Tags

LOVE IS ALWAYS COMPLICATED POSTER

Title                            :Love Is Always Complicated

Author                       : @dcnirwana

Genre                         : romance

Rate                           : General

Lenght                      : Continue

Cast                            :

  • Yesung
  • Cho Kyuhyun
  • Choi Siwon
  • Park Nichan
  • Kim Byulhyun
  • Shin Minso

Disclaimer                  : I OWN THE PLOT

 EPISODE 9

15.10 of 30th December 2011

Nichan’s House, Seongnam

Byulhyun menatap layar komputernya. Dia sedang membuka portal fanbase milik Kyuhyun. Setidaknya dia harus berusaha untuk lebih mengenal Kyuhyun. Statusnya yang dulu primitif, membuat gadis itu tidak tahu banyak tentang hidup kekasihnya saat dihadapan kamera.

Byulhyun mencatat rapi semua yang pria itu sukai. Tak luput juga semua yang pria itu benci. Dia juga ikut mencibir saat ada fans yang mengungkap kejelekan kekasihnya. Dia juga tertawa saat membaca hal-hal lucu yang dilakukannya. Tak cukup membaca trivia, dia membuka situs youtube dan mulai menjelajahi semua video tentang kekasihnya. Dia juga meminjam hardisk milik Nichan yang berisi ribuan video.

Dia membuka folder video. Dan dia tercengang melihat koleksi video milik sahabatnya. Dia memiliki lebih dari tiga ribu video. Entah kenapa, Byulhyun bergedik ngeri. “Fangirl memang gila.” Risaunya.

Byulhyun membaca daftar video yang sudah dimasukan kemasing-masing folder. Dia menaruh cursor tepat kemarah folder dengan judul ‘Super Junior Guide! Lets learn about Super Junior.’ Dengan otomatis dia memutar video tentang Kyuhyun.

Diawali dengan perkenalan singkat Kyuhyun. Dilanjutkan dengan pendapatnya tentang posisi magnae. Pendapatnya tentang Donghae dan Eunhyuk saat pertama kali bertemu. Keluh kesahnya pada Eunhyuk dan Heechul. Tingkahnya saat membalas fans di UFO replies. Mengatakan dirinya innocent. Juga mengatakan bahawa semua member miliknya. Dan tentang kecintaannya pada games.

Dan setelah cuplikan klip lucu dari tingkahnya, video itu berubah menjadi momok untuk Byulhyun. Video tentang kecelakaan besar yang terjadi tahun 2007. Jujur, Byulhyun tidak pernah mengetahui kecelakaan itu.

Pandangan matanya sudah kabur karena airmata saat Eunhyuk menyeritakan sekilias tentang kecelakaan itu. Dan bulir benting itu jatuh saat Leeteuk yang sudah dibawa tandu menggumamkan nama Kyuhyun karena khawatir.

Byulhyun tidak lagi tersenyum kecil saat melihat kelanjutan video itu. Dia hanya fokus melihat kilasan balik kejadiaan naas itu dengan perasaan yang campur aduk. Dia serasa berada ditahun 2007 dan benar-benar mengalami kejadian itu.

Bulir bening itu tak terbendung saat diputarkan cuplikan voice message dari Yesung untuk kekasihnya. Jujur dia tidak tahu bila kekasihnya pernah menderita seperti itu.

Kyuhyun yang kini ceria, banyak tingkah, dan suka mengerjai para hyungnya itu, dulu dia harus melewati masa seperti itu.

Byulhyun tahu seberapa besar perjuangan pria itu untuk meraih hal yang terbaik yang sangat ia inginkan. Kantung matanya menghitam dan pipinya menjadi tirus. Kelihatan sekali jika berat badan kekasihnya itu kembali menyusut.

Byulhyun menopangkan dagu diatas kedua tangannya dan tersenyum miris, “Kau pasti lelah ya?” desisnya. Matanya memperhatikan setiap lekukan garis wajah pria itu, biarpun hanya lewat sebuah gambar di komputer, namun Byulhyun tahu segalanya.

-=.=-

16.45 of 30th December 2011

11th floor Super Junior Dorm, Seoul

Ting… Tong…

Hyung, ada tamu! Buka pintunya!” Kyuhyun melontarkan kalimatnya entah pada siapa. Tapi tidak ada seorangpun yang menyahut.

Ting… tong…

Dan setelahnya baru Kyuhyun sadari tidak ada satupun orang yang menghuni dorm itu selain dirinya. Dia berdecak kesal kemudian dengan malas bangkit untuk membukakan pintu. Dia berjalan sambil mengacuhkan intercom di dinding.

