Tags

Title                            :Love Is Always Complicated

Author                       : @dcnirwana

Genre                         : romance

Rate                           : General

Lenght                      : Continue

Cast                            :

  • Yesung
  • Cho Kyuhyun
  • Choi Siwon
  • Park Nichan
  • Kim Byulhyun
  • Shin Minso

Disclaimer                  : I OWN THE PLOT

 EPISODE 10

18.15 of December 31st, 2011

Private lounge of Star Angel Restaurant

Yesung tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menyebut nama gadis itu dengan pias dengan pandangan terluka. “Park Nichan?”

Nichan reflek mencari orang yang memanggilnya. Dan saat matanya bertemu dengan mata memanggilnya. Matanya membulat lebar dan digigitnya bibir bawah yang terbalut lipstick rose pink keluara Revlon Colorbusrt miliknya. Ditahanya pedih, sakit, perih dan sesak yang menderanya.

Mata Yesung tidak lagi memancarkan damai dan ketenangan bagi Nichan. Pandangan mata itu memberinya sesak dan sakit. Pandangan mata itu sarat akan kesedihan mendalam, kemarahan yang memburu, kecewa yang tak terlampiaskan.

Nichan menggenggam tangannya erat. Ini adalah jebakan yang sudah disiapkan oleh Yongjun. Dia tidak menyangka bila pria itu akan berbuat sejauh ini. Dipejamkan matanya erat dan mengatur emosinya. Mencoba untuk berkepala dingin.

“Aku adakan kesempatan yang bagus untuk mengakhiri hubungan kalian. Manfaatkanlah kesempatan ini dengan baik.” Bisik Yongjun seolah tidak peduli dengan perasaannya.

Nichan tidak sanggup berkata. Dia hanya melirik Yongjun yang masih saja tersenyum puas dan menuntunnya duduk dikursi makan. Setelah duduk, Nichan tidak berani mengangkat kepalanya. Terutama menjauhi pandangan Yesung yang masih saja tertuju padanya.

“Jadi, aku ingin mengundang kalian menjadi wajah baru dari perusahaan kami.” Ujar Yongjun berbasa-basi.

Leeteuk berdeham untuk mencoba membangun profesionalitas kerjanya ditengah konflik batin tak terlihat yang menyelubungi mereka. “Jadi konsep apa yang kalian tawarkan?”

“Kecerian. Kekeluargaan. Kebersamaan. Itu konsep baru yang akan kami gunakan untuk perusahaan ini.”

Nichan memandang Yongjun tidak percaya. Ini adalah perusahaan miliknya yang susah payah ia dirikan. Dan dengan mudanya, pria itu mau membuat perubahan besar tanpa ijinnya. Dia hanya bisa berdecak.

“Aku jug…” ucapan Yongjun terhenti saat dia merasakan ponselnya bergetar dalam saku celananya. “Boleh aku permisi keluar? Aku sedang mendapat telepon penting.”

Leeteuk hanya mengangguk. Yongjun segera berjalan keluar dari lounge tertutup itu.

Seusai Yongjun keluar, tidak ada yang berani mengeluarkan suara. Bahkan para member enggan menyentuh makanan dihadapannya. Sementara Nichan, dengan santainya dia melahap steak dengan table manner yang terlihat lihai.

Yesung menegakan posisi duduknya. “Jadi…”

Nichan meletakan garpu dan pisaunya setelah mendengar suara Yesung. Dia melap mulutnya dengan anggun dan meminum wine dengan angkuh. Kemudian ditatapnya Yesung dengan pandangan mata yang belum pernah ia tunjukan pada member Super Junior, meski itu Yesung sekalipun. Pandangan itu begitu angkuh, penuh percaya diri, dan menggambarkan harga diri yang tinggi.

“Jadi apa? Kau menuntut penjelasan?” tanyanya. Suara gadis itu. nada yang ia gunakan membuat semua orang yang duduk disana merasakan aura ketegasan, keangkuhan, dan keintimidasian.

