Tags

LOVE IS ALWAYS COMPLICATED POSTER

Title                            : Love Is Always Complicated

Author                        : @dcnirwana

Genre                         : romance, angst

Rate                            : General

Type                           : Drama Fiction

Length                        : Oneshot; 3,630 words; 10 MS Word pages

Main Cast                  :

  • Park Nichan (OC)
  • Kim Byulhyun (OC)
  • Shin Minso (OC)
  • Yesung
  • Kyuhyun
  • Siwon
  • Super Junior

Disclaimer                  : I OWN THE PLOT

EPISODE 12

09.00 of March 25th, 2012

Nichan’s Apartment, Myeondong, Seoul

“Nichan-ah, ini novel koleksimu ditaruh di mana?!” Sungmin berteriak dari arah ruang tamu.

“Taruh di atas kardus film!!” Nichan menjawabnya juga dengan berteriak dari dalam kamarnya.

Hari ini semua member Super Junior secara suka rela membantunya pindah dari rumahnya menuju apartemen miliknya yang untungnya tidak jauh dari kawasan dorm Super Junior. Dia diberi waktu satu minggu oleh ayahnya untuk memindahkan semua barang miliknya. Dia sama sekali tidak keberatan untuk meninggalkan rumah mewah bergaya eropa klasik di daerah Seongnam itu. Asal dia bisa bersama dengan Yesung, itu sudah cukup.

Karena Nichan pindah, Byulhyun juga ikut pindah bersamanya. Sebenarnya dia masih bisa tinggal di rumah Nichan, tapi dia memilih untuk tetap tinggal bersamanya. Dan alasan lainnya, jarak apartemen milik Nichan dekat dengan dorm Super Junior.

Nichan menghela nafas lelahnya setelah merapikan kamar barunya. Jauh berbeda dengan kamarnya yang dulu. Kamarnya yang baru bernuansa coklat-putih membuatnya terkesan kamar dewasa. Berbeda dengan kamarnya yang lama yang bernuansa merah-putih, sangat remaja.

“Kkoma, ada tamu!” Tiba-tiba Yesung sudah melongokan kepalanya kedalam kamar Nichan. “Kami tidak mungkin membukakan pintunya.”

Nichan mengangguk mengerti. “Arraseo.”

Nichan berjalan keluar dan mengecek intercom. Seorang lelaki berumur sekitar empat puluhan ada dalam layar sempit intercom itu. “Nuguseyo?”

“Kami dari Sent Express. Ada kiriman paket untuk anda.” Ujar pria itu.

“Ah tunggu sebentar.” Nichan segera berjalan ke pintu depan dan membukanya.

“Dengan Park Nichan aggeshi?”

Ne.”

“Ini ada kiriman paket.” Pria itu menyerahkan bungkusan coklat kemudian menyodorkan selembar kertas. “Mohon tanda tangannya.”

Selesai menandatangani kertas itu, pria itu segera pergi dan Nichan kembali masuk kedalam apartemennya sambil membawa bungkusan coklat itu.

Nichan hendak kembali ke kamarnya, namun langkahnya berhenti saat melihat Kyuhyun, Donghae, Leeteuk dan Shindong tengah bersantai di ruang santainya sambil menonton televisi.

“Ya! Kalian tidak membantu Ryeowook merapikan dapur?”

“Untuk apa? Sudah ada monyet pembersih yang membantunya.” Sungut Kyuhyun sambil meledek Eunhyuk dengan mengatakannya dengan ‘monyet pembersih’.

“Tidak membantu Byulhyun?” Nichan mulai menggodanya. “Kasihan bila dia harus merapikan kamarnya sendiri.”

Kyuhyun terdiam sejenak. “Dimana kamarnya?”

Nichan hanya tersenyum simpul. “Cari saja sendiri.”

“Cish…” cibirnya. Dia lalu bangkir berdiri dan mencari kamar Byulhyun. Nichan terkikik seang karena berhasil menjahili Kyuhyun.

“Siapa yang datang, Kkoma?” Tanya Yesung yang baru saja kembali dari dapur dan membawa segelas air putih.

“Kurir Sent Express.” Jawabnya sambil menunjukan bungkusan coklat ditangannya. “Aku mendapat kiriman.”

Yesung duduk di sofa. “Kiriman dari siapa?”

