Tags

glaskasten

Title                            : Glaskasten

Author                      : @dcnirwana ( www.blameonblack.wordpress.com )

Genre                         : romance

Rate                            : General

Lenght                       : Oneshot with 2,222 words

Main Cast                :

  • Cho Kyuhyun
  • Park Nichan

Disclaimer                  : I OWN THE PLOT inspired by glass of box by orin

 

GLASKASTEN

Raishana Park & Rakel Steiner

 Sechseläuten Festival – Zürich

Cho Kyuhyun menatap sendu tulisan dalam memo yang terpajang di bawah sebuah foto. Sebuah pigura besar berisi 3 potret yang di susun manis secara horizotal pada dinding besar di atas ranjang yang kosong. Foto sepasang kekasih yang tampak tersenyum dan bercanda kecil dengan wajah polos apa adanya. Dengan latar belakang tokoh utama festival musim semi itu, Böög si boneka salju yang terbuat dari jerami yang setengah terbakar.

“Ms. Latte, bolehkah suatu saat aku juga melihat matamu yang tersenyum lepas seperti itu? Hanya untukku?” gumamnya, meraba sepasang mata coklat Nichan yang terlihat begitu lembut dalam foto itu.

Lalu matanya beralih menatap pria Swiss itu. Kyuhyun menatap mata pria itu, meski hanya melalui sebuah foto tetapi Kyuhyun bisa merasakan kalau dia sedang benar-benar berhadapan dengan seorang Rakel Steiner. “Würden Sie sie gehen lassen? Kau sudah berbahagia di duniamu yang baru. Tapi gadis ini masih disini dan terjebak bayang-bayang masa lalu yang menyiksa batinnya.”

Ia lalu memutar badan, menyapukan pandangan pada foto-foto lain yang menghiasi kamar bercat ungu pastel itu. Kebanyakaan adalah foto-foto Nichan bersama Rakel Steiner. Foto-foto yang membuktikan seberapa berharganya cinta yang akan terus dijaga Nichan. Foto-foto yang seolah mengejeknya bahwa ia tidak akan pernah bisa menggantikan sosok pria keturunan Swiss di dalam sana. “Kau lihat ini semua, Rakel Steiner? Dia benar-benar menepati janji untuk menjaga hatinya untukmu. Tapi semua itu sudah tidak masuk akal karena kau sudah meninggalkan dunia ini.”

Kyuhyun memasukan tangannya kedalam celananya. Matanya menatap tajam sosok Rakel. “Freisetzung. Just let her go.”

Pria itu hendak beranjak keluar, tapi sesuatu menahannya. Sepasang matanya menangkap sebuah benda kecil yang terpajang di atas kepala ranjang, sebuah kotak kaca. Matanya menyipit penasaran.  Ia mengambilnya lalu mengamatinya. Sebuah kotak kaca yang ditengahnya berisi rongga kosong berbentuk hati. Di setiap sisi kotak itu terdapat ukiran berbentuk gembok yang terkunci rapat. Dia meletakan kembali kotak itu dan menemukan sebuah kartu pos Swiss berisi pertanyaan sederhana namun terkesan amat bermakna.

 Wie geht es dir?

(How are you)

Dan tanpa berpikir pun, rasanya Kyuhyun cukup tau untuk siapa pertanyaan itu ditulis. Kyuhyun merasa yakin tentang apa yang ada di otaknya. Untuk Rakel Steiner.

Lalu tiba-tiba, bagi Kyuhyun, entah mengapa dia merasa kotak kaca mungil itu seolah juga mempunyai makna tersendiri. Menggambarkan hati Nichan yang membeku dan tersimpan utuh dalam sebuah kotak yang penuh dengan kenangan masa lalu. Menggambarkan sosok Nichan yang hanya bisa dipandangi dan disentuhnya dari luar. Ya, hanya dari luar. Karena perasaan Nichan terkunci rapat, yang hanya berisi tentang seseorang saja dan mungkin tidak akan mau terbuka lagi, meski kini sesorang itu tengah berada di surga.

