Tags

Title                            : Chance to Breakin’ Up

Part                             : 1 of 4

Chance to Breakin’ Up ^^

23.45 of March 26th, 2012

Arts’ Faculty of Seoul University

Sebuah mobil Audi A6 membelokan rodanya menuju sebuah komplek universitas ternama di Seoul. Dan setelah mencapai area parkir yang dekat dengan taman di fakultas arsitektur, pria yang mengemudikan mobil putih mewah itu keluar dan segera berjalan menuju tempat seorang gadis yang sudah lama menunggunya.

Sekali lagi dia mengeratkan mantel dan menutupi wajahnya dengan tudung jaket hitam miliknya. Dan akhrinya dia melihat gadis yang sedang duduk disalah satu bangku taman sementara di kedua telinganya terpasang sepasang earphone dan badannya membuat gerakan-gerakan kecil mengikuti irama lagu itu. Pria itu tersenyum.

Dia melangkah mendekati gadis itu. Namun langkahnya terhenti saat seorang pria lain mendekati gadisnya.

“Hyera-ya?” Panggil pria yang sedang menggendong sebuah gitar. “Kau masih menunggu dia?”

Gadis yang dipanggil Hyera itu mendongak. Tersenyum lalu mengangguk.

“Ini sudah malam dan dia belum datang. Bagaimana kalau aku mengantarmu pulang?” Tawarnya.

Gomawo, Sungha-ya. Tapi tidak usah. Hyuk sudah berjanji menjemputku dan aku akan menunggu hinga dia datang.”

Pria itu. Eunhyuk. Lee Hyukjae. Dia tertegun. Gadisnya rela menunggu selama tiga jam karena dirinya yang sudah berjanji menjemputnya.

“Ayolah! Ini sudah sangat malam! Berbahaya untukmu! Ayo! Aku antar kau pulang.” Sungha tetap berkeras mengajak Hyera pulang. Namun kali ini dia juga dengan menarik tangan gadis itu.

Tapi Hyera tetap menolak ajakan itu. Bahkan dia juga menepis tangan Sungha. Hyukjae mulai geram dan segera mendekati gadis itu setengah berlari. “Hyera-ya!”

Hyera menoleh dan ketika menangkap sesosok Hyukjae dihadapannya dia tersenyum lalu berdiri dan segera mendekati Hyukjae. “Oppa?!”

“Sudah lama menunggu?” Tanya Hyukjae sambil sedikit terkekeh. “Maaf ya aku terlambat. Tadi ada recording yang kurang bagus hasilnya, jadi harus take ulang.”

Gwaenchana.” Hyera merangkul tangan kiri Hyukjae dan mulai mengayunkan kakinya.

Hyukjae mengikuti langkah Hyera dan bergerak menuntun gadis itu menuju mobilnya. “Seharusnya kau pulang kalau sudah terlalu lama menunggu.”

Wae? Kau tidak suka aku menunggumu?”

Aniya, jagiya! Bukan begitu. Hanya saja aku merasa bersalah dan kasihan bila kau terlalu lalu menungguku.”

Gwaenchana. Lagipula kau sudah berjanji menjemputku. Aku tahu kau tidak mungkin mengingkarinya. Kau pasti akan datang walau terlambat. Jadi aku menunggumu. Dari pada kau datang dan aku sudah pulang. Aku tidak ingin mengecewakanmu, Oppa!”

“Aish kau ini! Baiklah, cepat masuk!”

“Langsung pulang atau kita akan mampir?” Tanya Hyukjae.

“Langsung pulang saja.”

“Kau yakin?”

Hyera mengangguk. “Kau pasti lelah setelah recording. Dan kujamin jadwalmu besok padat. Jadi lebih baik malam ini kau beristirahat yang banyak.”

“Tapi aku ingin bersenang-senang denganmu hari ini, jagiya.” Rajuknya manja. “Tidak tidur aku rela untuk menghabiskan malam ini denganmu. Walau untuk makan malam.”

Keundae…

“Ayolah! Akhir-akhir ini aku hanya bertemu denganmu saat menjemputmu pulang kuliah dan dikantor SM. Kau trainee saat aku tidak dikantor.” Keluhnya.

Hyera terkekeh. “Arraseo! Lalu kau mau kemana? Memang masih ada restoran yang buka?” Tutur Hyera sedikit dengan nada menantang.

“Tentu saja ada.” Hyukjae berucap riang lalu membelokan mobilnya di sebuah tikungan menuju daerah gedung SM berada.

“Kau yakin akan makan disini?” Hyera menatap ragu kesebuah kedai pinggir jalan yang tak jauh dari gedung SM. Ini bukan café dengan private lounge untuk para artis. Bukan karena dia tidak suka makan di sebuah kedai namun karena privasi dari Hyukjae tidak terjamin disini.

“Tenang saja. Aku sudah sering makan disini. Ini kedai langgananku semenjak trainee. Ddubokki disini sangat enak. Dan tidak perlu khawatir untuk masalah privasi.”

Jinja?”

“Ayo.”

-=.=-

“Bagaimana dengan jadwalmu besok, Oppa?” Tanya Hyera khawatir.

“Tenang saja. Besok aku hanya recording StarKing. Kau tahu? Jadwalku semakin longgar setalah Minwook menjadi DJ di Sukira.”

Arraseo.”

“Jadi aku boleh kesana?”

“Ini paksaanmu, ya, Oppa.” Hyera mengingatkan. “Kau yang memaksa datang.”

“Tentu saja. Besok kita harus merayakan ulang tahun kita.”