Nichan mengangkat bahunya kemudian duduk di samping Yesung. Dia membolak-balik kiriman itu dan menemukan nama Minso dan Yongjun. “Minso?”

Dengan pensaran, Nichan langsung membuka bungkusan itu yang ternyata berisi udangan pernikahan. Dia mengerutkan keningnya, “Secepat ini?” Tanyanya bingung karena tidak menyangka bila Minso dan Yongjun akan segera menikah secepat ini.

Karena penasaran, Donghae menolehkan pandangannya dan menemukan undangan pernikahan Minso. “Shin Minso akan menikah?!” Pekiknya kaget.

Leeteuk dan Shindong juga terkejut mendengar pekikan Donghae yang terbilang keras, tapi mereka lebih kaget saat melihat Siwon yang berdiri mematung didepan pintu kamar mandi.

“Siwon-ah…”

Nichan langsung berusaha menutupi undangan pernihakan itu karena dia tahu, Siwon masih sedih karena Minso yang memutuskan meninggalkannya.

“Tidak perlu kau sembunyikan.” Ujar Siwon lirih. “Aku sudah melihatnya.”

Nichan hanya mengangguk. Tapi sejurus kemudian dia menemukan selembar surat yang sangat ia kenali sebagai tulisan Minso.

“Umm… Minso menyuruhku untuk mengajak kalian ke pesta pernikahannya. Apa kalian mau ikut?!” Tanya Nichan bertanya dengan hati-hati.

“Tentu saja kami akan datang.” Siwon langsung menjawabnya yakin. Semua orang langsung menatapnya. “Memang kapan mereka akan menikah?”

“Tanggal 21 April besok di hotel keluarga Minso yang berada di Jeju-do.”

Leeteuk mengangguk-anggukan kepalanya. “Kurasa jadwal kami kosong pada tanggal itu. Kita bisa berangkat.”

“Kau datang, Kkoma?” Tanya Yesung.

“Tentu saja. Minso, kan, sahabatku.” Jawab Nichan yakin.

“Kita berangkat dengan apa, Hyung?!” Tanya Donghae pada Leeteuk.

Leeteuk hanya meringis mendengar pertanyaan Donghae yang membuatnya menyadari sesuatu. “Entahlah.”

“Aku bisa menyewakan privatejet. Kita bisa berangkat bersama.” Tiba-tiba Nichan mengusulkan sarannya dengan enteng walaupun idenya itu sama sekali bukan hal enteng. Semua orang langsung memandangnya.

“Hey, ada apa? Kalian membicarakan apa?” tanya Eunhyuk yang baru kembali dari dapur kemudian duduk disamping Donghae. “Kenapa kalian memandang Nichan begitu? Nichan-ah, ada apa?” Namun sayang pertanyaan Eunhyuk tidak ada satupun yang digubris. Hingga akhirnya dia memilih diam.

Yesung melirik Nichan tajam. “Hey, ekonomimu tidak sebagus dulu. Kau harus bisa mengatur ekonomimu!”

“Aku masih punya tabungan, Oppa!!”

“Kau bisa belajar mengatur ekonomi dariku!!” Tawar Leeteuk.

“Aku juga bisa!” Eunhyuk ikut menawarkan diri dengan antusias.

“Bukan mengatur ekonomi!!” Hardik Kyuhyun yang berjalan kearah mereka sambil menggandeng Byulhyun. “Kalian itu PELIT!!”

“DIAM KAU MAGNAE!!” seru Leeteuk dan Eunhyuk bersamaan.

Kyuhyun tidak menghiraukan teriakan mantan DJ sukira itu. Dia malah duduk santai dan merebahkan kepalanya manja diatas bahu Byulhyun.

“Kalian harus datang berpasangan. Itu konsepnya.” Ujar Nichan. “Kalian bersama siapa?”

“Tentu saja dengan Minah.” Ujar Leeteuk bersemangat. “Sambil mencari inspirasi untuk konsep pernikahan kami.”

“Aku juga!! Dengan Nari!!” Sahut Shindong berseri-seri.

“Ah makan gratis!! Hyera pasti senang.” Rasa kesal Eunhyuk karena celotehan Kyuhyun sudah hilang karena membayangkan makan gratis bersama Hyera. “Aku pergi dengan Hyera.”