“Karena dinding-dinding kaca itulah yang menghalangiku untuk masuk dan menemuimu di dalam.” Kyuhyun tersenyum miris. “Tapi sekalipun begitu keadaannya, aku tidak akan menjadi pengecut. Aku akan mencoba mengetuk kotak kaca itu, sekalipun aku harus menunggu lagi sampai kau mau membukanya dan keluar dari dalam sana.”

“Hey, Cho!” Nichan tiba-tiba saja sudah masuk kedalam kamar dan membuat Kyuhyun kelabakan karena belum sempat mengembalikan kartu pos itu. Yang naasnya, Nichan melihat kartu itu ditangannya. Bukannya marah, Nichan justru tersenyum kecil dan mengambil alih kartu itu. Dilihatnya foto panorama danau Zürichsee dengan jembatan Münsterbrücke, jembatan tertua dan terindah di kota Zürich, seolah bersinar di bawah nyala lampu seperti bintang. Sementara jauh di belakang sana, siluet gunung Uetliberg terlihat gagah dalam kegelapan malam. Indah. Senyum Nichan semakin mengembang, “Zürich indah, kan?”

Kyuhyun miris menatap pandangan mata menerawang yang di tunjukan Nichan. Gadis itu terlihat sendu mengenang sesuatu tentang Zürich. Seseorang, lebih tepatnya.

“Bagaimana dengan Seoul?”

Nichan tercenung. Nichan tahu bukan sekedar suatu keindahan kota yang dibicarakan disini. Tapi tentang sesorang. “Zürich selalu menjadi kota terindah untukku, Cho. Tapi Seoul menjadi lebih indah karena ada kau, sahabat terbaikku.”

Sahabat?

Kyuhyun terdiam kaku. Dan tiba-tiba saja, ia melihat sebuah kotak kaca yang mengurung tubuh gadis itu di dalamnya. Sebuah kotak kaca yang tak juga terbuka bahkan saat waktu terus bergulir lama. Sebuah kotak kaca yang menahan apapun yang mecoba menerobos masuk kedalam sana. Sebuah kotak kaca yang mengurung gadis itu dengan bayang-bayang masa lalu.

“Ayo keluar! Aku sudah membelikanmu cola.” Gadis itu mengawali langkah keluar dari petak ungu pastel ini dan menuju dapur. Dibelakang, Kyuhyun mengikutinya, “Kenapa kau selalu membelikanku cola?”

“Karena cola mengingatkanku padamu.”

Kyuhyun mendengus, “Kau tahu Cho dan Co dalam cola itu berbeda pelafalan.”

Nichan terkekeh. “Yang kumaksudkan adalah dalam penulisan latinnya.” Sahutnya. Lalu menyodorkan sebotol dingin cola kearah Kyuhyun.

Kyuhyun menggeleng. “Latte.”

“Apa?”

“Buatkan aku latte!”

 “Kau yakin tidak mau cola?” Nichan mengernyit.

Kyuhyun menggeleng yakin, “Aku ingin latte.”

 “Benar kau ingin latte? Tidak cola saja?” Nichan masih belum yakin dengan apa yang dia dengar.

 “YA! Park Nichan! Kau mau bertanya berapa ratus kali lagi, hah?” sungut Cho Kyuhyun dari meja makan.

Nichan terkekeh kecil sambil meraih dua cangkir di rak atas dapur, “Aku hanya memastikan. Kupikir kau tidak suka kopi.”

 “Memangnya aku tidak boleh minum kopi?” dengus Kyuhyun lagi. Pria itu meraih sepotong roti roll di tengah meja, kemudian mulai menggigitnya. “Lagipula yang aku tidak suka kopi pahit, bukan vanilla latte buatanmu.”

 “Aku hanya merasa aneh saja. Tidak biasanya kau minta kopi. Kenapa?” selidik Nichan. Ia melirik Kyuhyun sekilas sambil memasukkan sesendok creamer kedalam cangkir berwarna abu-abu.

 “Aku ingin merasakan menjadi Mr. Latte.”

