Tags

FROZEN PLAYLISTt

Title                            : FROZEN PLAYLIST – Track 1

Author                    : @dcnirwana ( www.blameonblack.wordpress.com )

Genre                        : romance

Rate                            : General

Type                           : Drama Fiction

Main Cast               :

  • Park Nichan (OC)
  • Cho Kyuhyun

Disclaimer                  : I OWN THE PLOT and thank you for Melbourne by Winna Efendi for the inspiration (short term of remake) for this drama fiction 🙂

 

 TRACK 1

BACK TO YOU

-Cho Kyuhyun-

Sejak kecil, aku selalu terpesona pada cahaya. Kilatan petir, sebentuk garis perak yang membelah langit sesaat sebelum guntur menggelegar. Bintang jatuh. Kunang-kunang. Cahaya redup di ekor pesawat. Mercusuar. Remang lampu di tepi jalan. Oranye gelap yang berubah kemerahan menjelang matahari terbenam. Konstelasi yang membentuk peta langit dan menamai rasi bintang itu sebisaku.

Awal mula sejarahku dengan cahaya adalah saat memandangi pesawat meninggalkan landasan, menghilang di balik gumpalan awan, sampai tiada sama sekali. Sejak saat itu, aku mulai mencari tahu lebih banyak tentangnya. Kekagumanku akan ciptaan Tuhan yang satu itu tidak pernah habis. Aku mulai terobsesi; pada kaleidoskop, yang bentuknya berubah seiring dengan perputaran tabung dan cahaya yang terpantul olehnya, pada laser show, pada LED art, juga cahaya alam, seperti aurora dan segala keindahan yang menyertai keajaibannya.

Buatku, cahaya adalah konsep universal, tapi sebenarnya sangat pribadi. Setiap orang dapat melihatnya dan merasakannya. Tapi persepsi mereka mengenainya bervariasi, tergantung emosi dan pengalaman sang penglihat. Interpretasi seseorang terhadap cahaya berbeda-beda, begitu juga makna cahaya tersebut bagi mereka. A light is never just light. Cahaya, seredup apa pun, mampu mengiluminasi kegelapan dan menjadi medium yang menghidupkan dunia. Bagiku, cahaya adalah hal terindah di dunia ini.

Yet whenever I think of light, I’m always reminded of her.

Namanya Park Nichan. But here, in Seattle, people calls her Shana. Golongan darah AB negatif, gadis yang tergila-gila pada vanilla, fanatik warna putih dan merah, pecinta angsa, alergi debu dan bisa sangat defensif jika disinggung mengenai kebiasaannya berbicara sendiri, yang menurutku sedikit aneh.

Sebenarnya, kali pertama aku bertemu dengan Nichan adalah empat tahun yang lalu, di gedung fakultas arsitektur Seattle Pacific University. Hari itu hari seperti biasanya. Seperti biasa bangun agak telat, datang terlambat dan menjawab pertanyaan-pertanyaan sang dosen sedikit terlambat juga. Begitu kelas berakhir, aku sedang tergesa-gesa menuju kelas selanjutnya ketika dia menghalangi langkahku dengan tangan terulur dan mengatakan, “I want my ipod back.”

Saat itu, aku berdiri dengan tampang ‘huh?’ yang paling polos, sedangkan dia mengulurkan sebelah tangan berbalut sarung wol warna merah marun sambil terus memandangiku, seakan berharap aku akan melakukan satu trik sulap yang menakjubkan dan mengeluarkan apa pun yang dia minta dari udara kosong.

Oke, harus aku akui waktu itu, pikiran terakhir yang melintas di otakku yang sedang butuh kafein bukanlah masalah apa yang dia mau dari aku. I was thinking –eh, gadis ini lucu juga.

No, scratch that, she’s actually really pretty. Tinggi, berkaki jenjang dan berambut gelombang yang dicat warna burgundy yang tergerai hingga punggung. Dia terlihat seperti manekin toko baju dingin. Dia mengenakan overcoat berawarna merah bata dengan sweater rajut berwarna putih gading dilapisan dalam lengkap dengan syal dan boots berwarna sama. Giginya bergemeletuk karena musim dingin di Seattle sedang parah-parahnya, sedangkan hidungnya merah walau seluruh wajahnya pucat. Dan tangannya sangat mungil seperti milik anak kecil, terjulur meminta sesuatu yang kurasa tidak aku miliki.

