Tags

Title                          : Break’s Up – Let’s Not

Part                            : 2 of 4

Rate & Type          : General – Continue

Cast                            :

  • Lee Hyukjae
  • Shin Hyera
  • Sungmin
  • Kyuhyun

Recommended song  :

  • Super Junior KRY – Let’s Not

20.14 of March 22nd, 2012

Kangnam Street

Senyum Hyukjae terkembang saat melihat jamnya menunjukan angka 20.14 artinya dia bisa menemui Hyera tepat jam sembilan nanti.

“Junghoon Hyung, jadwalku sudah selesai, kan?” Tanya Hyukjae pada ‘Prince Manager’ dari grupnya itu.

Junghoon membuka tabnya dan memeriksa jadwal Hyukjae. “Bukankah kalian akan ada rapat pembicaraan album terbaru kalian nanti? Kau lupa?”

Hyukjae menepuk dahinya. “Hyung, bisakah aku tidak ikut rapat ini? Sembilan orang dari kami cukup, kan?”

Junghoon menggaruk kepalanya dan merasa tidak yakin. “Entahlah. Aku tidak terlalu yakin. Rapat ini, banyak petinggi SM yang ikut andil.”

“Aish…” Hyukjae mengeluh kesal.

“Ada apa? Kau mau menemui kekasihmu itu?”

Hyukjae meringis. “Tidak apa-apa, kan, Hyung?! Ayolah! Kumohon!”

“Mungkin kau bisa hadir dalam beberapa menit pertama lalu kau bisa pamit.” Junghoon memberi saran. Memang dari enam manager yang dimiliki Super Junior, Junghoonlah yang paling fleksible dan bisa mengerti keadaan dan mood setiap membernya.

“Benarkah?” Hyukaje berjengit senang.

“Mungkin. Tapi aku tidak akan membantumu. Aku hanya memberi saran.” Ketusnya lalu tersenyum simpul dan berjalan meninggalkan Hyukjae.

“YA!! Leeteuk Hyung, Yesung Hyung, Shindong Hyung, Sungmin Hyung, Donghae, Ryeowookie, Kyuhyunnie, ayo cepat bergegas!” Ujarnya penuh semangat.

“Kau ini kenapa, Hyuk-ah?” Tanya Donghae.

Hyukjae hanya tersenyum lebar hingga mata sipitnya benar-benar terpejam. “Ayo cepat kalian bergegas!”

Kemudian ada selembar handuk yang mendarat dimukanya. “Berhenti memerintah dan senyummu menjijikan!!”

-=.=-

Hyukjae melompat-lompat kecil karena cemas. “Hyung, kapan rapat ini dimulai?” Tanyanya setengah merengek pada Junghoon.

“Entahlah. Mereka masih membicarakan kosep MV f(x) dan comeback mereka.”

Hyukjae kembali mendesah kecewa. Dia terus menatap jam yang melingkar ditangannya. Berharap jarum jam itu berputar mundur dan kembali ke angka sebelumnya. Tapi itu tidak mungkin. Sekarang sudah mendekati jam sepuluh. Bahkan dia juga belum masuk kedalam ruang rapat itu.

Setelah sekitar lima menit, akhirnya para member f(x) keluar dari ruang rapat itu. Hyukjae langsung masuk ke dalam ruangan tertutup itu dan duduk disalah satu kursi yang disediakan disana.

Saat matanya melihat beberapa orang yang duduk berbaris didepannya, dia menelan ludahnya susah payah. Tidak biasanya direktur Kim Yeongmin dan direktur Nam Soyeong ikut dalam rapat album terbaru. Dia semakin tercengang saat Lee Soman ikut dalam rapat itu.

Hyukjae kembali mendesah. Dia tidak mungkin kabur dalam rapat ini. Sama saja dengan mencari mati bila dia nekat melarikan diri.

Dan inilah akhirnya. Hyukjae mengurungkan niatnya untuk melarikan diri dan terjebak dalam rapat yang isinya sama sekali tidak ia dengarkan dengan baik.

-=.=-

Seusai rapat untuk album terbaru mereka, ‘Sexy, Free, And Single’ dengan konsep ‘Beatutiful Man’ itu, Hyukjae meraupkan wajahnya dengan telapak tangannya karena frustasi. Kesal, dia mengacak-acak rambutnya membuat rambutannya menjadi sangat berantakan.

“Hyukkie, kau kenapa?” Tanya Donghae khawatir sambil memijat pundak sahabatnya itu.

