Tags

Title                            : Break Up – Stay Cry

PREVIOUS PART – LET’S NOT

Part                             : 3 of 4

Author                        : @dcnirwana

Genre                         : romance, angst

Rate                            : General

Type                           : Song Fiction

Length                        : Oneshot; 2,870 words; 8 MS Word pages

Main Cast                  :

  • Shi Hyera (OC)
  • Lee Hyukjae

Disclaimer                  : I OWN THE PLOT with inspiration from everywhere

STAY & CRY

Huruneun noonmule neol jiuryeohae (I’m trying to erase you from the falling tears)

Kkaekkuhage neoui gyeotul tteonalsubagge (I can only cleanly leave your side)

Neon neomu suibge tteonagaryeohae (You’re trying to leave too easily)

 

 “Sudahlah. Kita masih bisa menjadi teman baik, keurae?”

Aku mendongak. Aku berusaha untuk tidak menampakan wajah sedih. Justru aku memasang wajah tegar yang terkesan angkuh. Aku memasukan tanganku kedalam tas dan mengambil ponselku.

Kulucuti bateri ponsel dan mengambil sim card-nya. Lalu kupatahkan sim card itu dan membuangnya. Aku menatap tanganku yang bergetar menggenggam ponselku. “Lee Hyukjae? Nugulka? Keurae, Shin Hyera tidak pernah mengenal Lee Hyukjae.” Ujarku memaksa kemudian menggigit bibir bawahku.

Aku bangkit. Membersihkan pakaianku dari rumput kemudian berjalan pergi meninggalkan pria itu yang sejauh ini terlihat tercengang melihat aksiku.

“Hyera-ya, biarkan aku mengantarmu pulang. Ini sudah larut malam.” Cegahnya.

Aku menoleh. “Oh, Eunhyuk-sshi. Sejak kapan kau disini? Terimakasih atas tawarannya. Tapi aku sedang terburu-buru. Dan aku masih bisa menjaga diriku sendiri. Permisi.”

Tak lagi kupedulikan dia. Aku langsung berjalan dan mencegah taksi yang kebetulan lewat kemudian aku masuk kedalam taksi itu. Dan selanjutnya, yang kulakukan didalam taksi hanya menangis. Mengeluarkan seluruh tangisan dan isakan yang sedari tadi kupendam dihadapannya.

‘… Aku tidak bisa menjadi kekasihmu lagi. Lebih baik akhiri semuanya.’

Kembali aku mendengar suaranya mengucapkan kalimat nista itu. Bagaimana bisa dia mengatakannya dengan mudah? Lalu apa arti kebersamaan kami selama setahun belakangan ini? Apa arti keberadaanku untuknya?

-=.=-

Modeungeol irheosseo (I lost everything)

Nan eotteoke jiwoyahalji (How am I supposed to erase you now?)

Babocheoreom neoreul itjimotago (Like a fool I can’t forget you)

Eotteoke niga naege sangcheoreul juneungeonji (How are you giving me pain?)

Aku berjalan tersaruk ke arah pintu apartemenku. Segera kubuka kotak pengaman tombol keamanan dan memasukkan angka-angka rahasia.

Aku kembali mencoba. Dengan mata mengabur penuh dengan cairan bening yang kembali siap untuk meluncur turun, Aku menekan angka-angka yang sudah kuhapal untuk akses masuk kedalam apartemennya.

“Ck!” Aku mendecak kesal. Air mataku kembali jatuh dan tak bisa lagi menahannya. Aku pasrah saja saat tanganku ditepis oleh Nichan yang entah sejak kapan sudah berada disini.

Aku bersandar di dinding dengan kepala menenangadah. Mencegah lebih banyak air mata yang membanjiri kedua pipiku.

“Masuklah,” Nichan membuka lebar pintu apartemen.

Aku menghambur kedalam apartemennya dan segera melepas sepatu tanpa menggantinya dengan sandal rumah,

“Hyera-ya…” panggilnya khawatir. Ia berusaha menahan langkahku yang sudah akan beranjak ke kamarku.

Aku menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamarku. “Aku… hanya ingin sendiri.”

-=.=-

-Author’s POV-

Hyera bersandar pasrah pada kepala tempat tidurnya. Nafasnya tercekat. Ia mencengkeram dadanya kuat. Air matanya meleleh terus-terusan. Wajahnya kebas. Tak berdaya. Pasrah pada kondisinya.