Semua orang disana diam tak berkutik setelah Nichan berbicara. Mereka terlalu terkejut dan tertekan dalam aura juga suasana asing yang menyelimuti mereka. Yesung tercengang melihat perubahan sikap Nichan yang sangat berbeda. “Yang pria itu katakan… Apa itu benar?”

Nichan masih menatap Yesung intens. Tapi tubuhnya sempat menegang mendengar pertanyaan itu. “Ya. Itu benar.”

“Tapi bagaimana bisa?”

“Tidak ada yang mustahil. Semuanya bisa berubah.”

“Tapi…”

“Aku sudah memutuskannya, Yesung-sshi.”

Dan tepat setelah Nichan mengatakan itu, Yongjun kembali masuk kedalam ruangan itu. Nichan berdiri menghampirinya. “Bisa kita pulang? Aku masih ada acara penting lainnya.”

Yongjun hanya mengangguk. “Well… Kalian lanjutkan saja acara makan malamnya. Kita bisa membahas ini dipertemuan berikutnya.”

Tanpa berpamitan, Nichan langsung melenggang pergi begitu saja. Dan Yongjun hanya bisa berjlan mengikutinya dari belakang.

“Kau puas? Jadi ini semua sudah kau rencanakan sebelumnya.” Ujar Nichan kesal.

Yongjun terkekeh. “Jangan kesal seperti itu. Kau harus berterimakasih padaku.”

“Berterimakasih?” Nichan memutar bola matanya. “Yang benar saja.”

“Hey, aku sudah membantumu memberikan situasi yang bagus untuk mengakhiri hubungan kalian.”

Nichan tiba-tiba menghentikan langkahnya. “Kumohon!! Setelah ini jangan berbicara denganku lagi!” Ucapnya sarat akan rasa terluka yang menjalar diseluruh tubuhnya.

-=.=-

Hyung!” Ryeowook mendekati Yesung yang masih saja duduk diam ditempatnya. “Kau baik-baik saja?”

Yesung menggeleng. “Aku tidak baik-baik saja.” Ujarnya hampa. Pandangan matanya kosong. Otaknya terus saja berpikir. Mencerna setiap kata yang dikatakan oleh gadis yang sangat ia cintai tadi.

Seolah mendapat pencerahan, Yesung langsung bangkit berdiri kemudian segera berlari mengejar Nichan. Hingga ia berlari menuju lobi dan menemukan Nichan sedang berjalan mendekati pintu keluar dengan langkah gontai. Dia langsung berlari mendekatinya dan menarik tangannya. “Kkoma, apa maksudnya semua ini? Yang tadi kau katakan itu bohong, kan? Ini semua rekayasa, kan?”

Nichan melepas genggaman tangan Yesung dari pergelangan tangannya. “Kumohon, Yesung-sshi. Semuanya itu bukan bohong. Ini tidak direkayasa.”

“Tapi kenapa?”

“Sudahlah. Kita selesaikan semua disini. Memang seharusnya kita tidak menjalani hubungan ini dari awal.”

“Kau pernah mengatakan, hari-harimu begitu indah bersamaku.”

Yesung tercekat. “Apa dua tahun ini tidak berarti apa-apa untukmu? Apa cinta…”

“Cinta? Apa itu cinta?” Nichan bertanya memotong perkataan Yesung. “Cinta hanyalah hal sepele yang terlalu diagung-agungkan dan semata-mata hanyalah pengorbanan yang sia-sia. Itu arti cinta untukku.”

“Aku bertanya padamu. Apa kau pernah mencintaiku?” Pertanyaan itu terlontar degan nada penuh harap.

“Tidak.” Jawab Nichan tegas. “Satu detikpun aku tidak pernah berpikir untuk mencintaimu. Untuk apa aku mengorbankan hidupku yang berharga untuk mencintai pria sepertimu?” Terdengar menyakitkan. Tapi itulah yang harus Nichan lakukan.

Yesung terdiam di tempat. Dia terlalu tercekat dan terguncang akan badai yang tiba-tiba menghantamnya. Seolah ada sesuatu yang mengganjal dalam tenggorokannya, dia tercekat.

“Sudah selesai kau berbicara padaku?”

Yesung memberanikan diri untuk kembali menatap sepasang mata coklat milik Nichan. “Kau mencintai pria itu? Choi Yongjun?”

