Tags

 

LOVE IS ALWAYS COMPLICATED POSTER

Title                            :Love Is Always Complicated

Author                       : @dcnirwana

Genre                         : romance

Rate                           : General

Lenght                      : Continue

Cast                            :

  • Yesung
  • Cho Kyuhyun
  • Choi Siwon
  • Park Nichan
  • Kim Byulhyun
  • Shin Minso

Disclaimer                  : I OWN THE PLOT

 EPISODE 6

Nichan berjalan menaiki tangga dengan tegar. Tapi ketegarannya langsung runtuh ketika tangannya mencapai gagang pintu kamarnya. Dibukanya pintu berwarna putih itu. Kamar bernuansa merah putih yang senantiasa menemaninya menyambut pemandangannya. Setalah tubuhnya benar benar berada di kamar itu, dia mengunci pintu kamarnya dan berjalan lalu terduduk lemah diatas kasur miliknya.

Dia sadar bila orang tuanya tidak akan berhenti sampai disini. Dan karena hal itu, Nichan harus meningkatkan kinerja otaknya hingga bisa menemukan jalan keluar dari masalah ini. Otaknya mulai menghasilkan bayangan tentang kemungkinan yang akan terjadi.Nichan meraih ponsel miliknya diatas meja kecil disamping ranjang tidurnya. Dia mencari nomor orang yang bisa ia percayai saat ini untuk masalahnya.

“Yoboseo, Sajangnim!” Sapa orang dari seberang.

“Yoboseo, Eonnie. Aku butuh bantuanmu dan juga Yonghee Eonnie.”

“Bantuan? Dariku dan ketua tim pemasaran Lee Yonghee?”

“Ne. Aku butuh kau untuk…”

Tok… Tok…

Terdengar suara ketukan pintu yang menghalanginya berbicara dengan Sekertaris Kim.

“Eonnie aku akan mengirimnya ke emailmu.”

“Ne, algeshimnida.”

Tok… Tok…

Nichan langsung memutuskan sambungan teleponnya. Dia berjalan menuju pintu. “Nuguyeyo?”

“Ini aku.”

Suara berat itu terdengar dari balik pintu. Nichan berdecak kesal. “Ada apa?” Jawabnya ketus.

“Kau tidak mengijinkanku masuk?”

Nichan menghela nafasnya. Melihat wajahnya pasti akan menimbulkan amarah yang membuncah. Tapi tangannya tetap bergerak membukakan pintu.

Pria bertubuh tinggi tegap itu perlahan masuk kedalam kamarnya. Dia berdiri didepan pintu karena Nichan mencegahnya masuk jauh lebih dalam.

Pria itu menyapu pandangannya di kamar Nichan. Dia tersenyum kecut. “Kau berubah, ya? Dulu kamarmu itu serba putih. Sekarang kamarmu ada nuansa merahnya. Warna kesukaannya, huh?”

“Jangan basa-basi. Apa maumu?” Tanya Nichan jengah tanpa sedikitpun memandang Yongjun yang menurutnya sangat memuakkan.

“Besok jam sembilan pagi pergilah ketempatku. Ajak dia juga.”

“Tapi besok natal. Ada pemberkatan. Dan kuyakin dia tidak akan mau pergi. Setelah dari gereja dia pasti menghabiskan waktunya untuk keluarganya.”

“Kalau begitu, besok lusa. Kau harus datang dengannya.” Ujarnya dengan nada sedikit dingin lalu berbalik. “Ah ini alamatnya.” Yongjun meletakan secarik kertas itu diatas meja yang ada disamping pintu lalu berjalan keluar dari kamar Nichan.

Nichan mendekat pintu kamarnya lalu kembali menguncinya lagi. Dia meraih kertas itu yang berisikan alamat itu. Nichan menghela nafasnya lagi. “Apa aku harus kesana?” risaunya. Dia terlihat berpikir dan kemudian memasukan rangkaian nomor di ponsel yang ada dalam genggamannya.

“Yoboseo, Kkoma!” Sapa riang dari sebrang.

“Yoboseo, Oppa!”

“Wae? Bagaimana kejutannya kau suka?”

“Ne. Neomu coha.” Balas Nichan. Terdengar kekehan puas dari sebrang. “Tapi Oppa, apa kau besok ada jadwal?”

