Tags

LOVE IS ALWAYS COMPLICATED POSTER

Title                            : Love Is Always Complicated – Episode 11

Author                       : @dcnirwana

Genre                         : romance, angst

Rate                            : General

Type                           : Drama Fiction

Length                        : Oneshot; 3,962 words; 11 MS Word pages

Main Cast                 :

  • Park Nichan (OC)
  • Kim Byulhyun (OC)
  • Shin Minso (OC)
  • Yesung
  • Kyuhyun
  • Siwon
  • Super Junior

Disclaimer                  : I OWN THE PLOT

EPISODE 11

13.25 of March 14th, 2012

Private lounge of strarbucks

Minso menghembuskan nafasnya keras. Mendadak, ingatannya kembali ke enam bulan lalu, hari-hari pertengahan di bulan Agustus. Ia begitu syok dan tidak percaya mendengar pengakauan perasaan dari pria yang kini tengah duduk santai sambil menikmati secangkir espresso di hadapannya. Ia hanya bisa membisu dan membiarkan namja itu akhirnya tersenyum bahagia karena Minso menerima perasaanya.

Kalau boleh jujur, Minso sama sekali tidak memiliki perasaan khusus antara pria dan wanita padanya. Lalu kenapa? Disayangi seorang superstar Hallyu yang sedang naik daun dan digilai banyak wanita di luar sana, Minso malah sama sekali tak tertarik?

Hatinyalah penyebab semua pelik dan dilema menghinggapinya. Inilah dilema besar yang sedang dihadapinya. Dilema yang menggerogoti tiap sel semangatnya hingga ia merasa malas mengerjakan laporan perusahaan yang menempuk di meja kerjanya.

Dia sudah mengajak pria lain untuk menikahinya. Menikah? Ya. Dia mungkin sudah gila. Benar-benar gila. Entah apa yang ada di dalam otaknya sehingga dia menyuruh pria lain untuk menikahinya. Ya pria lain. Pria lain yang juga bermarga Choi. Namun bukannya Choi Siwon, melainkan Choi Yongjun.

***FLASHBACK***

21.00 of March1 5th, 2012

Nichan’s House, Seongnam

Minso terduduk di halaman belakang rumah Nichan. Dia sibuk memandangi indahnya langit malam diatasnya.

Yongjun berjalan mendekatinya. “Hey, sedang apa disini?”

“Menyindiri ditengah kegelapan malam yang hanya ditemani bintang dan semilir angin.”

Yongjun tersenyum simpul.

“Bagaimana dengan rencana pernikahanmu?” tanya Minso tiba-tiba.

“Entahlah. Aku juga belum tahu. Lagipula, Nichan masih sangat marah padaku. Sudah seminggu lebih dia tidak membiarkan aku berbicara dengannya. Tapi yang jelas, setelah aku menikah nanti, kami tidak akan tinggal di Korea lagi.”

Minso tertegun. “Kau akan benar-benar pindah?” Tanyanya dengan suara bergetar.

“Itu permintaan Aboji.” Jawabnya pasrah.

“Sebelum menikah, kau harus sering mengajakku makan malam.” Pintanya manja

“Iya.”

“Kau juga harus mengajakku jalan-jalan.”

“Iya.”

“Kau harus sering meneleponku setelah pindah nanti.”

“Tentu saja.”

Minso sudah tidak sanggup menahan hasratya untuk memeluk pria yang duduk di sebelahnya. “Jangan lupakan aku…” Pintanya lirih sambil menitikan airmatanya. “Aku akan sangat merindukanmu.”

Yongjun terpaku. “Aku juga. Pasti aku sangat merindukanmu.” Yongjun mengangguk dan dengan ragu dia membalas pelukan dari Minso. Dia sudah tidak bisa menahan diri lagi. Ditariknya Minso dan dikepanya erat. “Aku tidak akan pernah melupakanmu.”

Minso semakin erat memeluk Yongjun layaknya dia tidak ingin pria itu pergi. Tangisnya pecah sekarang. “Bisakah kau tidak menikah dengannya?”

Yongjun tercengang. Otaknya bergelut dengan hatinya. Antara cintanya atau balas budi. Mana yang harus ia pilih?

“Bisakah kau menjawabnya dengan kata ‘iya’?” Pintanya dengan isakan yang membahana. “Bisakah kau hanya menikah denganku?”

Namun, rupanya hati Yongjun memiliki pemikiran sendiri dan pemikiran hatinya itu lebih mendominasi dibanding akal sehatnya.Dan sekarang akal sehatnya benar-benar lumpuh. Hasrat cintainya mengusai dirinya. “Baiklah. Kalau itu maumu. Kita menikah!!”