Hyera tertawa kecil. “Baiklah. Jam berapa kau akan ke appartemenku?”

“Jam sembilan malam.”

“Baiklah. Aku akan menyiapkannya. Kau harus datang, ya, Oppa!”

“Sekarang kau yang memaksaku datang, jagi.”

“Hahaha…”

-=.=-

01.05 of March 19th, 2012

Kangnam Street

Hyukjae mendengus kesal. Dia memukul kasar benda bundar dihadapannya. Jalanan yang biasanya sepi, entah ada angin apa bisa penuh sesak dengan mobil-mobil milik warga Seoul ini.

Sesekali dia melihat jam tangannya. Kedua jarum itu kompak menunjuk angka satu. Dia juga sesekali melirik cemas pada layar ponselnya yang ia letakan diatas dashboard mobil. Dia memainkan jemari tangannya diatas steer mobilnya.

Sesekali dia melirik ponselnya yang ia letakan diatas dashboard mobil. Memerikasa apakah ada pesan baru yang masuk. Tapi ponsel pintar dengan layar sentuh yang lebar itu masih saja gelap. Tidak menandakan adanya pesan masuk.

Saat mobil-mobil dihadapannya mulai bergerak, dengan gesit Hyukjae membelokkan mobilnya keluar dari jalur macet itu. Dia segera melajukan mobilnya mencari jalan tikus yang akan mengantarnya menuju appartemen tempat tinggal gadis yang ia cintai.

Hyukjae memakirkan mobilnya dalam basement gedung pencakar langit malam itu. Dia langsung berderap menuju lift setelah memakai jaket dan maskernya.

Setengah berlari, Hyukjae keluar dari lift yang berhenti di lantai empat itu. Setelah berdiri di depan intu dengan nomor 404, dia segera menekan angka kombinasi pintu itu.

KLIK…

Hyukjae perlahan membuka pintu itu. Suasana didalam sangat sepi dan gelap. Terlihat cahaya remang dari arah dapur. Hyukjae menyalakan lampu appartemen milik gadisnya itu. Kemudian dia berjalan perlahan menuju dapur.

Diambang pintu, dia membeku. Gadisnya sudah terlelap tidur. Tangannya menjadi bantalan kepala diatas meja. Dimeja itu terdapat beberapa macam masakan kesukaannya dan ditengahnya lilin yang sudah menyala hingga tersisa tiga senti itu. Dia terenyuh.

Hyukjae mendekati sosok gadisnya yang terduduk tidur dikursi. Dia menggengam tangannya dan menyibakan rambut poni gadisnya yang menutupi dahinya.

Hyukjae lalu menggendong Hyera dengan gaya bride menuju kamar. Direbahkannya dengan lembut gadis itu. Tak luput selimut untuk melindungi gadisnya dari rasa dingin. Dan dia memosisikan diri Hyera senyaman mungkin.

Setelahnya Hyukjae beranjak dan membaringkan dirinya di sofa ruang tengah kemudian segera berpetualang di alam mimpinya.

-=.=-

Silau. Sedikit demi sedikit ada berkas cahaya matahari yang menerobos masuk kelopak matanya. Oleh karenanya, Hyukjae perlahan membuka matanya dengan sempurna.

Dia segera beranjak dan menemukan selembar selimut yang terjatuh karena dirinya yang tengah berdiri. Seingatnya, dia tertidur tanpa sempat mengambil selimut. Kemudian dia tersenyum karena menyadari sesuatu.

Selesai melipat selimut itu seadanya, dia langsung melangkahkan kakinya menuju dapur. Dia kembali tersenyum saat menyadari gadisnya tengah menyiapkan sarapan dalam posisi memunggunginya.

Hyukjae dengan perlahan mendekati Hyera lalu memeluk gadis itu dari belakang. Menyandarkan kepalanya pada bahu gadisnya. Menghirup wangi gadisnya melalui hidung yang menempel pada bahu lembut gadis itu. Kemudian bergelayut manja pada tubuh gadisnya yang lebih pendek darinya itu.

“Kau sudah bangun, Oppa?!”

“Mm…” Hyukjae bergumam manja. “Semalam maafkan aku…” Ucapannya sarat akan penyesalan.

Hyera menghemtaksikan nafasnya. Dia berbalik dan mengalungkan tangannya pada leher pria yang ia cintai itu. “Gwaenchana… Aku sudah senang bila kau datang. Terlambat juga tidak apa-apa.” Jawabnya lugas.

Walau Hyera mengatakan hal itu dengan tulus, tapi tetap saja Hyukjae masih merasa menyesal akan perbuatannya. Bukan sekali ataupun dua kali dia terlambat. Terlebih kali ini kemarin adalah hari jadi mereka setelah satu tahun.

“Bagaimana kalau kau ikut aku GR Super Show hari ini?” ide itu terlintas di pikiran Hyukjae.

Hyera terlihat berpikir. “Johta! Aku bawakan bekal, ya?!” Hyera mendadak antusias. Senyum dibibirnya makin lebar saat Hyukjae menganggukan kepalanya.

-=.=-

12.30 of March 19th, 2012

Seoul Stadium

“Kau akan menampilkan apa, Oppa? ‘Say My Name’?” Tanya Hyera sambil merapikan baju Hyukjae.

Sorry Sorry Answer.” Jawabnya simple.

Jinja? Itu kau menyanyikan lagu itu?” sahutnya dengan nada sarkasme.