Kyuhyun membuka pintu dan matanya disambut dengan dua buah kotak makanan. “Jja jang! Aku membawa hadiah untukmu” ujar Byulhyun riang.

Mwoya?” tanya Kyuhyun, masih agak heran.

Byulhyun tersenyum simpul dan segera menarik tangan Kyuhyun untuk segera masuk dan duduk di atas sofa. “Kau menjadi sangat kurus. Kau tahu itu?” tanya Byulhyun sambil membuka tutup keranjang makanan yang dibawanya.

Kyuhyun diam sejenak dan menggumam pelan, “Mungkin juga. Jadwalku sangat padat akhir-akhir ini. Musikal, Radio Star, dan Super Show. Belum lagi SM Town dan beberapa reality show lainnya.”

Suara kekasihnya itu memang terdengar baik-baik saja dan tidak menggambarkan rasa lelah sedikitpun, tapi Byulhyun tahu bahwa pria itu pasti merasa lelah.  Sangat lelah.  Dengan semua schedule yang sangat padat, Kyuhyun pasti merasa muak.

Bukannya Byulhyun ingin membuat asumsi negatif dengan membuat pernyataan seperti ini.  Tapi dia hanya merasa prihatin setiap mengetahui schedule Kyuhyun.  Sungguh, dia merasa bahwa tubuh kekasihnya itu kini hanyalah bagian dari sebuah robot yang seakan harus mengikuti semua schedule yang telah dibuat oleh perusahaannya.

Byulhyun bisa langsung merasakan rasa lelah yang pasti sedang dirasakan oleh kekasihnya saat ia mendengar suara kekasihnya dan menatap setiap jengkal tubuh kekasihnya.

“Aku tahu kau lelah.  Sangat amat tahu. Katakan saja aku sok tahu atau semacamnya, tapi aku tahu hal itu hanya dari mendengar suaramu”, ucap Byulhyun pelan.  “Seringkali aku menyesal, kenapa kau harus menjadi seorang penyanyi?  Kenapa kau harus terus-terusan tersenyum manis sedangkan aku tahu bahwa tubuhmu serasa remuk? Kenapa kau harus terus menyanyi sedangkan semua orang tahu jika tenggorokanmu sakit?”

“Itu kewajibanku”, balas Kyuhyun singkat.

“Kadang kala aku juga membenci saat seorang Cho Kyuhyun tetap ingin menampilkan semua yang terbaik dari kemampuannya untuk seluruh orang yang mencintainya. Cho Kyuhyun yang tidak ingin menunjukkan semua kelelahannya pada siapapun. Cho Kyuhyun yang selalu ingin terlihat kuat. Dan aku selalu merasa tak pantas untuk menjadi kekasih dari seorang pria yang mendekati sempurna sepertinya.  Sangat tidak pantas.”

Kyuhyun tersenyum tertahan. Dia menundukan kepalanya dalam-dalam dan menghembaskan nafas dalamnya. “Keundae, Byulhyun-ah…”

“Hmm?”

“Walau kau membenci Cho Kyuhyun yang seperti itu, tolong dukung aku!  Aku mohon, untuk sekali saja… tolong katakan bahwa kau benar-benar mendukungku”, ucap Kyuhyun dengan suara lirih.  Byulhyun memejamkan matanya dan . Hatinya benar-benar merasa sakit saat mendengar suara lemah yang keluar dari bibir kekasihnya itu.  “Aku benar-benar muak, Byulhyun-ah”.

Byulhyun menggumam mengiyakan, biarpun hatinya masih merasa berat untuk mengakuinya.  “Dan kau harus tahu bahwa aku selalu mendukung setiap langkahmu, Cho Kyuhyun. Akulah Kim Byulhyun yang selalu mendukung Cho Kyuhyun.  Sara…”, Byulhyun menghentikan ucapannya saat mulutnya akan mengucapkan kata ‘Saranghae’

“Heh?”, Kyuhyun langsung terdengar agak terkejut saat mendengar kata terakhir yang diucapkan oleh Byulhyun.  “Kau mau bilang apa tadi? Saranghae?”

Byulhyun langsung menggeleng kuat-kuat. “Aniya!”