“Sungmin Oppa dengan siapa?” Tanya Nichan. “Ke pernikahan Minso.”

“Dengan Yonghee.” Jawabnya dengan senyum. “Aku berkencan dengannya. Kau pasti belum tahu.”

“Siwon Oppa?”

“Aku akan datang dengan Jiwon saja.”

“Aera sedang sibuk dengan pekerjaannya.” Sesal Donghae. “Aku tidak mau mengganggunya.”

Nado. Ahra pasti tidak bisa ikut.” Ujar Ryeowook lesu. “Dia harus ikut tur sekolah.”

“Yah… tinggal aku dan Ryeowook yang belum punya pasangan.” Sahut Donghae dengan lesu. Jawabnya lalu menatap Ryeowook penuh harap.

“Apa, Hyung?”

“Kau pergi bersamaku, ya, Ryeowookie?” ujarnya manja. Donghae kemudian berdiri dan merangkul lengan Ryeowook dengan manja.

HYUNG, AKU MASIH NORMAL!!!”

-=.=-

18.00 of April 21st, 2012

Plaza Resort, Jeju-do

Disinilah sekarang mereka sekarang. Di dalam sebuah deluxe hall yang ada di dalam Plaza Resort milik keluarga Minso yang dijadikan empat digelarnya acara pernikahan Minso dan Yongjun.

Pesta pernikahan yang berkonsep minimalis dengan sedikit sentuhan mewah didalamnya terlihat dinimkati oleh para tamu undangan. Termasuk semua member Super Junior. Terutama karena pesta ini bersifat private, jadi semua member tidak perlu takut akan kebocoran indentitas mereka. Apa lagi mereka membawa kekasih masing-masing.

Jadilah, semua member Super Junior tengah asik bercengkrama dengan kekasih masing-masing. Datang juga Heechul yang pasti mengajak Heerin bersamanya, Kangin juga tidak mau kalah untuk mengikuti acara ini sambil menggandeng seorang gadis manis bernama Jung Soohwa. Uniknya adalah Soohwa merupakan sepupu dari Nari sementara Kangin dan Shindong sama-sama tidak mengetahuinya.

Donghae yang awalnya menolak untuk datang karena Aera tidak bisa ikut, akhirnya juga bersenang-senang, karena kini Aera sedang ada dalam genggaman tangannya. Termasuk Ryeowook yang akhirnya bisa membujuk Ahra untuk mengikuti pesta ini.

“Kalian menikmati pestanya, kan?” Tanya Minso pada Nichan.

Nichan mengangguk puas. “Tentu saja. Kau terlihat cantik, So-ya!!”

Minso tersenyum. “Terima kasih. Kau juga.”

“Oh, ya, aku belum sempat meminta maaf.” Yongjun yang kini sudah resmi menikah dengan Minso menengahi. “Maaf karenaku, kalian sempat tersiksa. Terutama kau Yesung-sshi. Aku sempat membuatmu hampir meninggal.”

Yesung sedikit terkejut. “Tentu saja. Aku sudah memaafkanmu.”

“Benarkah?!” Yongjun terkejut melihat Yesung yang dengan mudahnya memaafkan dirinya yang hampir saja menghilangkan nyawa pria itu. Yongjun lalu membungkuk dalam. “Maafkan aku. Juga terima kasih.”

“Sudah. Kau tidak perlu seperti itu.”

“Aku sangat merasa bersalah padamu.” Ujar Yongjun tulus.

Yesung hanya mengangguk mengerti. “Cukup satu kali saja kau mengatakannya. Aku memaafkanmu.” Ujarnya lalu memeluk Yongjun dengan bersahabat.

Yongjun mengangguk pasti. “Lalu bagaimana denganmu, Nichan-ah?”

“Aku?” Tanyanya kaget sambil menunjuk dirinya sendiri. “Ada apa denganku?”

“Karenaku, kau harus meninggalkan rumah itu dan menyerahkan semua saham Star Angle.”

Nichan hanya tersenyum kecut lalu menggeleng. “Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Justru aku sedang bahagia.”

Yongjun tertegun. Dia tahu Nichan berbohong. Ya mungkin dia bahagia bisa bersama Yesung, tapi dia tidak baik-baik saja saat perusahaan itu bukan lagi miliknya. Bukan karena Nichan haus harta akan milyaran keuntungan yang dihasilkan Star Angle pertahun. Tapi karena bisnis itu adalah hidupnya. Dia sudah mengorbankan semuanya demi Star Angle.