“Eiy, aku tidak mungkin menyanyikan lagu itu. Aku tidak ingin membuat ELF menjadi tuli setelah solo stage-ku.” Keduanya terkikik. “Aku akan menari dengan lagu itu. Aku dibantu Moon Zheng membuat koreonya.”

“Moon Zheng?” selama sedetik Hyera terkejut. Terang saja, Moon Zheng adalah salah satu member dari I Am Me yang memenangkan juara satu dalam kompetisi ‘American Best Dence Crew (ABDC)’. “Baiklah. Aku akan menunggu penampilanmu.”

“Aku ke panggung dulu. Harus mengkonfirmasi semuanya.” Hyukjae pamit lalu melesat keluar meninggalkan Hyera sendiri didalam ruang ganti.

“Hyera-ya…”

Hyera menoleh mendapati Donghae yang sudah berdiri di ambang pintu. “Ne?”

“Mm… Kau yakin akan melihat penampilan Hyuk?” Tanya dengan nada sedikit err… khawatir?

Hyera mengangguk antusias. “Tentu saja.”

Donghae mengangguk-anggukan kepalanya. “Baiklah. Kalau itu sudah keputusanmu. Ayo! Sudah akan dimulai!”

-=.=-

Hyera yang tadinya tersenyum bangga dan puas akan penampilan dance dari Eunhyuk mendadak diam terpaku ditempatnya. Matanya diam juga lekat menatap Eunhyuk yang menari diatas panggung. Hanya hatinya yang tidak diam. Hatinya bergerak terjun kebawah hingga menghantam tanah dan hancur.

Hyera tidak masalah dengan penampilan Eunhyuk dibagian awal lagu itu. Tapi saat sudah mencapai puncak, dia tidak bisa kabur dari gemuruh dari dalam hatinya.

Puncak dari penampilan pria itu, Eunhyuk yang mengenakan kemaja putih membuka kancing sehingga memerlihatkan bentuk lekuk badannya yang sempurna. Dan lima penari wanitanya membuka jas hitam mereka sehingga memerlihatkan perut rata mereka. Ditambah semua penari itu hanya menggunakan sport bra warna hitam.

Salah seorang penari wanita bergerak mendekati Eunhyuk yang sedang menari memutar pinggulnya dengan sangat seksi. Penari itu melakukan split dihadapan Eunhyuk kemudian berbaring. Eunhyuk duduk disamping gadis itu kemudian mencondongkan wajahnya mendekat kearah penari itu layaknya sedang berciuman. Hampir dua kali melakukannya, namun saat yang kedua kalinya Eunhyuk mengangkat punggung gadis itu sehingga membuat gadis itu kembali berdiri. Eunhyuk ikut berdiri dan gadis yang berdiri disampingnya melakukan wave yang sangat menggoda.

Eunhyuk dengan penari belakangnya berjalan dengan gaya angkuh sambil tetap mengikuti ritme dan beat lagu menuju ketengah panggung. Dan beberapa saat sebelum rap, Eunhyuk melepaskan kemajanya dan meleparnya sehingga kini dia benar-benar topless.

Eunhyuk langusng mendekati mic dan menyanyikan rap miliknya. Sementara kelima gadis itu menari mengelilinginya dengan menggoda lalu mendekati Eunhyuk. Tiga dari mereka berdiri dan dua lainnya duduk. Dua yang duduk itu meraba mic sementara tiga yang berdiri itu meraba-raba Eunhyuk. Kemudian mereka menjauhi Eunhyuk dan turun dari panggung. Sementara tersisa satu penari masih tertinggal di panggung, memeluk Eunhyuk dari belakang, mencium bahu Eunhyuk lalu membelai dada hingga perut.

Setelahnya, penari itu turut turun dari panggung meninggalkan Eunhyuk yang menari menggoyangkan pinggulnya memutar dan perlahan turun. Kemudian berdiri dan memutari stand mic kemudian mengakhiri penampilan itu dengan pose seksi.

Bagaimana bisa? Dia menari diatas sana dengan lima orang gadis dengan meraba-raba tubuh pria itu. Oke! Dia bisa tidak mempermasalahkan hal itu. Dia bisa memahami profesionalitas kerja kekasihnya. Tapi yang ia persoalkan adalah gerakan dance yang cukup mengarah ke mm… striptease?

Gerakan itu sangat seksi. Jauh lebih seksi dari pada tarian ‘I Wanna Love You’ saat Super Show 3 kemarin.

Dan lagi, koreo itu dibuat oleh Hyukjae sendiri. Berarti dia memiliki niatan dan tidak menolak untuk melakukan tarian striptease itu. Setidaknya, bila koreo ini sudah ditentukan oleh perusahaan, Hyera akan berpikir dua kali untuk marah kepada kekasihnya.

Hyera mengepalkan tangannya dengan erat. Berusaha memberi sugesti positif untuk dirinya sendiri. Dia harus bisa mengerti akan profesi Eunhyuk.

Tapi saat Hyera sedang berusaha memberikan sugesti, benteng hatinya hancur. Diatas sana kekasihnya bercanda dengan penari wanitanya dengan cukup mesra. Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas mereka berdua terlihat dekat. Bahkan dia tidak marah ketika penari itu bergelayut manja dilengannya dan membelai abs miliknya. Eunhyukkah yang ada diatas sana? Atau Hyukjae miliknya?

Hyera merasakan sesak itu menjalar ke sekujur tubuhnya. Dan itu menyiksa. Rasa sesak itu memaksa dirinya untuk menangis. Tapi dengan sekuat tenaga dia menahan tangis. Dia menghela nafas dan mencoba untuk tersenyum.

