Tags

LOVE IS ALWAYS COMPLICATED POSTER

Title                            : Love Is Always Complicated – Episode 15

Author                        : @dcnirwana

Genre                         : romance

Rate                            : General

Type                           : Drama Fiction

Length                        : Oneshot; 5,033 words; 13 MS Word pages

Main Cast                  :

  • Park Nichan (OC)
  • Kim Byulhyun (OC)
  • Yesung
  • Kyuhyun
  • Super Junior

Disclaimer                  : I OWN THE PLOT and thankyou for Melbourne by Winna Effendi for the inspiration to end this drama fiction.

EPISODE 15

09.00 of June 20th 2012

Bahama

***

[HEADLINE NEWS] LEETEUK DAN SHIN MINAH RESMIKAN HUBUNGAN

Sebelumnya, pada acara Star King yang disiarkan pada tanggal 13 September 2011 lalu, Super Junior Leeteuk mengumukan bila Leeteuk sudah berkencan dengan aktris sekaligus presenter Shin Minah melalui sekmen ‘Teukigayo’

Pada Senin 18 Juni lalu, Leeteuk dan Minah meresmikan hubungan mereka dengan mengucapkan ikrar suci janji pernikahan.

Pesta pernikahan yang Leeteuk adakan secara outdoor di daerah Seongnam berlangsung tertutup. Wartawan dan pers hanya di bolehkan mengambil gambar dalam jarak radius dua puluh lima meter dari lokasi acara.

Pasangan yang resmi dinikahkan oleh pastur Lee Daewook itu nampak bahagia di sepanjang acara yang dihadiri oleh keluarga dekat ditambah dengan sesama artis yang berada dalam naungan SM Entertainment dan juga beberapa kerabat artis lainnya.

Selesai acara pernikahan itu, Leeteuk dan Minah memberikan waktu untuk wawancara singkat.

“Karena aku tidak mau menunggu dua tahun lagi untuk menikahinya.” Jawab Leeteuk saat ditanya perihal rencananya wamilnya.

Sementara Minah hanya tersenyum malu-malu… [Continue Reading]

***

Minah tersenyum kecil membaca wacana yang ada di sebuah situs melalui tablet miliknya. Hingga saat ini saja, pernikahannya bersama Leeteuk terasa bak sebuah mimpi terindah yang pernah ia alami. Kemudian sebuah tangan kekar yang melingkar di perutnya membuatnya tersadar dari semua lamunannya.

Minah membalikkan badannya dan balik memeluk Leeteuk erat diruangannya. Ia sedang berada di balkon sebuah villa yang berada di Half Moon Bay. Tempat dimana mereka pilih untuk melakukan honeymoon mereka.

Leeteuk membelai lembut pipi istrinya, lalu rambutnya yang lurus dan tak beraturan. Minah masih tersenyum.

Yeppeo.” ucapnya. Minah membuka mata dan mata Leeteuk menatapnya tajam. Mengisyaratkan bahwa Leeteuk juga bahagia akan hal yang dia lakukan. Tangan kanannya membelai terus pipi pualam Minah tanpa henti.

Minah menyukai belaiannya, tak ingin melewatkan sedetik pun apa yang ia lakukan pada Minah. Satu kecupan lagi mendarat dipipi Minah. Sepertinya, itu adalah hobi barunya.

Leeteuk beranjak dan melepas pelukannya. Minah melihatnya heran kemudian menanyakan rasa bingung yang ia alami, “Mau kemana?”

“Mengambilkan sarapan. Tunggu disitu. Jangan bergerak!” Leeteuk pergi menuju keluar kamar dengan pakaian seadanya. Ia memakai kemeja putihnya asal yang tergantung di lemari sebelumnya.

Lalu entah mengapa, pikiran Minah melayang kebeberapa tahun silam. Minah diam dalam hening. Dulu dia pernah mendatangi tempat ini bersama Minso dan Ibunya. Mata airnya mulai tergenang saat mengingat Ibunya yang sudah tenang di surga sana. Satu yang kurang dari kebahagiaan Minah. Ijin seorang ibu yang seharusnya menanti pelukan cucunya setelah Minah memiliki anak nanti.

Eomma, aku sudah menikah sekarang.” Ucapnya bergetar menahan tangis tapi tetap saja air matanya meluncur pias begitu saja. “Aku bahagia, Eomma.”

Lalu tak butuh berapa lama kemudian, Leeteuk datang dan berjalan kearahmu membawa baki dengan dua piring roti panggang. Yang kemudian ia sadari adalah jejak air mata yang mencoreng paras cantik Minah.

“Kau kenapa, jagi?” tanyanya sambil membelai lembut garis mata Minah, menghapus bekas air mata yang ada diwajah Minah.

Gwaenchanaya.” Ucap Minah tak jujur. Tapi Leeteuk terlalu tahu diri Minah. Leeteuk pasti bisa menebak apa yang Minah pikirkan.

“Ibumu pasti tahu bahwa kita bahagia sekarang ini. Uljimaya jagi.” katanya.

Minah memeluknya. Leeteuk mengecup puncak kepala Minah, “Kau punya aku. Kau bisa andalkan aku jika kau sendirian. Kau juga bisa berbagi masalah denganku saat ini. Karena aku suamimu.”

Saat itu, Minah tak lagi menunduk, tak lagi menyembunyikan matamu yang disusupi air mata. Dia tersenyum penuh rasa haru.

Gomawo, Oppa.” Ujarnya haru. “Neomu neomu, saranghaeyo.”

Leeteuk tersenyum, “Kau sudah mengatakannya berkali-kali. Kau tidak perlu berterimakasih padaku. Aku tak suka kau melakukan itu berulang kali.”

