalam rongga waktu dimana aku dan dia masih bersama. Aku melanjutkan hidup. Menikmati setiap moment yang terjadi. Hingga keadaan kembali seperti semula, seperti saat sebelum mengenalnya. Lalu, dia kembali. Memaksa untuk menikmatinya meski dia adalah bagian dari masa lalu.

Ironisnya, masa lalu selalu memiliki momen-momen tersendiri untuk membayangimu, lalu mengingatkanmu pada waktu yang kurang tepat dengan  cara tersendiri untuk mengejutkan, tanpa pertanda. Sama seperti sesosok lelaki yang tiba-tiba muncul dihadapanmu, setelah empat tahun pergi begitu saja tanpa meninggalkan jejak, membuatmu merasa yakin dia sudah benar-benar menghilang dari hidupmu. Namun, tiba-tiba dia kembali tanpa aba-aba.

Seperti Cho Kyuhyun.

Dia berdiri dihadapanku, masih dengan lekuk senyum yang sama, tatapan mata berbinar yang sama, cara berdiri yang sama. Dirinya yang sekarang dan empat tahun silam masih terlihat sama, tapi juga berbeda. Entah apa persisinya yang membuatnya berbeda. Hanyalah persepsiku sendiri atau memang dia sungguh berbeda.

Kami berdiri terpaku dalam kubu yang berlawanan. Masih dalam petak yang sama di Bellevue Park. Belum ada yang mengambil langkah awal untuk mendekat maupun menjauh. Akupun masih terpaku di tempatku. Berdebat dengan diriku sendiri bagaimana harus menghadapinya. Apa yang harus aku katakan padanya? Bagaimana aku harus berbicara dengannya? Secara santai atau justru formal? Lalu bagaimana aku harus mendefinisikan hubungan ini? Teman, mantan, kenalan atau justru orang asing?

Dia mulai mengambil langkah maju untuk merapatkan jarak diantara kami. Aku kesulitan untuk bernafas, tetapi aku berusaha untuk bersuara dengan senormal mungkin saat menjawab pertanyaannya tentang kabarku dan saat menjabat tangannya yang ia berikan.

What about some coffee?”

Aku mendengarnya lagi. Dia pernah mengatakan kalimat itu sebelumnya. Beberapa tahun silam. Waktu itu aku tidak memberi respon lebih jauh. Tapi kali ini, aku mengangguk menjawabnya.

Hening. Kami berdua duduk ditempat kami dulu biasa menghabiskan waktu –atau tempatku selama dia pergi empat tahun belakangan. Kami berdua sama-sama mengalihkan pandangan mata satu sama lain ke luar jendela. Mencari pandangan apapun yang bisa dinikati dan lebih menarik untuk diperhatikan dibanding memerhatikan satu sama lain. Meski aku tahu kami tidak akan menemukan apapun selain pemandangan danau Bellevue dengan lampu tamannya.

Aku mulai berpikir bila semua kenangan antara aku dan dia hanya akan menjadi kenangan nostalgia yang sentimental hingga membuatku menangis kembali atau bahkan merasakan sakit lagi. Tapi nyatanya tidak. Bahkan kini, dia tengah duduk di sofa dihadapanku sambil menikmati secangkir espresso hangat kesukaannya.

“Kau tidak berubah, Chan-ah.”

Aku kembali mengalihkan pandanganku kepadanya. Apa maksudnya dia menyatakan hal itu? Aku ingin bertanya tapi aku mengurungkan niatku dan berkata, “Benarkah?”

“Emm…” dia menggumam untuk membenarkan. Sambil menyandarkan tubuhnya pada sofa, ia tersenyum yang selalu membuatnya terlihat jauh lebih muda dari umur sebenarnya. “It’s glad to see you again.

Aku tertegun saat dia mengatakan hal itu. Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang. Lalu hanya tersenyum samar untuk menanggapi dirinya.

Lama saat tidak seorangpun diantara kami yang berbicara hingga akhirnya dia meletakan cangkirnya yang kini telah kosong lalu berkata, “I’ve missed you.”

Aku terdiam dan dia masih saja menatapku lekat. Bola matanya bahkan tidak bergerak satu milimeterpun. Itu membuaku risih walau rasa yang sebenarnya aku rasakan adalah takut. Aku takut bahwa dia akan tahu kalau selama ini aku juga merindukannya. Meski aku tidak mencari keberadaanya tapi aku disini. Selalu. Dan menunggu.

I was miss you too.”

 -cut-

Advertisements