Tags

LOVE IS ALWAYS COMPLICATED POSTER

Title                            :Love Is Always Complicated

Author                       : @dcnirwana

Genre                         : romance

Rate                           : General

Lenght                      : Continue

Cast                            :

  • Yesung
  • Cho Kyuhyun
  • Choi Siwon
  • Park Nichan
  • Kim Byulhyun
  • Shin Minso

Disclaimer                  : I OWN THE PLOT

 EPISODE 6

“Nichan-ah, kau baik-baik saja?” Tanya Minso khawatir.

“Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir, So-ya.”

Minso langsung memeluk Nichan. “Mianhae. Ini semua karena aku.”

“Mwo? Apa maksudmu?”

Minso melepaskan pelukannya. “Kemarin penculikmu itu, mendatangiku. Mereka mencari informasimu dariku. Maaf. Sebenarnya aku tidak ingin mengatakannya. Tapi aku terpaksa mengatakannya karena mereka mengancam perusahaan milik Eomma. Maafkan aku.” Jelasnya sambil terisak.

Untuk sesaat Nichan merasa marah pada Minso. Tapi akhirnya dia hanya menghela nafasnya. Lalu tersenyum kecil. “Tidak apa-apa. Aku tidak marah padamu. Tapi mereka tidak menyentuh perusahaanmu, kan?”

Minso menggeleng. “Sekali lagi maaf.”

“Sudah. Jangan terus meminta maaf padaku. Kau tidak salah.”

Jami wa jami wa. I ji teun nunmul ggeute ggeuchi wa. Naebang chang mun bak gwan shim bak deung dol lin chae ro…

Ponsel Minso berdering. “Nichan-ah, aku mengangkat telepon dulu.” Ujarnya lalu berjalan keluar dari kamar Nichan.

“Yoboseo.”

“Yoboseo, Minso-ya.”

“Ne, Yongjun Oppa?”

“Kurasa aku tidak bisa menunggu terlalu lama. Jadi kurasa aku harus melakukannya sendiri.” Ucapnya dengan perasaan bersalah.

Minso tercekat. Dia tidak tahu harus berbuat apa. “Mianhae Oppa.” Hanya maaf yang bisa ia ucapkan saat ini.

“Sudah. Aku hanya ingin memberi tahumu tentang ini.”

“Ne. Hajiman…”

“O?”

“Jangan sakiti dia.” Ujarnya dengan suara bergetar. Tidak terdengar jawaban. “Kumohon…”

Tidak ada jawaban dari seberang. Hanya helaan nafas berat yang terdengar. Dan sedetik kemudian sambungan telepon itu terputus.

Minso kembali masuk ke dalam kamar Nichan. Dia manatap Nichan dan Yesung secara bergantian dengan perasaan bersalah. Dia menatap nanar Nichan yang disuapi Yesung diselingi candaan ringan dan tawa mereka. Mereka terlihat begitu bahagia. Dan itu membuatnya menjadi semakin goyah dan kalut.

“Minso-ya, kenapa kau berdiri di situ? Duduklah!” Ujar Yesung saat menyadari Minso hanya berdiri di depan pintu sambil memandangi mereka.

Tapi Minso hanya menggeleng lemah. “Maaf, Nichan-ah, aku harus pergi.” Tanpa menunggu balasan, dia langsung keluar dari kamar Nichan. Dia berdiri besandar pada pintu ruang inap Nichan. dia membeku. Matanya terasa panas. Air matanya sudah tergenang di pelupuknya. Dan dadanya juga bergemuruh hebat. Rasa bersalah semakin bersandang dalam di dadanya. Bagaimana dia bisa tega dengan sahabatnya yang selalu membantunya?

‘Apa yang harus aku lakukan? Aku harus bagaimana? Haruskah aku memberitahumu? Haruskah aku merusaknya? Atau aku harus berdiam diri? Tuhan… berikan aku petunjuk. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.’

-=.=-

“Dikamar berapa?” Tanya Byulhyun dingin saat mereka masuk kedalam rumah sakit.

“124.” Kyuhyun menjawab dengan ketus. “Aish… Byulhyun-ah, bersikaplah sedikit manis padaku.” Rajuknya.

“Untuk apa?” balasnya singkat.

Kyuhyun mendengus kesal. “Kau ini kekasihku. Dan kau lebih muda. Coba panggil aku oppa.”

“Shrieo.”

“Wae? Hanboman. Panggil aku ‘Oppa’. Ayo!”

Byulhyun terdiam. Dia mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun. “Oppa.” Jawabnya pelan nyaris berbisik saat mereka ada di dalam lift.

“Apa? Aku tidak mendenganya.”

“Oppa.” Ujarnya lagi dengan menaikan sedikit volume suaranya.

“Aku belum jelas mendengarnya.”

“Oppa.”

“Kurang keras. Sekali lagi.”

“AKU MEMANGGILMU OPPA, BODOH!! KAU PUAS SEKARANG??!” teriaknya kesal.