Bagaimana bisa Hyukjae begitu jahat padanya? Bagaimana bisa Hyukjae melakukan hal ini padanya? Salah siapa ini sebenarnya? Mengapa semuanya menjadi seperti ini?

Hyera masih menangis dalam diamnya. Berkali-kali ia memukul dadanya untuk mengurangi rasa sesak yang menghimpitnya. Berkali-kali ia menarik nafas panjang guna membebaskan otaknya dari rasa sakit yang menggigit.

Hyera memejamkan matanya. Kenangan-kenangan manis antara dirinya dan Hyukjae mendadak megudara di awang pikirannya. Membuatnya tersentak. Membuatnya merasakan sakit hati yang lebih perih. Membuatnya jatuh kedalam jurang yang terjal dan gelap. Membuatnya ingin lenyap dan tidak lagi ingin untuk hidup

“Hyera-ya!” Nichan memanggil Hyera pelan dari luar kamar. Tangannya tak henti mengetuk pintu yang sejak semalam lalu terkunci rapat. “Hyera-ya, apa kau masih tidur? Hyera-ya!”

Nichan terus mengetuk pintu kamar Hyera dengan tempo yang semakin cepat. Ia khawatir. Terlebih sejak kemarin ia terus mengunci dirinya. “Hyera-ya!”

Lagi-lagi tidak ada jawaban. Nichan panik sekarang. Bagaimana kalau terjadi sesuatu didalam sana? Nichan menggelengkan kepalanya kuat. Menepis berbagai pikiran negatif. “Shin Hyera?!!”

Masih tidak ada jawaban. Nichan mulai kalut. Ia tidak lagi mengetuk pintu sekarang, melainkan menggedornya. “Hyera-ya?!”

Cklek!

Tangan Nichan terhenti di udara. Pintu dihadapannya mendadak terbuka dan memperlihatkan sesosok gadis dengan rambut panjang tergerai berantakan dan wajah sembab yang matanya membengkak.

Mwohae?”

Nichan melongo mendengar pertanyaan singkat Hyera. Nichan mengedip sesaat. “Neoneo gwenchana?”

Hyera tak menjawab. Ia mengacuhkan Nichan dan berjalan keluar dari kamarnya. Langkahnya terasa berat.

Mata Nichan ikut menatap Hyera yang sedang berjalan dengan susah payah. Dilihatnya sahabatnya itu menghempaskan tubuh kurusnya ke sofa dan bersandar pasrah. Kepalanya menengadah ke langit-langit dan kedua matanya terpejam. Nichan menghampiri Hyera dengan hati-hati.

Are you okay?” Nichan duduk di sofa di sebelah Hyera. Tangannya menyentuh lembut rambut Hyera dan membelainya pelan. Setitik air mata kembali mengalir dari ujung mata Hyera. Membuat Nichan meringis miris. Tangannya tak henti mengusap kepala sahabatnya. “Adakah yang ingin kau ceritakan padaku?”

Hyera membuka kedua matanya perlahan. Lalu menatap Nichan dengan pandangan terlukanya. Hyera langsung memeluknya erat. Melingkarkan lengannya erat-erat ke sekeliling pinggang Nichan.

Nichan terus membelai lembut kepala Hyera yang berada di dekapannya. Gadis ini masih menangis. Isakkannya masih terdengar. Bahunya masih bergetar. Nichan merasakan bajunya basah karena air mata.

Dengan susah payah, Hyera menceritakan semua hal yang semalam dialaminya. Cerita yang benar-benar membuat hatinya memiliki torehan luka yang sulit disembuhkan dan terus berbekas.

-=.=-

Nichan menghela nafasnya saat melihat Hyera masih saja terduduk di sofa dan mengganti channel tv tanpa minat. Sama seperi saat ia meninggalkan Hyera pagi tadi untuk pergi trainee pagi ini.

Baru kali ini Nichan melihat Hyera stres hingga tertekan seperti ini. Bahkan dia hari ini membolos trainee padahal jadwal hari ini adalah dance yang paling menarik minatnya. Nichan mulai khawatir akan keadaan sahabatnya.