Kyuhyun tertawa ringan, “Aku tahu.  Kim Byulhyun terlalu mencintai Cho Kyuhyun, tapi gengsimu setinggi langit khayangan.  Kau tahu itu, hah?”, ucap Kyuhyun dengan nada menggoda.  “Terlalu sulitkah untuk mengatakan bahwa kau mengkhawatirkan kesehatanku dan takut jika aku sakit lagi?”.

Byulhyun mengerucutkan bibirnya, tapi wajahnya terasa memanas saat mendengar ucapan Kyuhyun.  Bagaimana bisa dia mengetahui seluruh isi hatinya dengan seakurat itu?

“Jangan terlalu berharap Setan Busuk!! Jadi terserah kau saja.  Aku sedang malas berdebat denganmu”, ucap Byulhyun pelan, mencoba untuk terdengar tak peduli padahal sesungguhnya ia sedang berusaha untuk menyembunyikan semua debaran jantungnya yang berdetak seribu kali lebih cepat.

“Eiii… mengaku sajalah kalau kau itu mengkhawatirkanku!”

Byulhyun menjitak kepalanya dengan keras, “Teruslah bermimpi!!”

Kyuhyun meringis pelan, “Ya! Berlakulah lebih lembut padaku, Kim Byulhyun!”

Byulhyun menjulurkan lidahnya, “Tidak akan pernah terjadi, Cho Kyuhyun. Inilah cara seorang gadis primitif memerlakukan kekasihnya!” ucapnya ringan

Kyuhyun segera pura-pura mencekik leher Byulhyun. “Dasar gadis primitif!” serunya dan membuat Byulhyun terkekeh pelan.

Byulhyun segera mengubah posisi duduk Kyuhyun yang awalnya membungkuk untuk menjadi lebih tegap, “Lihat! Sebenarnya kau memiliki postur tubuh yang bagus. Kau hanya perlu menambah sedikit berat badanmu. Setelah itu, kau bisa menjadi lebih tampan dari semua pria di dunia ini.” ucap Byulhyun sambil tersenyum lebar.

Jinjayo?” tanya Kyuhyun tak percaya, wajahnya terlihat berseri. Setidaknya ini adalah pengakuan tak langsung dari Byulhyun yang mengatakan dirinya adalah seorang pria tampan.

Byulhyun kembali mengangguk semangat, “Jadi untuk menambah berat badanmu…” Byulhyun bergerak mengambil kotak makan yang ia bawa. “Kau harus makan makanan bergizi!” Byulhyun langsung menyodorkan kotak makan itu ke hadapan kekasihnya itu dan menunjukan isinya. “Aku memasaknya untukmu!”

“Kau memasak? Gadis primitif bisa memasak? Tidak beracunkan?” Candaan Kyuhyun terhenti dan matanya membelalak lebar saat melihat isi dari kotak itu, “SALAD?!”

“Kau harus memakan semua makanan yang mengandung protein, karbohidrat dan memiliki banyak serat. Seperti buah, nasi, daging, dan sayuran.” Byulhyun menjelaskan.

SHIREO!”, Kyuhyun menutup mulutnya. Dia menggeleng kencang, “TIDAK! APAPUN ASAL JANGAN SAYUR!!”

Byulhyun menghela nafas sejenak dan menghembuskannya perlahan. “Cho Kyuhyun, lihat pipimu! Banyak jerawat! Kau tidak malu, hah? Member lainnya memiliki kulit wajah yang halus, sedangkan kau?” keluh Byulhyun sambil menunjuk pipi kekasihnya.

“Tapi Donghae hyung dan …”, Kyuhyun masih ragu.

“Ayolah! Rasanya tidak seburuk yang kau bayangkan. Mana ada raja iblis takut untuk memakan sayur?”

“Aku tidak takut! Aku hanya tidak suka memakannya. Lagi pula kenapa harus sayur? Di dalamnya ada ayam. Ayam juga mengandung protein. Bisakah aku hanya memakan ayamnya saja?” Kyuhyun tetap menolak lalu mengacuhkan pandangannya dari Byulhyun. Tidak sengaja dia melihat jari Byulhyun yang dibalut plester.

“Kau benar-benar tidak akan memakannya?” Tanyanya kecewa. “Padahal aku sud…”

Arayo! Aku akan makan. Tapi…” ucap Kyuhyun menggantung.

Byulhyun terlihat penasaran, “Tapi? Tapi apa?”

“Suapi aku.” ucapnya manja.

Byulhyun menganga, “Mwoya?! Kau kira, kau ini anak kecil?! SHIREO!” tolaknya dan langsung memalingkan muka.