“Excuse me, my ipod, please?!” ulangnya, kali ini kehilangan kesabaran.

Respon aku kurang lebih adalah raut blank yang mungkin menyebalkan baginya, karena dia lalu memelototi aku dengan garang dan mengacungkan selembar kertas berisi sketsa ipod jelek warna merah dengan tulisan spidol: LOST IPOD dan sederet nomor telepon.

Aku baru saja mau protes dengan bilang orang gila mana yang mencari ipod lawas generasi pertama itu, saat aku teringat bahwa aku memang pernah melihat benda itu. Sebuah ipod shuffle segi empat yang terlihat sudah terlalu sering dipakai hingga permukaannya lecet dengan tombol rewind yang sudah tidak berfungsi lagi. Sepasang earphone putih yang tersambung pada alat itu dengan busa tempelan yang sudah babak belur. Aku menemukannya di konter Lost and Found di gedung kampus saat sedang mencari-cari buku perpustakaan yang tidak sengaja tertinggal di salah satu ruang kelas.

Entah kenapa, ipod itu menarik perhatian, terlihat aneh dan out of place di samping sepasang sepatu gym tua yang tak berpemilik, pakaian renang bekas bermotif bunga-bunga, dan setumpuk buku yang mulai mengumpulkan debu. Aku pikir, benda itu kemungkinan besar sudah cukup lama berada di sana dan siapa pun pemiliknya pasti sudah mengambilnya jika memang masih menginginkannya. Jadi, tanpa alasan yang jelas dan justifikasi ini dan itu, aku pun mengaku sebagai pemiliknya dan memboyong benda itu pulang, walau sampai sekarang sang ipod masih bersarang di dasar ransel, tertumpuk barang-barang lain, terlupakan.

Aku pernah mendengarkan satu-satunya playlist yang ada di dalam ipod itu sekali. Kebanyakan adalah lagu-lagu yang tidak aku kenal, lirik-lirik sendu bernada mellow yang sebagian besar diiringi petikan gitar akustik atau denting piano. Bukan seleraku dan bukan jenis musik yang akan aku cari di toko musik, tapi saat mendengarkannya, aku tertidur pulas hingga pagi menjelang, meski aku tergolong orang yang susah tidur. Waktu kami masih pacaran, kadang aku bahkan meminjamnya hanya untuk mendengarkannya sebelum tidur. She used to say, it’s like a little fetish of mine, dia dan lagu-lagunya. Dia benar.

Kalau aku pikir-pikir sekarang, mungkin kehilangan buku dan menemukan ipod itu di sana adalah takdir, permainan hidup yang bertujuan untuk mempertemukan aku dan dia. Ipod itu sepertinya sangat berharga buat sang empunya, karena ekspresi wajahnya saat mendapatkan kembali benda itu seperti seseorang yang baru saja menemukan harta karun tujuh-temurun. Aku terpana memandang dia berjalan pergi tanpa mengucapkan terima kasih –which is ineffectual karena toh memang aku yang ‘mencuri’ barangnya.

“Hey!” Aku mencoba mengentikan langkahnya dan berhasil. Dia berhenti dan kembali menghadapku. “What about some coffee?”

Dia diam tapa memberi respon lebih jauh. Setelah beberapa detik, dia meraih earphone ipod itu, memasangkannya ditelinga, tersenyum miring lalu berjalan pergi lagi. Aku masih diam dan memandangi punggungnya hingga menghilang di tikungan koridor sampai akhirnya aku sadar, sedari tadi aku masih memegang fotokopi selebaran ipod hilang lengkap dengan nomor telepon pemiliknya.

And the rest is history. Tepatnya, begini sejarah kami: aku dan Laura ketemu, kami pacaran, kami putus. End of story.