Mungkin Hyera masih syok. Seharian ini Hyera nyaris bisu setelah bercerita panjang lebar perihal penyebab dirinya ambruk hari ini. Sementara Nichan tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tahu kalau Hyera hanya butuh didengarkan. Maka, Nichan pun hanya bisa mendengarkan.

“Ahh!”

Nichan menoleh kaget. Hyera kembali menekan tengah dadanya sembari memejamkan matanya kuat-kuat. Remotnya sudah jatuh di atas karpet mereka. “Hyera-ya?!”

Nichan berjalan meninggalkan area dapur. Matanya sempat sekilas menatap layar televisi yang menampakan wajah sesosok pria yang sedang asik menampilkan lagu duetnya dengan sahabatnya.

Nichan menelan ludahnya. Entah kenapa, ia ikut merasa sesak. Dia hanya dapat merengkuh kepala Hyera yang masih menunduk dengan tangan yang mengepal didadanya. Memeluknya dan menjauhkan pandangan matanya itu dari televisi. Dipeluknya erat tubuh yang perlahan bergetar karena tangis itu.

Nichan meringis saat isak tangis Hyera semakin terdengar tepat saat pria itu menyanyikan lagu bagiannya. Dengan susah payah diraihnya remot tv dan menekan tombol power. Membuat layar tv itu berubah gelap.

-=.=-

As you know I still remember

Itjimotae jiulsun eobseo hansungando nan (I can’t forge not even for a moment)

Got tteonal sarange nuni meon jangnim (I am the blindman who is denial of the love that’s trying to depart)

Sudah seminggu semenjak kejadian naas itu, tapi Hyera masih sama. Dia masih saja seperti orang linglung yang kehilangan harapan untuk hidup. Dia tidak lagi semangat untuk pergi trainee. Bahkan selama seminggu ini dia membolos dan sudah mendapat surat teguran dari manajemen. Yang untungnya saja masih hari libur sekolah, Nichan tidak tahu apa yang akan terjadi bila Hyera juga bolos sekolah.

Nichan hanya bisa berdoa untuk sahabatnya. Setelah itu, ia juga merapikan lauk-lauk utuh dan tak tersentuh yang dimasaknya untuk makan malam Hyera dengan membuangnya ke tempat sampah kecil di ujung ruangan.

 “ANDWAEEE!!!”

Nichan terlonjak di tempatnya. Ia tergopoh-gopoh berlari dan langsung menghambur masuk ke kamar Hyera. Dilihatnya gadis itu sedang terengah seperti habis diajak berlari maraton dengan peluh membanjir di dahinya.

“Hyera-ya, kau kenapa?”

Hyera tidak menjawab. Ia hanya menoleh ke arah Nichan dengan pandangan kosong. Lagi-lagi ujung matanya mengeluarkan air mata. Kembali menangis dalam diam.

“Sshh… Hyera-ya, tenanglah. Apa apa? Ceritakan padaku.” Nichan duduk di sisi tempat tidur Hyera. “Mimpi buruk?”

Ia mengangguk. Hyera masih berusaha mengatur nafasnya. Berkali-kali tangannya mengusap kasar air mata yang meluncur mulus di kedua pipinya. Ini tidak bisa dibiarkan, pikir Nichan. Hyera tidak boleh seperti ini.

Tak sengaja dia menyenggol laptop Hyera membuat layar itu kembali menyala terang. Namun matanya langsung terbelalak lebar saat melihat layar laptop milik Hyera yang masih menyala. Alih-alih melihat tumpukan video dance dari I am me, poreotix, dan sebagainya, Nichan malah melihat hal lain yang membuatnya benar-benar diam membisu seribu bahasa. Di layar laptop ini, Nichan melihat foto Hyukjae.

Untuk kali ini, Nichan benar-benar tak tahu harus berekspresi seperti apa. Setelah pria itu meninggalkan dirinya begitu saja, gadis ini masih saja mengingat pria itu.

Di folder itu terdapat foto Hyukjae. Tidak hanya satu, tetapi banyak. Ratusan? Tidak, Nichan yakin bahwa ada ribuan foto di dalam folder itu. Dan objek dari semua ribuan foto itu hanya satu orang, Lee Hyukjae. Dari saat Hyukjae masih berumur beberapa bulan hingga foto terbarunya, Hyera memilikinya.