*** End of flashback ***

Dan ya. Sekarang dia harus menjelaskan semua ini. Dia harus meluruskan semua kesalahan yang terjadi akan kesalahannya ini.

Oppa…”

“Hmm?”

Minso menggigit bibirnya. Batin Minso berdebat dengan asiknya. Menyebabkan kepalanya mendadak kembali berdenyut. Minso kembali meneguk ludahnya.

“Kau mau bicara apa?”

Minso menoleh kaget karena mendadak kesadarannya seakan ditarik kembali oleh suara berat pria dihadapannya. Ia tergagap. “Ah? Iya… aku…”

Waeyo? Kenapa kau gugup begitu?” Siwon bertanya yakin.

Minso meringis. Hatinya masih berdebat antara dua pilihan untuk mengatakan yang sebenarnya, atau harus diam bungkam dan menelan kejujuran perasaannya. “Aku… ingin… Aku ingin bicara.”

“Bicara apa?” Siwon menegakkan duduknya, sementara matanya menoleh ke arah wajah Minso.

Minso berdeham. “Kurasa… hubungan kita cukup sampai disini.”

Seluruh tubuh Siwon mendadak membeku seakan baru saja ditembak mati ditempat. Ia seolah kehilangan detak jantungnya. Darah seolah disusut habis dari sekujur tubuhnya. Dan nyawa seakan melayang meninggalkan raga-nya. “Mwo?”

“Maafkan aku, tapi aku tidak bisa bersamamu lagi.” Ujarnya pelan dan sama sekali tidak berani melihat pria yang ada dihadapannya. Dia hanya menundukan wajahnya dalam.

Wae?” Siwon memberanikan dirinya bertanya lemah. Berusaha tampak tegar.

“Aku… aku sudah berusaha. Aku berusaha membuat hatiku memilihmu. Setiap hari aku menyugesti diriku sendiri agar bisa membuat diriku jatuh cinta padamu. Tapi nyatanya tidak.”

Hening sesaat. Siwon berusaha mencari-cari suaranya yang menghilang entah kemana. Apa? Apa salahnya? Kenapa ia harus menerima hal ini? Ini pertama kalinya ia berani menegaskan siapa gadis-nya. Tapi… kenapa sekarang malah… seperti ini?

“Kau… bercanda, kan?” Siwon terus menatap wajah gadis yang kini menolak menatapnya dengan nanar. Ia masih tidak bisa mempercayai apa yang baru saja didengarnya. Bagaimana mungkin Minso tidak mencintainya? “Kau sedang bercanda, kan?”

Mianhae…. Jeongmal… Aku sayang padamu. Aku… Kau sudah seperti kakak bagiku.”

Kakak? Siwon memalingkan wajahnya. Hanya sebatas Kakak? Jadi semua cinta dan perhatian yang ia berikan untuk Minso selama ini, sia-sia? Sia-sia?

“Apakah… ada yang kurang dari diriku?” suara lirih itu kembali terdengar setelah beberapa saat terdiam.

Minso tercekat mendengar suara Siwon yang mendadak serak. Ia buru-buru menoleh dan membuat Minso terhenyak karena langsung ditatap tajam oleh kedua mata yang terlihat terluka itu.

“Tidak, tidak,” sergah Minso cepat. Minso sama sekali tidak peduli dengan semua kekurangan yang dimiliki orang lain. “Kau mengagumkan. Untuk ukuran manusia, kau hampir sempurna. Aku tahu itu. Tapi hatiku tak bisa berpaling dari dirinya…”

“Diri…nya?” Siwon berkata lirih.

Minso mengangguk yakin. “Maafkan aku. Seharusnya sejak awal, aku tidak menjalin hubungan denganmu. Seharusnya sejak awal aku tahu, aku hanya mengidolakanmu. Seharusnya aku sadar, kalau aku masih mencintainya.” Terasa pedih saat ia mengatakan hal ini tapi Minso yakin bila Siwon harus tahu akan hal ini.

“Siapa?” Siwon bertanya pelan. Nadanya benar-benar terluka. “Yang kau maksud tadi… siapa?”

Minso menggigit bibirnya. Minso ragu. Haruskah ia mengatakan siapa namja itu? Haruskah ia membiarkan Siwon tahu kalau ia ternyata lebih memilih Choi Yongjun daripada dirinya?

Keurae,” potong Siwon. “Ah… pasti dia, kan? Pria yang dulu mendatangimu di taman didepan rumah sakit tempat Nichan dirawat, kan?”