“Keurom eobsoyo. Besok aku akan ke gereja dengan keluargaku untuk misa. Apa kau mau ikut?”

“Bolehkah?”

“Keuromyo. Eommonim akan senang bila kau juga ikut.”

“Baiklah. Hajiman, besok lusa apa kau juga kosong?”

“Seingatku iya. Wae?”

“Aku mau mengajakmu pergi.”

“Kemana?”

“Kau akan tahu kalau kita sudah sampai. Besok jam delapan jemput aku, arra?”

“Baiklah.”

“Ya sudah! Aku tutup.”

“Mm…”

Nichan memutuskan sambungan teleponnya. Dan sesaat setelahnya dia teringat akan sekertaris Kim. “Majja. Aku harus segera mengirim email padanya.”

-=.=-

Byulhyun berjalan mondar-mandir dikamarnya karena khawatir. Dia penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Kedatangan orang tua Nichan yang tiba-tiba, pasti bukan tanpa alasan. Kalau masalah Minra, paling-paling Ahrim hanya akan menyuruh asisten pribadinya menjemput Minra dengan jet pribadi milik keluarganya. Byulhyun yakin ada hal yang lebih penting dari itu semua hingga orang tua Nichan meluangkan waktu untuk datang kesini. Apakah masalah Nichan? Masalah penculikan itu? Tapi rasanya mustahil.

Merasa buntu akhirnya dia memutuskan untuk mencuri dengar apa yang sedang mereka bicarakan. Yah, walau dia tahu itu tidak sopan. Tapi persetan dengan hal itu. Rasa penasarannya mengalahkan harga dirinya

Dan mendengar perdebatan yang terjadi dibawah sana, dia mendekap mulutnya sekuat mungkin berusaha meredam suara yang mungkin akan keluar karena keterkejutannya yang luar biasa. Jadi semua kenyataan yang mereka hadapi selama ini hanya skenario yang sengaja diciptakan.

Dan saat ia melihat Nichan bergerak menaiki tangga, dia langsung berderap masuk kedalam kamarnya. Dia berdiri bersandar pada pintu kamarnya.

Inikah kehidupan yang sebenarnya? Setelah kedamaian dan ketentraman yang menyelimuti rumah ini bertahun-tahun, kini ketenangan itu terguncang oleh kenyataan yang bahkan tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

“Hah…. Benar-benar menyebalkan!” gerutunya. “Apa orang kaya lebih mementingkan harta ketimbang perasaan putrinya? Mempermainkan perasaan kedua sahabatku pula. Aish… menyebalkan!”

Byulhyun beranjak menaiki lemarinya lalu duduk diatas kasurnya. Kemudian dia merebahkan tubuhnya diatas kasur yang sudah lama tidak ia tempati. Tiba-tiba dia terduduk karena dia mulai tersadar akan satu hal. “Hubungan Nichan dan Yesung dalam bahaya.”

-=.=-

Minso sedang ada di dalam dapur saat Nichan dan Byulhyun baru datang. Dia tersenyum lega saat Nichan berjalan menaiki tangga sendiri. Byulhyun kemudian masuk kedalam petak yang sama dengannya.

“Nichan pasti sedang senang.” Ujarnya singkat.

“Mwo?” Tanya Byulhyun yang sedang mengisi gelas bening itu dengan air.

“Tadi pagi, Yesung oppa datang dan membuat kejutan kecil.”

“Jinjayo?”

“Ne.”

“Sudah. Aku akan keatas dulu.”

“Baiklah.”

Selang beberapa saat setelah Byulhyun meninggalkan area dapur, telinganya menangkap suara teriakan khas dari Minra. Tapi kali ini suaranya terasa bergetar. Minso sudah tahu akan masalah Minra dan Minho.

Setelah selesai dengan kegiatannya, dia berniat keluar untuk melihat keadaan. Tapi dia langsung membeku melihat pemandangan yang ada dihadapannya. Dia langsung bersembunyi dibalik pintu dapur.

Dia terus menyaksikan perdebatan yang terjadi antara Nichan dan kedua orang tuanya. Dia menghela nafasnya dengan berat.