Nichan tersenyum remeh. “Untuk apa aku mencintai pria seperti dia. Jadi tidak. Aku tidak mencintainya.”

“Sebenarnya apa yang kau inginkan?”

“Yang aku inginkan?” Nichan berpura-pura berpikir dan melipat tangannya didepan dada. “Aku tidak menginginkan cinta. Aku sama sekali tidak membutuhkan hal remeh yang disebut cinta dalam hidupku. Ada hal lain yang lebih aku inginkan. Jadi lebih baik kita akhiri semua ini.” Tepat setelah mengatakan itu, Nichan langsung berbalik dan berjalan pergi.

“Tapi aku masih ingin bersamamu.” Lirihnya penuh harap. “Kumohon.”

Nichan menghentikan langkahnya. “Tidak denganku.” Dan setelahnya, Nichan kembali melanjutkan langkahnya dan masuk kedalam mobil.

Nichan hanya bisa menatap bayangan Yesung yang masih terdiam terpaku di dalam lobi. Tanpa kendali, air mata Nichan jatuh membasahi gaun malamnya.

Mianhae, Oppa. Maaf aku membohongimu. Maaf aku menyakiti perasaanmu. Maaf karena aku memungkiri perasaanku sendiri. Maaf aku harus mengakhiri hubungan ini. Hanya ini yang bisa lakukan untuk melindungimu. Kumohon maafkan aku.’

-=.=-

19.30 of December 31st, 2011

Nichan’s House

“Nichan-ah?!”

Nichan menelangkan kepalanya malas. “Ada apa?”

Minso dengan takut berjalan mendekati Nichan yang berdiri diambang pintu kamarnya. “Apa kau benar-benar akan mengakhiri hubunganmu dengan Yesung Oppa?”

Nichan berdecak kesal. “Bisakah kau tidak ikut membicarakan hal ini?” ungkapnya malas.

“Kau masih bisa berusaha Nichan-ah.”

“Apa?!” Nichan membentak. “Apa yang bisa kulakukan? Semakin aku melawan, dia akan semakin menyakiti dia dan yang lain. Biar aku saja yang mengalah.”

“Tapi…”

“Ini masalahku. Kau tidak perlu ikut campur masalah ini.”

“Nichan-ah…” Minso masih merengek membujuk Minso.

Nichan terdiam lalu menatap Minso. “Kau masih mengharapkannya?”

“Ne?”

“Kau masih mengharapkan pria itu? Siapapun dia. Park Jungchan ataupun Choi Yongjun?”

Ne?” Minso menggaruk pelipisnya dengan kikuk. “Jangan bercanda. Lalu bagaimana nasib Siwon?”

Nichan menaikan alisnya. “Bukankah hanya kau yang bisa menentukan nasibnya. Apa kau ingin terus menerus menggantungkannya? Kau tidak bisa menggantungnya.”

“Kau sedang bicara apa?” tanyanya tergagap.

“Kalau begitu, diam dan jangan pedulikan masalahku dengan pria itu.”

BLAAM

Nichan langsung menutup pintu kamarnya tepat didepan hidung Minso. Minso tertunduk. “Apa aku tidak boleh mengharapkannya?”

‘hanya kau yang bisa menentukan nasibnya’ Minso kembali teringat perkataan Nichan. “Benar. Bagaimana nasib Siwon nanti?”

Minso berjalan kembali masuk kedalam kamarnya. Dia menatap malas tumpukan berkas perusahaan yang menumpuk. Dia sama sekali tidak tertarik mengurus perusahaan masalah ini.

Entahlah, dia hanya sibuk memikirkan siapa yang dia pilih. Antara memilih berlajar mencintai pria yang sudah menjadi miliknya. Atau berusaha merebut pria yang ia cintai meski pria itu akan menikah dan jelas-jelas sudah meninggalkannya.

-=.=-

19.00 of February 29th, 2012

Star Angel Hotel’s Ballroom

“Ayo kau harus berdansa denganku.” Pinta Yongjun.

Nichan menepis genggaman tangan Yongjun. “Kalau mau dansa, berdansa sendiri saja. Aku tidak mau.”