“Hei putri mokpo!” Donghae menepuk pelan bahu Hyera. “Kau kenapa?”

Hyera terkesiap. “Ne?”

“Santailah sedikit.” Donghae menggoyang-goyangkan tangan Hyera. “Jangan tegang begitu!”

Hyera menarik kembali tangannya. “Jangan! Aku bisa…” Hyera tidak bisa melanjutkan perkatannya dan berlalu begitu saja.

-=.=-

“Hey jangan terlalu lama membelaiku. Kau tahu? Para penghuni mokpo itu bisa mengamuk.” Hyukjae mengeluarkan celotehannya. Dia menoleh ketempat Hyera dan Donghae. Kedua manusia asal mokpo.

“Heish…” Solmi yang tadi membelinya segera menjauhkan dirinya. “Lagipula siapa yang mau lama-lama membelaimu?” Tanyanya dengan nada sarkasme.

“Kau beruntung bisa menyentuh absku. Kau harus membayarnya. Haha…” Candanya.

Solmi terkekeh. “Arraseo. Aku akan membayarnya dengan air mineral.” Celetuknya.

“Kau ini.” Hyukjae menjauhkan dirinya dari panggung dan berjalan mendekati sisi panggung dimana Donghae berada. “Mana Hyera?”

“Entahlah. Dia berlalu begitu saja. Mungkin dia ke kamar mandi.” Jawab Donghae enteng.

“Lalu apa kau tanya pendapatnya tentang penampilanku? Atau setidaknya bagaimana ekspresinya saat melihatku?”

Donghae mengingat. “Terlihat bangga dan puas.” Jawabnya yakin. “Tapi juga terlihat kecewa dan sedih.” Tuturnya polos.

“Benarkah?”

Donghae mengangguk. “Seperti itu dimataku.”

“Aku akan menyusulnya.” Saat Hyukjae hendak melangkahkan kakinya keluar dari panggung, Junghoon memanggilnya. “YA!! Eunhyuk-ah! Cepat kemari!!”

-=.=-

Hyukjae kini benar-benar bingung harus membawa kaki lari kearah mana, harus mencari kemana, sedangkan ia tahu bahwa dunia ini terlalu besar untuk ia jelajahi sendiri dalam waktu semalam. Ia percaya, ia mampu untuk mencari gadis miliknya itu, hingga keujung dunia pun akan ia jalani. Tapi tidak untuk malam ini, setelah otaknya benar-benar kacau dan panik, ia tidak tahu harus pergi kemana.

Setelah dari rehearseal tadi, Hyera menghilang. Sore tadi dia masih melihat Hyera dan Donghae bersama saat penampilannya. Dan sekarang sudah jam tiga pagi. Kini tubuhnya dihinggapi kecemasan yang enggan meninggalkan raganya.

Apapun yang terjadi, tidak boleh seorang pun merusak gadisnya. Dan entah apa yang ia pikirkan, namja yang sedang panik ini menghentikan mobil audi putihnya disisi jalan. Dia memasuki sebuah kedai dipinggiran jalan. Matanya menyusuri tiap jengkal ruangan itu. Tapi dia tidak menemukan Hyera.

Hyukjae berjalan keluar dengan lunglai. Sekali lagi dia menatap kedai itu dari luar. Entah sudah berapa kedai yang ia masuki. Tapi dia tetap tidak menemukan Hyera.

Hyukjae merasakan ponselnya bergetar di saku celananya.

Calling

~ ^^My Diamond^^ ~

Senyum Hyukjae terkembang sempurna diwajahnya. Dia segera mengangkat telepon itu. “Yeoboseo?”

“Yeoboseo,” sapa suara seorang pria samar. Hyukjae melipat dahinya mendengar suara pria yang sama sekali tak dikenalnya bicara dari ponsel kekasihnya ditambah dengan dentuman musik yang sangat menganggu.”Maaf mengganggu anda. Tapi, apa anda mengenal nona yang memiliki ponsel ini?”

“Ya, aku mengenalnya. Ada apa? Apa ada masalah?” rasa cemas yang sedari tadi menelusup masuk semakin menguat dan memenuhi seluruh rongga dadanya. Ia khawatir terjadi sesuatu dengan gadis yang ia cintai itu.

“Umm, begini. Sebenarnya, nona ini sedang berada di tempat kami. Dia mabuk berat dan…”

“Mabuk?” Hyukjae menganga lebar. Mabuk? Ditempat dengan pria asing. Shin Hyera benar-benar…

“Jadi bisakah kau menjemputnya?”

“Ah, ne. Tentu saja,” Hyukjae buru-buru kembali masuk kedalam mobilnya. “Bisa katakan padaku dimana posisi kalian? Aku akan segera datang menjemputnya.”

“Kami ada di wilayah Yeouido. Tepat ditikungan jalan didepan taman. Bersebrangan dengan Sungai Han.”

“Ahh, ne. Kamsahamnida. Maaf merepotkan anda.”

“Ye. Gwenchana,”

Hyukjae buru-buru memutus sambungan teleponnya dan langsung melajukan mobilnya ketempat yang dimaksudkan pria itu.

“Apa yang dilakukan anak itu?” Hyukjae menggelengkan kepalanya kalut. “Dan mabuk? Apa yang dia pikirkan? Apa yang membuatnya stress bergitu?”

-=.=-

03.10 of March 20th, 2012

White Beat Bar, Yuido

Tatapan panas dari lelaki bernama Hyukjae itu terasa membakar seluruh tubuhnya sendiri saat melihat gedung dihdapannya. Pria tadi mengatakan bila gadisnya ada didalam? Sial. Ini, Bar?