Kyuhyun berkata dengan ringan, “Ya sudah, aku juga tidak akan makan” ucapnya tak peduli dan beranjak berdiri.

Namun, Byulhyun langsung menahan langkahnya dan menyuruhnya duduk kembali, “Arayo! Arayo! Aku akan menyuapimu.” serunya cepat dan segera mengambil sumpit. Tapi kemudian dia berjengit. “Kau benar-benar ingin aku menyuapimu?”

Kyuhyun tersenyum lebar lalu mengangguk. “Tentu saja.”

“Baiklah.” Byulhyun mulai menyumpit beberapa potong sayuran.

“Sayurannya sedikit saja! Ambil ayamnya juga!” sela Kyuhyun saat gadis itu menyumpit sayuran dalam porsi yang amat banyak.

Byulhyun menatapnya bengis, “Kalau kau ingin aku suapi, kau hanya perlu diam dan mematuhi aturan makanku, mudah kan?”

“YA!! Aku bukan sapi! Kenapa aku harus memakan semua yang ber… UHMMP.. UHHMPH..”, ucapan Kyuhyun langsung terputus saat Byulhyun langsung menjejalkan berbagai macam sayuran. Belum sempat Kyuhyun mengunyah sayuran yang ada di mulutnya, Byulhyun sudah kembali memasukkan makanan lainnya.

“Akhu..belumh..selesai meng..ngunyahh!!”

“Kalau kau ingin disuapi olehku, beginilah caranya. Inilah cara seorang gadis primitif menyuapi kekasihnya. Selamat menikmati, Cho Kyuhyun…”

-=.=-

16.15 of 30th December 2011

Myeongdong Street

Nichan melangkahkan kakinya dengan gontai menjauhi gedung kantor miliknya. Ia terus berjalan tanpa mempedulikan sekelilingnya. Bahkan ia tak peduli kemana kakinya akan membawanya. Pandangannya kosong. Tangannya terayun lunglai. Seakan tiada daya, ia pasrah saja ditabrak dari sana-sini oleh para pejalan kaki.

Hingga kakinya melenggang di jalanan Myeongdong. Dia berhenti disebuah taman kecil. Bersebrangan jalan dengan Handel & Gratel.

Air mata kembali tergenang di pelupuk matanya saat ia melihat siluet Yesung dan Jongjin didalam. Pandangannya mengabur terhalang selaput air yang semakin tebal. Kakinya lemas. Tak mampu lagi menyangga keseluruhan bobot tubuhnya. Ia menghela nafasnya kuat-kuat lalu menghembuskannya keras. Berusaha melongarkan paru-parunya yang terasa sesak.

Tidak. Bukan paru-parunya yang sesak. Tapi dadanya. Dadanya terasa sesak. Sesak seakan jantungnya ditarik paksa dan dicengkeram kuat. Sesak seakan ulu hati-nya direnggut kasar dan dikoyak dalam. Sesak seakan tulang rusuknya merangsek maju dan menusuknya hingga tembus kedepan.

Nichan membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. Air mata yang tadi menggenang telah kembali mengering. Begitu berkali-kali. Seakan air mata itu tidak mau meluncur bebas. Tidak mau membuat perasaannya lepas. Menyiksa.

Sebulir air mata kembali turun membasahi overcoat mahal berwarna coklat muda miliknya saat otaknya kembali memutar memori akan peristiwa beberapa saat yang lalu.

-=.=-

“Nichan-ah.”

Nichan menghela nafasnya. Malas. Malas karena dia enggan untuk menghadapi pria yang sudah tega mencelakai kekasihnya. Marah. Marah karena dia benci berhubungan dan kenal dengan pria itu. Kecewa. Kecewa akan dirinya sendiri karena tidak bisa menghadapi pria itu.

“Kau sudah siap?” Tanyanya santai sambil berjalan masuk kedalam area ruangan kerjanya. “Hari ini aku akan melakukan langkah selanjutnya.”

Samar. Tapi Nichan tahu apa artinya. Dia akan menyerang Yesung lagi hari ini. Dan kali ini melalui keluarganya. “Bisakah kau hentikan? Kumohon.” kalimat pias itu meluncur begitu saja dari bibirnya.

Yongjun menggeleng. “Tidak bisa. Kecuali kau mengiyakan permintaan bumonim.” Jawabnya tegas.

Nichan menghela nafasnya. Ia masih mencari cara agar dia tetap bersama dengan Yesung tanpa harus menyakiti siapapun. Tapi bisakah?