Nichan sudah merancang Star Angle dengan sangat detail sejak ia berumur tujuh tahun. Hingga akirnya ia bisa membangun Star Angle secara mandiri selama lebih dari lima tahun dan berjuang selama tiga tahun untuk tetap memertahankan Star Angle hingga sebesar ini. Star Angle adalah mimpi, hidup, dan obsesi terbesarnya. Namun, kini dia harus melepaskan Star Angle demi bisa bersama dengan pria yang sangat ia cintai. Sungguh ironis.

“Kau berniat membuka bisnis baru?” Tanya Yongjun menyelidik.

“Aku masih puas dengan resotaran milikku. Aku sudah bersyukur Appa tidak mencampuri restoranku itu.”

“Kau yakin?”

“Mmm….” Nichan terlihat berpikir. Sejenak kemudian, wajahnya berubah menjadi berseri-seri. “Aku ingin membuka sebuah butik dengan labelku sendiri.”

Yongjun terlihat lega karena masih bisa melihat Nichan optimis dengan bisnis. Sementara Yesung hanya mengernyit heran karena dia belum tahu rencana ini. “Kau belum bilang padaku.”

Nichan menggeleng. “Memang belum. Ini baru saja terpikirkan olehku.”

“Bagaimana kau memulainya? Ini baju! Aku tahu kau payah untuk membuat rancangan baju. Kalau memadukan, kau baru bagus!” ujar Yongjun dengan sedikit meledeknya.

“Jangan meledekku.” Sungut Nichan kesal. “Aku akan mengajak Evelyn untuk bekerja sama denganku.”

“Evelyn?” Yesung bertanya ragu. “Hwang Hyunra? Kekasih Henry?”

Nichan mengangguk. “Aku sudah lama mengenalnya. Dia adalah adik kelasku waktu aku masih tinggal di Seattle. Aku juga sempat menjadi sahabatnya, sebelum dia lebih dulu pindah ke Madrid dan menjadi designer.”

Yesung mengangguk angguk mengerti. “Begitukah?”

“Aku akan membantumu. Kau bisa berkerja sama denganku. Ayah kandungku memiliki perusahaan garmen. Aku bisa membantumu menyuplai kain.” Ujar Yongjun memberi buah pikirannya.

Nichan terlihat antusias. “Benarkah? Aku akan sangat senang bekerja sama denganmu, Oppa.”

Minso juga tidak mau kalah, “Aku juga. Sebagai proyek pertama, kau harus membuatkan model seragam yang baru untuk semua pegawaiku di hotel ini.”

Nichan tersenyum lebar. “Tentu saja. Kau adalah client pertamaku pastinya.” Jawabnya penuh aru karena tidak menyangka bila dia masih memiliki sahabat-sahabat yang sangat peduli terhadapnya.

“Aku juga!!” Yesung ikut menimbrung karena tidak mau kalah membantu Nichan. “Why Style akan bekerja sama juga. Kau juga harus membuatkan seragam pegawai yang paling bagus untuk Handel & Gratel dan juga Why Style!!”

Nichan mengangguk. “Tentu saja, Oppa! Seragam terbaik untuk pegawaimu!!”

“Oh, ya, dimana Byulhyun?!” tanya Minso sambil menolehkan kepalanya ke seluru penjuru area hall untuk mencari Byulhyun.

“Entahlah.” Nichan hanya mengangkat bahunya. “Mungkin dia sedang bersama Kyuhyun.”

-=.=-

Sementara itu, Byulhyun sedang menerima telepon dari Celline, gadis keturunan korea yang lahir dan besar di Amerika yang sudah lama menjadi sahabatnya. Sahabatnya selama SMP dan SMA.

“Apa yang kau bicarakan?” Tanya Byulhyun bingung dan tidak mengerti.

Terdengar Celline meghembuskan nafasnya. “Kimmie mencarimu!! Kau tidak ingat apa? Kau pergi dari 24 Desember. Sekarang sudah bulan 22 April, kau tahu?!”