Hyukjae menepis lengan Donghae pelan. “Sudahlah, Hae-ya! Aku sedang kesal sekarang.”

“YA!! Lee Hyukjae, kudengar dari Junghoon, kau ingin pergi menemui kekasihmu?” goda Minwook, manager mereka yang suka menjahili para member.

“Jangan membuatku tambah kesal, Hyung!”

“Hyuk-ah, apa benar yang dikatakan Minwook Hyung?” Donghae bertanya pada Hyukjae dengan wajah polosnya.

Hyukjae hanya mengangguk lemah.

“Kau tidak segera kesana?” Donghae kembali bertanya dengan nada bingung.

“Hey, hanya gadis gila yang akan menunggu hingga jam sekarang ini.”

Hyukjae termenung. ‘Kau pasti akan datang walau terlambat. Jadi aku menunggumu.’ Hyukjae bangkit.

“Hey, kau mau kemana?” Tanya Minwook.

Hyukjae segera berjalan mendekati tas milik Minwook dan mencari kunci mobil yang tadi ia titipkan pada manager-nya yang suka bercanda itu.

“Hey, kau mau kemana? Aku bertanya padamu!”

“Menyusul Hyera, Hyung!”

“Hah? Apa gadis itu masih menunggu. Gila saja.”

Hyukjae tidak menggubris perkataan Minwook. Dia langsung bergegas pergi dan keluar dari ruangan itu.

“Hyera memang gila, Hyung.” Tutur Donghae.

“Ya, Lee Donghae! Kalau gadis itu ada disini, kepalamu sudah berpisah dengan badanmu sekarang!” Ujar Yesung hiperbolis.

Sementara disudut ruangan, Kyuhyun yang tadinya malas berubah antusias. “Aku bisa mewakilinya, Hyung!” Kyuhyun beranjak mendekati Donghae dan menyingsingkan lengan bajunya.

Donghae membelalakan matanya dan ketakutan berlari menjauhi Kyuhyun. “YA!! MENJAUH KAU MAGNAE SADIS!!”

-=.=-

01.40 of April 23rd, 2012

River Side Restaurant

Hyera duduk termenung di undakan depan restoran yang Hyukjae khusus pesan untuknya. Awalnya, malam ini akan menjadi malam yang manis untuk mereka berdua. Tapi kenangan itu harus luput karena ketidak hadiran Hyukjae. Hyera sudah menunggu. Bahkan hingga restoran ini sudah tutup dua jam yang lalu, gadis itu tetap menunggu.

Tak lama ada sebuah mobil berhenti dihadapannya. Awalnya Hyera tersenyum karena berharap bila salah satu penumpang mobil itu adalah kekasihnya, Lee Hyukjae.

Dan kali ini harapannya kembali pupus karena bukan Lee Hyukjae yang keluar dari dalam mobil itu. Melainkan empat orang dengan tubuh besar yang sama sekali tidak dikenali oleh Hyera.

Nuguseyo?” Tanya Hyera sopan saat salah seorang dari mereka mulai medekatinya. Saat tersisa beberapa langkah, Hyera mencium aroma soju yang sangat kuat. Dia langsung berdiri dan mengambil ancang-ancang untuk berlari.

“Kau sendiri disini nona manis?” Tanya pria itu. kepala Hyera perlahan menjadi pusing karena kuatnya aroma soju yang keluar dari mulut pria itu.

“Apa kau mau minum soju bersama?” Pria dengan kumis tipis mendekati Hyera dan meraba lengan Hyera.

Hyera menangkis kasar lalu segera berlari. Tapi pria bertubuh agak gempal itu berhasil mencegah Hyera dan pria itu dengan kasar menarik Hyera untuk masuk kedalam mobil.

“YA!! Lepaskan aku!! DOHOJO!!!”

Hyera berteriak meminta tolong sambil berontak melawan empat pria itu. Bagaimanapun juga Hyera adalah seorang wanita yang tenaganya pasti kalah dengan tenaga pria. Terlebih lawannya berjumlah empat hingga Hyera hanya bisa berdoa dalam hatinya.

DOHOJO!! LEE HYUKJAE!!!!”

Tiba-tiba saja ada sesosok pria dengan siluet yang sangat ia kenali mulai melayangkan tinju kepada empat pria mabuk itu. Walau lawannya berjumlah empat dan bertubuh lebih besar darinya, dirinya masih sadar dan itu menjadi senjata ampuhnya saat ini.