“Hyera-ya ini…”

Hyera menoleh pelan. Nafasnya masih memburu. “Err… Itu…”

“Shin Hyera!! Kau tidak bisa terus seperti ini!!” Tangannya gemetar menahan emosi yang seketika melingkupi kepalanya. “Tidak ada lagi kalian diantara kau dan dia. Semua sudah berakhir. Kau dan dia sudah tidak lagi bersama. Kau mengerti tidak??! Kemana akal sehatmu??! Bangun dan buka matamu lebar-lebar!!”

Hyera membeku mendengar kalimat Nichan.

“Kau berhak mendapatkan cintamu. Kau berhak mendapatkan kebahagiaanmu. Raih itu. Dia sudah melepasmu untuk menemukan kebahagianmu sendiri.”

“Tapi dengan siapa aku bisa mendapatkannya?? Tolong jawab!! Siapa yang bisa membawakan kebahagian untukku? Aku hanya bahagia bila bersamanya.”

Nichan mendecak kesal. “Shin Hyera! Kau harus bangkit. Kau tidak bisa terpuruk seperti ini. Lupakan dia. Lupakan rasa cintamu untuknya. Buang segala kenangan tentangnya. Total! Cari kebahagian lain yang bisa tanpa ada ikatan dengan pria itu!”

Hyera terdiam. Berusaha mencerna kata-kata Nichan dengan kemampuan otaknya yang tengah menurun drastis. “Kau… Kau tidak mengerti! Kau tidak tahu! Ini terlalu menyakitkan!!” Ricaunya.

Nichan kembali berdecak kesal. Kali ini kesabarannya hilang terbang terbawa angin musim panas. “Benar! Aku memang tidak mengerti!! Dan aku memang tidak tahu apa-apa. Tapi satu yang kutahu, bila kau itu benar-benar bodoh Hyera!!”

“Apa maksudmu?” Tanya Hyera tampak keberatan dengan apa yang dikatakan oleh Nichan.

“Kau bodoh!! Kau tidak kasihan terhadap Eommonim, huh? Dia di sana bekerja mati-matian di Mokpo demi membayar trainee dan sekolahmu disini! Semantara kau?! Kau bahkan tidak melakukan apapun dan hanya duduk diam meratapi kegagalan hubunganmu dengan Hyukjae.  Jadi, teruslah seperti ini. mengurung diri di dalam apartemen ini. Tidak berangat trainee hingga kau mendapat teguran. Teruslah seperti ini dan membuat Ibumu kecewa dengan sikapmu selama kau ada di Seoul. Hancurkanlah hidupmu sendiri! Hancurkan mimpi Ibumu!! Terserah apa yang akan kau lakukan setelah ini. Aku tidak akan peduli lagi. Ini hidupmu. Pendam saja rasa cintamu yang kau agung-agungkan itu!”

Hyera menunduk dan merenungi setiap kata yang dilontarkan oleh Nichan dalam diam. Ini semua terlalu rumit. Kepalanya terasa mau pecah. “Aku tidak tahu harus berbuat apa.”

“Kenapa? Apa yang kau pilih? Rasa cintamu? Atau Ibumu yang sedang sakit di mokpo?”

“Aku tidak tahu. Aku tidak tahu siapa yang harus kupilih. Semuanya terlalu berharga.”

“Kau tidak bisa memiliki semuanya!! Kau harus pilih satu!! Pilahlah satu dan menangkan itu!! Tapi sebelumnya kau harus mengorbankan salah satunya!!” Nichan meletakkan kedua tangannya di pinggang. Nafasnya tersengal setelah mengomel begitu banyak.

“Aku memberimu waktu untuk berpikir.” Nichan beranjak meninggalkan Hyera yang masih tenggelam dengan pikirannya sendiri. Ia baru akan menutup pintu saat ia teringat akan sesuatu, “Minta maaf pada ibumu. Dasar kau anak kurang ajar.”

Dan Hyera kembali memeluk dirinya sendiri dalam tangis yang yang semakin lama semakin terdengar pilu.

-=.=-

Nunmuri apaeul garyeobol su eobsejanha (The tears block the front I can’t see)

Sumi maghyeo ni ireumeul wecyeodo (My breath is stuck even though I call your name)

Ceon deurriji annabwa nan doisang You don’t seem to be able to hear me anymore ()

Motchamkesseo I need you in my life (I can’t hold it in I need you in my life)

Inunmeuri kkeutil su itge nareul gamssa anajullae (Can you hug me so that these tears will stop)

Nichan berjalan keluar dari kamarnya dan mendapati Hyera yang sudah berpakaian rapi tengah duduk di sofa. Dikerutkannya keningnya. “Kau mau kemana?”