Byulhyun mengehela nafasnya. Sebenarnya dia sudah lama ingin kembali ke Amerika untuk segera menyelesaikan masalahnya. Namun, dia selalu teringat Kyuhyun dan membuatnya enggan untuk pergi. “Aku tahu. Baiklah, Lusa aku akan kembali.”

“Aku tidak bisa menjamin Kimmie untuk tetap berada disini. Untung saja, Kimmie masih sibuk dan belum bisa mencarimu.” Ujar Celline pasrah. “Dia benar-benar marah besar.”

“Aku tahu. Sudah, ya?!” Tanpa menunggu jawaban Celline, dia langusng menutup panggilan teleponnya.

“Byulhyun-ah!”

Byulhyun terlonjak kaget. Dia langsung memukul dada Kyuhyun yang mengagetinya. “Untuk apa kau mengagetiku?!”

“Salah siapa kau memasang wajah horror seperti itu?!” Candanya. “Kenapa? Siapa yang menelepon? Kenapa kau terlihat stress?”

“Bukan siapa-siapa.” Byulhyun berusaha menutupi masalah Kimmie karena tidak ingin membuat Kyuhyun manjadi khawatir. “Aku tidak apa-apa. Ayo kita nikmati pestanya!!”

“Kau yakin?”

Byulhyun mengangguk dan tersenyum lebar. “Tidak apa-apa. Ayo!!”

-=.=-

10.00 of April 18th, 2012

LAX Airport, Los Angles

Yoboseo?!” Jawab diseberang dengan suara serak yang berat karena menahan lelah. “Ada apa?”

“Kyuhyun-ah, aku sudah kembali ke LA sekakarang.” Ujar Byulhyun pelan.

MWO?!” Kyuhyun berteriak dan langsung bangkit dari tempat tidurnya. “Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?”

“Kalau aku memberitahumu kemarin, kau pasti akan mencegahku. Dan aku pasti akan mengurungkan niatku.”

Kyuhyun terdiam.

“Aku tidak akan meminta persetujuanmu. Kau mengijinkanku atau tidak, aku akan pergi. Lagipula aku juga sudah sampai.”

Arra.” Sahut Kyuhyun sedikit kesal. “Kapan kau kembali?”

“Dua tau tiga bulan lagi mungkin.”

“Selama itu?” Sunggutnya kesal. “Bisakah hanya satu bulan saja?”

“Kalau kau mau membantuku, mungkin satu bulan bisa selesai.” Sahut Byulhyun dengan bercanda.

“Kalau begitu, tunggu aku bulan depan!!” Tegas Kyuhyun. Dan setelahnya Kyuhyun tidak memberi Byulhyun kesempatan untuk membalasnya, karea dia sudah memutuskan sambungan teleponnya.

Byulhyun berdecak kesal. Tidak ada gunanya menyesali keputusannya untuk kembali ke LA. Masalahnya dengan Kimmie belum selesai, dan dia harus kembali untuk menuntaskan semua masalah ini secepat mungkin.

Byulhyun hendak memanggil sebuah taksi, namun bukanlah sebuah mobil publik berwarna kuning yang berhenti dihadapannya, melainkan mobil mewah hitam yang sangat ia kenali berhenti dihadapannya.

Seorang pemuda tampan bertubuh tegap menggunakan setelan jas mahal yang sangat pas melekat ditubuhnya. “Oraenmaniya, Kim Byulhyun!!”

Byulhyun meneguk ludahnya dengan susah payah. “Kimmie-ya?!”

“Kau menikmati waktu liburanmu di Korea sana, huh?” Tanya dengan penekanan disetiap katanya.

Byulhyun hanya diam tidak mananggapi pertanyaan Kimmie yang sebenarnya sudah jelas jawabannya itu.

Kimmie mendesah kecewa. Dia langsung menarik paksa tangan Byulhyun. Sementara Byulhyun hanya diam diperlakukan seperti itu.

Didalam mobilpun sama. Mereka hanya saling diam. Tidak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan suara. Kimmie sibuk menyetir dan menyiapkan ratusan pertanyaan untuk menyidang Byulhyun. Sementara Byullhyun hanya diam menatap keluar jendela dalam diam. Walaupun dalam hatinya dia sangat khawatir akan apa yang akan terjadi nanti.

Setelah sekitar empat puluh menit, mobil yang mereka tumpangi berhenti didepan rumah bergaya minimalis dengan halaman depan yang cukup luas ditambah dengan jalan setapak diatas rerumputan.