“YA!! Mana ada orang yang membentak kekasihnya seperti itu? Aku jadi ragu bila kau adalah kekasihku.” Ujarnya mendahului keluar dari lift yang sudah mengantar mereka dilantai 3.

Byulhyun tersentak lalu menatap Kyuhyun dengan bengis dan tajam. “Arra. Kalau kau tidak mau. Ya sudah. Kita pu…”

Ucapan Byulhyun terhenti ketika Kyuhyun merangkulnya pundaknya secara tiba-tiba. “Aku bercanda. Jangan pernah mengucapkan lima huruf yang membentuk sebuah kata yang terkutuk itu. Aku hanya ingin mendengarmu memanggilku ‘Oppa’ dengan manis. Seperti Nichan atau Minso.”

Byulhyun menepis rangkulan Kyuhyun dengan kasar. “Pacari saja mereka kalau kau ingin mendengar kata ‘Oppa’ yang manis itu.”

“Aku hanya ingin mendengarnya dari kekasihku. Aku hanya ingin mendengarkan dari mulut Kim Byulhyun. Mulut Isabella Kim. Hanya sekali saja. Lalu aku tidak akan pernah memintanya lagi.”

“Ne Kyuhyun Oppa?” Ujar Byulhyun tiba-tiba dengan nada manis dan penuh aegyo.

Kyuhyun bergidik ngeri melihatnya. “Mengerikan. Jangan lakukan lagi!” Ujar Kyuhyun hiperbolis lalu berjalan mendahului Byulhyun yang menganga karena sikapnya barusan.

Byulhyun berjalan mendekati Kyuhyun dengan mulut yang terus menggerutu kesal dengan sikap Kyuhyun. Dan saat Byulhyun sudah sejajar dengan Kyuhyun, dia langsung menjitak kepala Kyuhyun. “Dasar kau setan tidak tahu diri!!” Hujatnya kesal.

“NEO!!” dia menatap Byulhyun tidak percaya seraya menunjuk Byulhyun dengan telunjuk kanannya. Sementara tangan kirinya mengelus kepalanya yang tadi di jitak ganas oleh Byulhyun.

“Mwo?!” jawabnya santai lalu membuang mukanya. “Minso-ya? Shin Minso!!” Panggil Byulhyun pada seorang gadis yang berjalan memunggunginya sambil menunduk dengan bahu yang bergetar.

Kyuhyun ikut melihat gadis yang Byulhyun maksud. “Apa itu benar-benar Minso? Tapi kenapa dia menangis?” tanya setelah punggung gadis itu menghilang di balik pintu lift.

“Apa dia baru mengunjungi Nichan? Tapi kenapa menangis? Atau Nichan…”

Sedetik kemudian, mereka langsung bergegas menuju kamar Nichan. Mereka khawatir akan keadaan Nichan karena melihat Minso yang menangis setelah mengunjungi Nichan.

“Nichan-ah, gwaenchana?!” Tanya Byulhyun setelah masuk berdiri di samping ranjang Nichan.

“Gwaenchana, Byulhyun-ah.”

“Syukurlah. Kupikir kau kenapa-kenapa. Tadi Minso berjalan keluar sambil menangis.”

“Menangis? Wae?” tanya Nichan bingung.

“Kau tidak tahu kenapa dia menangis? Aku pikir kau tahu kenapa dia menangis.”

“Aku tidak tahu.” Jawab Nichan. Tapi dia masih mengingat kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. “Mungkin dia ada masalah. Dua minggu ini, aku merasa Minso sedikit berubah. Sedikit lebih murung dan tidak semangat.”

“Perusahaanya ada masalah?” Tanya Byulhyun.

“Kalau ada, dia pasti tidak di Seoul sekarang. Dia pasti akan ke Jeju.” Jawab Nichan yakin..

“Siwon?” Yesung bertanya asal.

Kyuhyun menggeleng dengan gaya intelek. “Kurasa tidak. Hubungannya dengan Siwon baik. Aku sering mendengar mereka telepon. Dan Siwon juga pernah cerita bila Minso sering mengunjungi lokasi syutingnya dan membawakannya bekal.” Jawab Kyuhyun.

“Mungkin dia sedang bimbang.” Celetuk Yesung tiba-tiba.

“Maksudmu?”

Drtt… drtt…

Ponsel milik Yesung bergetar. Dia merogoh kantong celananya lalu mengangkat telepon itu. Ternyata manager yang megurus sub-grup KRY, manager Bin.

“Yoboseo, Hyung!”

“Yoboseo, Yesung-ah. KRY diundang untuk acara Star King untuk minggu depan. Bisa kau datang sekarang ke kantor untuk tanda tangan kontrak dan mengambil skrip yang harus kau pelajari?”

“Ne, Hyung.”

“Dan untuk sekmen teukigayo, kalian bebas mau menampilkan lagu apa saja.”

“Ne.”

“Sudah. Kau cepat ke sini saja. Aku akan menjelaskan semuanya di kantor. Ajak Kyuhyun juga. Aku harus memberi tahunya tentang penampilannya untuk SM Orchestra. Sementara, Ryeowook sudah tiba disini.”