Minah memanyunkan bibirnya. Suasana hatinya sudah mulai membaik dan mulai menggoda Leeteuk.

“Tapi kau suka ciumanku yang berulang-ulang.” Tutur Minah menggoda, lalu melepaskan pelukannya dan pergi berlari keluar.

Minah yang mendengar suara derap langkah lelaki yang kencang mengejarnya semakian membuat dirinya semakin antusias untuk mempercepat langkah kaki untuk berlari menuju pantai dihadapannya.

“Hey! Aish! Sejak kapan istriku menggoda begitu?” Leeteuk bertanya gemas. “Nyonya Park, berhenti kau!”

Minah terkekeh disela lari kecilnya. Setidaknya dia yakin akan stau hal, Leeteuk, pasti bisa mewarnai hari-harinya. Bahkan lebih dari sebelumnya. Leeteuk, suaminya saat ini, hingga nanti dan akan selalu menjadi miliknya. Mencintainya, melindunginya dan menjadi ayah yang baik bagi anak-anak mereka kelak.

-=.=-

09.00 of June 24th 2012

Seoul

Oppa, kau yakin?”

Eunhyuk yang sedang menalikan ikatan tali sepatunya terkekeh pelan. Lalu ditatapnya kekasihnya yang berdiri memasang raut wajah tak yakin.

“Kenapa? Apa kau takut?”

Hyera menggaruk kepalanya walaupun tidak gatal sama sekali. Entahlah, dia merasa tak yakin dengan rencana kencan yang ditawarkan Eunhyuk. Bagaimanapun juga, dia sangat senang bisa berkencan dengan Eunhyuk. Tapi dengan bersepeda mengelilingi taman? Yang benar saja, dia tidak mau mati ditengah jalan nanti.

Tapi tak butuh waktu lama bagi Eunhyuk untuk memahami seutuhnya apa yang dipikirkan gadis yang berdiri dihadapannya ini. Dia menggenggam kedua tangan Hyera dan menatapnya lembut. Sebelah tangannya membelai rambutnya.

“Kau tidak perlu khawatir sekarang. Tidak ada yang perlu ditakutkan dan disembuyikan lagi. Hanya ada kau dan aku, kau mengerti?”

Hyera mengangguk yang dijawab oleh sebuah kecupan manis didahinya.

“Jadi, kita berangkat sekarang?” Tanya Hyera sambil menuntun sepeda gunung miliknya.

Eunhyuk tersenyum lebar sehingga menunjukan seluruh gusinya. “Kajja!!”

Sedetik kemudian, mereka mulai mengayuh sepeda mereka menuju menara Namsan. Kini tiba saatnya bagi mereka untuk menikmati waktu bersama dengan tenang dan terang.

-=.=-

09.00 of June 24th 2012

Seoul

TING… TONG…

Chankamanyo.” Aera berseru dari dalam kamarnya. Dia kembali memastikan penampilannya melalui pantulan bayangan di cermin. Hari ini Donghae akan mengajaknya berkencan. Tapi dia sedikit ragu. Beberapa saat yang lalu dia melihat beberapa artikel tentang Eunhyuk dan Kangin yang berkencan secara terang-terangan. Dia sedikit berharap kalau Donghae juga melakukan hal yang sama meski ia tahu seberapa bahaya resiko yang akan menyambutnya.

Suara bel kembali terdengar membuat Aera langsung berderap menuju pintu apartemennya. Dia tidak perlu mengecek intercom karena dia tahu pasti siapa yang sudah mengunggu dibalik pintu ini.

Donghae berdiri dibelakang dengan membawa buket bunga mawar putih. Dia mengenakan kaos putih longgar dengan jaket jeans warna biru pudar. Dia terlihat tampan seperti biasa. Disaat seperti ini seharusnya Aera yang terkejut mendapati Donghae datang tanpa penyamaran sama sekali. Namun justru Donghae yang menampilkan ekpresi terkejut. Mata dan mulutnya terbuka lebar seperti anak kecil yang melihat mainan idamannya.

Waeyo?” Aera bertanya kebingungan.

“Apakah ini benar alamat Park Aera?”

Aera mendengarnya dengan kikuk, “Ini benar rumahku, Oppa. Kau kenapa?”

“Kukira aku tersesat di apartemen seorang bidadari.” Ujarnya sambil terkekeh. “Kau cantik sekali.”

Aera tersenyum malu. Dia menerima buket bunga itu. “Terimakasih, Oppa.”

“Ayo, kita kencan hari ini.”

-=.=-

09.00 of June 24th 2012

Seoul

Mata Heechul sibuk kesana kemari meruntuti deretan butik yang ada di dalam Mall. Semua mata terpaku pada ketampanannya yang jelas-jelas sudah menjadi milik seseorang yang merangkul lengannya saat ini. Heechul kini tidak memakai perlengkapan apapun seperti masker, syal, atau mantel yang biasa ia pakai saat berkencan dengan Heerin dulu. Kini dia bisa dengan bebas berkencan dengan gadisnya tanpa perlu repot-repot memikirkan penyamaran yang rumit.

Sementara Heerin, yang tidak terbiasa dengan menjadi sebuah pusat perhatian merasa malu atau bangga. Rasa itu bercampur jadi satu. Tapi tiba-tiba semua perasaan itu meluap begitu saja. Tergantikan gejolak aneh saat melihat tatapan gadis-gadis diselilingnya yang memandangi Heechul dengan pandangan memuja. Refleks, Heerin langsung menngeratkan rangkulannya di lengan Heechul.

“Hei, kau kenapa?” Heechul merasakan hal yang tak biasa dari rangkulan Heerin.

Heerin hanya menggelengkan kepala sekenanya untuk menjawab pertanyaan Heechul.