Minso menggigit bibirnya lagi lebih keras. Seolah ada tumpukan beton yang tiba-tiba jatuh membebani kepalanya hingga ia tertunduk. Tahu. Ternyata Siwon tahu siapa yang ia maksudkan. Dia merasa menjadi gadis yang paling kejam didunia ini.

“Jadi, kau benar-benar ingin mengakhirinya?”

Minso mengangguk takut-takut. “N… Ne…”

“Baiklah.”

Minso mendongakkan kepalanya. “Oppa, mianhae…,” Minso mendadak panik. Ia takut setelah ini Siwon akan membencinya. “Jeongmal mianhae… aku… aku tidak bermaksud…”

Gwenchana. Lagipula, bukan maaf yang ingin kudengar dari mulutmu.” Ujarnya lalu menghela nafasnya. “Aku ingin kau mengatakan cinta padaku. Aku tidak bisa memaksa. Itu hatimu. Aku tidak bisa memaksamu untuk mencintaiku. Mungkin sejak awal memang aku yang salah. Aku terlalu banyak berharap.”

Minso terpaku. Rasa bersalah semakin menyelimuti dirinya. “Ini bukan salahmu. Kau tidak bersalah sama sekali. Ini salahku. Ini salahku yang tidak mengatakannya sejak awal kepadamu.”

“Itu bukan salahmu. Sama sekali bukan salahmu. Cinta itu tak bisa dipaksa, kan?”

“Tapi…” ucapan Minso terthenti saat Siwon tiba-tiba saja menariknya kedalam pelukannya. Meletakkannya dagunya di bahu Minso dan memejamkan matanya. “Saranghae…”

Minso membeku. Matanya terasa panas dan dadanya bergemuruh. Rasa bersalah semakin bercokol dalam di dadanya. Air mata Minso kembali menetes. Rasa bersalahnya semakin memuncak. Bagaikan ditampar dengan kenyataan. Bagaimana bisa dia setega ini?

Siwon melepaskan pelukannya. Ia mencengkeram bahu Minso kuat. Matanya menatap sendu ke arah mata Minso. Ada kilat terluka dan juga tak rela. Bibir manis Siwon mengecup singkat dahi Minso. “Mianhae. Tapi dengan ini…” Siwon berujar pelan. “…aku melepasmu.”

Minso bergetar. Air matanya turun sudah.

“Berbahagialah. Aku melepasmu. Maafkan aku kalau pernah membebani perasaanmu…” Siwon menghapus aliran air mata di wajah Minso perlahan. “Kau menganggapku sebagai kakak, jadi aku akan menganggapmu sebagai adikku. Aku akan menyayangimu seperti aku menyayangi Jiwon.”

Minso masih terdiam. Sementara Siwon malah tersenyum yang sangat dipaksakan. “Aku aka kembali ke lokasi syuting. Aku pergi.”

Minso diam. Dia hanya bisa menatap nanar punggung Siwon yang berjalan pergi. Demi Tuhan, aku tidak akan pernah memaafkan diriku. Oppa, berbahagialah…

-=.=-

19.30 of March 15th, 2012

Nichan’s house

“Kang Ahjumma!!” Suara Nichan melengking memanggil salah satu pengurus rumahnya. “Apa makan malam sudah siap?”

Kang Ahjumma berjalan keluar dari arah dapur. “Sudah siap, Nona. Semua sudah siap di ruang makan.”

Nichan mengangguk. “Kau masak apa Ahjumma?” Tanyanya riang.

“Aku sudah memasak seafood, nona.”

Anyeong Minso-ya, Byulhyun-ah!!” Sapanya riang setelah duduk di samping Byulhyun. Dan satu-satunya yang tidak disapa hanyalah Yongjun.

“Nichan-ah, aku ingin membicarakan sesuatu.” Pinta Yongjun serius.

“Minso-ya, apa kau mendengar suara seorang pria?” Tanyanya pada Minso yang duduk dihadapannya.

“Nichan-ah, aku serius. Aku harus bicara.” Yongjun kembali mengajaknya bicara.

Ahjumadeul, So-ya, Byulhyun-ah, aku serius. Aku mendengar suara laki-laki. Tapi tidak ada wujudnya.” Ucapnya yakin. “Kurasa disini ada hantunya.” Ujarnya lalu bergidik.

“Nichan-ah!! Ini soal hubunganmu dan Yesung!!”

Nichan terdiam. Diletakannya sendok dan garpu kembali dimeja makan. Dia langsung menatap Yongjun secara tajam lalu bertanya dingin, “Apa yang ingin kau bicarakan?”

“Aku akan melepasmu.” Jawabnya pelan. “Aku tidak akan mencampuri urusanmu dengan orang tuamu lagi.”