Dalam hitungan menit, empat pria itu sudah terkapar ditanah. Dan dengan cerdik, pria yang menolong Hyera mengeluarkan suara sirene mobil polisi dalam sakuya. Kontan saja, empat pria mabuk itu segera pergi dan meninggalkan mobil itu di depan restoran.

“Hyera-ya, gwaenchana?” pria itu mendekati Hyera, melepaskan jaket kulitnya dan menyampirkan jaket itu pada tubuh Hyera yang masih mengenakan gaun malam. “Gwaenchana.”

Hyera mengangguk. “Gwaenchana.” Jawabnya dengan nada sedikit bergetar. “Gomawo, Sungha-ya.”

Sungha hanya mengangguk. “Untuk apa kau disini? Ini sudah larut, Hyera-ya.”

Hyera hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Sungha.

“Kau menunggu dia lagi? Dia terlambat?”

Hyera mengangguk lemah.

“Lagi?” Sungha berdecak kesal. “Kau tidak menelepon dia? Atau dia yang meneleponmu?”

“Ponselnya tidak aktif.”

Sungha menatap dengan pandangan tidak percaya. “Apa kau gila? Kalau seperti ini lebih baik kau pulang!”

“Aku menunggu dia! Dia berjanji akan datang!”

“Apa kau bodoh? Dia tidak datang? Untuk apa kau memertahankan pria sepertinya?”

Hyera memandang marah pada Sungha tapi dia tidak membantah.

“Kau bilang dia kekasihmu? Kalau menurutku tidak!” Bentaknya. “Kalau dia kekasihmu, dia tidak mungkin menelantarkanmu seperti ini! Kalau dia kekasihmu, dia akan menghubungi bila tidak akan datang dan membiarkanmu menunggu berjam-jam! Kalau dia kekasihmu, seharusnya dia yang datang menolongmu! Seharusnya dia ada saat kau membutuhkannya!”

Hyera mendesah. “Lalu apa tujuanmu mengatakan ini?”

Sugha menarik gadis itu kedalam pelukannya. “Aku akan jadi pria yang lebih baik darinya. Akhiri hubunganmu dengannya dan jadilah kekasihku!”

PLAAK

Hyera melepaskan pelukannya dan menampar pipi Sungha dengan geram. “Bukan aku yang gila! Tapi kau yang gila!” setelahnya dia pergi menjauhi Sungha.

“Hyera, aku bersumpah bila aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku akan selalu ada disampingmu. Hyera-ya, aku berjanji tidak akan memerlakukanmu seperti pria brengsek itu!”

BUGG!!!

Kali ini Sungha jatuh tersungkur. Bukan karena Hyera menamparnya, tapi Hyukjae yang melayangkan tinjunya tepat di pelipis pria itu. Tanpa berucap sepatah katapun, Hyukjae menarik Hyera dan mengajaknya masuk kedalam mobilnya.

Setelah keduanya masuk, Hyukjae langsung menjalankan mobilnya menuju apartemen gadisnya dengan kecepatan melebihi 100 km/h.

Hyera tahu bila kekasihnya sedang marah memutuskan untuk diam dan membiarkan Hyukjae meluapkan emosinya dijalanan dan akan membuatnya tenang.

Namun disisi Hyukjae, diam Hyera menandakan bila gadis itu sedang marah. Dan Hyukjae tidak berusaha mengelak karena akan membuat keadaan semakin buruk. Dan Hyukjae tahu ini memang sepenuhnya kesalahan yang ia perbuat.

Hingga mereka tiba di depan apartemen Hyera, mereka tetap saling diam.

-=.=-

Hyukjae menghempaskan tubuhnya diatas sofa. Appartemen tempatnya berada begitu gelap dan sepi. Sama seperti suasana hatinya sekarang.

“Ya Cho Kyuhyun! Hentikan itu! Kau curang!”

“Aku tidak curang. Itu hanya strategiku! Hahaha!”

“Hahaha! Akan kubalas kau! Terima ini! Hahaha!”

Hyukjae menggaruk kepalanya kesal. “Apa hari ini hanya aku saja yang bersedih?” Hyukjae langsung merebahkan tubuhnya diatas sofa. Dia memejamkan matanya erat. Dan dia merenungkan perkataan Sungha atasnya.