Tapi Heechul tidak berhenti begitu saja. Dia bertanya kembali, “Apa karena semua orang, terutama wanita-wanita dan gadis-gadis yang berusaha berfoto denganku dan mengagumi ketampananku?”

Heerin memicingkan matanya, “Kau ingin bertanya atau ingin pamer?”

“Aku tidak perlu pamer lagi karena semua orang sudah tahu kalau Kim Heechul itu lelaki yang sangat tampan.”

Heerin tak menjawab dan hanya mengalihkan pandangannya kearah manapun yang bisa menarik minatnya. Namun, hal itu membuat Heechul terkekeh geli. “Kau cemburu?”

“Aku tidak cemburu!” Tukasnya kesal.

Heechul semakin tertawa renyah. “Akui saja Kim Heerin kalau kau cemburu!”

Heerin melepas rangkulannya dengan kesal, “Aku tidak cemburu!” Tegasnya lalu berjalan menjauhi Heechul.

Pria itu langsung menyusul gadisnya yang sedang merajuk. Dia menjinjing kantung-kantung belanjaan dan mensejajarkan langkahnya dengan Heerin.

“Ayolah. Apa yang harus kau cemburui tentang ini?”

“Aku hanya kesal karena kau terlalu banyak menebarkan pesonamu disini.” Jelasnya kesal. “Kau sangat genit, kau tahu itu?”

Heechul mengulum senyum. “Aku ingin semua orang tertuju padaku sekarang karena saat ini adalah saat aku paling memesona karena ada Kim Heerin disisiku.”

Oppa, ayo kita makan dulu. Aku lapar sekali.” Ucapnya mengubah topik pembicaraan karena Heerin tersipu malu dengan ucapan Heechul barusan. Gadis itu lalu langsung berjalan menuju luar restoran cepat saji yang terletak tak jauh dari dirinya. Dia duduk di kursi kosong yang tersedia, lalu menidurkan kepalanya.

“Hey, kau kenapa?” Ujar Heechul setelah mendudukan dirinya disamping Heerin.

Heerin mendongakan kepalanya. “Apa kau pikir aku bisa makan dengan tenang bila kondisinya seperti ini?”

Heechul menaikan alisnya dan mengikuti arah pandang Heerin. Dia baru menyadari segerombolan gadis berdiri heboh diluar dan mengamati mereka melalui dinding kaca restoran itu. Hampir semua dari mereka sibuk memotreti dirinya dan Heerin.

Heechul tersenyum, “Kau tahu apa yang akan membuat mereka pergi?”

“Apa?”

“Ayo buat love sign kearah mereka.”

Heechul segera mengangkat tangan kanannya dan mengarahkannya kearah gadis-gadis itu. Heerin dengan kikuk mengikuti gerakan itu dan menyatukannya dengan lengan Heechul. kedua lengan mereka membentuk tanda hati.

GAAAyoo” Heechul berseru untuk menyuruh mereka pergi dengan nada aegyo.

Heerin memicingkan matanya. “Mereka tidak pergi, kau tahu itu?”

Heechul tertawa. Dia menarik tangan Heerin yang langsung membuat gadis itu sangat dekat dengannya lalu mengecup bibir Heerin singkat. “Aku tidak peduli.”

Heerin menutup bibirnya dengan tangannya. “Oppa~”

“Kau senang?”

Heerin mengangguk. Entah kenapa dia ingin menangis. Dia sangat bahagia sekarang ini hingga air matanya juga ingin menari mengaliri pipinya. “Aku bahagia.”

Heechul menghela nafasnya lega lalu tersenyum lebar. Dia memeluk gadis disampingnya ini. gadis yang juga sangat ia cintai. “Aku berjanji, kita tidak perlu bersembunyi lagi.”

-=.=-

09.45 of June 24th 2012

Seoul

Suara riuh penonton memenuhi seluruh aula pertunjukkan. Evelyn keluar dari balik panggung. Dia berdiri didepan barisan para model yang memeragakan gaun rancangannya. Seluruh penonton yang ada dihadapannya berdiri dan bertepuk tangan. Ada penonton yang berteriak antusias, bahkan melemparkan bunga mawar keatas panggung. Evelyn tersenyum pada semua penonton yang menonton pertunjukan peragaan busana miliknya.

Evelyn yang memamakai gaun cocktail berwarna biru muda terkejut ketika mendapat sebuah buket bunga diatas panggung.

Henry yang kini tengah memakai setelan jas menawarkannya sebuket besar bunga mawar putih kesukaannya. Evelyn tersenyum malu sambil menerima buket itu.

Henry memiringkan kepalanya dan mendekatkan kepalanya. Evelyn diam dan memejamkan matanya menunggu apa yang akan dilakukan oleh Henry. Sadar, tangan yang sedari tadi digenggam olehnya, terlepas dan meraih tengkuk Evelyn. Bibirnya hanya menyentuh dahinya kilat. Evelyn menghela nafas lega.

Henry tahu mana yang harus ia lakukan. “Aku akan mencium bibirmu di depan semua orang nanti. Ketika aku menikahimu.” Dia memandang tulus, seperti meyakinkan. Dan Evelyn mengangguk, Henry berkata benar. Evelyn akan menerima ciumannya lagi nanti, dalam prosesi sakral dalam hidupnya, yang orang-orang sebut pernikahan. Bahagiakah? Tentu saja. Berpacaran dengannya saja bahagia, bagaimana jika Evelyn benar-benar memiliki seorang Henry dengan senyuman yang selalu membuatnya gila.

-=.=-

10.15 of June 24th 2012

Seoul

Oppa.” Yonghee berbisik memanggil Sungmin yang sedang bermain gitar dihadapannya. Tapi kiranya, Sungmin tidak mendengarnya   dan masih saja asik bermain gitar.

