Tags

LOVE IS ALWAYS COMPLICATED POSTER

Title                            : Love Is Always Complicated – After Sory

Author                        : @dcnirwana

Genre                         : romance

Rate                            : General

Type                           : Drama Fiction

Main Cast                  :

  • Park Nichan
  • Yesung

Disclaimer                  : I OWN THE PLOT and thank you for Egha Latoya for the inspiration.

AFTER STORY

Aku membuka mataku. Aku tengah duduk di sofa tunggal di tengah ruangan yang berhadapan dengan sebuah kaca berukuran besar. Mataku menatap bayangan diriku yang ada dalam kaca itu. Aku tersenyum kecil.

Aku mengamati bayangan semu yang dibalut dengan sebuah gaun pernikahan bewarna putih gading dengan disain yang minimalis. Terlihat anggun dengan gaun yang didisain oleh sahabatku sendiri, Evelyn. Rambutnya digulung dan disanggul dengan apik dengan hiasan pernak pernik berkilau nan manis. Wajahnya disapu dengan bedak tipis dan dipadukan dengan make up yang memerindah wajahnya. Cantik.

Gadis itu aku yang kini tengah mengenakan gaun pernikahanku. Hari yang aku tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Jantungku berdegup kencang. Mendadak aku merasa khawatir dan ketakutan.

Dari cermin aku dapat melihat pintu bilik dibelakangku perlahan terbuka. Tak lama seorang wanita paruh baya keluar dari pintu. Wanita itu perlahan berjalan mendekatiku dan duduk disampingnya. Dia tersenyum memandang wajahku, “Kau cantik sekali, Sayang!”

Aku tersenyum. Aku ingin sekali menangis saat ini juga. “Terimakasih, Eomma.”

Eomma hanya tersenyum kecil. “Putriku sudah bukan putri kecilku sekarang. Dia sudah menjelma menjadi duchess yang sempurna. Sebentar lagi dia akan menikah!”

Aku tidak tahan lagi dan langsung menitikan airmataku. “Eomma, aku takut.”

Eomma lalu berputar dan duduk di sampingku, “Apa yang kau takutkan sekarang?”

Aku menggeleng, “Aku takut akan menjadi isteri yang buruk untuknya.”

“Kau itu adalah gadis yang sempurna. Dialah yang beruntung karena mendapatkanmu. Lalu apa kata hatimu? Apa kau menginginkan pernikahan ini?”

Aku mengangguk. Aku resah dan gelisah tapi tetap rasa bahagiaku jauh lebih besar. Aku langsung memeluk Eomma, “Eomma aku bahagia.”

Aku merasakan Eomma mengangguk.

No no no! Don’t smudge it!” Eve tiba-tiba sudah ada di dalam dan memisahkan pelukanku. “Jangan hancurkan karya masterpiece miliku, Chan-ah!”

Aku berdecak kesal. Gadis ini benar-benar merusak moment bahagiaku. Tapi sepertinya dia tahu apa yang sedang aku pikirkan.

“Kau tidak ingin keluar dan berjalan masuk dengan muka seperti pengantin yang menangis seharian karena gagal menikah, don’t you?”

Aku melotot kearahnya, gadis ini benar-benar! Lebih baik dia kembali duduk didepan altar dan bergabung bersama Henry daripadi disini dan membuatku darah tinggi. Aku hendak membalas perkataanya tapi dia buru-buru membungkam mulutku dengan kalimat yang membuat jantungku berdetak seribu kali lebih cepat.

It’s the time!”

Aku tercenung. Pintu bilik terbuka dan Appa berjalan masuk dengan setelan jas hitam yang ia kenakan. Appa lalu berdiri dihadapanku. Aku diam dan menunggu Appa untuk berbicara lebih dahulu.

Daddy loves you. I wish you’re happy.”

Aku langsung berdiri dan memeluk Appa dan membisikannya, “I love you too, Daddy.”

Appa melepas pelukanku dan menggenggam tanganku, “Ready?”

Aku memajamkan mataku. Mengatur hela napas dan detak jantungku. Setelah aku merasa siap, aku menanggukan kepalaku, “Definitely ready.”

Dengan langkahku yang keluar dari bilik ini menjadi pertanda untukku bahwa kini telah tiba masa untukku. Masa dimana aku akan segera berakhir sebagai putri kecil. Sekaligus menjadi awal sebuah waktu dimana aku akan hidup sebagai isteri dari seseorang yang sedang menungguku di depan altar.