Yongjun semakin mengeratkan genggaman tangannya. “Kau harus mau!!”

Nichan meringis menahan sakit. “Aku tidak mau. Lepaskan tanganmu!” Nichan masih mencoba melepas genggaman tangan Yongjun. Tapi semakin dia menolak, semakin kencang Yongjun menggenggamnya. “Lepaskan…”

BUG!!!

Nichan ikut terjatuh saat Yongjun jatuh tersungkur setelah mendapat tinju dari Yesung. “Sudah jelas gadis itu menolakmu! Kenapa kau masih saja memaksanya?” Yesung langsung menarik Nichan keluar dari ruangan pesta. “Ayo ikut denganku.”

Nichan melepaskan tangan Yesung dari genggaman tangannya saat mereka sudah berada di luar ballroom. “Untuk apa kau mencampuri masalahku?” tanyanya kesal.

“Aku hanya ingin menolongmu.”

“Siapa kau?!” Bentaknya kesal. “Siapa kau hingga kau berani mencampuri masalahku?! Mau menjadi pahlawan kesiangan, huh?! Aku bahkan tidak meminta bantuanmu!”

Yesung tertegun. Begitu juga para member Super Junior yang mengikuti mereka. Mereka belum pernah melihat Nichan marah hingga membentak seperti itu.

“Ayo kita pergi! Aku tahu kau tidak ingin ada disini.” Yesung kembali mendekat.

Nichan melangkah mundur dan menyembunyikan tangannya. “Kalau kau ingin pergi, pergi saja sendiri!”

Yongjun tiba-tiba mundul dibalik tubuh Nichan. “Kau sudah dengar, kan? Apa butuh panggilkan security untuk mengusirmu?”

Sungmin dan Siwon langsung mendekati Yesung dan menariknya paksa. Yesung menepis kasar. “Kkoma-ya, ayo kita pergi!!”

“APA KAU TULI??!” Nichan kembali membentak. “Aku sudah bilang aku tidak mau pergi denganmu!!”

Donghae dan Kyuhyun ikut membantu Sungmin dan Siwon untuk menarik Yesung secara paksa. Sementara Yesung masih saja meronta-ronta dan memanggil Nichan dan mengajak gadis itu pergi

Sementara Nichan hanya bisa menggigit bibir bawahnya menyaksikan Yesung meronta-ronta seperti itu. dia memendam segala penyesalan di dalam hatinya.

“Ayo, kita masuk kedalam!” Yongjun kembali mengajak Nichan masuk kedalam ruang pesta.

Nichan melengos malas. “Kau nikmati pestamu sendiri saja. Aku muak dengan semuanya.” Tuturnya kesal lalu berjalan pergi.

“Kau mau kemana?”

“Ke kantorku!!” balasnya. “Dan jangan ikuti aku!!”

Yongjun hanya bisa diam dan membiarkan Nichan berjalan meninggalkannya. Di tatapnya punggung gadis yang sedang berjalan gontai itu. didadanya mencuat perasaan bersalah yang amat besar. Dia tahu ini salah. Dia tahu ini tak benar sejak awal seberapapun indahnya ini. Tapi dia tidak mempunyai kekuatan untuk menyudahi semua ini. Karna dia sudah berjalan terlalu jauh dari garis yang sudah ditetapkanya. Dan dia sudah tidak bisa kembali.

-=.=-

“Yesung-ah, kau seharusnya bisa menjaga sikapmu.” Leeteuk kembali mengomeli Yesung setelah mengenakan sweater putih miliknya. “Disana kita tidak sendiri. Masih ada tamu yang lain.”

“Tapi aku tidak tega melihat Nichan yang terus diajak paksa mengikuti pria itu.” Yesung membela dirinya.

“Tapi tetap saja! Kita harus bisa jaga sikap.”

“Sudahlah, Hyung. Tidak ada gunanya memarahinya sekarang.” Sungmin menengahi. “Dia sedang diliputi emosi. Lagipula hal ini sudah terlanjur terjadi.” Ujarnya sambil merapikan kaos hitam yang baru ia kenakan.