Kalau dia kekasihmu, dia tidak mungkin menelantarkanmu seperti ini! Kalau dia kekasihmu, dia akan menghubungi bila tidak akan datang dan tidak membiarkanmu menunggu berjam-jam! Kalau dia kekasihmu, seharusnya dia yang datang menolongmu! Seharusnya dia ada saat kau membutuhkannya

Hyukjae berguling resah. Dia tahu dia bodoh. Dia tidak memikirkan keselamatan gadisnya saat menunggunya tengah malam seperti ini. Dia tahu dia pengecut. Dia tidak berani melawan atasannya untuk pergi menemui Hyera. Dia tahu dia tidak berguna. Hanya diam termenung di dalam mobilnya dan menonton Sungha dengan heroiknya menolong gadis tercintanya.

Dia ingin mengungkapkan segala kekasalannya. Namun, suaranya tertelan begitu saja dan tenggorokkannya terasa kering. Dia bangkit dan berjalan menuju kulkas. Dia mengambil karton susu strawberry miliknya dan membawanya ke ruang tengah. Dia menungakan susu kedalam gelas lalu meletakan karton susu diatas meja.

Hyukjae merasakan langkah kaki mendekat. Kyuhyun berjalan keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur. Sementara telinganya dengan samar menangkap suara Kyuhyun yang melantunkan tembang Let’s Not dari Super Junior KRY.

♪ “…malhan naya. Nan hangsang ganghan chukman hajiman pyungseng nuh hana jikil jashin ubssuh dduhnan bigubhan namjaya. Dashin na gateun saram saranghaji malgo…” ♪

(I always act strong, but i’m a cowardly man didn’t have the confidence to protect you forever and left. Don’t love someone like me again.)

Hyukjae tertegun. Setiap kata yang terucap yang menggambarkan lirik lagu itu, dia merasa tersindir. Dan itu membuat dadanya terasa sempit dan sesak dan tidak ada cukup ruang untuk menampung oksigen. “Kyuhyun-ah, bisa kau hentikan nyanyianmu itu?”

“Kau kenapa, Eunhyuk-ah?” Tanya Sungmin yang kebetulan ada disana.

“Tidak apa-apa, Hyung.” Sekali lagi dia diam termenung. Telinganya mendengarkan dengan baik lagu yang dinyanyikan Kyuhyun dengan sederhana. Dan otaknya berkerja mencerna setiap kata yang tersusun membentuk lirik lagu itu.

Laju air matanya tak bisa ia tahan lagi. Apa ia harus melakukan hal yang dilakukan seseorang dalam lagu itu? Memikirkannya saja membuatnya sesak. Kata demi kata dari lagu tersebut mengiringi air mata Hyukaje. Dia lelah, dia ingin mencoba tapi dia tak bisa. Dia ingin mencoba, tapi ternyata sakitnya lebih dari yang dia bayangkan.

“Eunhyuk-ah, kau kenapa? Kau terlihat resah. Ada masalah?” Tanya Sungmin khawatir saat mendapati wajah frustasi yang ditampakan oleh Hyukjae

“Aku hanya sedang memikirkan sesuatu.” Jawabnya lemah.

Kyuhyun yang sedang minum mendadak tersedak. “Mwo? Kau sedang berpikir, Hyung?” Tanya sarkasme

Sungmin menyenggol lengan Kyuhyun. “Apa yang sedang kau pikirkan?” Tanyanya pada Hyukjae.

“Aku punya teman. Dan dia memiliki seorang kekasih. Tapi temanku itu merasa tidak pernah membahagiakan kekasihnya dan selalu membuat kekasihnya menjadi khawatir dan kesusahan. Sementara, ada pria lain yang siap menggantikan posisi temanku sebagai kekasihnya yang baru. Menurutmu apa yang harus dilakukan temanku?”

“Siapa dia? Junsu? Donghae?” Tanya Sungmin memancing.

Eunhyuk tergagap. “Temanku yang lain. Memang temanku hanya mereka. Ayo, Hyung, menurutmu apa yang harus dilakukan temanku itu?”

Sungmin tersenyum. Dia tahu bila Hyukjae sedang berbohong dan menceritakan masalahnya atas nama orang lain. “Tergantung. Apa yang dia pilih. Kebahagian kekasihnya. Atau keegoisan temanmu untuk tetap memiliki kekasihnya. Menurutmu, apa yang akan dipilih temanmu itu?”

Hyukjae diam dan memikirkan setiap perkataan Sungmin.