Nichan tertegun. “Kau serius?”

Yongjun mengangguk. “Kau bisa kembali dengan Yesung.”

“Tapi kenapa? Kenapa kau melakukan ini?”

“Aku tidak ingin kau menganggapku sebagai pria jahat. Aku ingin kau mengenangku sebagai Choi Yongjun yang sayang dengan adiknya seperti Park Jungchan. Aku juga tidak bisa terus memungkiri perasaanku sendiri. Menyedihkan saat aku harus menyakiti orang lain. Terlebih saat melihat adik kecilku menderita.”

Nichan bangkit dari kursinya, berlari memutari meja lalu memeluk Yongjun. “Gomawo, oppa!” Ucapnya penuh haru.

Yongjun tersenyum lalu mengelus puncak kepala Nichan dengan sayang. “Tentu saja. Asal adikku bahagia, aku juga akan bahagia.”

Nichan melepaskan pelukannya kemudian berjalan tergesa menuju kamarnya. “Aku harus menemui Yesung Oppa sekarang!”

Tangan Yongjun meraih tangan Nichan, menahan gadis itu melangkah menjauh. “Tapi aku akan tetap menikah.”

Nichan mengernyitkan dahinya. “Menikah?” Tanyanya tak yakin. “Dengan siapa?”

Yongjun tersenyum. Menolehkan kepalanya menghadap kepada Minso lalu menggenggam erat tangan Minso. “Dengan gadis yang aku cintai.”

“Minso?” Nichan membelalakan matanya kaget. “Shin Minso?”

“Bagaimana dengan Siwon?” Tanya Byulhyun.

Minso menunduk. Rasa bersalah kembali bercongkol didadanya. “Aku sudah mengakhiri hubunganku dengannya. Aku tidak bisa memungkiri bila aku masih mencintai Yongjun.”

“Siwon menerimanya dengan baik? Ini bukan keputusan sepihak, kan?” Tanya Nichan was-was.

Minso menggeleng. “Ini kesepakatan kami semua.” Ujarnya yakin.

Nichan mengangguk. “Baiklah! Itu urusan kalian. Keurom, aku akan pergi ke dorm sekarang.” Nichan segera bergegas keluar dari ruang makan.

Byulhyun beranjak mengikuti Nichan. “Nichan-ah, aku ikut, ya?”

Nichan mengangguk antusias.

Sebelum Nichan keluar, Yongjun kembali menghentikan langkahnya. “Nichan-ah…”

Nichan berhenti lalu menoleh. “Apa?”

“Semoga beruntung. Aku akan mendoakanmu.” Ujar Yongjun tulus lalu tersenyum. Nichan membalas senyum Yongjun dengan senyum manis miliknya.

“Semoga kau berbahagia. Selamanya.” Ujar Minso tulus.

Nichan mengangguk. “Gomawoyo. Semoga kalian juga.”

-=.=-

20.10 of March 15th, 2012

11th floor of Star City Apartment

“Sungmin Oppa!!” Nichan menyapa Sungmin yang baru saja keluar dari kamar. “Dimana Yesung Oppa?”

Sungmin sedikit terkejut melihat keberadaan Nichan terlebih saat gadis itu mencari Yesung dengan riang seolah tak terjadi masalah sedikitpun. “Kau mencari Yesung Hyung?” dia bertanya sangsi.

Nichan mengangguk antusias. “Apa dia dikamar?” tanpa basa-basi dia langsung melangkahkan kakinya memasuki kamar Yesung. Namun, dia mengernyitkan dahinya saat tidak menemukan kamar Yesung sedang kosong. Terlebih berkesan seperti tidak dihuni.

“Dimana dia? Kenapa kamarnya kosong?”

Sungmin mendekat sambil meneguk meneguk air minum dari gelas. “Kau belum tahu?”

Mata Nichan berkedip polos dan menggeleng kecil. “Tahu apa?”

“Yesung Hyung sudah pindah. “Jelasnya enteng. “Dia tidak tinggal disini lagi. Setelah kau memutuskan hubungan kalian, Yesung Hyung memilih pindah.”

Nichan berjengit. “Pindah? Kemana?”

“Di rumah orang tuanya.”

Tanpa aba-aba Nichan langsung melangkah keluar dan menuju tempat parkir mobilnya. Dia harus menemui Yesung malam ini juga.

Sedangkan Byulhyun masih ada didalam dorm. Dia melongokan kepalanya masuk kedalam kamar Kyuhyun. “Setan itu sedang tidak di sini, ya?” tanyanya pada Sungmin.