Dia tidak lagi terkejut akan keberadaan Yongjun saat ini. Bahkan Yongjun sudah menemuinya sekitar bulan lalu. Pria itu tiba-tiba datang menggoncangkan ketentraman hatinya. Dengan santai dan tanpa bersalah meminta bantuan dirinya untuk merusak hubungan asmara antara sahabatnya dengan kekasihnya.

Mengenai pertanyaan pria itu siapa yang akan ia bantu, Minso benar-benar tidak bisa memilih salah satu diantara mereka. Mereka berdua terlalu berharga untuknya.

Dulu, dia adalah pria yang sangat ia cintai. Mungkin hingga kini rasa itu masih tersisa dihatinya. Atau bahkan rasa itu tidak pernah hilang dari hatinya.

Sedangkan Nichan. Dia adalah sahabat terbaik yang pernah ia miliki. Tanpanya, dia mungkin tidak bisa kembali bertemu dengan kakaknya. Tanpanya pula, mungkin dia tidak bisa kembali menjalani hidupnya dengan normal setelah ‘kematian’ dari Jungchan.

Yah, setidaknya untuk hal ini, dia tidak akan ikut campur dengan permasalahan mereka. Dia tidak akan berusaha menghancurkan hubungan sahabatnya dengan kekasihnya. Dia juga tidak akan membantu pria itu untuk berbuat jahat menyakiti hati sahabatnya. Dan juga dirinya sendiri.

Kini, dia hanya butuh bersiap untuk menguatkan hatinya agar tidak hancur berkeping-keping. Menguatkan hatinya untuk tetap bertahan melihat pria yang ia cintai berusaha memiliki gadis lain yang ternyata bukan dirinya. Bersiap untuk tegar bila perasaan sahabatnya hancur karena ulah pria yang ia cintai itu.

Dan kini ia sadar bahwa dia sudah memiliki pria lain. Pria yang berhasil mengalihkannya dari sosok itu. Pria yang tulus mencintainya bahkan dirinya sendiri belum sepenuhnya mencintai pria itu. Dia tahu, ini sudah saatnya untuk melepas sosoknya untuk pergi menjauh. Ini adalah saat baginya untuk mengubur dalam-dalam persaan yang seharusnya tidak lagi tercipta. Ini adalah saat yang tepat bagi Minso untuk belajar melupakan dia dan belajar untuk membuka hatinya untuk pria yang telah tulus mencintainya. Ya. Saatnya bagi Minso untuk mencintai pria yang sudah ia pilih pada akhirnya.

Namun saat pria itu, pria yang duduk di sofa mewah di depan sana menatapnya tajam dan tepat di manik matanya, pertahanan hatinya runtuh saat itu juga. Ia sadar ia tidak bisa. Tidak bisa barang sedetik untuk melepas sosok itu pergi menjauh.

Ia tahu ini salah. Tapi ia tak kuasa. Hatinya menolak apa yang ia perintahkan. Hatinya menolak untuk mengganti sosok Yongjun dengan sosok yang baru. Hatinya menolak untuk mencintai pria lain. Hatinya bersih keras untuk bersembunyi dibalik sosok bernama Choi Yongjun.

Pria itu sudah mencuri hatinya yang terdalam dan enggan mengembalikannya. Hatinya juga enggan untuk kembali kepada pemiliknya yang berniat untuk menitipkannya pada pria lain. Hatinya enggan dan menolak untuk pria lain. Tapi hatinya rela untuk diberikan pada sesosok Choi Yongjun.

-=.=-

Yesung menatap rumah yang ada dihadapannya dengan bingung. Dia mengamati setiap ditail rumah bernuansa klasik bercat krem itu. Sementara Nichan yang berdiri disampingnya hanya diam. Tapi bagi siapapun yang melihat dirinya. Mereka semua akan tahu bila gadis itu sedang memutar otaknya dan memaksanya berkerja lebih keras daripada biasanya.

“Kkoma, apa kita akan terus berdiri disini hingga malam?” Tanya Yesung bingung dan sedikit bergetar karena tubuhnya menahan angin musim dingin yang berhembus disekitarnya. Dia menggerak-gerakan tubuhnya untuk mengusir hawa dingin yang kian lama makin kuat  menyelimutinya.

Tapi Nichhan tetap tidak bergeming. Dia terus menatap kayu jati yang ada ditengah-tengah rumah itu dengan tajam.