Oppa.” Yonghee kembali memanggilnya dengan nada sedikit lebih keras. Tapi Sungmin masih saja diam.

Oppa!”

Sungmin mendongakan kepalanya sambil tersenyum manis, “Ne?”

“Apa kau tidak risih?” Yonghee memandang sekeliling, “Semua orang mengerumuni kita.”

Sungmin mengangkat bahunya dan memutari arah pandangnya. “Biarkan saja.”

“Tapi aku takut.” Keluh Yonghee

Sungmin tersenyum lalu meletakan gitar itu disampingnya dan memberikan ponsel miliknya. “Coba kau buka Naver.”

Yonghee mengernyitkan dahinya kebingungan tapi tetap menerima ponsel itu dan membuka aplikasi Naver. Tanpa mengetikan apapun, berita utama dalam Naver cukup bisa menjawab pertanyaannya.

Super Junior Go Public

Artikel itu berisi Super Junior mulai berani memerkenalkan para kekasihnya saat Super Show Encore waktu itu. Banyak pihak yang berspekulasi bila itu hanya untuk mendongkrakan popularitas. Tapi hari ini semua member Super Junior tertangkap kamera melakukan kencan secara terang-terangan dengan gadis yang mereka ajak naik ke atas panggung.

Yonghee semakin terkejut saat wajahnya dengan jelas masuk kedalam portal berita itu. Dia senang sekaligus khawatir. Sungmin mengerti arti raut muka yang ditunjukan Yonghee. Dia meraih tangan Yonghee dan menggenggamnya erat. “Jangan khawatir. Mulai sekarang, kita tidak perlu sembunyi lagi dan semua akan baik-baik saja.”

Yonghee menitikan air matanya. Dia mengangguk kecil, “Oppa terimakasih.”

Sungmin mendekatkan jaraknya dan mengusap air mata Yonghee. “Jangan berterimakasih padaku. Seharusnya kita berterimakasih pada Yesung dan Heechul Hyung.”

Wae?”

“Sebenarnya acara encore waktu itu hanya untuk Yesung Hyung yang ingin melamar Nichan disana. Tapi Heechul Hyung menyarankan untuk semua member untuk membawa kekasihnya masing-masing.”

Jinja?”

Sungmin mengangguk. “Dia beralasan karena dia muak dengan peraturan semua yang melarang kita berkencan. Jadi dia ingin memberontak katanya. Meski aku tahu sebenarnya dia ingin melindungi Yesung Hyung dan Nichan, sepupunya itu.”

“Jadi kau juga menerima ide ini?”

Sungmin tersenyum, “Tidak ada ruginya. Lagipula Shindong, Kyuhyun dan Leeteuk Hyung sudah go public. Kurasa tidak ada salahnya juga mencoba.”

Oppaa.” Yonghee memanggil setengah merengek dengan manja. “Aku benar-benar khawatir.”

Sungmin kembali mengambil gitarnya dan mulai melantukan lagu I’m Yours dari Jason Mraz. Lagu faforit Yonghee yang berhasil menaikan mood miliknya.

“Tapi bag…”

Sungmin memotong ucapannya, “Suapi aku!”

Yonghee menghela nafasnya lalu mengambil daging sapi yang sudah ia masak dengan bumbu barbeque. “Kalau perusah…”

“Aku mau udang.” Sungmin kembali memotong ucapannya.

Yonghee berdecak kesal karena Sungmin selalu memotong. Dia lalu menyuapi udang itu dengan cepat.

“Oppa, aku…”

“Eunggg enak sekali udang ini Yonghee-ya!” Sungmin memujinya manja. Yonghee tersenyum geli. Sungmin masih saja memotong ucapannya meski dia tidak tahu apa yang sebenarnya Yonghee ingin katakan.

“Op…”

“Yonghee-ya, kau ingin aku memainkan lagu apa?”

Yonghee menggeleng kecil lalu langsung beranjak untuk mencium pipi Sungmin. Lalu tersenyum manis. Sungmin terkejut mendapati perlakuan yang ia dapatkan.

“Jangan memotong ucapanku. Kau bahkan tidak tahu apa yang ingin aku katakan.” Rajuknya manja.

Sungmin meringis. “Mian. Memang kau ingin mengatakan apa?”

“Sara…” Yonghee terdiam.

“Sara apa? Kau ingin mengatakan ‘saranghae’ benar, kan?”

Yonghee menggeleng, “Pikir saja sendiri!”

“Ah uri Yonghee sedang malu.” Sungmin menggoda Yonghee dan menggelitiki pinggang Yonghee.

Yonghee tertawa tidak sanggup menahan geli. Diapun lari menghindari Sungmin yang tidak mau mengalah dan mengejarnya. Mereka berputar-putar di taman. Mungkin hari ini mereka terlihat konyol dengan berlari-lari mengitari taman seperti ini. Tapi Sungmin sungguh tidak peduli dengan statusnya sebagai member Super Junior ataupun sebagai putra dari pemilik perusahaan besar. Dia tidak peduli lagi selama ada Yonghee ada disisinya.

-=.=-

10.27 of June 24th 2012

Seoul

Byulhyun sibuk menatapi deretan kata yang ada dalam smartphone miliknya. Artikel tentang ‘kencan terbuka’ member Super Junior itu mengganggu pikirannya. Sungmin dengan Yonghee yang berkencan romantis dengan piknik di taman kota. Eunhyuk dan Hyera yang bersepeda tak jauh dari taman. Heechul bersama Heerin ber-shoping ria di dalam mall hingga Henry yang memberi kejutan spesial kepada Evelyn di acara fashion show yang diadakannya. Bahkan Zhoumi dan Siwon yang berada di China juga tidak ketinggalan melakukan double date di sana.