Secangkir kopi panas yang baru saja di aduk itu tiba-tiba terjatuh dari tangan Nichan, pecah. Cairan coklat pekat dengan asap yang masih mengepul tampak tumpah mengotori lantai dapur. Ampasnya berhamburan, sama seperti ampas-ampas pahit di dalam rongga hati Nichan yang kembali terhambur menyesakkan detik itu juga.

 “Park Nichan!” pekik Kyuhyun.

Park Nichan masih terdiam di tempat. Kaku. Sepasang mata coklatnya menatap kosong. Terlalu bingung atau mungkin terlalu takut untuk meyakini apa yang mungkin dirasakannya beberapa saat lalu. Ia sendiri tidak tau kenapa tangannya sempat terasa beku seolah tidak bisa menggenggam apa pun.

 “Kau baik-baik saja?”

Nichan mulai memeroleh kesadarannya lagi saat merasakan tangan hangat seseorang mengusap pundaknya. Namun butuh beberapa detik hingga kemudian ia berjongkong memunguti pecahan cangkir yang berserakan di lantai, “Maaf. Aku hanya… auwhh.”

 “Bodoh! Jangan dipegang!” Kyuhyun meraih tangan Nichan yang mulai memerah karena cangkir itu bersuhu tinggi. “Lihat ini! Tanganmu jadi merah.”

“Maafkan aku, Cho.”

“Kau ini minta maaf karena melukai tanganmu sendiri?” Kyuhyun benar-benar tidak habis pikir dengan gadis dihadapannya yang kini kembali mengambil pecahan cangkir yang panas itu.

“Aww.”

Dengan panik Kyuhyun langsung menyentak tangan Nichan dari pecahan cangkir dan segera memasukkan jari manis gadis itu kedalam mulutnya. Menghisapnya. Berusaha menghentikan cairan kental merah yang keluar dari segores luka disana. Kyuhyun menyadari satu hal saat itu, bahwa ia tak pernah bisa membiarkan Ms. Latte-nya terluka, sekecil apa pun.

 Nichan meringis dan ia mulai menangis.

Kyuhyun terhenyak kaget saat ia melihat setetes air terjatuh, menimbulkan bercak di atas tumpahan kopi. Ia mendongak dan sesuatu bergemuruh di dalam hatinya saat melihat sosok Nichan meneteskan air mata sambil menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, “Kenapa kau menangis? Ini hanya luka kecil, kan?”

 “Sakit.” desis Nichan.

Ya, sakit. Teramat sakit saat ia mencoba menyangkal perasaannya sendiri. Mencium aroma Cho Kyuhyun dalam radius sedekat ini adalah hal paling menyenangkan sekaligus paling menyesakkan untuknya. Kehangatan dari tiap hembusan nafas Cho Kyuhyun dalam udara sejengkal ini seolah mencekiknya diantara banyak kebingungan yang membuatnya sesak. Teramat menyesakkan. Seperti terkurung dalam sebuah kotak kaca pengap tanpa ventilasi. Dan Kyuhyun laksana sebuah tempat yang menawarkan oksigen. Menggiurkan. Tapi, ia tidak mungkin beranjak untuk menghirupnya. Karena tiap detik oksigen dan kehangatan itu bukan miliknya. Dan bukankah ia sendiri sudah punya kehangatan yang harus tetap dijaga? Lalu kenapa dia ingin merebut kehangatan ini juga? Tidakkah ia terlalu serakah? Harusnya tidak boleh, kan? Tapi kenapa rasanya sesakit ini?

 “Apa sebegitu sakitnya?” lirih Kyuhyun, pria itu menghela nafas berat, “Lagipula, apa yang kau pikirkan? Kenapa begitu bodoh sam-”

 “Kau yang bodoh!” Nichan menyentak jarinya dari genggaman Kyuhyun. Tidak lagi peduli luka di jarinya itu kembali menganga dan mengeluarkan darah. Gadis itu menyeka kasar cairan bening di ujung matanya agar tidak lagi menerobos lancang, “Cho Kyuhyun bodoh! Seenaknya saja bicara menjadi Mr. Latte. Jangan main-main! Kenapa kau sama saja seperti para hyung-mu itu? Tidak bisa jaga mulut! Suka mengoceh seenaknya sendiri tanpa-”