Hyukjae segara masuk dan menyapu seluruh padangannya. Dan dia menemukan Hyera sedang menari seksi dikerumuni beberapa pria.

Tanpa buang waktu, Hyukjae mendekat kearah gadis yang masih saja menari bebas tapi dengan gerakan menggoda. “Apa yang kau lakukan disini?”

Hyera dengan samar mengenali Hyukjae karena masker yang menutupi sebagian wajahnya. “Hyukjae?”

“Aish!! SHIN HYERA!! SADARLAH!!” Hyukjae membentak Hyera yang masih asik menari. “AYO PULANG!!”

Hyukjae menarik tangan Hyera, tapi gadis itu menepisnya. “Aku masih mau disini. Dan… aku masih ingin menikmati semuanya… Ini surga…” racaunya sambil menggoyang-goyangkan sebotol bening vodka yang masih tersisa separuh.

“INI NERAKA!!” Hyukjae berusaha mengambil alih botol ditangan Hyera yang tentu saja mendapatkan perlawanan dari gadis itu.

“Kau mengenal nona ini?” Seorang bartender pria seumuran dengannya mendekati Hyukjae

“Dari mana kau mendapatkan nomor ponselku?”

“Kami menemukan nomor anda sebagai nomor panggilan cepat dari ponsel nona ini. Kelihatannya dia sedang ada masalah.” Ujarnya sambil menunjukan beberapa gelas martini di meja bar.

Hyukjae tercengang. Sebelas gelas martini berserak di meja bar disamping tas hijau dan ponsel milik Hyera. Hyukjae menghela nafasnya. Apa yang dilakukan gadis bodoh ini, sih? Apa yang bisa membuatnya sefrustasi ini hingga meminum lima soju dan sebotol vodka?

Dengan paksa, Hyukjae menarik tangan Hyera dan menyeretnya keluar. Tentu saja Hyera memberikan perlawanan, tapi Hyukjae tidak mengeluarkan seluruh tenaganya karena dia tahu, dia akan menyakti gadisnya itu.

“Ayo masuk!” perintah Hyukjae setelah berhasil membuka pintu mobil.

Shireooooo…” Dengan rancu Hyera menolaknya. “Aku tidak ingin pulang!”

Hyukjae berjengit. “Lalu kau mau kemana?”

Hyera tersenyum lalu mengedarkan seluruh pandangannya. “Ahhh…” pekiknya. “Sungai Han…”

Kemudian, dengan sedikit sempoyongan Hyera berlari mendekati Sungai Han. Dan dengan sigap Hyukjae mengikutinya.

Berjarak lima meter dari pinggiran sungai, Hyera jatuh terduduk. Hyukjae segera mendekatinya dan duduk disebelahnya.

“Kepalaku sakit sekali,” Hyera mengaduh sambil memegang kepalanya.

Hyukjae memutar matanya sambil mengarahkan steer-nya ke kanan. “Bagaimana tidak sakit kepala? Sebelas martini?

Hyera tersenyum tertahan. “Ahh? Apa ini benar kau?” Hyera berkata dengan nada yang tak jelas. Membuat Hyukjae menarik kesimpulan cepat kalau gadis ini memang mabuk berat. “Hyuk? Kaukah itu?”

Hyukjae menoleh dan melihat Hyera yang sedang menatapnya intens dengan mata sayunya. “Ya, ini aku. Wae?”

“Aaaaahh~ senangnya!” Hyera bergumam lagi da berucap dengan gerakan yang berlebihan. “Betapa hebatnya aku bisa ditemani kencan oleh kekasihku yang superstar.”

Hyukjae terkekeh. Gadis ini apa-apaan, sih? Soju sudah merusak otaknya.

“Bagaimana?” Hyera menusuk pipi Hyukjae dengan telunjuknya. “Konsermuuu?” tanyanya dengan nada gemas lalu mencubit pipi Hyukjae dan menariknya.

Hyukjae tersenyum geli melihat kelakuan Hyera yang sedang mabuk. “Mwo?”

“Konsermu.” Hyera menunjuk ke arah jembatan mapo dengan arah yang tidak jelas. “Sukses tidak?”

“Hei, aku ini baru rehearsal. Kau lupa? Kau bahkan menontonnya sore tadi. Dan semua orang kagum akan penampilanku.”

Hyera terdiam dan melepaskan tangannya menjauhi tubuh Hyukjae. Seolah sedang bergelut dengan pikirannya untuk mengingat sesuatu. Dan mendadak, segalanya masuk kedalam otaknya tanpa permisi. Memperlihatkan kilasan demi kilasan yang terjadi sebelum ia memutuskan masuk kedalam gedung bar yang laknat itu.

“Aaahh~ tentu saja mereka menyukainya,” Hyera menganggukkan kepalanya juga. Sebilah samurai mengiris rongga hatinya. “Tidak ada yang bisa menolak pesonamu, kan? Aku, salah satunya…”

Hyukjae tertawa dibalik kemudinya. Tidak menyadari sepenuhnya arti kata yang dikatakan gadis disebelahnya.

Hyera menurunkan pandangannya dari wajah Hyukjae lalu menatap hoodie hitam yang dipakai lelaki itu dengan pandangan kecewa. “Kenapa kau memakai itu?”

Hyukjae menunduk untuk melihat hoodie-nya. “Memang kenapa? Diluar dingin.”