Hyera menoleh dan berusaha menampakan senyumnya. “Bukankah hari ini jadwal kita untuk trainee? Ayo! Aku sudah siap.” Ujarnya riang.

Nichan tertegun. Dia mengamati wajah Hyera yang kembali berseri walau tampak sedikit pucat. “Kau yakin?”

Hyera mengangguk. “Tentu saja. Ayo!”

Selama perjalanan, Nichan berusaha memberikan lelucon untuk menghibur Hyera. Tapi akhirnya dia menyerah, karena dia tidak berbakat untuk melucu. Hingga akhirnya mereka berdua asik dengan ponselnya masing-masing.

Hingga akhirnya mereka di gedung SM Academy. Rupanya Moon Zheng pelatih untuk grup mereka sudah siap dan dengan dua gadis lain yang direncanakan akan menjadi dalam grup yang sama dengan Nichan dan Hyera.

“Hey, kalian terlambat tujuh menit!” Tegur Moon Zheng. “Aish.. tapi tidak apa. Lagi pula aku juga sedang malas sedikit.”

“Lalu, kita akan berlatih apa? Apa kita akan berlatih dengan single kami?” Tanya Nichan antusias.

Heerin, gadis yang ditunjuk sebagai leader mereka mendekat. Kemudian dia menggeleng kecewa. “Lagu kita belum selesai tahap editing.”

Nichan hanya mengangguk menelan rasa kecewa. “Lalu kita berlatih apa hari ini?”

FREESTYLE!!” Moon Zheng berseru bahagia. “Semuanya berlatih freestyle sekarang.”

Freestyle?” Tanya Eunjin yang menempati posisi lead vocal. “Tapi aku tidak bisa freestyle. Bisakah kita cover saja?”

Moon Zheng terlihat berpikir. “Cover? Sudah cukup kalian meng-cover Mirotic dan me-remix-nya. Sudahlah. Hari ini freestyle saja.”

“Tapi…”

Moon Zheng langsung merangkul Eunjin. “Justru aku dibayar untuk itu. Aku akan mengajarimu freestyle.”

Eunjin meringis mendengarnya. Moon Zheng melepas rangkulannya. “Nichan-ah, jangan berpikir sebelum menari. Kau harus membiarkan musik itu yang membuat badanmu bergerak. Bukan otakmu yang menyuruh badanmu bergerak. Biarkan jiwamu menari mengikuti irama. Mengerti?”

Nichan hanya mengangguk. “Musik dan jiwa yang membuat koreografi bukan otak?”

Bingo!!” Moon Zheng berjalan mendekati music player di sudut ruangan.

“Akan kucoba!!” Jawab Nichan sungguh-sungguh.

Saat Moon Zheng berjalan mendekati music player, seseorang masuk kedalam ruang latihan.

Anyeonghaseyo, yeorobun!” Sapa suara berat itu dengan sopan.

Hyera sangat mengenali suara itu. Dia tidak mungkin bisa melupakan pemilik suara itu. Luka dihatinya yang belum mengering, mendadak terbuka lagi. Dan Hyera kembali merasakan sakit.

“EUNHYUK-AH!!” Moon Zheng balik menyapanya ceria. “OK!! Hari ini kita akan berlatih dengan Eunhyuk.”

Nichan membelalakan matanya. “MWO??” Teriaknya tidak terima.

Hyukjae hanya tersenyum tertahan melihat Nichan. Dia meringis saat melihat punggung Hyera yang membeku.

“Bisa kita mulai latihan?” Tanya Hyera dengan suara bergetar menahan tangis.

Moon Zheng menyalakan musik dan semua langsung menari freestyle. “FREESTYLE EVERYONE!!!”

Heerin menari sexy hip hop sesuai keahliannya. Nichan mencoba menggerakan tubuhnya sedikit kearah ballet. Hyera menari urban hip hop. Sementara Eunjin mendapat pelatihan khusus dari Moon Zheng.