“Sudahlah. Aku tidak banyak waktu hanya untuk melihatmu mencari jalan tikus.” Yongjun bangkit dari duduknya. “Aku akan bersenang senang dengan Jongjin terlebih dahulu.”

“Jongjin?”

Yongjun mengangguk. “Wae? Setelah Jongjin aku akan bermain dengan orangtuanya. Pasti akan mengasyikan. Dan yang ini jauh dari pada yang kemarin.”

Bagai dihujani ribuan jarum tepat dijantungnya, Nichan tidak bisa berkutik. Yesung adalah tipikal orang yang rela mati demi keluarganya. Tak bisa terbayangkan, bila Nichan harus melihat Yesung menderita melihat keluarganya yang disakiti.

“Sedikit saja kau menyentuh mereka, aku tidak akan…”

“Tidak akan apa?!” Yongjun memotong ucapan Nichan. Tajam, dingin, dan mengintimidasi. “Kau mengancamku? Dengan apa kau mengancamku?”

Nichan membeku. Dia tahu, dia tidak akan bisa melawan pria yang ada dihadapannya. Tapi apa dia harus menyerah?

“Aku tidak akan berlama-lama disini.” Ujarnya dengan nada jengah sambil berjalan mendekati pintu.

Dan saat tersisa dua langkah dari pintu, terdengar suara yang bergitu lirih dan penuh harap. “Kalau aku berhenti melawan, apa kau juga akan menghentikannya?”

-=.=-

Babo!” Nichan merutuki dirinya sendiri. Dia mulai terisak dan memukul-mukul kepalanya pelan. “Na jinja babo yeoja!”

Kini dia hanya bisa merutuki dirinya sendiri. Hanya ini yang bisa lakukan. Dia tahu, bila harus memilihpun, Yesung akan lebih memilih keluarganya dari pada dirinya. Jadi dia pikir, ini adalah cara yang terbaik untuk menyelesaikan masalah ini.

Yah mungkin memang sakit. Mungkin hanya sakit di awal jika dia mengambil langkah ini. Tapi dia yakin, seiring berjalannya waktu mereka berdua akan bisa melupakan satu sama lain. Itu tidak serumit yang dia bayangkan. Dia harus bisa, dia harus meyakinkan hatinya bahwa dia tidak apa-apa mengambil keputusan itu.

Ditambah lagi dia akan menikah dengan Yongjun. Tapi apa ia juga harus menikahi Yongjun? Memikirkannya saja sudah membuatnya sesak apa lagi dia harus menjalankannya.

Melepas Yesung, mungkin dia masih bisa rela dan perlahan bisa mengobati lukanya. Tapi menikah dengan Yongjun? Menikahi pria yang sudah membuatnya melepaskan cintanya? Siapapun yang orang tuanya pilihkan kali ini, asalkan bukan Yongjun. Bisakah?

-=.=-

16.30 of 30th December 2011

Gyonggi, Seoul

“Lalu apa yang harus aku lakukan?” Minso kembali bertanya dengan mata yang masih terpaku pada skrip.

Sementara dihadapannya, Siwon berpura-pura berpikir. Tanpa skrip ditangannya, dia lancar menjawab pertanyaan itu. Minso tersenyum melihat kekasihnya sudah menghafalkan naskah perannya. “Baiklah. Itu dialog terakhir untuk adegan ini. Kau sudah menghafalnya.”

“Terimakasih sudah membantuku. Karenamu, aku lebih cepat menghafalnya. Harusnya kau sering menemaniku.”

“Itu membunuhku namanya.” Canda Minso. “Kalau shooting adegan di ruangan aku akan usahakan mampir.”

“Jangan diusahakan. Kau harus datang!” Sahut Siwon dan memberi penekanan pada kata harus.

Minso terkekeh tapi kemudian mengangguk kecil. “Kurasa dari semua kekasih member Super Junior, hanya aku yang sering menemani kekasihku untuk shooting.”

Siwon tersenyum bangga. “Tentu saja. Kau memang gadis yang penuh perhatian. Untuk itu hatiku mau memilihmu.”

Minso tersenyum. Senyum yang bahkan dirinya sendiri sadar bila senyum itu terlalu dibuat-buat dan dipaksakan. Entah kenapa hatinya sepenuhnya merasa bersalah.

Keurom, aku kesana dulu. Kurasa sudah mau take lagi. Kau tunggu disini, ya?” Siwon berlalu begitu saja dan menghampiri sutradara yang baru saja memanggilnya.