“Aaaah, ya, ya,” Hyera masih bergumam. Sepertinya alkohol masih menguasai kinerja otaknya. “Dingin. Kenapa tidak pakai sweater? Atau mantel?”

Hyukjae mengernyitkan dahinya. Ia seperti menangkap nada yang berbeda dari suara Hyera kali ini. “Aku terburu-buru mencarimu. Kau menghilang begitu saja.”

Hyera berusaha melebarkan matanya. “Benarkah? Aku menghilang? Waaaa… aku seorang ninja.”

Hyukjae mengernyitkan dahinya lagi. Dasar gadis mabuk!

Hyera kembali menatap Hyukjae dengan tajam. “Tapi kau bisa telanjang saja sekalian. Daripada menggunakan hoodie yang tipis seperti ini,” Hyera membelai lengan Hyukjae. Ia menurunkan tudung hoodie Hyukjae yang langsung memperlihatkan rambut berantakan kekasihnya itu. “Toh dinginnya sama-sama terasa.”

“Kau ini kenapa?” Hyukjae merasa risih saat tangan Hyera perlahan terasa seperti ingin melucuti hoodie-nya.

“Dipanggung kau topless dan tidak protes. Kenapa kau tidak lepas celanamu saja sekalian?”

“Shin Hyera! Astaga, kau ini…”

Mulut Hyera terkekeh. Kedua tangannya masih berusaha melepaskan hoodie dari tubuh Hyukjae. Astaga! Gadis ini minum soju macam apa, sih?

“Hei, apa yang kau lakukan??!!” Hyukjae berteriak kaget saat Hyera mulai menyentuh kancing kemeja atasnya dan mulai membukanya. “Shin Hyera! Singkirkan tanganmu!!”

Waeyo?” Hyera pura-pura mengeluarkan suara terluka. “Kau tidak suka?”

Hyera kembali menyusurkan tangannya diluar kemeja Hyukjae. Ia perlahan meraih kancing kemeja itu lalu mulai berusaha untuk membukanya kembali.

“SHIN HYERA HENTIKAN!!”

“KAU TIDAK SUKA AKU MENYUNTUHMU?”

“Bukan begitu.” Hyukjae menurunkan volume suaranya.

“LALU APA? KAU TERLIHAT SANTAI DAN MENIKMATINYA SAAT DANCER-DANCER MENJIJIKAN ITU MENYUNTUHMU!! TAPI KAU MENOLAK SAAT AKU MENYENTUHMU??”

Hyukjae tertegun. Jadi ini masalahnya. Gadis itu cemburu?

“SEKARANG SIAPA KEKASIHMU ITU? MEREKA ATAU AKU??”

Hyukjae menghela nafasnya. “Itu tuntutan pekerjaanku,” Hyukjae berkata lembut. Berusaha menenangkan emosi Hyera yang sedang meluap. “Profesionalitas.”

Hyera menggigit lidahnya lalu membuang wajahnya. Menolak menatap wajah pria yang akan menghujaninya dengan ribuan alasan. Dadanya juga bergolak. Aliran darahnya memanas. Otaknya mengepul.

“Aku hidup di dunia hiburan, Hyera-ya,” Hyukjae mulai menjelaskan. “Kami melakukan segala sesuatunya berdasarkan skrip yang sudah dirancang. Dan kami tidak boleh mengabaikannya karena itu sudah termasuk ke dalam kontrak kami.”

Hyera memejamkan matanya. Berusaha menekan emosinya hingga ke dasar. Ia merasa ingin mengeluarkan semua amarahnya tapi ia tahu kalau ia harus menahannya. Hingga ia merasa kehilangan suaranya saking beratnya menahan gejolak yang mendidih didalam dirinya.

Geurae…” Hyera berhasil menemukan suaranya. “Profesionalitas.”

Hyukjae tersenyum lega. Akhirnya Hyera bisa mengerti akan keadaanya.

“Jadi apa perlu aku ingatkan? Kau membuat sendiri koreo itu! Koreo ituHASIL KARYAMU!!”

Hyukjae melongo. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Karena memang sepenuhnya benar bila koreo itu hasil karyanya. “Itu… itu… Moon Zheng… dia…”

“APA??” Hyera bealih menantang Hyukjae dengan nada berani. “KAU SENGAJA!! BAHKAN TERLIHAT SENANG SAAT DANCER ITU MENGGODA PERUT KOTAK BARUMU, KAN??!” Hyera terengah setelah berteriak dengan kekuatan yang luar biasa. Hyukjae menatapnya dengan pandangan putus asa.

“ATAU KAU MERASA KURANG PUAS JIKA HANYA AKU YANG MELIHAT ABS MILIKMU??!” Hyera berkata dengan nada mengerikan sementara Hyukjae kehabisan kata-katanya. “TANPA RIBUAN PASANG MATA YANG MEMUJAMU? TANPA GADIS SEKSI YANG BERSEDIA DICUMBU OLEHMU?”

“Kau…”

“APA?? AKU KENAPA??”

Hyukjae meringis. Ia menarik Hyera dan membenamkan kepala gadis itu di dadanya.

Hyera mendorong tubuh Hyukjae dan menatap Hyukjae marah. “BUKANKAH KAU LEBIH SUKA BILA DANCER ITU YANG MEMELUKMU, HAH??!”

“Aku tahu kau marah. Jadi maafkan aku. Aku sungguh menyesal, Hyera-ya! Kumohon maafkan aku!” Hyukjae kembali menarik Hyera yang langsung ditolak mentah-mentah oleh gadis itu dan mengambil jarak dengan pria itu. Membalikan tubuhnya dan perlahan mengeluarkan tangisannya.