Entah kenapa, tarian Heerin dan Hyukjae serasa menyatu dan tiba-tiba mereka melakukan couple dance. Hyera sempat menghentikan tariannya melihat itu, tapi dia berhasil mengendalikan dirinya dan kembali terlarut dalam tariannya.

Setelah kurang lebih empat puluh lima menit menari tanpa berhenti secara Freestyle, Moon Zheng meghentikan latihan dan menyuruh untuk irstirahat. Tapi Hyera masih saja menari. Gerakannya yang tadi urban hip hop perlahan berubah menjadi gerakan cramping.

“Hyera-ya!! Waktunya istirahat!” Nichan meneriakinya. Tapi Hyera tetap tidak bergeming. Dia masih saja menari cramping. Bahkan setelah Heerin mematikan musiknya. Jelas saja karena dia menggunakan earphone yang tersambung pada iPodnya.

“Hyera-ya! Kita harus ke kelas vocal setalah ini.” Ujar Heerin. “Jangan kekanakan!”

Nichan mendekati Heerin dan Eunjin. “Kalian bisa pergi dulu? Kami akan menyusul, Eonnie.”

Heerin mengangguk. “Baik. Jangan terlalu lama!” Segera Heerin, Eunjin, dan Moon Zheng meninggalkan studio itu.

Hyukjae sempat melihat Hyera yang masih menari. Dia yakin dia tidak salah liat. Dia sempat melihat mata Hyera. Mata itu mengeluarkan kilatan terluka dan tertutup air mata. Hyukjae tidak mungkin salah. Gadis itu kembali menangis.

-=.=-

Soricyeo bulleo (Scream out call out)

Keug wicyeo bulleo(Loudly yell out call out)

Ige kkeuti aniya neomu apa aniya (This is not the end, it hurts so much)

BRUKK!!

Suara jatuh itu terdengar saat Nichan selesai menutup pintu studio tari. Nichan menolehkan kepalanya. Hyera terjatuh menunduk.

Nichan melihat layar iPod itu. Dia berdecak saat melihat now playing-nya adalah Down yang dinyanyikan Eunhyuk saat Super Show 2. Nichan langsung memeluk sahabatnya itu. “Kau bodoh Hyera-ya!!”

Tangis Hyera makin menjadi. Tubuhnya juga bergetar dipelukan Nichan. Air matanya membasahi kaus Nichan. Dia balas memeluk sahabatnya itu. Dia menumpahkan semua isak tangis yang sedari tadi ia tahan.

“Kau harus bisa bertahan Hyera-ya!!” Nichan mengelus punggung Hyera mencoba membuat gadis itu menjadi tenang. “Kau gadis yang kuat!!” ujarnya memberi semangat.

Hyera menggeleng kuat dalam pelukan Nichan. “Ini terlalu menyakitkan…” lirihnya

Nichan hanya bisa mengelus punggung Hyera dan menenangkan gadis itu. Hyera memang terlihat sebagai seorang gadis yang kuat dan tegar dari luar, tapi didalamnya, dia adalah gadis yang ringkih dan sangat sensitif

Drtt… ddrt…

Nichan merasakan ponselnya bergetar. Dengan susah payah dia merogoh ponselnya dan membaca pesan dari Heerin.

From          : Heehee eonnie^^

Chan-ah, trainee vocal diganti lusa, kalian bisa pulang!

“Hyera-ya?!” Nichan memanggil Hyera yang masih sesunggukan. “Kau sudah selesai menangis? Kalau sudah selesai, kita sudah boleh pulang sekarang.”

Hyera mengangguk dan merapikan rambutnya yang acak-acakan. “Nichan-ah?!”

Eung?”

“Sekarang tanggal empat April, kan?”

Nichan mengangguk. “Ne. Wae?”

“Kau bisa membuat strawberry cheesecake?”

Nichan mengangguk. “Tentu saja. Kau mau aku buatkan?” Tanya Nichan antusias.

Hyera menggeleng lemah. “Ajari aku membuatnya.”

“Tidak biasanya kau memintaku untuk mengajarimu memasak?”

“Dia berulang tahun hari ini. Aku ingin membuat kue itu lalu memberikannya untuknya, Lee Hyukjae.

MWO??!” Nichan memekik nyaris berteriak. “Kau masih memedulikannya?”

Bukannya menjawab, gadis itu hanya tersenyum simpul.

-cut-

Advertisements