Menyebalkan!

Dan beberapa saat lalu Byulhyun mendengar Nichan menggerutu diluar. Dia terdengar sedang mengumpat untuk seseorang di telepon yang ia dapat pastikan kalau itu adalah Yesung. Kemudian terdengar suara hair dryer dan suara suara pakaian yang terlempar dari lemari. Yang ia simpulkan bila Nichan sedang tergesa-gesa berdandan untuk kencannya. Semua orang sibuk berkencan sementara dirinya berakhir di sini. Di kamarnya di apartemen Nichan. Bersama Kyuhyun yang sedang asik-asiknya…… tidur.

Byulhyun kesal lalu melempar ponselnya kesembarang arah di kasurnya. Dia memutar tubuhnya dan menatap Kyuhyun yang tertidur pulas disampingnya. Byulhyun menundukan kepalanya dan mengamati wajah lelah Kyuhyun dengan seksama. Pria itu tertidur pulas. Hela napasnya terdengar teratur. Wajahnya terlihat tenang dan damai.

“Kenapa kau bisa terlihat menggemaskan dan menyebalkan disaat yang sama?”

Tepat disaat Byulhyun menyelesaikan kalimatnya Kyuhyun membuka matanya dan menaikan kepalanya hingga mengecup bibir Byulhyun sekilas. Dia lalu kembali merebahkan kepalanya dan terkekeh senang. Sementara Byulhyun hanya bisa melotot melihat ‘serangan’ dadakan Cho Kyuhyun. Byulhyun pun langsung memukul perut Kyuhyun yang berhasil membuat pria itu mengaduh kesakitan.

“Rasakan itu!”

Kyuhyun lalu berhenti mengaduh dan tidur dalam posisi menyamping. Tangan kanannya ia jadikan sebagai bantalan kepalanya. “Kau baru mengakui aku menggemaskan, kan?”

“Iya, kau sangat menggemaskan hingga aku ingin menamparmu!” ketusnya kesal.

“Eiii lalu apa yang sudah aku lakukan hingga ingin menamparku dan mengatakan aku menyebalkan?”

“Karena aku tahu kau begitu.”

Selesai mengatakan itu, Byulhyun langsung beranjak dari kasur dan keluar dari kamar. Kyuhyun hanya bisa melihat punggung Byulhyun menghilang di balik pintu. Dia masih membeku dalam beberapa saat lalu menghembuskan napasnya. Dia bangkit dari kasur dan saat menyibakan selimutnya, ada sebuah benda keras yang ikut terjatuh ke lantai. Kyuhyun mengambilnya dan rupanya ponsel Byulhyun. Kyuhyun membuka ponsel itu dan layar itu masih menunjukan portal berita tentang artikel kencan itu.

Kyuhyun mendesah sekali lagi. Dia tahu ini pasti alasan kenapa suasana hatinya menjadi seperti ini. Tadi pagi saat ia datang gadis itu masih menyambutnya dengan senyumnya tapi tadi saat ia membuka matanya, Byulhyun justru menyambutnya dengan wajah ketusnya. Dia menemukan alasan perubahan suasana hati gadis itu melalui berita ini.

Kyuhyun mendudukan dirinya diatas kasur. Matanya masih terpaku pada layar ponsel itu meski matanya sama sekali tidak membaca artikel itu. Kyuhyun lantas mematikan ponsel itu dan meletakannya di atas meja disamping kasur. Dia mengusap wajahnya kesal. Bukan karena dia tidak ingin berkencan tapi justru ia berpikir bila Byulhyun tidak ingin berkencan seperti gadis lainnya. Karena menurutnya Byulhyun tidak terlalu suka agenda-agenda seperti itu. Dia tidak mengira kalau Byulhyun ternyata juga punya sisi wanita seperti itu.

Suara berisik dari arah dapur terdengar membuat Kyuhyun tersadar. Dia perlahan beranjak dan melangkahkan kakinya menuju dapur. Dia melihat punggung gadis yang sibuk memotong wortel dan kentang. Untuk sesaat Kyuhyun hanya diam berdiri menyandarkan punggungnya pada tembok dapur hanya untuk melihat punggung gadis itu.

Kyuhyun mengetuk tembok yang ia jadikan sandaran. Byulhyunpun menoleh dan hanya berujar singkat, “Kembalilah tidur!”

Kyuhyun menghela napasnya lagi. Dia memanggil nama Byulhyun tapi gadis itu tidak menoleh dan masih saja sibuk dengan bahan makanan yang akan ia olah. Dia tahu bila Byulhyun kecawa mungkin juga sedikit kesal tapi gadis itu memilih diam dan tidak menunjukan kekecewaan itu. Kyuhyun kembali memanggil Byulhyun. Namun, gadis ini kembali tidak memberi reaksi. Bahkan untuk ketiga, keempat dan kelima kalinya Kyuhyun memanggilnya, gadis itu masih tidak memberi tanggapan.

Tanpa berpikir dua kali, Kyuhyun langsung berjalan mendekati Byulhyun dan mengunci gadis itu dalam cengkraman lengannya yang terasa sangat protektif terhadap Byulhyun. Kyuhyun menaruh dagunya di bahu Byulhyun membuat gadis itu sedikit bergidik saat dia bisa merasakan napas Kyuhyun.

“Kau tahu, aku sangat payah dalam hal romantis dalam berkencan, tapi kau tahu kalau aku mencintaimu, kan?”