Nichan tak sempat mengelak saat Kyuhyun tiba-tiba menarik lengannya dengan cepat. Membuat tubuhnya langsung terlempar kedalam dekapan hangat pria itu. Tangan kanan Kyuhyun melingkup pinggang Nichan dengan erat, sedang tangan kirinya menahan kepala gadis itu agar terus terbenam di balik bahunya. Membuat Nichan terhenyak kaget saat dirinya sekarang sudah berada dalam dekapan seorang Cho Kyuhyun. Dada bidang seorang pria yang selalu menopangnya dengan tegas. Kehangatan yang selalu berhasil membuatnya tenang. Aroma tubuh yang selalu berhasil mengobrak-abrik syaraf air matanya untuk berhenti atau terus mengalir.

“Menangislah kalau kau mau menangis. Jangan berpura-pura kuat dan menahan tangismu. Aku tahu itu menyiksamu.” Kyuhyun terus menahan Nichan selama beberapa saat dalam dekapannya. “Kau bisa menggunakan bahuku untuk tempatmu menangis.”

Nichan terhenyak. Baru kini ia sadari ia hanya benar-benar bisa melepas tangisnya di depan orang-orang tertentu. Di depan Ayahnya yang sekarang sudah berada di Surga, di depan Ibunya, di depan Rakel Steiner dan tahun ini entah bagaimana daftar itu sudah bertambah lagi dengan nama seseorang. Cho Kyuhyun.

Namun, kemudian dia menggeleng. “Kau menyebalkan, Cho!” desis Nichan. Ia mengepalkan tangan dan menegakkan punggungnya dengan beku sama sekali tidak mencoba untuk membalas pelukan pria itu. “Kau menyebalkan! Lepaskan aku!”

Melepaskanmu? Kenapa permintaan yang terdengar sederhana itu terasa berat untuk dilakukannya? Melepaskan Park Nichan? Ini kali pertama gadis itu meminta lepas dari pelukannya. Kali pertama yang langsung dikabulkan oleh Cho Kyuhyun.

 “Maaf. Aku salah. Harusnya aku sadar, bahwa aku tidak bisa memecahkan kotak kaca itu semudah cangkir kopi itu.” lirih Kyuhyun, nada bicaranya terkesan tenang walau terdengar nada kesungguhan di dalam sana.

Nichan mengernyit, “Apa maksudmu dengan kotak kaca?”

“Kotak kaca di atas ranjangmu, itu kau, kan?”

Nichan menelan ludahnya. Tahu. Tanpa pemberitahuan apapun dari Nichan, rupanya Kyuhyun sudah tahu.

Rakel, kenapa pria itu selalu bisa menebak semua tentangku?

“Kau tidak berbakat menjadi paranormal, Cho! Jangan sok tahu!” Gadis itu kembali mencoba tertawa sambil menyeka kasar air matanya yang tak juga mau berhenti sejak tadi.

 “Ssstttt…” tawa pias Nichan terhenti saat telunjuk Kyuhyun menyentuh bibirnya. Meminta gadis itu untuk diam, “Berhenti menghindar, berhenti mengalihkan pembicaraan dan berhenti pura-pura tertawa seperti itu, Park Nichan! Diam dan dengarkan aku!”

Kyuhyun tersenyum lembut. Ia mengusap kedua pundak Nichan, turun menyusuri sepasang lengan yang terbungkus hoodie kemudian meraih kedua tangan Nichan yang bebas dan menggenggamnya dengan erat. Sepasang matanya menatap lekat kedalam manik mata Nichan, seolah memberi sebuah keyakinan, “Kann ich dich liebe?”

 “Tidak bisakah aku mencintaimu? Tidak bisakah kau membuka hatimu lagi?” tanya Kyuhyun memecah sunyi. “Untukku?”