Minso merasakan ponselnya bergetar. Dia merogoh ponsel itu dari tasnya dan segera mengangkat telepon itu. “Yoboseo?”

“So-ya?”

Eung?”

Gomawo untuk semuanya. Walau kau tidak membantuku, aku juga akan tetap berterimakasih.”

Wae? Kenapa tiba-tiba kau bisa melankolis seperti ini?” tanyanya dengan sedikit nada bercanda.

“Sebentar lagi aku mungkin akan meninggalkan Korea.”

Minso membeku. Inikah saatnya?

“Kau pasti bertanya kenapa. Tugasku disini sudah selesai. Dan aku akan menikah dengannya.”

Minso diam. Ucapan pria itu masih transparan. Tapi Minso tahu apa yang sebenarnya pria itu maksudkan. “Nichan menyerah?” tanyanya tertahan.

“Mm…”

Chukahae.” Suara Minso bergetar memberi selamat. Tidak tulus. Hanya formalitas. Dan hanya sebagai kedok akan hatinya yang sebenarnya tersakiti.

“Apa kau masih ingat bagaimana Jungchan mencintaimu?”

Pertanyaan itu seolah menggali dalam-dalam perasaan yang selama ini sudah terkubur jauh di lubuk hatinya. Dan sesaat kemudian, memori saat dia dan Jungchan masih merasakan bahagianya dan nikmatnya dunia akan cinta terbayang jelas diotaknya. Dia tidak mungkin melupakan masa-masa itu.

“Aku dan Jungchan… apakah kami berbeda?” Tanyanya lagi.

Minso terhenyak. Dia meringis menahan rasa sakit akibat gejolak dalam hatinya. “Aku tidak tahu.”

“Bisakah aku menyebutkan persamaanku dengannya?”

“Apa?”

“Hanya satu persamaan. Gadis yang kami cintai.”

Minso membeku. Jantungnya berpacu lebih cepat. Dia bahkan bisa merasakan desiran hangat aliran darah dalam dirinya.

Saranghae, Shin Minso…” dan sambungan telepon itu terputus.

Genangan airmata yang terbendung tak mampu lagi dia tahan. Bulir bening itu meluncur pias diatas pipi pualamnya. Dia menangkupkan wajahnya diatas kedua telapak tangannya. Dia menangis disana. Mengeluarkan semua sesak yang sedari tadi ia tahan.

Bagaimana bisa? Pria yang ada disana itu, memainkan perasaanya. Awalnya dia mengatakan akan menikahi sahabatnya. Kemudian membangkitkan kenangan manis yang juga menyakitkan untuknya. Lalu tanpa rasa bersalah mengatakan bila dia mencintainya. Membuat benteng pertahannya roboh hingga rata dengan tanah dan tidak mungkin dibangun kembali.

Pria itu dengan seenaknya memermainkan hatinya. Yongjun mungkin tidak akan merasakan sakit. Tapi dia. Minso merasakan pedihnya semua ini. Dan yang kemudian ia sadari bila dia masih mencintai pria itu. Bahkan setelah sosok itu berubah menjadi Choi Yongjun, dia masih mencintainya.

Tak sengaja matanya menangkap sosok Siwon yang masih beraksi didepan kamera. Bila dia masih mencitai Yongjun, bagaimana dengan pria itu? Pria yang selama ini juga tulus mencintai gadis bodoh ini. Yah walau perasan tulus itu tidak mendapatkan balasan yang sesuai.

Dan kini, pria yang ia cintai sudah menyakitinya. Tapi dengan bodohnya, dia masih mengharapkannya. Dan jelas, disana ada pria yang tulus mencintainya walau dia sudah mengkhianatinya.

Minso bimbang. Pria itu memang sudah menyakitinya. Dengan tegas dia mengatakan akan menikah dengan sahabatnya. Tapi tidak bisa dipungkiri, Minso kembali berharap saat pria itu mengaku cinta padanya.

Egoiskah dirinya? Kejamkah dirinya pada Siwon? Tapi ini tidak penuh kesalahannya.

Salahkan Yongjun semua. Dia sudah berusaha keras untuk meyakinkan dirinya bila Siwon adalah pria yang baik untuk dirinya. Tapi ucapan Yongjun berhasil membuat pertahanannya goyah. Benteng yang ia bangun untuk memertahankan keputusannya untuk belajar mencintai Siwon, hancur. Sedikit demi sedikit harapan agar Yongjun kembali padanya mulai menggunung. Jadi apakah ini semua penuh kesalahannya?