Byulhyun membeku. Dia memutar tubuhnya dan menatap Kyuhyun. Pandangan mata sayu itu menyambutnya. Byulhyun tersenyum lalu membelai pipi Kyuhyun kemudian berjinjit untuk mencium pipi pria itu, “Aku tahu.”

Kyuhyun tersenyum, “Kau tahu aku memang sengaja tidak ingin mengajakmu kencan keluar. Aku tidak mau semua orang memandangi kita. Apalagi kalau ada pria-pria kegenitan yang menatapmu. Aku tidak mau itu, karena hanya aku yang boleh menatapmu. Karena Kim Byulhyun hanya untuk Cho Kyuhyun. Mengerti?”

Byulhyun tersenyum lalu menangguk.

Saranghae, Kim Byulhyun.”

Byulhyun mengangguk lagi. “Nado saranghae, Cho Kyuhyun.”

Kyuhyun tersenyum lalu mengecup dahi Byulhyun. Dia sengaja untuk diam dalam posisi ini untuk sementara waktu. Menikmati waktu-waktu indah ini sebebas yang ia mau. Karena setidaknya ini adalah waktu berharga untuk Cho Kyuhyun dan Kim Byulhyun. Dan keterbatasan kosa kata membuat Kyuhyun sendiri tidak bisa mendiskripsikan momen seperti ini. Yang akhirnya bisa Kyuhyun pelajari adalah ada kalanya bila ada hal yang harus diutarakan dan direalisasikan. Tidak perlu muluk-muluk hanya dengan hal-hal sederhana seperti ini bisa mebuat kebahagian yang tidak terganti. Karena hal-hal besar yang extravagant tidak selalu membawa secercah rasa bahagia, bagi mereka momen sekecil ini terasa begitu istimewa.

-=.=-

11.30 of June 24th 2012

Apgujeong

“Sudah sekarang kau turun dan berdandan yang cantik! Arra!”

Klik. Yesung menutup panggilan itu dan memasukan ponselnya kedalam sakunya. Dia tertawa kecil membayangkan reaksi Nichan terhadap aksi yang akan ia lakukan hari ini. Dia menolehkan kepalanya kearah pintu lobby, menanti gadis itu.

Setelah lima menit, Nichan berjalan sedikit tergesa mendekati kearah Yesung. Gadis itu tidak berdandan dengan mengaplikasikan make up tipis. Dia mengenakan kemeja putih berlengan tanggung dipadukan dengan rok oversized berwarna krem. Sederhana tapi masih terlihat classy.

“Cuaca hari ini sedang bagus. Ayo, kita jalan-jalan!” Yesung memberikan latte itu pada Nichan dan menggandeng tangan kiri Nichan lalu menarik gadis itu kearah jalanan.

Nichan panik, “Apa yang kau lakukan? Semua orang melihat kita.”

Yesung terkekeh yang membuat Nichan mengernyitkan dahinya kebingungan. “Oppa, kau tidak pakai penyamaran sama sekali. Semua orang mengenalimu.”

Ucapan itu membuat langkah Yesung terhenti. Dia menggerakan badannya untuk menghadap ke arah Nichan. “Lalu?”

“Kau tidak takut?”

“Kalau aku takut, untuk apa aku melamarmu di depan semua ELF waktu itu?”

Nichan diam dan menundukan wajahnya dalam lalu berbisik, “Aku malu, Oppa.”

Yesung tersenyum memerlihatkan deretan gigi putihnya. Dan kembali merangkul Nichan erat lalu melihat semua orang yang sedang menatapnya sambil berbisik-bisik. “Anggap saja ini seperti pengambilan gambar.”

“Kau pikir kita sedang pemotretan?” dengusnya kesal.

“Ini karena ada seorang wanita cantik seperti Miss Universe sedang berjalan-jalan dengan penyanyi hebat di jalanan kota Seoul.”

Nichan terdiam untuk kesekian kalinya. Untuk pertama kalinya dia menggenggam tangan Yesung didepan semua orang. Bahagia tapi juga merasakan takut. Tapi saat dia melihat kearah wajah pria disampingnya yang disambut oleh senyum paling menawan dan menenangkan untuk Nichan, dia tahu bila semua akan baik-baik saja.

Yesung dan Nichan sudah hampir tiba di kawasan Myeongdong untuk mengunjungi Handel Gratel. Sementara, kerumunan orang-orang yang mengerumuni mereka semakin padat merayap. Sampai ada beberapa gadis maju menghalangi mereka.

Oppa!! Apa yang kau lakukan? Siapa gadis itu sebenarnya?!” Tanya gadis berambut panjang yang menunjukan wajah tidak suka terhadap Nichan. “YA! Kau! Bukankah pertunjukanmu sudah habis? Cepat kau lepaskan tanganmu dari uri Oppa!”

Tangan Nichan bergetar dan berniat untuk melapaskan tangannya dari lengan Yesung. Namun, Yesung menahannya dan mengajak Nichan untuk mendekati gadis itu.

Haksaeng! Bukankah kau seharusnya masih berada di sekolah saat ini?” tanya Yesung lembut.

“Ini karena kami memedulikan Oppa! Kami ingin melindungi Oppa dari gadis seperti dia!” Gadis itu menggebu-gebu dan menunjuk Nichan dengan penuh amarah.

Yesung tersenyum miring lalu menurunkan telunjuk gadis itu. “Gadis seperti dia? Memang seberapa banyak yang kau tahu tentang tunanganku?”

“Dia hanya memanfaatkan Oppa!” Ucap gadis yang lain.

“Justru aku yang memanfaatkan dia. Tanpa dia, aku tidak akan bertahan hingga sekarang ini. Tanpa dia, mungkin aku sudah menyerah untuk berdiri diatas panggung.”