“Kyuhyun?” Sungmin meneguk kembali minumnya. “Dia sedang musikal. Tapi dia dalam perjalanan pulang. Kau mau menunggu atau pulang?”

“Pulang.” Jawabnya datar kemudian berjalan mendekati pintu.

Saat tangannya memeggang gagang pintu, pintu itu menjemblak terbuka dan muncul Kyuhyun dibaliknya. Kyuhyun bertanya kaget kepada Byulhyun, “Kau disini?”

“Apa pertanyaanmu perlu dijawab?” jawabnya sinis. “Minggir, aku mau pulang.”

“Heeeh…” Kyuhyun mencegah Byulhyun. “Kau terlanjur disini, kau harus menemaniku!!”

Byulhyun mencibirnya “Untuk apa? Aku tidak mau menemani setan busuk sepertimu.”

“Ayolah!!” Rengeknya. “Hari ini aku akan menjadi pria primitif untuk menemani gadis primitif sepertimu.”

“Maksudmu?”

“Huh u ha ahaha huo he he huh ooho…” racaunya dan bersikap seperti manusia purba.

Byulhyun menatapnya dengan pandangan aneh. “Kau sudah gila, huh?”

Kyuhyun menghentikan aksi ‘manusia purba’ kemudian tersenyum manis. “Kau yang sudah membuatku gila, Kim Byulhyun.”

-=.=-

21.00 of March 15th, 2012

11th floor of Star City Apartment

Nichan memakirkan mobilnya diseberang sebuah rumah yang memancarkan aura kehangatan sebuah keluarga yang harmonis. Dia berulang kali menghembuskan nafas beratnya dan mengatur degup gugup jantungnya. Setelahnya dia melangkah masuk kedalam kediaman keluarga Kim.

Ting… Tong…

Nichan menekan bel yang terhubung dengan intercom didalamnya. Cukup lama Nichan menungggu diluar. Ditekannya lagi bel rumah itu dan tidak berapa lama pintu itu terbuka.

Nichan menggigit bibir bawahnya dengan cemas. Tapi kecemasannya hilang saat melihat sosok pria bertubuh agak pendek dan berpipi tembam dengan mata sipit yang amat dikenalinya itu. Dengan mata sipitnya yang setengah terpejam dan berpenampilan berantakan, pria itu bersandar malas pada pintu.

“KIM JONGJIN!!” sentaknya untuk membuat pria itu membuka matanya dengan sempurna. “Buka mata sipitmu itu, Kim Jongjin!!”

Jongjin sama sekali tidak menghiraukan Nichan. “Apa? Sedang apa kau kemari? Menganggu tidurku saja!!” ujarnya kesal.

“Dasar tukang tidur!!” Nichan menghardiknya. “Mana Hyung-mu?”

“Jongwoon Hyung sedang mandi.” Ujarnya dengan menunjuk kamar mandi dengan arah sembarangan karena menahan kantuk. “Aku mau tidur lagi! Kau cari sendiri!!”

Jalja!!”

Nichan mengganti hig heels koleksi dari Charles and Keith miliknya dan menggantinya dengan sandal rumah. Dia melangkahkan kakinya dengan mengendap-endap karena cemas dan takut. Entah kenapa rasa takut menyelimutinya. Karena baru kedua kalinya Nichan kesini, dia salah jalan. Bukannya menuju kamar mandi, dia justru masuk di dapur kediaman keluarga Kim.

“Dimana kamarnya?” tanyanya berbisik. Kepalanya terus menoleh kekanan dan kekiri mencari kemungkinan dimana kamar Yesung berada. Dia membalikan tubuhnya.

PRAKK!!

Karena terlalu kaget, Nichan melangkah mundur dan menyenggol rak kayu disampingnya. “O.. Oppa?!”

Yesung berada di hadapannya dengan rambut basah dengan airnya yang menetes tiada henti. Menuruni tiap gurat kencang yang tertera. Memantulkan bias lampu dalam setiap butirnya Membasahi setiap jengkal kaus putih yang ia kenakan dipadukan dengan celana jins panjang. “Sedang apa kau disini Nichan-sshi?” Tannya Yesung tajam dan dingin.

Nichan tergagap untuk menjawabnya. “Aku ingin menemuimu. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan.”

Yesung sedikit terkejut mendengar penuturan yang keluar dari bibir gadis itu. “Apa kau kesini untuk mengeluarkan kata-kata pedas sama seperti saat kau mengusirku sewaktu pesta perusahaanmu?”