“Kko…”

“Ayo kita masuk!” potong Nichan lalu berjalan mendekati pintu rumah itu. Tapi setelah satu langkah, Nichan berhenti dan terlihat ragu.

“Wae?”

Nichan memutar tubuhnya menatap Yesung. “Kau mau berjanji padaku? Sampai kapanpun dan apapun yang terjadi, kau akan tetap bertahan untuk terus berada disisiku?”

Yesung terlihat terkejut mendengar penuturan Nichan. Dia terkejut sekaligus bingung. “Kenapa tiba-tiba kau berbicara seperti ini?”

“Jawab saja. Apa kau mau berjanji untuk tidak akan pernah meninggalkanku?”

Yesung mengangguk. “Tentu saja. Aku tidak akan pergi. Aku berjanji padamu.”

“Kalau aku menyuruhmu pergi, kau tidak akan benar-benar pergi dan tetap menjaga hatimu untukku?”

Yesung mengerutkan keningnya. Sedetik kemudian dia tersenyum sambil mengelus pipi kiri Nichan. “Kalaupun kau memintaku pergi, aku tetap tidak akan mampu meninggalkanmu.”

Nichan tersenyum puas. “Gomawo.” Dia lalu menggandeng tangan Yesung dan menuntunnya masuk. “Ayo!”

Di depan pintu jati itu, Nichan menghela nafasnya sebelum mengetuk pintu itu. Terdengar derap langkah dari balik pintu yang gagah itu.

“Kau sudah datang?” Tanya Yongjun setelah membuka pintu itu.

Nichan tersenyum penuh percaya diri lalu mengangguk. Berbeda dengan Yesung yang masih tercengang melihat sosok Yongjun yang berdiri dihadapannya.

“Park Jungchan?” tanya Yesung dengan hati-hati.

Yongjun beralih menatap Yesung. Dia mengulurkan tangannya. “Jadi, ini, pria yang sudah dipilih oleh adik kecilku ini.” ujar Yongjun dengan bersahabat lalu meneliti Yesung dari ujung kepala hingga ujung kakinya.

“Apa kau membiarkan kami berdiri menjadi patung selamat datang, huh?” Tanya Nichan sedikit dingin.

Yesung menatap Nichan dengan serius dan bingung. Dia tahu seberapa besar kekasihnya itu menyayangi kakaknya. Dia mengerutkan dahinya bingung dengan sikap Nichan itu. Dia merasa ada yang tidak beres antara kekasihnya dan pria itu.

“Oh. Silahkan masuk.”

Yongjun memimpin jalan menuju ruang tengah rumah itu. Di tikungan menuju kamar mandi berdiri dua orang berbadan tegap berpakaian serba hitam.

“Silahkan duduk!” Yongjun menunjuk sofa terbuat dari bahan kulit itu. Sesaat setelahnya dia duduk. Nichan dan Yesung duduk d sofa yang terpisah dengan Yongjun.

“Jadi, apa maksudmu menyuruh kami untuk datang kesini?” Tanya Nichan langsung.

“Kau memang tidak bisa basa basi, ya? Baiklah. Aku hanya meneruskan permintaan Eommonim dan Aboji. Tentang hal yang kemarin itu. Kau tidak lupa, kan?”

Nichan mendengus kesal. “Jujur saja. Aku tidak akan pernah melakukannya.”

“Baiklah. Kalau kau tidak bisa, aku akan menyuruh Yesung-sshi unuk melakukannya terlebih dahulu.”

“Mwo? Na?” Tanya Yesung kaget dan tidak mengerti sambil menunjuk dirinya sendir.

Yongjun mengangguk. “Sejujurnya, bumonim dari Nichan tidak…”

“CHOI YONGJUN!!” Sela Nichan sambil berteriak.

“Choi Yongjun?? Dia Choi Yongjun? Bukan Park Jungchan?” Tanya Yesung tidak mengerti sambil menatap Nichan dengan tatapan penuh pemohonan untuk penjelasan.

“Baiklah. Lebih baik aku memperkenalkan diriku dulu. Choi Yongjun imnida. Dan aku bukan Park Jungchan. Aku adalah anak angkat dari Ahrim Eommonim dan Jaekong Aboji. Selama aku menjadi anak mereka, namaku adalah Park Jungchan.”