Beberapa gadis itu diam. Namun gadis yang lainnya kembali membuka suara, “Apa managermu sudah gila? Membiarkan semua member berkencan dengan gadis lain. Ini hanya skenario, iya kan? Oppa mau menghianati kami?!”

Yesung menghela nafasnya. “Aku tidak menghianati kalian, Nichan atau siapapun juga. Tapi toh kami hanya manusia biasa. Aku tidak bisa menipu diriku sendiri kalau aku tidak mencintai Nichan dan tidak membutuhkan dia dihidupku. Bila kalian memiliki perasaan seperti itu kepada seorang pria, aku yakin kalian pasti mengerti.”

Gadis-gadis itu terdiam dan tidak memiliki topik lain untuk menyangkal. Yesung melepaskan syal hitam yang ia kenakan dan mengalungkannya pada gadis yang berdiri tepat dihadapannya.

“Dengar! Aku sangat senang bisa memiliki fans seperti kalian. Aku juga sangat sangat berterimakasih untuk cinta dan dukungan kalian selama ini. Tapi sebagai pria biasa, aku juga membutuhkan cinta dari seorang gadis yang benar-benar memikat hatiku dan bisa menemaniku.”

“Kalian berbahagialah dengan keadaanku yang berbahagia dengan Nichan. Kalau kalian benar-benar mencintaiku, dukung sepenuhnya keputusanku. Relakan aku berbahagia dengan gadis pilihanku sendiri. Gadis yang hatiku tetapkan sebagai separuh lain dari diriku sendiri.”

Beberapa gadis itu terdiam sekaligus terlihat sedang berpikir. Hingga salah satu dari mereka membuka suaranya.

“Baikalah! Walau sangat sakit, aku harus tetap menerimanya. Aku akan merelakanmu untuk bahagia dengan Eonnie. Aku sadar. Hal ini adalah hal yang paling kutakutkan untuk datang. Dan mungkin inilah saatnya. Jadi yang perlu kulakukan hanya mendukungmu, bukan?”

Yesung tersenyum lalu mengangguk mantap.

“Terimakasih untuk dukungan kalian.” Untuk pertama kalinya, Nichan memberanikan diri untuk membuka suara.

“Untuk selamanya, Yesung akan selalu menjadi milik kalian. Ada ribuan gadis seperti kalian yang sama-sama mencintainya. Dan aku tidak akan bisa memberikan cinta yang kalian berikan untuknya. Aku tidak akan pernah bisa merebutnya dari kalian.”

Yesung menambahkan, “Tapi sebagai pria biasa, hanya sebagai sosok Kim Jongwoon aku berhak bahagia dengan gadis pilihannya. Dan aku sudah memilih dia. Aku tidak akan pernah meragu lagi untuk memunjukan pada dunia bila dia adalah kekasihku. Pendamping seorang Kim Jongwoon.”

Mereka mengangguk mantap. “Kami mendukungmu, Oppa. Jadi, Eonnie! Kau harus menjaganya untuk kami. Pastikan dia hidup dengan baik.”

“Tentu saja.” Sahut Nichan.

Yesung tersenyum lebar lalu kembali melanjutkan langkahnya. Mereka berdua terlihat bahagia. Membicarakan ini dan itu tanpa khawatir lagi adanya paparazzi. Setidaknya mereka benar-benar terbebas dari belengu semu yang selalu mengintimidasi. Mereka benar-benar menikmati waktu-waktu bahagia ini.

Tapi kebahagian itu tak berlangsung lama. Saat mereka tiba di persimpangan jalan Nonhyeon sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depan mereka. Seseorang keluar dari mobil itu lalu membukakan pintu di jok belakang. Nichan dan Yesung bertanya-tanya siapakah yang duduk disana, namun rupanya kursi itu kosong tanpa penumpang.

Sajangnim menunggu anda.”

-=.=-

17.30 of June 24th 2012

Nichan’s House, Seongnam

Yesung merasa seperti déjà vu. Dirinya kembali duduk dihadapan orang tua Nichan di kediaman Park di Seongnam. Seperti waktu lalu. Beberapa bodyguard berdiri di sekitar mereka. Park Sajangnim menatap tajam kearahnya. Sementara Shim Ahrim terlihat santai menikmati teh hijau miliknya.

Nichan mencoba membuka suara untuk mencairkan suasana dingin ini, “Appa.

“DIAM!” Park Sajang langsung berbicara lantang untuk menyuruhnya diam. Tindakannya itu terasa final dan absolut untuk menyuruh semua orang disana untuk diam. Membuat dirinya merasa terintimidasi, tapi dia tidak akan membiarkan rasa percaya dirinya tenggelam dalam rasa cemas dan khawatir karena aura intimidasi dari sosok Park Jaekang

“Jadi kau sudah melakukannya?” Tanya Jaekang

Yesung mengangguk yakin.

Jaekang mengangguk-anggukan kepalanya. “Ku lihat kau cukup berani melakukannya. Kau tidak takut?”

Animida.” Yesung menjawabnya. “Selama itu membuat putri anda tetap bersama saya, saya akan lakukan apapun itu.”

Nichan hanya mengernyitkan dahinya, dia sama sekali tidak tahu apa yang dibicarakan dua pria yang berpengaruh besar dalam hidupnya.

“Appa, apa yang kalian bicarakan? Aku sama sekali tidak mengerti. Kenapa kalian membuat hubunganku menjadi sesulit ini? Apa kalian tidak ingin aku bahagia?”

“Orang tua mana yang tidak ingin anaknya bahagia?! Tapi kuingatkan sekali lagi, dirimu sekarang itu bukanlah sebuah kebahagian. Kau hanya terbawa perasaanmu untuk sementara. Semua orang mengalami hal itu paling tidak sekali dalam hidup mereka. Tapi yang menjadi lelah dan pergi lebih dulu bukanlah kita, tapi mereka. Kenapa kau tidak tahu itu?”