Nichan menggeleng kuat sambil menahan gejolak rasa bersalah dalam lubuk hatinya dan menahan derasnya air mata yang menutupi ke dua mata coklatnya. Nichan tidak tahu harus mengatakan apa lagi dan langsung berlari memeluk pria itu. “Jangan seperti ini! Kumohon!” lirihnya masih dengan memeluk tubuh pria itu.

Yesung tidak menyangka reaksi Nichan yang memeluknya. “Nichan-sshi?”

Mianhae, Oppa!” Isaknya. “Mianhae.”

Yesung belum sepenuhnya mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Nichan. “Apa maksudmu? Untuk apa kau meminta maaf?”

“Semuanya! Apapun yang sudah aku lakukan.” Jelasnya. “Ini semua bukan kehendakku sendiri. Aku terpaksa, Oppa.”

Yesung hanya tersenyum setelah dia mulai mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh gadis yang tengah memeluknya dengan erat. Dirinya sendiripun tidak mampu menahan hasrat untuk membalas pelukannya.

“Maafkan aku, Oppa!” Nichan tertunduk dan melepaskan pelukannya. “Aku tahu, kau pasti marah terhadapku. Aku bisa menerimanya,” ujarnya lemah.

Yesung memanyunkan bibirnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ditangkupkannya wajah gadis itu dengan kedua telapak tanagnnya. “Kau tau? Aku tidak bisa marah padamu walaupun kau sudah bersikap kejam padaku. Aku mengerti keadaanmu.”

Nichan menangis haru mendengarnya. Perasaan bersalah itu kembali terbayang jelas dibenaknya. “Terimakasih karena kau tidak marah.”

Yesung tersenyum simpul lalu menarik Nichan untuk duduk bersaamanya diatas sofa.

“Errr…” Nichan menggantungkan kalimatnya dan terlihat ragu untuk meneruskannya. “Apa kau mau menerimakuu lagi?”

Yesung tersenyum lalu menggeleng. “Untuk apa aku menerimamu lagi?”

Nichan melongo mendengar kalimat yang terucap dari bibir pria itu. “Baiklah. Aku mengerti.”

Kini Yesung yang gentian melongo. “Hey, aku belum selesai.”

Nichan hanya memanyunkan bibirnya.

“Untuk apa aku menerimamu lagi? Sejak kapan hubungan kita itu berakhir?” Tanya Yesung lembut sambil mengelus lembut pipi Nichan. “Kita belum sepakat untuk menyudahi hubungan ini. Kau ingat? Hanya kau yang mengatakannya. Lalu kau pergi begitu saja. Jadi dimana sisi sebrakhirnya?”

Nichan tersenyum lalu memeluk Yesung untuk kedua kalinya. “Oppa, neomu neomu gomawoyo.”

Yesung menaikan sebelah alisnya. “Untuk apa, hmm?”

Nichan melepas pelukannya kemudian menamati setiap jengkal lekuk wajah tampan pria yang ada dihadapannya, “Karena kau sudah menerimaku lagi dan mencintaiku apa adanya.”

Mereka saling berpandangan dan tersenyum memandangi lekukan wajah satu sama lain. Jemari Nichan mulai merasakan relief wajahnya yang kau rasa sangat indah.

“Dan apa kau tahu, Oppa? Alasan kenapa aku semakin mencintaimu?”

“Karena apa?” tanyanya sambil memejamkan matanya menikmati sentuhan jemari Nichan yang sedang membelai lembut dipipinya.

“Terkadang aku sangatlah egois dan kekanak-kanakan. Tapi kau tidak pernah mengeluh, kau tidak pernah marah, kau benar-benar memahami dan dapat mengimbangiku yang mungkin dirasa orang umur kita terlalu jauh.”

Yesung tersenyum lembut, mendekatkan wajahnya kemudian menempelkan dahinya di atas dahi Nichan dan menatapnya dalam. “Kau tau? Terkadang sesuatu yang indah diawali dengan perbedaan. Dengan adanya perbedaan itu maka kita akan sempurna bersama. Bukan begitu? Dan aku sudah berjanji padamu, meski kau meninggalkanku, aku akan tetap terus mencintaimu selamanya.”

Nichan tersenyum bahagia saat mendengar untaian kata yang keluar dari mulut Yesung yang baginya adalah kata-kata paling indah yang pernah ia dengar. “Dan kau tau? Aku hanya mencintai satu orang. Han saram! Neo ppunya, orang yang paling bodoh di dunia ini.”

“Kau lebih bodoh karena mencintai pria yang bodoh ini.” Katanya sambil mencium dahi Nichan dengan sayang.

“Aku rasa aku orang bodoh yang paling beruntung di dunia ini karena memilikimu,”

Neon naekkeoya, Kkomma-ya!” Yesung tersenyum dan kembali mencium kening Nichan dengan lembut.