Yesung hanya mengangguk angguk mengerti akan penjelasan dari Yongjun. “Jadi apa maksud perkataanmu kalau aku akan melakukan permohonanmu?”

“Jadi, Eommonim dan Aboji tidak suka bila kau bersama Nichan. Maksudku, bukannya mereka tidak suka. Mereka lebih suka bila Nichan itu bersamaku.”

Yesung tercekat. Otaknya bekerja keras mencerna setiap kata yang diutarakan oleh Yongjun. Mencari celah akan adanya kebohongan dari kalimat itu. Mencari adanya celah untuk mengelak dari kenyataan itu. Tapi nihil. Tidak ada celah untuk kebohongan. Tidak ada celah pula untuk mengelak.

“Kurasa kau bukan orang bodoh yang tidak mengerti akan penjelasanku yang sudah jelas. Jadi apa keputusanmu?”

“Tidak.” Jawab Yesung tegas. Lalu menoleh menatap Nichan yang juga menatapnya dengan senyum. “Aku tidak akan pernah melapas Nichan. Demi alasan apapun. Kalau memang itu kemauan orang tua Nichan, aku akan berusaha untuk memerjuangkannya.”

Nichan menatapnya dan tersenyum penuh haru. Dia mempererat genggaman tangannya pada Yesung.

“Cish… kalaian seperti bermain di drama picisan saja.” Cibir Yongjun. “Jadi, kalian tetap pada keputusan kalian?”

Bersamaan, Nichan dan Yesung mengangguk pasti.

Setelahnya mereka bertiga saling diam hingga terciptalah suasana hening dirumah itu. Namun, keheningan itu pecah karena dering ponsel dari milik Nichan.

“Aku permisi.” Nichan keluar dari rumah itu untuk mengangkat telepon penting dari Luxim. Cukup lama Nichan berada diluar untuk berdiskusi dengan salah satu perwakilan dari Luxim itu. Merasakan nyeri pada tulang-tulangnya karena dinginnya angin yang berhembus, ia tak pemasalahkan. Yang terpenting, bagaimana dia bisa menyelamatkan perusahaannya dan kehidupan karyawannya.

Sekitar sepuluh menit akhirnya diskusi itu berakhhir dengan keputusan yang membuat beban Nichan menjadi lebih ringan. Dia tersenyum puas. Saat berbalik, dia terkejut karena Yongjun dan dua ajudannya sudah berdiri dibelakangnya. Yang membuat Nichan bingung adalah beberapa ajudannya itu ada yang terlihat sedang mengatur nafasnya dan mengeluarkan bulir-bulir keringat di tengah musim dingin seperti ini.

“Aku pamit duluan. Aku ada perlu dengan Eommonim.” Pamit Yongjun.

“Apa aku harus peduli?”

“Tidak juga. Baiklah. Aku pergi.”

Nichan tidak memerdulikan Yongjun dan segera masuk kedalam rumah itu. Tapi saat kakinya sudah berada di ruang santai, dia tidak menemukan Yesung disana.

“Oppa?” nichan melongakan kepalanya menyapu seluruh ruangan tapi dia tidak bisa menemukan Yesung. Terbesit perasaan khawatir dalam benaknya. “Oppa, eoddiya?”

Hening. Tidak ada balasan. Rasa khawatir di benak Nichan itu semakin membuncah. “Oppa? Neo eoddiya? Oppa?!”

Tak lama dia mendengar suara gemercik air. Nichan segera berjalan mendekati pintu kamar mandi. “Oppa?! Apa kau didalam?”

“Yog… burrp… nan… burrp… burrp… Kkomma… burrp…” suara serak itu menembus pintu kayu yang menjadi pembatas lorong dengan kamar mandi.

Nichan mengerutkan keningnya. Dia merasa ada yang tidak beres. Nichan meraih gagang pintu dan meneka kebawah gagang pintu berniatmembukanya. Tapi ternyata pintu itu dikunci. Nichan menggedor pintu. “Oppa? Apa yang kau lakukan?”

“Burrp… do… burppp… dohojo…”

Nichan melihat pintu itu. Tidak mungkin dia mendobrak pintu yang terbuat dari jati itu. Untung, tak jauh dari pintu itu ada sebuah tas dengan stik golf. Nichan mengambil stik yang berukuran paling besar.