Seakan tuli, Hyukjae kembali menarik Hyera. Kali ini, ia tidak hanya membenamkan kepala gadis itu di didadanya. Ia juga mengunci tangan Hyera dengan menggenggamnya erat. “Menangislah…”

“Jangan bodoh! Lee Hyukjae!! Lepaskan aku!” Hyera berontak. Ia berusaha melepaskan diri dari kekangan tubuh Hyukjae yang mendominasi tubuh mungilnya. “Hyukjae-ya! Kumohon…”

“Tidak apa. Menangislah…”

“Siapa yang mau menangis sih? Dasar bodoh!! Lepaskaaann! Aku sedang maraaah!!”

“Menangislah!”

“Jangan! Jangan…,” Hyera mulai terisak. “Jangan begini… Dasar kau monyet bodoh!! Kau menghancurkan pertahananku!”

Hyukjae terus memerangkap kepala Hyera dalam dekapannya. Ia merasakan kalau mantelnya mulai basah sedikit demi sedikit. Ia merasakan bahu yang bergetar. Ia mendengar isak yang tertahan. Ia merasakan sesak yang menghimpit.

“Kalau kau seperti itu, lalu aku ini siapa?!” Tanya Hyera disela tangisannya. Hyukjae hanya diam sambil terus menjaga kepala Hyera agar tetap dalam dekapannya. “Siapa aku?! Siapa aku untukmu, Lee Hyukjae?!” Hyera menghantamkan kepalan tangannya ke dada Hyukjae yang juga basah karena air matanya.

Hyukjae hanya diam di tempatnya dan meringis tertahan tiap pukulan yang diterimanya dari kekasihnya. Seberapapun rasa sakitnya, masih lebih sakit apa yang dirasakan oleh Hyera. Ia tahu itu. Ini juga karena kesalahannya. Jadi, ia tidak keberatan merasakan sakit seperti yang sekarang dirasakannya.

Hyera masih saja menghantamkan pukulan demi pukulan ke dada bidang Hyukjae. “Aku siapa, Lee Hyukjae?! Apa artinya keberadaankuu?!” Tangisnya.

“Kau adalah hal terpenting yang berarti segalanya untukku, Shin Hyera…”

Tangan Hyera tertahan diudara. Tangisnya tiba-tiba berhenti meninggalkan isakan kecil.

“Kau tidak bisa digantikan oleh apapun dan siapapun. Kau adalah jantung hatiku. Belahan jiwaku. Itu arti Shin Hyera untuk Lee Hyukjae. Kau adalah hidupku, Shin Hyera…”

“Lalu siapa yang tadi bersama dengan dancerdancer itu?” Rajuk Hyera manja.

“Eunhyuk yang ada dipanggung itu. Eunhyuk adalah milik semua orang. Milik ELFs dan Jewels.” Jelasnya lembut.

“Lalu siapa yang memelukku?” Tanya Hyera.

Hyukjae perlahan melepaskan pelukannya. “Sekarang yang ada dihadapanmu ini adalah Lee Hyukjae. Pria yang sangat mencintai Shin Hyera hingga ia tidak bisa hidup tanpa gadis itu.”

“Lalu Lee Hyukjae milik siapa?”

Hyukjae tersenyum simpul. Dia bergerak menangkupkan wajah Hyera dengan kedua telapak tangannya dan menatap tepat di manik mata Hyera yang terlihat sembab itu. “Lee Hyukjae adalah milik Tuhan, Keluargaku, dan juga milikmu. Kau berkuasa atasku, Putri Mokpo.”

“Buktikan kalau kau adalah milikku!” Hyera menantang.

“Aku sangat mencintaimu. Lebih dari apapun…” Ujarnya lembut, selembut semilir angin yang bertiup disekitar sungai Han. Selembut kain sutra yang menyelimuti hati Hyera dengan rasa nyaman.

Perlahan Hyukjae menggerakan kepalanya mendekat kearah Hyera. Sesaat setelah Hyukjae menutup matanya, Hyera ikut menutup matanya lalu menghela nafas berat.

PLAAK…

Dengan sekuat sisa tenaga yang tersisa, Hyera menjitak kepala Hyukjae. “Setalah yang kau lakukan tadi diatas panggung, sekarang kau berniat menciumku?”

Hyukjae berjengit. “Wae?”

“Aku masih marah padamu!” Ketusnya kesal lalu berbalik berjalan pergi.

“Hey, kau mau kemana?” Teriak Hyukjae masih ditempatnya.

Hyera berbalik menghadap Hyukjae lalu berjalan mundur. “Aku lelah. Antar aku pulang!!” Perintahnya dengan nada lelah lalu berjalan masuk mobil.

Arraseo!”

-=.=-

21.55 of March 21st, 2012

Super Plaza Apartment, Gwanjin

Sambil terus berjalan, Hyukjae menatap box yang ada ditangannya dengan senyum lebar. “Ah… kau pasti senang kubawakan strawberry shortcake kesukaanmu.” Hari ini dia ingin memberikan cake kesukaan Hyera sebagai tanda permintaan maafnya kemarin.

Langkah kaki Hyukjae terhenti di depanti pintu dengan nomor 404. Tangannya terulur menekan serangkaian angka untuk masuk ke dalam kamar apartemen itu.

Belum sampai kakinya menginjak lantai di ruang tamu, telinganya sudah mendengarkan pembicaraan yang membuat dadanya terasa sesak. Hyukjae mencari posisi aman untuk mencuri dengar pembicaraan dua gadis itu.