“Mmm… Nan neokkeoya, Oppa!”

Yesung kembali mendekap Nichan dan Nichan benar-benar merasa nyaman dalam dekapan posesif itu

“Kalau begitu kau harus mengatakan betapa kau mencintaiku dan tidak akan pernah meninggalkanku lagi!”

“Aku berjanji bila aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi. I’ll never again leave your side, Oppa,” Janjinya. “Dan betapa besar aku mencintaimu, aku tidak tahu pasti sebesar apa cintaku padamu. Yang kau perlu tahu adalah aku mencintaimu. My love is more than words, Oppa,” Jelas Nichan.

“Aku takut kehilanganmu lagi, Kkoma-ya.” Yesung berujar lirih.

Nichan semakin mengeratkan pelukannya. “Nado.”

Yesung turut mengeratkan pelukannya lalu memainkan rambut Nichan seraya berkata, “Apabila ada yang mengatakan takut kehilangan, sama saja dia lebih dari membutuhkanmu. Seseorang mengatakan takut kehilangan karena bagi dia, kau itu orang yang selama ini dia inginkan, selalu dia inginkan. Selalu. Kehilanganmu itu sama berarti aku kehilangan rasa, dan aku akan mati rasa akan semua yang berada disekitarku. Saranghae, Park Nichan.”

-=.=-

11.45 of March 18th, 2012

Nichan’s House

Yesung dan Nichan duduk tertunduk diatas sofa di dalam ruang santai. Begitu juga dengan Yongjun dan Minso yang duduk di sofa yang lain. Hari ini mereka menghadapi halang rintang terbesar mereka. Park Jaekang dan Shin Ahrim.

“Jadi keputusan kalian sudah bulat?” Ahrim mengeluarkan suaranya setelah mereka semua terdiam beberapa saat.

Semua mengangguk mantap.

Ahrim menghela nafasnya lagi. “Baiklah. Choi Yongjun! Kau akan dikeluarkan dari kartu keluargaku.”

Yongjun sudah menduga hal ini. “Aku tahu. Lagipula, aku memang bukan putra kandung kalian.”

Ahrim hanya mengangguk sekenannya. “Kami sudah mengurus semuanya. Kau bisa mengambil alih perusahaan ayahmu yang ada di New York mulai minggu depan.”

Yongjun mengangguk. “Terima kasih, Shin Sajangnim.”

“Kau boleh pergi! Kau tidak berhak tinggal disini lagi!!” Ujar Jaekang dingin.

Yongjun hanya menganggkat bahunya lalu mengajak Minso naik untuk membereskan semua pakaiannya.

Hingga akhirnya kini tinggal Nichan, Yesung dan kedua orang tuanya.

“Baiklah. Aku tidak akan basa-basi. Kami tidak menyukaimu untuk menjadi pendamping purti kami.” Ujar Ahrim tegas dan tanpa basa-basi.

Nichan meringis dan Yesung tertohok dengan ucapan Ahrim yang sangat frontal itu.

“Kenapa Eomma tidak menyukainya?”

“Dia lebih tua enam tahun darimu. Masa depannya juga tidak jelas. Hanya seorang penyanyi. Dia bisa apa setelah karirnya tamat?” Tanya Ahrim tajam dan menusuk.

“Aku tidak masalah dengan jarak usia kami. Lagipula dia memiliki bisnis yang menjanjikan.” Jawab Nichan membela kekasihnya.

“Keluarga kami memiliki restoran makanan dengan franchises dan coffee shop. Kami juga baru saja membuka toko kaca mata dua minggu lalu.”

Ahrim terlihat sedikit melunak setelah mendengar penjelasan bisnis keluarga Yesung. Tapi tidak dengan Jaekang yang masih saja diam dan menatap Yesung dengan tajam.

“Bisnis kecil seperti keluargamu tidak sama dengan bisnis yang kami jalani.” Ujar Jaekang pelan.

Nichan terdiam. Dia tidak pernah bisa melawan ayahnya. Tapi bila dengan ibunya, dia masih bisa membalasnya.

“Aset Why Style, toko kaca mata kami mencapai 1,8 milyar Won. Belum termasuk coffee shop Handel & Gratel dan belum termasuk franchises dari babtol yang sudah lebih dari lima belas cabang.” Yesung menjelaskan secara cukup detail usaha miliknya. Nichan mendengarnya dan tersenyum bangga mendengar seberapa sukses usaha milik Yesung.