-=.=-

13.00 of 31st December 2011

Kantor Catatan Sipil, Seoul

Leeteuk dan Minah pergi ke kantor catatan sipil. Mereka berniat untuk mengambil surat ijin pernikahan. Setelah mereka mengumpulkan surat-surat yang diminta untuk menjadi syarat. Mereka kini menunggu untuk hasil klarifikasi.

“Ah, ini, data milik Park Nichan.” Ujar salah satu pegawai di meja sebrang.

Merasa kenal dengan nama yang disebutkan tadi, Leeteuk dan Minah menoleh untuk melihat apa yang terjadi.

“Nichan dan Yesung akan menikah?” Tanya Minah.

Leeteuk menggelengkan kepalanya. “Molla. Kalau mereka mau menikah, seharusnya Yesung memberitahuku dulu.”

“Mungkin Nichan yang lain. Banyak, kan, orang yang bernama sama.” Ujar Minah memberi sugesti postitif.

“Jinguk-ah, mana data suami Park Nichan? Aku harus segera mengirimnya ke pusat.”

“Ah… Ini. data milik Choi Yongjun.” Ujar pria yang tadi dipanggil dengan nama Jinguk. “Ngomong-ngomong mereka belum mengirim bukti ikrar mereka.”

“Aish kau ini! Mereka baru meminta surat ijin pernikahan.”

“Benar, kan, itu Nichan yang lain.” Ujar Minah. “Nama aslinya, kan, Kim Jongwoon. Bukan Choi Yongjun.”

“Tapi kenapa foto itu…” Ucapan Leeteuk menggantung saat melihat foto seorang gadis yang sangat mereka kenal. Foto itu jelas Park Nichan yang mereka kenal sebagai kekasih dari Yesung. Tapi di amplop coklat yang satunya, bukan foto Yesung yang terpampang disana. Melainkan foto pria yang sangat asing bagi mereka.

-=.=-

Selesai Leeteuk mengantar Minah pulang kerumahnya, dia langsung kembali ke dorm. Bayangan foto Yongjun terus saja mengusik pikirannya.

Untung saja dia bertemu Yesung di dorm lantai 12. Dia berniat menanyakan kejanggalan itu terhadapnya. “Yesung-ah?!”

“Leeteuk Hyung?!”

“Kebetulan kau ada disini. Aku ingin menanyakan sesuatu padamu.”

“Apa?”

“Aku dan Minah pergi ke kantor catatan sipil barusan. Dan aku menemukan…” Ucapan Leeteuk terpotong karena ponselnya berdering. Leeteuk segera merogoh kantongnya dan mengangkat panggilan itu. “Yoboseo! Inhwan Hyung?”

“Cepat kalian bersiap! Kami akan menjemput kalian sekarang. Semua sedang di dorm, kan?”

“Ne. Tapi ada apa? Apa perusahaan memanggil kami?”

“Kalian mendapat job spesial. Kalian harus bersiap sekarang juga! Tiga puluh menit lagi kami tiba.”

Job apa, hyung? Kenapa terburu-buru?”

“Entahlah. Bukan Seunghwan yang menyuruhku. Ini perintah langusng dari Soman Sajangnim.”

“Soman Sonsaengnim? Baiklah, kita akan bersiap sekarang.”

“Pastikan semuanya berkumpul. Lengkap sembilang orang!!”

Ne.” Sambugan terputus. Leeteuk langsung memasukan ponselnya kembali.

“YA!!” Serunya berlebihan. Semua orang langsung memfokuskan perhatiannya padanya. “Kita mendapat job spesial. Kita harus bersiap sekarang. Ini perintah langsung dari Soman Sonsaengnim.”

Mwo? Kenapa terburu-buru?” Tanya Siwon.

“Entahlah. Kurasa ini pekerjaan besar. Jadi kita bersiap-siap saja. Tigapuluh menit lagi, Inhwan Hyung menjemput kita.”

Semua langsung bergerak menuju kamar masing-masing.”

Ne.”

“Aku akan bersiap sekarang.”

Job istimewa, bayaran mahal, makaaaannnn…”

“Aku yang pertama pakai kamar mandi!”

“AKU MALASSS!!!”

“TUTUP MULUTMU, MAGNAE!! CEPAT BERSIAP!!”

-=.=-

18.00 of 31st December 2011

Star Angel Hotel, Seoul

“Bukankah ini Star Angel?” Tanya Sungmin. “Apa Nichan yang mengundang kita?”