Untukmu yang bersedia menunggu di altar, aku selalu berkata kepadamu, “I’m fall in love with you, everyday.” Orang lain sering mengatakan ini padaku bila awal kita jatuh cinta kepada seseorang itu sangat indah. Tidak ada sedikitpun luka. Maka dari itu aku ingin selalu jatuh cinta kepadamu setiap hari. Agar aku tidak merasakan luka. Agar aku selalu bisa merasakan puncak dimana aku merasa mencintai seseorang dengan sungguh. Hari ini, esok, dan selamaya aku akan selalu mengatakan mengucapkan kalimat itu

Aku tak akan pernah bosan mengatakannya. Sungguh, aku juga tidak tahu kenapa aku tidak pernah merasakan bosan sedikitpun kepada kamu. Banyak orang yang semakin hari semakin bosan dengan pasangannya, tapi kenapa tidak dengan aku. Kenapa hari demi hari yang aku lewati bersama kamu, itu semakin membuat aku jatuh untukmu, jatuh untuk selalu mencintaimu. Entah. Aku juga tidak tau akan ini semua. Sepertinya hari ini dan esok aku akan selalu merasa jatuh cinta kepadamu, setiap hari. Yah. Setiap hari tanpa adanya jeda. Aku merasa tidak punya jeda untuk selalu mencintaimu. Detik ini sampai detik terakhir selalu masih seperti kemarin. Yah, masih seperti kemarin. Selalu kamu.

Saat pintu megah ruangan dihadapanku ini terbuka, aku melihat semua berdiri dan menyambut setiap langkah yang berpijak mendekati altar. Mereka menaburkan kelopak-kelopak bunga. Tatapanku menjauh menuju altar dan aku bisa melihat sosokmu disana. Menunggu dengan senyummu. Begitu tampan dan memesona. Mulai hari ini wajahmu yang akan menyambut pagiku setiap hari. Butuh perjuangan besar untuk mewujudkan ini.

Let me remind you of something. Aku dan dia adalah beda yang berjuang untuk menjadi sama. Aku dan dia adalah beda yang berusaha menjadi satu. Aku bahkan bisa membanggakan diriku karena sudah berhasil memerjuangkan kita. Bagaimana dulu Yongjun yang menggunakan cara apapun agar aku dan dia tidak menjadi kita. Bagaimana dulu Appa dan Eomma membenci gagasan tentang kita. Tentang aku dan kau. Kita adalah sebuah kenyamanan tanpa henti. Kita adalah sebuah rasa sama-sama takut kehilangan. Kita adalah sebuah alasan untuk tetap harus bertahan. Kita adalah sebuah mimpi besar yang ingin selalu bersama.

Apa kabar kalau kita sudah tidak menjadi kita lagi? Kita yang telah berubah menjadi aku dan kamu? Semoga saja tidak karena itu adalah perjuangan kita yang baru. Aku yakin, kau juga selalu meyakinkanku. Kita akan selalu sama dan bersama-sama.

Langkahku masih terayun menuju altar. Terayun pelan, dihiasi tetes-tetes bening yang satu persatu mulai tumpah dari pelupuk mataku. Jatuh membasahi karpet merah bertabur kelopak mawar. Aku melihat teman-temanku yang bertepuk tangan. Beberapa ada yang mengucapkan selamat tanpa suara. Ah, mereka teman-temanku yang terlalu berharga. Bahkan mereka sudah aku anggap sebagai keluargaku sendiri. Terutama member Super Junior dan kekasihnya masing-masing. Aku tidak akan pernah tahu bagaimana aku bisa berterimakasih kepada kalian semua. Ah inikah rasanya seseorang yang akan mengucap ikrar cinta atas nama Tuhan?

Aku melihatmu tersenyum. Aku juga ikut tersenyum. Aku tersadar bila jarak diantara semakin menipis dengan langkahku yang perlahan tapi pasti terayun kearahmu. Tapi dengan itupula aku semakin takut kehilanganmu. Entah sudah berapa kalimat ‘takut kehilangan’ itu kita ucapkan. Bagiku, itu puncak dari rasa disaat aku benar-benar sudah tidak tahu harus berbicara apa lagi. Saat rasa takut kehilangan itu aku hanya ingin memelukmu. Memeluk orang yang juga takut kehilangan aku. Dengan pelukan itu pula akan menjadikan aku dan kamu merasa menjadi satu, aku dan kau tanpa orang lain.

Aku terus melangkah. Sedikit lagi. Namun, langkahku melemah. Aku terus melangkah. Pelan. Sepelan mungkin. Membiarkan kenangan-kenangan manis anatara aku denganmu itu terkenang penuh dalam otakku. Membiarkan kenangan itu kembali terbayang dalam setiap sel otakku. Dan kenangan itu tiba dimana seseorang pernah mengatakan ini padaku, “Apabila ada yang mengatakan takut kehilangan, sama saja dia lebih dari membutuhkanmu. Seseorang mengatakan takut kehilangan karena bagi dia, kau itu orang yang selama ini dia inginkan, selalu dia inginkan. Selalu. Kehilangan kamu itu sama berarti aku kehilangan rasa, dan aku akan mati rasa akan semua yang berada disekitarku.”