Nichan memukulkan stik itu tepat di gagang pintu itu. Setelah beberapa pukulan, akhirnya gagang itu terlepas dari pintu itu. Dia langsung menendang kencang pintu itu hingga terbuka lebar.

Dia langsung menjatuhkan stik golf itu. Seluruh tubuhnya mendadak membeku seakan baru saja ditembak mati ditempat. Ia seolah kehilangan detak jantungnya. Darah seolah disusut habis dari sekujur tubuhnya. Dan nyawa seakan melayang meninggalkan raga-nya.

Dia segera mendekati bath-up dimana disana ada Yesung yang tenggelam didalam air dengan tangan dan kaki yang terikat. Sementara diatas tubuhnya ditindih beban berat yang menyulitkannya untuk lolos dari genangan air itu. Dan Yesung yang selalu berusaha menaikan kepalanya agar bisa menghirup oksigen.

“Oppa…” lirihnya. Nichan langsung membantu melepaskan ikatan tali tambang yang mengikat tubuh kekasihnya itu. Setelah tali itu terlepas, dengan sekuat tenaga Nichan mengangkat beban itu hingga dirinya terjatuh karena besarnya gaya yang ia berikan pada benda itu.

Setelah beban itu tak lagi menghimpit tubuh Yesung, Nichan membuka penyumbat bath-up. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, Yesung merambat keluar dari bath-up dan tergeletak diatas lantai dengan nafas yang tersenggal-senggal.

“Oppa, gwaenchana?” tanya Nichan yang sangat mengkhawatirkan keadaan Yesung.

Yesung yang sedang menormalkan kondisinya hanya sanggup untuk menganggukan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Nichan.

“Mianhae…” dan kata itu meluncur begitu saja bersamaan dengan setetes bening yang keluar dari pelupuk matanya sebelum sempat ia tahan.

Yesung menggelengkan kepalanya lemah. Kemudian dia bangkit untuk duduk karena kondisi tubuhnya sudah mulai stabil. “Ini bukan salahmu.”

“Aku akan carikan baju hangat untukmu.” Tanpa menunggu balasan, dia langsung melesat keluar dari mencari bila ada baju yang ditinggal disini. Untungnya dia menemukan lemari disebuah kamar tepat disamping kamar mandi.

Nichan mengambil acak sebuah kaos lengan pendek, baju rajut lengan panjang, celana jins panjang, sebuah mantel hangat dan tak lupa selembar handuk.

Nichan kembali ketempat Yesung dengan tergesa. Disana dilihatnya Yesung sudah bisa berdiri tegak dan sedang mengeringkan handuknya. Dia memperlambat langkahnya. “Ini. ganti pakaianmu. Nanti kau sakit. Aku tunggu diluar.”

Nichan menaruh pakaian yang ia ambil di atas wastafel. Kemudian dia meninggalkan Yesung sendiri untuk berganti pakaian.

Nichan menghembuskan nafasnya. Kemudian dia mulai melangkahkan kakinya menuju dapur. Dia mulai membuat teh hangat untuk Yesung.

Sambil menunggu air panas, dia duduk di kursi bar yang ada di dapur itu. Dia kembali teringat kejadian mengerikan itu. Bagaimana tubuh kekasihnya yang terendam dalam air dingin itu. Bagaimana pria itu mencari celah untuk mencuri oksigen agar bisa bertahan. Nichan bergidik mengingat kejadian barusan.

Tapi satu hal yang menjanggalnya. Benarkah sosok Yongjun tega melakukan hal seperti ini? Kemana sosok baik kakaknya yang dulu selalu memberinya nasihat? Kemana perginya sosok pelindung yang dulu selalu menjaganya? Kemana sosok Park Jungchan yang dulu ia sayangi itu?

Tapi sesaat kemudian, Nichan menggelengkan kepalanya dengan kuat. Benar, orang itu adalah Park Jungchan. Tapi pria yang tadi memperlakukan Yesung seperti itu adalah Choi Yongjun. Sosok yang benar benar berbeda.

Nichan segera melupakan hal itu. Dia kembali melanjutkan kegitan membuat tehnya. Dan saat ia sudah selesai, Yesung berjalan masuk ke dalam dapur itu.