Ne? Apa hubungannya Nichan dan Star Angel?” Tanya Leeteuk bingung.

“Dia presdir disini dan pemilik tunggal saham disini.”

MWO?? Jadi dia adalah putri dari Park Jaekyong?” Tanya Siwon kurang yakin.

Yesung hanya mengangguk. Sementara Shindong, Ryeowook, Donghae, Leeteuk hanya bisa tercengang saat otak mereka menemukan fakta bila Park Jaekyong dan istrinya, Shim Ahrim, adalah pasangan pengusaha terbesar di Korea.

“Hyung, jadi hotel ini milik Nichan?” tanya Donghae tidak percaya.

“Sudahlah, jangan membahas hal ini lagi. Ini tidak penting.” Jawab Yesung.

“Super Junior?” Seorang pria paruh baya menghadang mereka. Di atas saku jasnya terdapat nametag yang menunjukan bila dia adalah seorang manager. “Kami sudah menyiapkan tempat untuk anda.”

Manager itu menuntun Super Junior menuju salah satu private lounge di restoran Hotel Star Angel.

Member Super Junior hanya melongo melihat sajian makanan diatas meja. Dan mata Shindong sungguh berbinar-binar dan sangat ingin segera menyantap makanan itu.

“Apa kita harus menggunakan table manner?” Tanya Sungmin.

Taebel maenneo mwoji, Hyung? Kita pakai sendok yang mana?” Tanya Eunhyuk yang kebetulan duduk disamping Sungmin dan menatap sendok dan garpu yang berjejer dihadapannya.

“Gunakan dari yang paling luar. Setahuku seperti itu.” Jawabnya kurang yakin.

Sementara Yesung hanya dapat diam dan menahan senyumnya. Dia sudah berpikir apakah benar Nichan yang mengundang mereka. Mengandalkan Lee Soman yang merupkan pamannya, mudah saja baginya untuk mengundang mereka.

Yesung tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Berandai-andai kejutan apa yang disiapkan kekasihnya untuknya. Tapi senyum itu tak berlangsung lama. Senyumnya perlahan memudar kala matanya bertemu dengan mata Yongjun yang berdiri di hadapan mereka semua.

Leeteuk merasa pernah melihat wajah dari pria itu. Tapi sayangnya dia tidak bisa mengingatnya dengan jelas. “Anyeonghaseyo, apa anda yang mengundang kami?” Tanya Leeteuk sopan setelah berdiri.

Yongjun mengangguk kecil. “Bagaimana hidangannya? Apa kalian menikmatinya?”

Wine yang kau pilihkan sangat enak.” Puji Leeteuk.

Well. Kita bisa membicarakan pekerjaan kalian sekarang?”

Ne. Tentu saja.” Leeteuk kembali duduk.

Yongjun hendak berjalan untuk duduk dikursi yang sudah disiapkan. Tapi kemudian seorang pelayan mendekatinya dan membisikan sesuatu.

“Ah! Aku ingin membagikan kebahagianku untuk kalian. Aku mengundang calon istriku kemari.” Ujarnya bangga kemudian bangkit berdiri. Melihat senyum Yongjun yang sarat akan rasa percaya diri dan penuh kemenangan, Yesung merasakan ada yang janggal dan firasatnya buruk.

Semua member Super Junior memasang wajah bahagia. Tak sedikit yang mengucapkan kata selamat. Terkecuali Yesung yang masih saja diam dan memandang tajam wajah Yongjun.

Dan segala riuh renyah didalam sana tiba-tiba terhenti saat seorang gadis berjalan masuk dengan anggun. Wajahnya menyiratkan ketegasan dalam kelembutan tatapan matanya. Gadis itu perlahan mendongakan wajahnya setelah mengalungkan tangan kanannya di lengan kiri milik Choi Yongjun.

Semua member Super Junior membeku. Dan semua menatap gadis itu intens. Setelah yakin akan penglihatan mereka, ditolehkan wajah mereka menuju wajah Yesung.

Yesung terduduk membeku. Semua sarafnya seolah lumpuh. Tidak ada yang dapat bergerak. Otakpun tidak bekerja dengan sempurna. Yang ia rasakan hanya hatinya yang tercabik-cabik. Pembuluh darahnya seolah saja baru saja meledak. Paru-parunya berisikan ribuan kerikil tajam. Tidak banyak yang bisa ia perbuat. Dia hanya bisa menyebut nama gadis itu dengan pias dengan pandangan terluka. “Park Nichan?”

-cut-

Advertisements