Nichan masih terdiam. Ia tak pernah punya jawaban pasti tentang semuanya. Karena ia sendiri tidak yakin apakah ia punya cukup hati. Ia tak yakin apa dia cukup berani untuk melanggar apa yang telah dipilihnya. Ia tak yakin apa dia cukup mampu untuk menghancurkan kepercayaan yang dulu pernah ia janjikan pada Rakel.

 “Kau ragu?” tanya Kyuhyun, begitu hati-hati dalam setiap kata yang diucapkannya.

“Kau boleh mencintaiku. Kau boleh mencintai siapapun. Itu hakmu dan aku tidak bisa melarangnya.” Sahut Nichan. “Tapi aku… Aku… Hatiku sudah terkurung untuk Rakel.” Nichan, begitu lirih saat mengucapkannya. Gadis itu melepas tangannya dari genggaman Kyuhyun.

Kyuhyun mencoba mengangguk paham walau tiba-tiba dadanya terasa perih detik itu juga, seolah ada ribuan pecahan kaca yang menusuk-nusuk hatinya agar ikut hancur. Perih. Padahal ia sudah meyiapkan hatinya, ia sudah tau kemungkinan jawaban yang keluar dari mulut Nichan tadi, tapi ia tak pernah menyangka bahwa akan sesakit ini. Lebih dari yang ia bayangkan.

 “Hatimu tidak terkurung, tapi kau yang mengurungnya. Kau sendiri yang membuat perangkap kota kaca itu. Benar kan?” pria itu mengulurkan tangannya untuk merapikan poni Nichan dengan lembut, “Karena itu, hanya kau yang bisa membantu dirimu sendiri untuk keluar dari kotak kaca itu, Chan.”

Nichan memandang Kyuhyun sendu.

Kyuhyun meraba udara hampa di antara keduanya, “Ada dinding kaca yang tidak terlihat disini. Selama ini kau tinggal di dalam kotak kaca itu. Sebuah kotak kaca yang mengurungmu dalam bayang-bayang masa lalu. Sebuah kotak kaca, yang menahan dirimu dari sentuhan dan suaraku hingga membuatku hanya bisa melihat dan menatapmu dari luar. Kuncinya ada di dalam dan aku tidak akan memaksa masuk dengan menghancurkan kacanya. Karena serpihan tajamnya akan melukaimu.” tambahnya, terdengar begitu lembut. “Aku takut kau terluka.”

Nichan terenyuh.

“Bukankah cinta memang seperti itu? Ketakutan berubah menjadi keberanian karena satu orang itu? Aku akan membantumu keluar dari kotak kaca itu. Tanpa merusaknya hingga kita berdua sama-sama tidak terluka. Bila kau memberiku kesempatan, aku bisa mewujudkannya suatu hari nanti di masa depan. Dan kita tidak perlu menunggu lama untuk itu.”

“Masa depan bukan suatu hal yang pasti.”

“Kalau begitu, aku akan menemani langkahmu menyusuri ketidakpastian itu. Semua hal di dunia ini memiliki akhir, Chan. Dan akhir itu adalah sebuah kepastian.”

Setetes cairan bening kembali jatuh dari ujung mata Nichan. Tapi kali ini, Cho Kyuhyun tidak mencoba menyeka air gadis di hadapannya itu. Ia ingin membiarkan Ms. Latte-nya menangis untuk saat ini. Membiarkan gadis itu meluapkan semua emosinya dalam diam dan air mata.

“Aku akan menunggu.” putus Kyuhyun kemudian, pria itu mendekatkan wajahnya kearah Nichan. Menyatukan dahinya dengan dahi gadis itu, membiarkan kehangatan keduanya melebur selama beberapa detik.

Nichan menggeleng, mata sendunya menatap haru wajah Kyuhyun sementara mulutnya memanggilnya lirih, “Cho…”

Kyuhyun tersenyum. “Sampai kapan pun, aku akan tetap menunggu. Sekalipun aku hanya manusia biasa yang memiliki keterbatasan,  jadi aku akan terus menunggu sampai batas itu. Meskipun dalam penantianku akan ada gadis yang menarik perhatianku, aku tidak akan memilih mereka. Karena hatiku sudah memilihmu.”

-end-

Advertisements