“Kalau dia egois dan masih ingin kekasihnya ada disampingnya, boleh saja. Asalkan dia mau berusaha untuk membahagiakan kekasihnya dan merubah sikapnya.

Tapi bila dia berpikir bila kekasihnya lebih baik untuk tidak bersamanya, dia harus melepasnya pergi untuk mencari kebahagian yang baru.”

“Lalu menurutmu, pilihan apa yang akan dipilih?” Sungmin balik bertanya pada Hyukjae.

Hyukjae menghela nafasnya. “Tentu saja pilihan yang akan membuat gadis itu bahagia dan terbebas dari belengu.”

-=.=-

22.35 of April 25th, 2012

Seongnam Hills

Lelahnya badan mereka tidak dapat dipungkiri lagi. Seharian mereka berkeliling menyusuri setiap jengkal kota Seoul. Dan kini mereka sedang menikmati pemandangan kota Seoul dimalam hari dari atas bukit.

Hyukjae termenung sambil menatap indahnya bulan purnama yang ditemani oleh taburan bintang diatas langit malam. Sementara pikirannya melayang pada dua malam sebelumnya, saat dia mendapat telepon dari Kim Sajangnim.

*** FLASHBACK***

“Eunhyuk-ah! Aku tahu hubunganmu dengan gadis trainee itu.” Ujarnya.

Hyukjae meneguk ludahnya. Memang tidak ada kontrak yang melarang mereka untuk berpacaran, tapi itu selamanya akan menjadi kontrak tak tertulis di perusahaannya. “Ne. Maafkan aku karena belum sempat memberitahu anda, Sajangnim.”

Terdengar helaan nafas berat dari seberang. “Kau tahu, bila ada sedikit saja kebocoran tentang hal ini, bisa berbahaya. Aku percaya karirmu akan baik-baik saja. Tapi aku tidak yakin dengan karir gadis itu. terlebih gadis itu akan debut beberapa bulan lagi.”

“Aku sudah dengar tentang rencana debut Sinecca.”

“Kau tidak mau karir gadis itu tenggelam sebelum mereka bersinar, bukan?”

“Tentu saja tidak, Sajangnim. Itu adalah impiannya dan impianku juga.”

“Kalau begitu, kurasa kau tahu apa yang harus kau lakukan.” Ujarnya tegas. “Aku hanya ingin membicarakan itu saja. Aku yakin, kau akan memilih keputusan yang tepat.”

Hubungan telepon itu terputus begitu saja. Hyukjae menghembuskan nafas dalam. Kim Sajangnim memang tidak menyuruhnya melakukan apapun. Tapi hal tersiratnya adalah: putuskan hubunganmu dengan gadis itu.

-=.=-

Hyukjae menundukan wajahnya dalam-dalam. Hari ini dia sudah menentukan pilihannya. Dan dia harus memberitahukannya pada Hyera sekarang.

“Hyera-ya, kau tahu berlian?”

Hyera mengangguk. “Tentu saja. Kenapa kau bertanya itu?”

“Kau juga tahu berlian itu sangat berharga, indah, sulit didapatkan, dan harus berebut untuk mendapatkan berlian terbaik.”

“Semua orang tahu itu.”

“Asal kau tahu saja, kau sama seperti berlian itu. Indah, karena kau memang gadis ercantik yang kumiliki. Sulit didapatkankan, karena untuk mendapatkanmu aku harus berebut dengan seluruh pria didunia ini yang juga ingin mendapatkanmu. Sangat berharga, karena kau sangat berarti dan bernilai banyak. Dan karena kau bukan hanya sekedar kristal.

Hyera tersenyum mendengar pujian itu. “Gomawo, Oppa.”

“Kau juga tahu bila berlian itu harus dijaga dengan baik. Tapi sayang, pria yang mendapatkan berlian itu tidak bisa menjaganya dengan baik.”

Hyera tertegun. Dia menganggakat kepalanya dari bahu Hyukjae dan menatap nyalang pria itu. “Apa maksudmu, Oppa?”

Hyukjae balas menatap Hyera dengan mata yang sudah penuh airmata. “Maafkan aku karena tidak pernah bisa menjagamu dengan baik.”

“Apa yang kau bicarakan, Oppa? Kau sudah menjagaku dengan sangat baik.”

“Baik? Selalu datang terlamabat. Membuatmu menunggu selama berjam-jam. Tidak menyelamatkanmu dari pria-pria mabuk itu dan bersembunyi didalam mobil. Apa itu yang kau sebut baik, Hyera-ya? Aku ini kekasih yang tidak berguna.”