“Sudah selesai? Ini aku buatkan teh untukmu.”

Yesung mengangguk lalu mengambil secangkir teh dari tangan Nichan. “Gomawo, Kkoma.”

Melihat Yesung yang tersenyum manis dan sangat menikmati teh buatannya, perasaan bersalahnya menyeruak kembali. Dan tanpa dicegah, air matanya sudah tergenang dipelupuk matanya.

“Kkoma… uljima…” parau Yesung saat melihat Nichan yang hampir menangis dia meletakan cangkir teh itu lalu berjalan memutari meja dan meraih Nichan dalam dekapnya.

“Mianhae…” Pintanya denang suara bergetar.  Yesung terus memerangkap kepala Nichan dalam dekapannya. Ia merasakan kalau mantelnya mulai basah sedikit demi sedikit. Ia merasakan bahu yang bergetar. Ia mendengar isak yang tertahan. “Ini semua salahku.”

“Sstt… Ini bukan salahmu.”

“Tapi karena aku, kau hampir kehilangan nyawamu tadi.”

“Kalau ini demi memertahankanmu agar tetap disisiku aku rela melakukannya.”

Karena mendengar ucapan tulus kekasihnya itu, tangisan Nichan pecah menggantikan isakan yang dari tadi terdengar. Dan tak dipungkiri, dia merasa bahagia dan kecewa sekaligus. Bahagia karena dia memiliki kekasih yang tulus mencintainya. Dan kecewa, karena dia tidak bisa menjaga kekasihnya itu dengan baik.

Nichan bergerak melepaskan kepalanya dari dekapan Yesung. Dan Yesung tidak memberikan perlawanan. Nichan menatap Yesung dengan matanya yang merah dan berair karena menangis. “Seharusnya, aku memberi tahumu dari dulu.”

“Memberi tahu apa?” Tanyanya bingung.

“Kalau orang tuaku mungkin saja menentang hubungan ini.” jelas Nichan lirih.

Yesung tertohok mendengar penuturan Nichan barusan.

“Dulu, saat kau diajak Minra untuk pergi ke rumah Heechul Oppa, dan aku bersih keras menolakmu untuk datang itu karena aku takut. Aku takut, ahjumma akan menelepon Eomma dan memberitahukan hal ini. aku takut Eomma menentang ini. Seharusnya aku sadar dan memberitahumu tentang hal ini lebih awal. Mianhae.”

Yesung menutup matanya. Dia mencoba mencerna setiap kata yang nichan katakan. Tapi semakin dia memahami kalimat tadi, hatinya merasakan sesak.

“Tapi, kumohon untukmu. Tetaplah disampingku. Aku akan berusaha membuat Eomma dan Appa menyetujuinya.”

“Bukan kau. Tapi kita.” Balas Yesung lalu tersenyum.

Air yang dari tadi Nichan tahan di pelupuk matanya, menetes begitu saja. Dia langsung membenamkan kepalanya di dada bidang pria yang ia cintai itu. “Gomawo, Oppa!”

-=.=-

Mobil sedan mewah milik Yesung berhenti di sebuang rumah bergaya romawi kuno di daerah Seongnam.

“Gomawo, Oppa! Cepat pulang dan istirahat. Jangan lupa makan lalu minum obat, arra?” pesan Nichan.

“Arrayo. Sudah sana masuk! Diluar sangat dingin.”

“Jalga, Oppa!” Nichan keluar drai mobil dan melambaikan tangannya. Setelah mobil Yesung menghilang dibalik tikungan jalan, Nichan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.

Di ruang tengah, Nichan melihat kedua orang tuanya yang sedang bersiap untuk pergi. Dan disamping mereka, berdiri Minra dengan beberapa koper berukuran besar.

“Kalian mau pergi?”

“Kami akan mengantar Minra ke GE. Setelahnya menjalani hidup seperti sebelumnya. Eomma dan Appa akan kembali bekerja. Urusan kau dan penyanyi itu, kami serahkan semuanya pada Yongjun.” Jelas Ahrim.

“Bahkan bila pria itu berniat menyakiti Yesung Oppa?”

“Tidak akan terjadi bila kalian menurutinya.”