“Tapi dia bukan seperti mantan istrimu itu!” Gertak Nichan kesal. Dia sudah tidak tahan lagi. Dia akan sangat marah bila Ayahnya menyamakan Yesung dengan mantan istrinya.

“Untuk itu aku tidak ingin kau berakhir sepertiku. Kalau kau menikah lalu bercerai, kau yang akan rugi karena dia akan mendapatkan 50% sahammu yang entah akan berakhir seperti apa.”

Geundae Appa, tidak bisakah kau untuk sekali ini saja percaya padaku?” Nichan memohon sekali lagi. “Aku yakin aku tidak akan menyesalinya.”

“Tapi aku yakin kau akan menyesal suatu hari ini.”

Nichan tertegun mendengar keyakinan dalam ucapan Ayahnya. Tapi dia juga memiliki keyakinan yang sama, “Satu hal yang membuatku menyesal adalah ketika aku melepasnya pergi.”

Jaekang dan Ahrim sama-sama terdiam. Hingga akhirnya Yesung memberanikan diri untuk membuka suaranya. “Putrimu tumbuh besar dengan sangat menakjubkan. Anda mungkin berpikir akan sangat sayang bila memberikan seseorang seperti dia kepada seseorang seperti aku. Tapi, jika Anda mengijinkan, aku akan hidup dengan bahagia sepanjang hidupku sebagai pria untuk wanita ini, sebagai pria untuk Park Nichan.”

“Omong kosong!” Tukas Jaekang

“Bagaimana bisa hal itu adalah omong kosong? Aku tidak akan mengatakan aku akan menikahinya karena aku mencintainya.”

Ahrim mengernyitkan dahinya, tapi enggan bersuara dan menunggu Yesung untuk meneruskan ucapannya.

“Ini bukan karena aku mencintainya. Ini karena aku hanya mencintainya dan membutuhkan dia dalam hidupku. Jika bukan dia, aku tidak punya pilihan lain untuk ini selamanya. Dia wanita yang mengagumkan.”

Nichan terpana dan kemudian ia tersenyum bahagia. Yesung ikut tersenyum dan semakin erat menggenggam tangannya. Jaekang melihat hal genggaman tangan itu dengan tidak senang.

“Apa yang kalian tahu tentang kehidupan? Yang kalian lakukan hanya menggenggam tangan, berpelukan, saling melihat. Selain itu apa? Hidup yang sebenarnya jauh lebih kejam!”

“Benar. Kami mungkin akan terjatuh lagi. Mungkin bisa sampai terluka.” Yesung mengangguk membenarkan ucapan Jaekang. “Tapi kami memiliki satu sama lain. Saling melindungi dan saling mendukung. Karena setidaknya ada dia yang berdiri disampingku dan menggenggam tanganku. Karena itu aku yakin bisa bertahan.”

Yesung menambahkan, “Tak peduli apapun itu. Seberat apapun itu, aku akan melindunginya. Karena bagiku, selain dia tidak ada lagi yang tersisa untukku. Karena selain dia, tidak ada yang lebih menarik dan berharga dibandingkan dirinya. Jadi untuk itu…”

“Untuk itu lakukanlah!” Jaekang memotong ucapan Yesung.

Ne?”

“Lakukan apa yang kau mau!” Tegasnya. “Kalian ingin berkencan? Berkencanlah! Kalian ingin menikah? Menikahlah!”

Jinjayo, Appa?”

“Asal kau berjanji bisa membahagiakannya!” Jaekang memberi syarat.

Yesung mengangguk pasti. “Aku menjaminnya dengan nyawaku sendiri, Abonim!”

“Baik! Sampai kau patahkan hati putriku, kupatahkan lehermu!”

-=.=-

“Akhirnya semua selesai.” Nichan bersuara. “Aku merasa lega.”

Yesung tersenyum. Dia memainkan rambut Nichan karena kepala gadis itu sedang bersandar di dadanya.

“Aku juga.” Tuturnya.

Lalu tidak ada lagi yang bersuara. Mereka sedang menikmati moment manis seperti ini. saat tidak ada lagi penghalang di hubungan mereka. Hanya ada dia dan Nichan. Mereka berdua menikmati malam untuk memandangi angin ditemani cahaya bintang. Saling mengeratkan pelukan satu sama lain. Jemari mereka saling bertautan. Kalimat-kalimat yang terucap nantinya hanya menjadi sebuah kamuflase belaka. Jadi biarlah mereka menikmati momen manis ini dalam diam untuk menghayati rasa saling memiliki. Because sometimes words matter, sometimes they don’t.

Mereka mungkin akan bertengkar, tentang film apa yang menurut mereka bagus. Mereka akan menertawakan candaan konyol yang sebenarnya tidak terlalu lucu, saling mencela musik-musik metal, berdebat tentang banyak hal dan tidak akan mundur sampai salah satu mengalah. Mereka mungkin juga akan mengatakan hal-hal yang salah juga hal-hal yang dirasa benar. Mereka akan saling mendukung, saling menemani, saling menyakiti dan saling menyalahkan. Mereka belum tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Mereka belum tahu hubungan seperti apa yang akan mereka miliki nanti, apakah yang mereka miliki cukup untuk satu sama lain dan apakah segala sesuatunya berakhir manis. Namun satu hal yang mereka yakini, apa yang mereka miliki sekarang sudah cukup. Kim Jongwoon, Park Nichan dan saat ini.

And they’ll wait for the rest of their lives to see what happen next.

-end-

ps: wait for the After Story coming soon ^^
Advertisements