Dan sekarang aku kembali. Ditempat dia berada. Dan titik dimana aku berdiri sekarang ini, empat tahun lalu aku berdiri menunggunya untuk memertahankan semuanya. Sejenak, aku tenggelam dalam banyak kenangan semenjak pertama kali aku menginjakkan kaki di kota ini. Sudah enam tahun berlalu. Namun, rasanya semua kenangan melambaikan tangan seperti baru terjadi kemarin. Arus masa lalu itu datang tanpa diundang, tanpa peringatan dan tanpa indikasi kapan akan berakhir. Entah kenapa dada ini terasa sesak dan membutuhkan suplai oksigen lebih banyak. Aku tidak pernah tahu sebelumnya kalau mengingat masa lalu merupakan hal yang melelahkan.

Entahlah sel-sel otakku sudah tidak mau memikirkannya lagi karena mereka menangkap rangsangan pegal dari kedua kaki ini. Setelah semalaman duduk di pesawat lebih dari dua puluh jam dari Melbourne menuju Los Angeles lalu dilanjutkan dengan satu jam penerbangan untuk menuju Seattle cukup membuat kaki ini terasa patah. Bahkan mata ini masih ingin terpejam setelah semalam menghabiskan tiga cup latte yang aku minum untuk tetap terjaga.

Dengan langkah lebar aku mendorong troli berisi dua koper berukuran sedang menuju pintu keluar untuk mencari sebuah taksi. Dengan sebuah lambaian tangan, aku berhasil menghentikan untuk mengantarkanku menuju flat milikku.

“300 Elliott Ave West.” Aku mengatakan alamatku.

Kerry Park, huh?”

Yeah.”

Aku meletakan seluruh beban tubuhku pada jok dingin taksi itu. menghela sebuah nafas berat untuk melegakan rongga dada yang tiba-tiba saja terasa sesak. Aku kembali. Ketempat dia berada. Dan kini aku sedang menuju pada sebuah petak ruangan yang berisi sejuta kenanganku dengan dia.

Ruangan itu hanya terdiri dari dua ruangan utama. Sebuah kamar mandi dan ruang besar yang disekat menjadi dua. Lemari pakaian di salah satu sudut masih penuh dengan pakaian yang empat tahun ini tidak tersentuh. Sebuah meja masih berantakan dengan berbagai macam sketsa, pensil, kabel-kabel, dan lampu-lampu. Rak buku di dekat jendela masih berisi buku bukunya yang kini pasti tersapu debu.

Seharusnya tidak ada yang berubah dari apartemen mungil itu. Aku pergi hanya dengan sebuah koper kecil dengan beberapa helai pakaian dan sebuah ransel berisi paspor, ponsel, dompet dan sebungkus permen. Aku sudah menitipkan flat itu pada seorang teman, Max. Aku juga memerintahkan agar apartemen ini tetap menjadi milikku, tanpa seorang pun diijinkan masuk untuk sekedar berbenah atau bersih-bersih.

Aku menatap keluar jendela. Mengkap suatu cahaya gemerlap dibalik rentetan rumah di kawasan Lower Queen Anne. Cahaya. Kini aku merindukannya. Entahlah, aku mendadak enggan untuk pulang dan masuk kedalam flat milikku. Karena ada hal yang tidak ingin kulihat dari flat itu. Instalasi lampu diatas dinding atapku yang membentuk panorama kota Seattle. Because that thing is remind me of her a lot.

Setelah empat tahun tidak bertemu, aku tidak tahu apakah dia masih sama seperti saat terakhir aku bertemu atau kini dia sudah berubah. Aku harap tidak. Aku menyukainya saat bibirnya tersenyum membaca novel yang melambungkan hatinya. Aku suka caranya menatap bintang dan angsa. Aku suka caranya menikmati es krim vanilla. Aku suka hidungnya yang memerah karena kedinginin ditengah hujan salju dan matanya berbinar memainkan salju. Dan yang paling aku suka adalah suaranya. Seperti saat ia mengumamkan lagu saat ia memasak pancake untuk sarapan pagi. Tapi, kegiatan setelah sarapan pagi itulah yang paling aku rindukan. Adalah suara celotehannya tentang apa saja. Dengan kami yang berbaring saling berhadapan. Aku mendekap pinggangnya dan dia memainkan rambutku. Matanya yang bercahaya dan bibirnya terus berbicara setengah tersenyum selalu membuatku jatuh cinta. Sejauh yang dapat kuingat, momen itulah aku benar-benar jatuh cinta kepadanya setiap pagi. I fall for her in every morning.