“Mwo? Kalian tetap membela Yongjun bahkan bila dia yang bersalah?”

“Chan-ah, kau dulu sangat menyayangi Yongjun. Coba kau pikirkan ulang keputusanmu. Arra?”

Nichan tidak menjawab pertanyaan Ahrim. Dia langsung berlari ke atas. Saat tinggal selangkah untuk menggapai ganggang pintunya, ada orang yang menghalangi jalannya.

“Lebih baik, kau dengar perkataan Eommonim.”

Nichan membeku. Tanpa menolehpun dia tahu, siapa yang sedang berbicara dengannya. Tentu saja. Pria yang sudah berani mencelakai kekasih yang ia cintai.

Nichan membalikan tubuhnya. Dan badannya kini seutuhnya berhadapan dengan Yongjun. “Wae? Kenapa aku harus mendengar omonganmu itu? Memang kau siapa, huh?”

“Kalau kau menolaknya, aku bisa melakukan yang lebih parah dari yang ini.”

“Maksudmu?”

“Yang tadi itu…” Ucapannya sengaja dibuat menggantung. “Baru permanasan saja. Semakin kau menolah, semakin aku menyiksanya lebih kejam.”

“Apa yag akan kau lakukan?”

“Aku bisa menyuruh Soman Ahjusi untuk memecatnya. Kemudian aku akan menghancurkan bisnis keluarganya. Mau itu Babto ataupun Handel & Gratel.”

“Mwo? Kau tidak akan setega itu melakukannya?”

“Kalau aku tidak tega…” Yongjun menyandarkan dirinya di dinding lalu melipat tangannya di atas dadanya. “Aku tidak akan menenggelamkannya di dalam bath-up.” Ujarnya lalu menyeringai kejam.

“Kau juga tidak mungkin bisa membujuk Soman Ahjussi untuk memecatnya. Dia salah satu asset berharga di SM.”

“Kau ingat bagaimana Soman Ahjussi begitu menyukaiku? Bahkan dia berniat untuk menyerahkan seluruh saham SM miliknya untukku saat dia meninggal nanti.”

Nichan terdiam. Dia ingat akan masa itu. Saat pamannya pertama kali membuka SM dan dia dan Jungchan menghadiri pesta pembukaannya.

-=.=-

“Jungchan-ah, perusahaan paman ini akan menjadi perusahaan terbesar dan mengalahkan milik ayahmu.” Ujar Soman sambil menggendong Jungchan yang berumur lima tahun

“Ahjussi tidak bisa mengalahkan ayahku. Hanya aku yang boleh mengalahkan Ayah.”

“Jinja?! Bagaimana kalau nanti Ahjussi pensiun, Ahjussi akan menyerahkan saham milikku untukmu? Otthe?”

“Yaksok?”

“Yaksokhaeyo.”

“Keurom, aku akan mengalahkan ayah dengan perusahan Ahjussi.”

-=.=-

“Jadi sekarang semua terserah padamu. Aku hanya akan melakukan tindakan sesuai pilihanmu.”

Nichan diam lalu dia segera masuk kedalam kamarnya. Dia membanting pintu kamarnya karena menahan emosi.

Sementara diluar, Yongjun hanya bisa menghela nafas setelah mengatakan itu. Saat dia berbalik, dia terkejut karena mendapati Minso yang berdiri dibelakangnya.

Minso perlahan berjalan mendekatinya. “Kau benar-benar pria jahat.” Ujarnya singkat tapi menusuk. Lalu dia berjalan masuk kedalam kamarnya.

Yongjun hanya bisa melihat pungung gadis itu menghilang dibalik pintu. Sebelumnya, Yongjun melihat punggung gadis itu bergetar. Dia menangis. Ingin rasanya dia memeluk gadisnya itu. Mencoba membuat gadis itu menjadi lebih tenang.

Gadisnya? Yah. Gadisnya. Tapi masihkah bisa dia menyebut gadis itu sebagai gadisnya. Dulu, mungkin saja dia masih bisa menyebut gadis itu sebagi gadisnya. Andai saja dia memilih untuk tidak mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Atau, kenyataan itu belum terungkap. Mungkin gadis itu selamanya akan menjadi gadisnya. Gadis yang selamanya menjadi miliknya.

-cut-

Advertisements