Hyung!!” Ryeowook mengacungkan ponselnya dengar riang. “Kita berfoto saja. Bagaimana?”

Shindong mengangguk antusias. “Benar. Kau suka berfoto, kan, Hyung?!” pertanyaan Shindong mengacu pada Yesung. Tapi Yesung sama sekali tidak menggubrisnya.

Setelah semua mengganti pakaian panggung dengan pakaian santai, mereka segera mengambil pose di sekitar sofa.

“Aku yang akan mengambil gambarnya.” Ryeowook berjalan kedepan dan memersiapkan fitur kamera melalui ponselnya.. “Yesung Hyung, tersenyumlah!”

Yesung masih saja diam dan tidak merubah ekspresi wajahnya yang masih saja ditekuk dan terlihat mendung.

“Sudahlah, Hyung! Foto saja!!” Seru Kyuhyun.

Arraseo. Hanadulset…”

 Ag2OMMlCIAA9zZhyeppangambek

Ryeowook berjalan mendekat dan menunjukan hasil gambarnya. “Ini hasilnya.”

“Wahaha… wajahku memang tampan.”

“Kenapa poseku seperti ibu-ibu arisan?”

“Kenapa aku terlihat aneh? Wook-ah, ini pasti karena kau salah mengambil gambar.”

“Terima saja, Hyung!”

“Bukan kameranya yang rusak. Ini memang wajahmu yang aneh.”

Yesung hanya terdiam mendengar semua celotehan mereka. Dia menghembuskan nafasnya. Dia sudah lelah menahan gejolak yang ada didalam dadanya selama Super Junior mengisi acara sebagai bintang tamu ulang tahun perusahaan dan sebagai icon baru untuk Star Angel.

Akhirnya, dia memutuskan untuk bangkit dan berjalan keluar. “Aku mau berjalan-jalan dulu.” Tanpa menunggu balasan, dia langsung berjalan keluar.

“Tapi sebentar lagi, Inhwan Hyung akan menjemput. Jangan lupa!” Leeteuk mengingatkan.

Yesug hanya mengangguk seadanya dan berlalu. Dia melangkahkan kakinya mendekati ruang pribadi Nichan. Dilewatinya pintu bergeser dengan sensor didepan ruangan sekertaris. Dia sudah tidak bisa menahan rasa rindunya selama sebulan ia tahan.

Didepannya berdiri seuah pintu eksklusif. Sungguh elegan, mewah, dan angkuh. Menggunakan pelitur dari emas putih dengan ukiran-ukiran rumit. Bahkan besi yang menjadi daun pintu itu benar-benar mengkilap. Dan pintu itu benar-benar menghina debu yang mencoba untuk menempel.

Ditelannya ludah yang membuatnya tercekat. Digerakan tangannya mendekati gagang pintu berbentuk bundar dengan lapis emas. Ditenganya ada hiasan kristal Swarovski berwarna-warna membentuk pola kristal dengan sebutir berlian kecil ditengahnya.

Kini harapannya adalah pintu itu tidak terkunci. Diputarnya dengan sangat hati-hati gagang pintu itu.

CKLIK…

Yesung menghembuskan nafas lega. Permintaannya benar-benar terkabul saat ia berhasil membuka pintu dan membuat sedikit celah untuk mengintip. Dan kini Yesung benar-benar bisa melihat sosok itu sepenuhnya.

“Ugh…” Gadis itu mengeluhkan rasa sakit didadanya dan bersandar lemah di meja kerjanya.

Yesung tercekat melihat gadis yang sedang mencengkram gaun cocktail-nya yang berwarna biru lembut. Tangannya ingin meraih tubuh gadis itu sekarang juga. Ia ingin menenangkan gadis itu di dalam pelukannya. Tapi ia sadar, saat ia melangkah selangkah lebih dekat, gadis itu akan berjalan sepuluh langkah menjauhinya. Jadi dia hanya bisa mengintip gadis itu.