Kimmie keluar lalu membukakan pintu mobil Byulhyun dan menarik gadis itu langsung kekamarnya. Tak didengarnya rintihan tertahan yang dikeluarkan gadis itu dari bibir mungil gadis itu.

Kimmie mendorong gadis itu masuk kedalam kamarnya yang terletak dilantai satu disamping tangga menuju basement. Kemudian dikuncinya pintu berwarna putih pucat dibelakangnya. Dia melapas jasnya dan dilemparkannya sembarang arah. Tak urung, dilonggarkannya ikatan dasi yang melingkar di lehernya.

“Kimmie… aku bisa jelaskan semuanya!!” parau Byulhyun dengan tertunduk ketakutan.

“APA??!!” Kimmie berteriak berlebihan. “Apa yang ingin kau jelaskan?! Everything is clear, Isabella!!”

Byulhyun menunduk takut. Dia hanya menahan airmatanya untuk tetap tergenang dimatanya. “Aku tahu kau marah. Aku tahu kau tidak suka aku berpacaran dengan Kyuhyun. Aku tahu kau se…”

“KAU TAHU APA??!!” bentaknya. “Kau tahu kenapa aku mengekangmu disini?! Kenapa aku tidak suka kau berkencan dengan pria itu?”

Byulhyun memberanikan diri untuk mendongak. “Karena kau masih mencintaiku?” Jawabnya sedikit ketakutan.

Kimmie langsung mendekati Byulhyun dan mencengkram kedua lengan Byulhyun. “Aku memang masih mencintaimu. Bahkan aku lebih mencintaimu saat ini. Tapi….”

“Tapi apa?”

Appa juga menginginkanku untuk terus berada disisimu.”

Appa?”

Kimmie langsung melepas cengkramannya lalu mencari sesuatu dari dalam laci meja. Kemudian dia mengeluarkan selembar surat dan menunjukannya pada Byulhyun. “Bacalah!”

Byulhyun menurutinya dan membacanya. Selesai membacanya dia hanya bisa diam. Itu adalah surat wasiat ayahnya. Byulhyun bisa saja menurutu semuanya. Tapi dia tidak bisa melakukan keinginan Ayahnya yang pertama, menikah dengan Kimmie.

“Aku bisa melakukannya. Tapi tidak untuk yang pertama.” Ujarnya. “Tidak untuk menikahimu.”

“Tapi itu keinginan Ayahmu!” ujar Kimmie lalu mendekati Byulhyun.

Byulhyun mundur untuk menjauhi Kimmie. “Aku tidak bisa menikah denganmu!” Ucapnya tegas lalu berlari keluar.

Kimmie langsung mengejarnya. Saat tinggal beberapa langkah lagi Byulhyun bisa keluar dari rumah itu, dia langsung memeluk gadis itu dari belakang.

Byulhyun meronta ingin lepas dari pelukan Kimmie. “Aku tidak mau melakukannya. Aku tidak mau menikah denganmu!!” Ujarnya dengan isakan.

Kimmie semakin memeluk Byulhyun semakin kencang. “Kau harus, Isabella!”

“Aku tidak mencintaimu! Aku ingin pulang!!” Tangisan Byulhyun semakin menjadi. “Aku ingin pulaaaang~!”

“Kau sudah dirumah, Isabella.”

“Aku ingin kembali ke Korea! Aku ingin bersama Cho Kyuhyun!!”

“ISABELLA LEE!! LISTEN TO ME!!” Kimmie membentaknya karena dia sudah tidak sanggup lagi. Byulhyun langsung berhenti menangis. Dia ketakutan sekarang. Ini bukan Kimmie yang dulu ia kenal.

“Kau harus menikah denganku!!” Tegasya. “Ini keingan Appa yang terakhir!”

Byulhun menggelengkan kepalanya. “Appa kejam!”

“Kau harus melakukannya, Isabella!”

SHIREOOO!!” Rengeknya untuk menolak. “Appa kejam!!”

“KIM BYULHYUN!!” Kimmie kembali membentak gadis yang ada dalam pelukannya ini. “Kau harus menikah denganku!”