“Dari ceritamu itu, jujur Hyera-ya, aku tidak tahu harus mengatakan apa. Disini, kekasihmu salah tapi kau juga salah.”

“Aku sadar itu. Mungkin karena aku terlalu lelah dengan tugas kuliah yang menyiksaku dan trainee yang semakin berat, aku jadi merasa semakin tertekan.”

“Nado.” Keduanya teridam. “Tapi Hyera-ya… Mm… menurutmu Hyukjae tidak keterlaluan? Dia selalu telat menjemputmu. Tidak jarang dia terlambat dalam satuan jam.”

“Kau juga tahu dia sibuk, Nichan-ah.”

“Setidaknya dia harus benar-benar yakin dengan jadwalnya. Minimal dia meneleponmu bila datang terlambat.”

Hyera menghela nafasnya. “Aku yang ingin dia dan aku bisa berkencan bersama. Tapi dia tidak pernah bisa. Aku juga lelah dengan sikapnya yang terlalu mudah untuk dekat dengan gadis lain. Aku yang lelah setelah kuliah harus tetap menunggu dia menjemputku.”

“Hey, kenapa kau malah melankolis seperti ini?”

Hyera terkikik pelan. “Benarkah?”

“Lalu apa harapanmu untuk hubungan kalian? Mengingat kalian genap satu tahun berpacaran dua hari lalu.”

“Dia bisa selalu ada disampingku. Terutama disaat aku benar-benar membutuhkannya. Karena selama ini dia jarang berada disampingku disaat aku benar-benar membutuhannya.”

“Hanya itu?”

“Sjujurnya aku sangat ingin, Hyukjae mengatakan pada seluruh dunia bila dia sudah menjadi milikku dan aku adalah miliknya. Sejujurnya aku juga sudah lelah kucing-kucingan seperti ini.”

Hyukjae tertegun. Inikah? Inikah ungkapan hati Shin Hyera sebenarnya? Bahwa gadis itu ternyata lelah. Lelah akan semua ini.

Hyukjae menatap kotak kecil diatas box cake kesukaan gadis itu. Kotak kecil berisi sebuah kalung. Minggu lalu dia sempat mendengar Hyera sangat menginginkan kalung ini, tapi hari ini dia tahu keinginan Hyera yang sebenarnya.

Gadis itu menginginkan dirinya untuk memberitahu dunia bila selama ini, Eunhyuk dari Super Junior sekaligus sebagai Lee Hyukjae sudah memiliki kekasih. Dan Hyukjae tidak mungkin bisa mengabulkan permintaan kekasihnya. Setidaknya tidak untuk saat ini.

Hyukjae merasakan matanya memanas dan siap menumpahkan cairan bening yang akan membuatnya tampak menyedihkan. Dia memejamkan matanya rapat-rapat dan menghela nafasnya. Mengatur emosinya kembali tenang.

Setelah hatinya tenang, dia kembali ke pintu lalu berteriak riang, “Jagi, aku datang!” Seruannya terlalu riang dan terdengar dibuat-buat.

Hyukjae mendengar derap langkah kaki dan tak lama, Hyera muncul dari balik sekat ruangan. “Oppa?

Tapi Hyera tidak sendiri, Nichan ikut keluar karena dia harus kembali ke tempat trainee. “Sampai jumpa nanti malam, Hyera-ya!” Setelahnya dia segera bergegas keluar.

Hyukjae berjalan mendekati Hyera. “Saenggil chukhahae, Shin Hyera. Ini roti untuk ulang tahun kita.” Ujarnya sambil menunjukan sekotak cake yang ada ditangannya.

Hyera tersenyum lalu menerima cake itu dengan senang. “Gomawo, Oppa!” Hyera menarik tangan Hyukjae untuk mengajaknya masuk kedalam.

“Hyera-ya, aku tidak lama kesini.”

Raut muka Hyera berubah kecewa. “Benarkah?”

“Tapi nanti malam, kita akan makan malam!” Ujar Hyukjae cepat karena tidak suka melihar raut kecewa di wajah manis Hyera.

“Benarkah?”

Hyukjae mengangguk yakin. “Tentu saja. Nanti akan kukirim pesan berisi alamatnya.”

Gidaryeo, Oppa!”

Hyukjae mengelus kepala Hyera lembut. “Aku pergi dulu!” tanpa menunggu balasan, Hyukjae langsung beranjak keluar.

Di lorong apartemen itulah saksi biksu bila Lee Hyukjae tengah menangis.

Sejujurnya aku juga sudah lelah.’ Kata-kata Hyera masih saja terngiang jelas di teliganya. Bisakah? Bisakah hubungan ini dia pertahankan hingga akhir?

-cut-

Hehe pada ngerti sama ini FF nggak? Aku sih gak berharap banyak deh. Pingin banyak yang suka sama ini FF tapi… tapi ^scroll^baca ulang^mojok^nangis^ditenanginYesung^ enggak mungkin deh kayaknya…

Ini Songfict perdana jadi ya maklumin aja ya… ini juga buta pelampiasan kekesalan aku sama Yesung gara” skandalnya barean Jiyeon 😥 tpi saya masih ga rela nichan putus sama yesung#plaaak jadilah biar eunhyuk yg putus sama hyera aja wkkwk

Bagi readers yang dijadikan kelinci percobaan Songfict perdanaku dan merasa dirugikan bisa diminta ganti rugi melalui bias masing-masing. Merasa diuntungkan minta cium ke bias masing-masing.

Likes & Comments please! (^o^)v

Advertisements