Sementara Nichan belum menyadari kedatangan Yesung, dia hanya ingin menyingkirkan semua rasa tidak enak yang menyusup kedalam hatinya. Dia berjalan memutari meja dan mencari obat penenang. Dia langsung meminum sebuah pil penenang kemudian merebahkan dirinya diatas sofa hingga membuat matanya benar-benar terpejam sempurna.

Kaki Yesung melangkah mendekati sosok itu. Sedikit demi sedikit, Yesung bisa melihat bila Nichan sama sekali diam ditempatnya. Apa dia tertidur?

Dan pertanyaan Yesung terjawab saat dia sudah berdiri dibalik sofa dimana Nichan yang terbaring dengan tidak nyaman. Mata gadis itu terpejam nyenyak.

Yesung duduk diatas meja, sehingga kini ia bisa leluasa memandangi wajah Nichan. Wajah gadis itu terlalu indah dan terlalu sayang untuk dilewatkan. Yesung sama sekali tidak peduli akan seberapa lama ia memandangi wajah manis gadis yang menjadi fokus matanya sekarang ini. Entah hal apa yang berhasil menghipnotis Yesung untuk terus menatap wajah itu tanpa henti dan ia sama sekali tak memiliki kemampuan apapun untuk menghalau daya hipnotis itu.

Yesung tersenyum lalu mengelus puncak kepala Nichan dengan lembut. “Kenapa kau tidak bisa kulupakan? Kenapa aku sangat mencintaimu?” Tanyanya. Dan itulah pertanyaan yang belum bisa dijawabnya. Setiap kali Yesung mencari alasan buruk untuk dan melupakan sosok Nichan, maka setiap kali itu pula Yesung menyadari bahwa dia tak akan pernah sanggup untuk melupakannya.

Tangan kiri Yesung terulur menggenggam tangan Nichan dan menautkan jarinya. Dia tertegun saat gadis itu juga menautkan jemari tangannya dengan erat saat sebuah bulir bening lolos dari matanya yang terpejam itu.

Gadis ini menangis dalam mimpinya? Sebenarnya apa yang dia mimpikan?

Yesung menahan semua rasa penasarannya itu dan menghapus pelupuk mata gadis itu dengan ibu jari.

Mata Nichan perlahan terbuka dan matanya langsung menatap lurus kearah pria yang duduk dihadapannya. Sementara itu, Yesung terlihat sedikit ketakutan. Gadis ini bangun secara tiba-tiba dan dalam kondisi seperti ini. Tangan mereka yang saling bertaut, padahal gadis itu sedang menghindarinya.

“Ternyata benar, itu kau.” Yesung melihat Nichan yang tersenyum dan menahan air mata penuh kepedihan kepadanya. Tangan gadis itu makin mempererat genggaman tangannya di tangan Yesung, seakan tak membiarkan Yesung pergi begitu saja. Dan air matanya kembali menetes

Gwaenchana?” Yesung yang melihat hal itu langsung bangkit dari duduknya dan segera duduk disamping Nichan. Dia langsung merengkuh kepala Nichan ke dalam pelukannya dan menepuk-nepuk punggung gadis itu beberapa kali.

Nichan tidak menjawab. Ia hanya mengeratkan pelukannya. Air matanya mengalir deras tanpa isak. Mengalir tanpa henti membuat bahu mantel Yesung menjadi basah.

Yesung dengan ragu melepas pegangan tangannya dan meletakkan kedua tangannya di punggung Yejin dengan ragu. Ia merasakan bahwa tubuh gadis di dekapannya ini gemetar hebat. “Ssstt, gwenchana.”

Nichan hanya mencengkeram mantel Yesung dengan kencang. Getaran di tubuhnya masih belum berhenti.

“Sssshh!! Tenanglah. Aku disini. Jangan khawatir.” Yesung mengelus rambutnya. “Ssshh, menangislah,” Yesung masih mengelusnya. “Menangislah jika kau ingin menangis.”

Nichan terisak dan ia semakin mengeratkan pelukannya

Yesung sama sekali tak mengatakan apapun setelah itu. Dia hanya menepuk-nepuk punggung Nichan tanpa henti dan beberapa kali dia mendengar isakannya tertahan karena tercekat. Setelah beberapa lama, tangisan Nichan mereda menyisahkan isakan-isakan kecil.