-=.=-

12.00 of April 20th, 2012

Los Angles

Disinilah Byulhyun sekarang. Dia sedang berada dalam kantor pengacara dan notaris untuk mengurus perpindahan atas nama kepemilikan sekolah seni milih Ayah Byulhyun. Untuk hal ini dia sanggup melakukannya. Tapi menikah dengan Kimmie. Entahlah, dia sangat enggan melakukannya.

Saat semua sudah berakhir, Byulhyun segera masuk kedalam mobil. Namun dia mengernyitkan dahinya saat mobil yang ia tumpangi tidak berjalan menuju rumahnya. “Kita mau kemana?”

“Aku akan mengajakmu ke butik, ke jewelry, ke percetakan undangan, mencari gedung atau gereja.”

Byulhyun hanya menghela nafasnya. Lalu menatap ke jalanan disamping kanannya melalui jendela.

“Aku tahu, sampai kapanpun kau tidak akan menyutujuinya. Jadi lebih baik aku menyiapkannya sendiri.”

“Lalu kenapa kau melakukannya?”

Kimmie terkekeh. “Aku sudah lama megenalmu, Isabella. Aku tahu semuanya tentangmu.”

“Itu tidak menjawab pertanyaanku.”

“Aku tetap akan menyiapkan semuanya. Karena aku tahu, kau akan melakukannya. Walau itu tidak datang dari hatimu.”

“Kalau begitu aku memang menikahimu. Tapi jangan harap aku akan bahagia dan kau bisa memiliki hatiku!” Tukasnya.

Kimmie tersenyum. Dia berpikir bila Byulhyun sudah menyutujui untuk menikah dengannya. Kau pasti akan kembali mencintaiku, Isabella!

-=.=-

19.00 of May 16th, 2012

Kimmie House, Los Angles

Byulhyun terdiam kamarnya memandang langit malam Los Angles di musim semi melalui jendela kamarnya. Dia kembali menghela nafasnya untuk entah yang keberapa kalinya. Ditundukannya wajahnya dalam-dalam.

Sudah hampir sebulan dia membiarkan Kimmie menyiapkan segala persiapan ‘pernikahan’ mereka. Mungkin sudah sekitar sembilan puluh persen siap. Kimmie sama sekali tidak keberatan akan Byulhyun yang acuh tak acuh dengan apa yang ia lakukan. Tentu saja karena Byulhyun masih belum bisa menyutujui pernikahan ini.

Tapi apa mau dikata. Sesuatu dalam dirinya menyuruhnya untuk menyutujui pernikahan itu. Dia ingin menjadi anak yang berbakti. Setidaknya ini adalah keinginan terakhir ayahnya. Dia ingin menebus kesalahan yang ia lakukan dulu sebelum ayahnya meninggal.

Tapi lubuk hatinya juga berontak untuk menentangnya. Dia tidak bisa menikahi Kimmie yang sama sekali tidak ia cintai. Dia mencintai Cho Kyuhyun. Dia hanya ingin menikah dengan pria bernama Cho Kyuhyun itu.

Byulhyun menggigit bibirnya.

Haruskah ia menyutujuinya?

Ya, harus. Ini demi Ayahmu.

Tapi, bagaimana dengan Kyuhyun

Pria itu pasti mengerti.

Tapi aku tidak ingin mengecewakannya!

Semua hubungan tidak selalu berjalan mulus. Lupa, kau dulu meninggalkan Kimmie begitu saja?

Tapi, aku tidak tega menyakitinya…

Dia pria kuat. Dia pasti bisa menyembuhkan sendiri luka dihatinya. Kau akan menyakiti ayahmu bila kau memilih pria itu.

Batin Byulhyun berdebat dengan asiknya. Menyebabkan kepalanya mendadak kembali berdenyut. Ya. Benar. Ia telah mengecewakan Kimmie beberapa tahun lalu. Dia juga sudah menyakiti Ayahnya saat ia kabur dan tidak memberikan Ayahnya kesempatan untuk menjelaskan. Dan kini adalah saat yang tepat untuk menebus semua kesalahannya.

Byulhyun merebahkan tubuhnya diatas kasur. Dipijatnya kening kepalanya yang sangat menyiksanya. Dan pening yang ia rasakan membawanya kealam mimpi

-=.=-

Seorang gadis mengenakan baju terusan serba putih. Dia sedang duduk ditengah sebuah taman bunga yang sangat cantik. Sebuah taman bunga yang tidak mungkin dirawat oleh tangan seorang manusia.