Hyera menggelangkan kepalanya. “Ani. Kalaupun aku diharuskan memilih siapa yang akan menjadi kekasihku, baik itu putra presiden, pangeran inggris, atlet, dancer, siapapun mereka, aku tetap akan memilihmu untuk tetap menjadi kekasihku.”

“Jangan bodoh, Hyera! Bagaimana bisa kau menyamakanku dengan putra presiden?”

“Aku tidak peduli.”

“Hyera-ya, kumohon! Aku tidak bisa menjadi kekasihmu lagi. Lebih baik akhiri semuanya.”

“Apa kita tidak bisa memertahankan hubungan kita?”

“Semakin hubungan ini dipertahankan, maka aku akan semakin menyakitimu.”

Hyera masih saja menangis. Dia tidak membalas perkataan Hyukjae, karena pria itu memiliki kendali penuh atas dirinya. Semua yang pria itu katakan akan dia lakukan, tapi apakah termasuk perkataannya untuk mengakhiri hubungan ini?

“Oppa aku akan berubah. Bila kau terlambat datang, aku akan pulang lebih dulu.”

Hyukjae menggeleng lemah. “Hyera-ya, kau berhak mendapatkan pria yang lebih baik dariku.”

“Tapi aku hanya menginginkanmu.”

“Suatu hari kau pasti akan menemukan pria lain yang lebih baik dari pada aku.”

Hyera menunduk kembali tenggelam dalam suramnya kisah cintahnya.

“Sudahlah. Kita masih bisa menjadi teman baik, keurae?”

Hyera terdiam selama beberapa menit. Perlahan isakan Hyera sudah tak lagi terdengar. Kemudian gadis itu mendongak. Wajahnya sudah tidak lagi menampakan kesedihan. Justru wajah angkuh yang terpasang. Dia merogoh tasnya dan mengambil ponselnya. Dia mencabut batrei ponselnya dan mengambil sim card-nya.

Hyera mematahkan sim card itu lalu membuangnya. Dia menatap ponselnya. “Lee Hyukjae? Nugulka? Shin Hyera tidak pernah mengenal Lee Hyukjae.” Setelahnya dia bangkit dan mulai berjalan menjauh.

Hyukjae tercengang melihat aksi Hyera. Tapi dia tidak membuarkan dirinya berlama-lama diam seperti orang bodoh. Dia berdiri dan menawarkan mengantar Hyera pulang, “Hyera-ya, biarkan aku mengantarmu pulang. Ini sudah larut malam.”

Hyera menoleh. “Oh, Eunhyuk-sshi. Sejak kapan kau disini? Terimakasih atas tawarannya. Tapi aku sedang terburu-buru. Dan aku masih bisa menjaga diriku sendiri. Permisi.”

Tidak ada yang bisa Hyukjae lakukan saat ini. Dia hanya bisa menunggu dan mengamati Hyera dari jauh memastikan gadis itu telah masuk kedalam taksi. Sejenak setelah Hyera masuk kedalam taksi, Hyukjae menyusulnya dengan mobilnya. Setidaknya dia harus memastikan Hyera tiba di appartemennya dengan selamat.

Sekali lagi Hyukjae sekali lagi memerhatikan Hyera dari kejauhan hingga tubuh gadis itu tertutup oleh pintu megah lobi gedung.

Hyukjae mendesah sekali lagi. Ini sudah menjadi keputusannya. Dan semoga ini membawa mereka menuju hidup yang lebih baik.

Hyukjae mendongak menatap jendela kamar Hyera. “Hyera-ya, kau harus ingat! Kau adalah berlian. Bukan sekedar kristal.”

Hyukjae berharap Hyera untuk tidak terlarut dalam kesedihan. Seperti berlian yang selalu kuat. Jatuhpun, berlian tidak akan hancur. Tidak seperti kristal. Walau sama cantiknya, kristal itu rapuh. Sekali jatuh bisa membuatnya tergores atau bahkan hancur.

Untuk itulah Hyukjae berharap Hyera akan menjadi berlian. Sekalipun jatuh, berlian tetap utuh sebagai berlian yang berharga.

Hyukjae menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya menjauhi gedung tempat tinggal gadis itu.

Haengboghageyo, Nae Daiamondeu. Dubeon dashineun majuchiji malja, Shin Hyera.

-fin-

Advertisements