“Kau bermimpi buruk, hm?” tanya Yesung sambil masih mengelus kepala Nichan. Selama beberapa saat, Nichan tak menjawab apapun hingga akhirnya dia menganggukkan kepalanya perlahan.

Yesung mulai merasa sedikit lega saat gadis ini mulai bisa diajak berkomunikasi dengannya. “Apa mimpi itu sangat menakutkan?”

Nichan kembali teringat akan mimpinya yang merupakan kilas balik saat dirinya memutuskan hubungannya dengan Yesung di Hotel beberapa waktu lalu. Kilas balik saat ia berteriak keras dan menghinanya didepan para tamu undangan. Kemudian dia menggeleng lemah. “Menyakitkan…” Sahutnya dengan lirih dan getaran pelan.

Nichan merasakan nafasnya sedikit menjadi sesak saat Yesung mendekapnya sangat erat, seperti dia akan melindunginya dan tidak akan membiarkan satu orangpun menyakitinya. Tapi Nichan tak memikirkan hal itu, rasanya jika dia mati kehabisan nafas di pelukan pria ini dia rela. “Kau bermimpi apa?”

Nichan hanya diam tidak menyahut. Dia hanya menyandarkan kepalanya diatas dada bidang milik Yesung dan mencari rasa nyaman dan aman setiap kali ia memeluk pria itu.

“Kau tidak mau bercerita? Baiklah…” Yesung mengelus punggung Nichan. “Lebih baik kau tidur. Kau selalu mengantuk setelah menangis atau kau akan pusing bila kau terus membuka matamu. Aku akan menemanimu disini.”

Nichan tertegun saat Yesung tahu hal sekecil itu tentang dirinya dan tak berapa lama dia mengangguk. Perlahan dia tersenyum kecil.

Yesung tersenyum simpul saat gadis itu mengangguk. Dia memeluk Nichan semakin erat, menggumamkan lagu In My Dream, yang selalu gadis itu dengarkan sebelum tidur dan menggerakan pelukannya dengan pelan. Sekitar lima menit, pundaknya terasa semakin berat. Rupanya Nichan sudah kembali tertidur.

Yesung merebahkan Nichan senyaman mungkin. Dia melepas mantel biru gelap miliknya dan menggunakannya untuk menyelimti Nichan.

ddrt…

Ponselnya bergetar. Yesung membaca pesang singkat yang Leeteuk kirimkan untuknya yang mengabari bila manager mereka sudah menjemput.

Sekali lagi Yesung memandang wajah Nichan. “Jalja, Kkomma-ya!” Dicium lembut dahi gadis itu dan mengelus rambutnya. “Saranghae.”

-=.=-

Dengan samar Nichan mendengar suara pintu tertutup. Kesadarannya sudah mulai terkumpul dan berhasil membuat matanya terbuka. Dirasakannya sebuah mantel yang menjadi selimut untuknya. Dan sekali lagi, air mata jatuh dari kedua mata coklatnya.

“Jadi itu bukan mimpi? Kau benar-benar datang, Oppa?” isaknya sambil memeluk mantel itu.

Nichan bangkit dan berjalan mendekati dinding kaca. Dapat dilihatnya siluet Yesung yang berjalan keluar dari lobi kemudian masuk kedalam minivan.

Nichan kembali teringat saat ia berteriak kasar pada Yesung. dia benar benar merasa bersalah. Dan lagi. Raut kecewa dan mata yang berkilat terluka yang ditampakan oleh Yesung selalu terbayang dan tidak pernah lepas dari otaknya. Semua itu benar benar membebani pikirannya.

Melepaskan pria itu dan berjalan meninggalkan sisi pria yang sangat ia cintai terdengar mudah dan terlihat enteng saat dipikirkan. Namun kenyataannya, semua ini membuat dirinya sangat tersiksa batin dan fisiknya.

Oppa, bolehkan aku mengharapkan keajaiban yang akan membuat semuanya kembali seperti dulu?” tanyanya tak lebih pada dirinya sendiri. “Oppa, apa aku masih bisa merengkuhmu kembali?”

-cut-

Advertisements