Semilir angin yang menerpa wajahnya dengan belaian lembut. Bahkan kain sutrapun kalah lembut dengan belaian angin itu. Harum wangi yang menyeruak dari semua bunga yang tumbuh membuatnya nyaman dan tenang. Sinar matahari yang bersinar secara bersahabat tidak berlebihan seperti biasanya. Sejenak ia berpikir, ini bukanlah sebuah dunia yang ia tinggali.

Gadis itu terus melangkah. Menyusuri setiap jengkal jalan setapak di taman itu dengan senyum yang terkembang lebar disaat kulit putih pualam yang menutupi seluruh jemarinya menyentuh setiap kelopak bunga.

Di ujung jalan setapak, dia menghentikan langkahnya. Jalan itu terbagi menjadi dua cabang. Ditolehkan kepalanya kearah kiri. Berdiri seorang pria tinggi nan tampan tengah tersenyum kepadanya. Tangan pria itu terulur menanti gadis itu untuk menyambutnya.

Gadis itu sangat ingin menjawab uluran tangan pria itu dan merasakan genggaman hangat pria itu. tapi langkahnya tertahan. Dan tanpa ia sadari, ia menolehkan kepalanya ke kanan. Disana juga sama. Disana ada pria lain bertubuh tegap gagah berupa menawan tengah menantinya sambil menampakan senyum termanis yang ia miliki.

Sayang gadis itu sama sekali tidak tertarik untuk mendekati pria itu. dan saat ia berniat untuk berpaling kesisi kirinya, tiba-tiba datang seorang pria paruh baya dari belakang pria yang berada disisi kanan gadis itu.

Gadis itu hanya diam saat pria paruh baya itu mendekatinya dan menyentuh pipinya. “Anakku…”

Gadis itu terdiam. Namun airmata mulai tergenang dimatanya.

“Aku ingin kau bahagia. Aku ingin kau bisa menentukan pilihan terbaikmu…”

Butiran bening yang tergenang di mata gadis itu jatuh begitu saja. Dia hanya mengangguk kecil.

Pria paruh baya itu hanya tersenyum. Kemudian dia berjalan mundur, kembali ke arah pria yang ada disisi kanan.

Gadis itu kemudian melangkah dan menentukan pilihannya. Dia berjalan kesisi kanannya. Namun, setelah dua langkah dia berhenti. Terlihat ragu untuk meneruskan langkahnya. Ditatapnya pria paruh baya yang merupakan Ayahnya itu. Pria itu hanya tersenyum penuh arti.

-=.=-

Byulhyun tersentak dan terbangun dari tidurnya. Dia masih mencerna semua kejadian yang ia ‘alami’ dalam mimpi itu. Dia berjalan kesisi kanan? Sisi Kim Kyuhyun? Dia memilih Kimmie? Tapi kenapa ia berhenti setelahnya? Kenapa ia ragu? Dan kenapa Ayahnya tersenyum kepadanya?

Byulhyun hanya menggelengkan kepalannya. Dia tidak mungkin memilih Kimmie sementara ia sangat mencintai Kyuhyun. Byulhyun mulai memejamkan matanya dan mengucapkan doanya dalam hati.

Tuhan… tolong bantu aku… Aku tidak bisa menikah dengan Kimmie. Tapi aku juga tidak mau mengecewakan Appa. Aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat. Tolong tuntun aku pada pilihan yang benar. Aku tidak ingin menyakiti siapapun. Semoga keputusanku adalah keputusan yang benar. Amin.

Perlahan, Byulhyun kembali membuka matanya. Dia merasakan sesak dalam dadanya mulai berkurang dan dia bisa bernafas dengan lega. Kini dia akan menyerahkan semuanya pada takdir yang diberikan Tuhan untuknya.

Kalau memang takdirnya untuk menikah dengan Kimmie, dia tidak akan mencoba untuk lari untuk mnegelak. Dan bila bukanlah takdir miliknya untuk menikah dengan Kimmie, pasti akan ada suatu hal yang membatalkan pernikahannya.

Yah, itu adalah keputusan yang adil untuknya, untuk Kimmie, dan untuk Ayahnya. Tapi apakah cukup adil untuk seorang Cho Kyuhyun?

-cut­-

Advertisements