“Aku tidak peduli sebagus dan semenjanjikan apa usaha miliknya.” Jaekang bangkit dari duduknya kemudian menatap keluar jendela. “Kau harus tetap ikut kami kembali Seattle.”

Jaekang menggedikan kepala memberi kode kepada para bodyguard miliknya yang sudah bersiap. Kemudian para bodyguard itu mendekati Nichan dan menarik Nichan keluar.

Nichan diperlakukan seperti itu tentu saja meronta. “YA!! Lepaskan aku!!” Nichan berontak melawan dua bodyguard berwajah sangar dan berbadan gagah. “Lepaskan!! Aku tidak mau!!”

Sementara itu, Yesung juga tidak berdiam diri melihat Nichan diseret paksa. Dia berniat membebaskan Nichan, sayang ada dua bodyguard lain yang langsung melayangkan tinjunya secara cuma-cuma.

Kemudian salah seorang dari mereka yang berbadan pendek tumbang. Dan tidak lama, bodyguard yang satunya lagi ikut tumbang. Dibalik mereka berdiri sosok Yongjun yang sedang membawa stik golf.

“Terimakasih.” Ujar Yesung lalu berjalan keluar. Sayang, Nichan sudah masuk kedalam mobil dan tidak lama mobil itu berjalan menjauh. Tanpa pikir panjang, Yesung langsung berlari mengejarnya. Tapi tetap saja, tenaga Yesung masih kalah dengan tenaga mesin yang membawa mobi itu menjauh.

Yesung berhenti berlari dan menatap mobil itu masih berjalan menjauh. Ada sesuatu dalam benaknya untuk terus memerhatikan mobil itu. Dan benar saja, tiba-tiba salah satu pintu mobil itu terbuka dan Nichan keluar dari mobil yang sedang berjalan itu yang tentu saja membuat gadis itu bergulingan di jalan beraspal itu.

“PARK NICHAN!!!” Yesung berteriak panik dan khawatir lalu berlari mendekati Nichan. Begitu juga dengan Nichan yang berlari kearahnya.

“Kau tidak apa-apa? Ada yang sakit?” Tanya Yesung khawatir.

Nichan menggeleng. “Aku tidak apa-apa.”

Yesung bernia memeluknya, namun Nichan merintih sakit saat tangan kanan Yesung menekan bahu kirinya. “Sakit?”

Nichan hanya menggeleng. “Hanya sedikit.”

“Kau tidak boleh bertindak bodoh lagi!!” Yesung memearahinya. “Kau sudah berjanji padaku! Jangan korbankan dirimu lagi!!”

“Kalau tidak begini, aku pasti akan kembali ke Seattle dan aku tidak bisa bersamamu lagi.”

“Jadi kau benar-benar ingin bersamanya?” Suara Ahrim mengusik mereka dari belakang.

Nichan memutar badannya kemudian berlutut dihadapan Ahrim. “Eomma, untuk pertama kalinya dalam hidupku aku berlutut memohon seperti ini.” ujarnya sambil menitikan air matanya. “Aku mohon Eomma.”

Ahrim tidak tega melihat Nichan berlutut mengemis seperti itu. Dia adalah tipikal seorang wanita yang sangat mementingkan harga dirinya yang tinggi. Dan dia tahu bila Nichan juga memiliki sifat yang sama. Tapi melihat Nichan berlutut dan mengemis restunya seperti ini, dia tahu Nichan sudah membuang jauh harga dirinya dan tidak peduli pada apapun lagi.

Kemudian dia menatap Yesung dengan marah. “Bagaimana bisa kau tetap berdiri, sementara putriku berlutut memohon seperti ini?! Apa kau ini seorang pria sejati?!”

Yesung melongo kemudian dia ikut berlutut dengan kikuk. “Maafkan aku eommonim. Kalau kau tidak menyukaiku, aku akan berusaha untuk membuatmu menyukaiku. Apa yang kau benci dariku? Aku akan memerbaikinya, eommonim.”

“PARK NICHAN!!” Teriakan Jaekang yang menggelegar terdengar sangat membahanan di sepanjang ruas jalan. “Kau benar-benar memilih pria itu?!”

Nichan mengangguk. “Appa aku mohon. Sebelum ini aku tidak pernah meminta apapun pada Appa. Kumohon sekali ini saja, Appa mau mengabulkan keinginanku.”

“Baiklah!!”

Nichan dan Yesung menatap Jaekang tidak percaya. Begitu juga Ahrim, tersirat perasaan senang dalam tatapan bingungnya yang ia tujukan untuk suaminya.

“Benarkah itu, Appa?”

“Tapi kau serahkan semua saham Star Angel dan tinggalkan rumah ini!!”

-cut­-

Advertisements