Bolehkah aku meralatnya? Seseorang yang memberi tahu tentang arti kehilangan itu adalah kau yang kini sudah tepat berdiri dihadapanku. Aku menyambut uluran tanganmu. Appa tersenyum kepadamu dan kau mengangguk. Aku merasa itu adalah janji dari seorang laki-laki yang memasrahkan putrinya untuk seorang laki-laki yang akan menjadi menantunya.

Kami berbalik. Menghadap pendeta yang akan menuntun untuk mengucapkan ikrar suci atas nama Tuhan. Menuntun kami untuk saling mengikat hati atas nama Tuhan. Menuntun kami untuk menjadi satu atas nama Tuhan dalam ikatan suci pernikahan.

Lalu aku mendengarmu mengucapkan sumpahmu.

“Aku bersedia untuk menjadi sandaranmu saat kau lelah. Aku bersedia untuk menjadi lenteramu untuk menuntun jalan dikegelapan. Aku bersedia menjadi sapu tangan ataupun jari tanganmu untuk menghapus air matamu. Aku bersedia menjadi mulutmu yang akan terus membuatmu tersenyum. Aku bersedia untuk menjagamu. Aku bersedia untuk terus berada disampingmu dalam keadaan sakit ataupun sehat. Dalam keadaan miskin ataupun kaya. Aku bersumpah akan terus mencintaimu seumur hidupku. Untuk selamanya, aku bersedia menjadi suami untuk Park Nichan.”

“Lalu bersediakah engkau, Park Nichan? Untuk menjadikan Kim Jongwoon sebagai suamimu?”

“Ya. Aku bersedia. Untuk menjadi separuh jiwamu. Untuk melengkapi hatimu. Untuk menghuni hatimu selamanya. Aku bersedia untuk menjagamu. Aku bersedia untuk terus berada disampingmu dalam keadaan sakit ataupun sehat. Dalam keadaan miskin ataupun kaya. Aku bersumpah akan terus mencintaimu seumur hidupku. Untuk selamanya, aku bersedia menjadi isteri untuk Kim Jongwoon.”

Saat pendeta itu memberikan pemberkatan untuk kami, aku sudah tidak bisa menahannya. Aku menangis dalam diamku. Tuhan terimakasih karena sudah mengirim pria ini untuk menjadi bagian penting dalam hidupku. Aku berjanji tidak akan pernah menyia-nyiakan dan menyakitinya. Aku berjanji untuk melayani dan menjadi isteri yang baik untuknya. Itu sumpahku.

Pemberkatan selesai. Kamu menciumku lembut seperti biasa. Kau mengakhirinya dan menghapus air mataku yang membekas di pipiku. Lalu aku memelukmu dengan menyenderkan kepalaku di dada kamu. Mengunci jari-jari tanganku itu adalah rasa yang lebih dari rasa nyaman. Memelukmu adalah suatu rasa nyaman yang abadi. Dengan memelukmu, aku percaya bahwa Tuhan mencintaiku. Aku percaya bahwa kau adalah the one. Aku percaya bahwa Tuhan memang menginginkan kita untuk menjadi satu. Aku percaya bahwa hanya Tuhan yang bisa memisahkan kita. Aku percaya bahwa Tuhan memelukku lewat pelukan darimu.

Bagiku, setiap aku memelukmu itu adalah pelukan yang terakhir. Karena, aku takut tidak bisa memelukmu lagi, besok. Aku yakin kau tahu alasan kenapa aku selalu memelukmu setiap aku bertemu denganmu. Itu karena aku tidak ingin kehilanganmu. Dan aku tau, alasanmu setiap memelukku itu karena memang kau ingin kita bersama selamanya.

Setiap aku memelukmu, disitu aku baru tahu, mungkin ini yang dinamakan nyaman. Setiap detak jantungmu yang selalu aku dengarkan saat memelukmu, saat itu juga aku tau, mungkin detakmu tidak hanya berarti untukmu. Tapi sangat berarti juga untukku. Karena yang aku tau, detak jantungmu dan detak jantungku adalah alasan kenapa kita harus selalu bersama. Mungkin, menangis dan memelukmu adalah satu-satunya hal yang dapat membuat aku tenang dan merasa memilikimu.

Pelukan membuat kita semakin merasakan rasa sayang, karena dari pelukan itu kita selalu merasa menjadi satu “aku milikmu dan kau milikku.” Tuhan selalu bersama kita dan memeluk kita. Saat kita berpelukan, di situ pula Tuhan juga sedang memeluk kita. Terimakasih untuk kamu, pencipta mimpi. Terimakasih untuk Tuhan, pencipta kita.

Kim Jongwoon, aku mencintaimu.

 

-fin-

Advertisements