Lalu aku mendengar suaranya dalam benakku, berceloteh tentang kehidupan seperti biasanya. Mungkin aku terlalu merindukannya. Aku mendadak merasakan ketenangan saat mendengarnya. Suaranya masih sama. Terasa damai dan menenangkan. Hela nafasnya yang teratur ditengah-tengah narasinya. Tapi rasanya suara itu terlalu nyata untuk sebuah halusinasi. Hingga akhirnya aku menyadari suara itu berasal dari radio.

Could you please make it a little louder, please?” ucapku meminta supir taksi itu mengeraskan volume radio itu. Tapi aku masih ragu apakah dia adalah gadis yang aku maksudkan. “Who’s she?”

It’s Shana. Seattle’s girl in the green scarf.”

“Dia bukan penyiar radio ini?”

No. Dia hanya menjadi bintang tamu disini. Dia sudah beberapa kali mengisi acara ini. I like her. I think she’s good. Lagu-lagu pilihannya yang ia putar selama acara, rekomendasi film-film dari tahun 90an hingga yang terbaru dan narasinya tentang kehidupan dengan sudut pandangnya sendiri dan beberapa masukan yang sangat membantu. Aku juga suka membaca kolomnya sesekali.”

Penulis. Setidaknya aku tahu kalau dia memang berbakat untuk bernarasi dan dia juga menyukai fiksi. Kekhawatirkan akan keadaannya mungkin sia-sia. Kurasa, dia baik-baik saja. Meski begitu, aku merasa tidak puas. Aku ingin bertemu dengannya. Melihat langsung apakah dia benar-benar baik-baik saja selama ini.

“Kau pernah bertemu dengannya?”

Couple times, I guess. Aku pernah mengantarnya ke redaksi majalah dan sebuah coffee shop sepulang dari stasiun radio.”

Coffee shop? Mungkinkah?

What’s coffee shop?”

Supir itu bergumam. Terlihat berpikir atau mengingat lebih tepatnya. Adakah kemungkinan kalau dia masih berada disana. Ditempat kami.

I can’t recall, dude. Kedai kopi itu bukan tempat yang biasa dikunjungi pecinta kopi. Bukan starbucks ataupun Andrew’s. Seingatku, kedai itu berada di Bellevue.”

Bingo! Hanya akan ada satu kedai kopi yang akan dikunjungi Nichan di Bellevue. Riverview. Aku tersenyum. Entahlah, rasanya menyenangkan saat mengetahui bahwa dia masih berada disana. Ditempat dimana kami sering menghabiskan waku bersama. Dulu.

If there’s a rewind button for life, will you use that rewind button? Turn things back the way they’re used to be? Karena sepertinya aku akan melakukannya. Menekan tombol itu dan kembali pada sebuah masa lalu. Aku ingin kembali. Seperti lagu ini yang mengindikasikan bahwa acara itu telah berakhir.

Back to you.

Aku mencoba menikmati lagu dari John Mayer itu. Setiap larik lagu itu seakaan menantangku untuk benar-benar kembali. And maybe I should give it a try. Aku merogoh saku celanaku. Mencari ponsel yang seharusnya berada disana. Membuka google untuk mencari tahu nomor telepon dari stasiun radio ini. Nomor yang biasa digunakan untuk respon pendengar. Mengetikan empat kata itu lalu tanpa pertimbangan lagi, aku langsung mengirimkannya.

Back to you, Shana.

Kuharap dia membacanya. Meski lagu itu sudah berhenti diperdengarkan dan digantikan dengan suara statis, nyatanya benakku tidak berakhir meyakininya. Because I’m really go back to you, Park Nichan.

-cut-

Advertisements