“Arraseo.”

Sambungan terputus. Yesung memasukan ponselnya kembali ke dalam kantong. “Ah, Kyuhyun-ah, manager Bin menyuruh kita untuk kekantor.”

“Untuk apa?”

“Kita diundang ke Star King minggu depan. Jadi dia mau memberikan kita skrip dan menjelaskan apa-apa yang harus kita lakukan. Dan juga menjelaskan untuk penampilanmu nanti di SM Orchestra.”

Kyuhyun berdecak kesal. “Arra.”

“SM Orchestra?” Tanya Nichan penasaran.

Yesung mengangguk. “Artis naungan SM akan menampilkan special performance dalam bentuk orchestra. Yah, walau tidak semua. Tapi akan ada perwakilan dari setiap grup. Bahkan EXO juga ikut serta dalam acara ini.”

“Apa kau juga ikut?” Nichan antusias dan sangat berharap bila Yesung akan ikut dalam pertunjukan itu.

Yesung menggeleng. “Hanya Sungmin, Ryeowook, Kyuhyun, dan tiga serangkai itu.”

Nichan berdecak kecewa. “Padahal aku ingin melihatmu.”

“Memang kau akan menampilkan apa?” Tanya Byulhyun pada Kyuhyun dengan nada meremehkan. “Cish… pria sepertimu bisa apa?” tambahnya dengan nada super mengejek.

“YA!! Jangan remehkan kekasihmu ini. Kau akan tercengang nanti. Rencananya, aku akan memainkan harmonika.” Ucapnya bangga.

“Aku kasihan dengan harmonikanya. Harus dimainkan oleh pria jelmaan iblis sepertimu. Sungguh tragis!!” Timpal Byulhyun.

“YA!!” Bentak Kyuhyun tidak terima.

“Kalian ini berisik sekali. Ini rumah sakit.” Tegur Yesung. “Kkoma-ya, aku pergi ke kantor. Kalau sudah selesai, aku akan ke sini lagi.” Pamitnya pada Nichan.

“Tidak perlu. Kau pulang saja karena kau pasti lelah. Istirahatlah di dorm. Besok pagi baru ke sini.” Ujar Nichan. Tapi Nichan tahu, bila Yesung pasti akan tetap kembali kesini malam ini. “Jika kau kembali ke sini malam ini, aku tidak akan membiarkanmu masuk kesini.”

“Arraseo.” Yesung mencium kening Nichan lalu mengelus pipi Nichan lembut. “Aku pergi. Kajja, Kyuhyun-ah!”

“Byulhyun-ah, bagaimana denganmu?” Tanya Kyuhyun.

“Aku akan menjaga Nichan disini. Kalian pergilah ke kantor!”

“Arra.” Kyuhyun mengelus puncak kepala Byulhyun. “Aku pergi.”

-=.=-

“Nichan-ah, kau yakin pulang hari ini?” Tanya Byulhyun sedikit sangsi melihat Nichan yang sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian santai tapi tetap terlihat formal seperti biasanya.

Nichan mengangguk yakin. “Dr. Cho bilang keadaanku sudah pulih dan aku boleh pulang. Lagi pula aku ingin pulang. Aku benci rumah sakit. Kau tahu itu, kan?”

“Kkoma!! Na weosso!” Seru Yesung setelah masuk ke dalam kamar Nichan diikuti Sungmin dan Kyuhyun yang menyusul dibelakangnya. “Eh? Kau sudah ganti baju? Kau pulang hari ini?”

Nichan mengangguk. “Aku muak dengan rumah sakit.”

“Tapi apa kau benar-benar sudah sembuh?”

“Sudah, Oppa! Tenang saja! Aku tahu kekuatan diriku sendiri.”

“Kau pernah bilang, kalau kau juga belum terlalu mengenal dirimu sendiri.” Ujarnya dingin.

Nichan hanya terkekeh. Walau Yesung akan meceramahinya seharian, dia tetap tidak akan mengubah keputusannya.

“Sajangnim, aku sudah mengurus administrasinya.” Ujar Sekertaris Kim yang baru masuk. Selain bekerja sebagai sekertais dia juga bekerja sekaligus asisten pribadi Nichan.

“Gomawo, Eonnie.”

“Ne. Apa anda memerlukan hal lain?”

“Untuk saat ini tidak.”

Sekertaris Kim terdiam melihat sosok Yesung, Sungmin, dan Kyuhyun di ruangan itu. Dia langsung membukukan badannya dan menyapa mereka dengan formal. “Anyeonghasimnika.”

“Sajangnim, ini laporan perkembangan yang kau minta minggu ini.”

Sungmin tertegun mendengar suara itu. Dia menoleh mencari sumber suara itu. Dan ternyata benar. Gadis itu. Gadis yang diam-diam berhasil mencuri perhatiannya. Gadis yang diam-diam berhasil membuat Lee Sungmin berani untuk menitipkan hatinya padanya. Ya. Gadis itu, Lee Yonghee.

Tapi sayangnya, Sungmin tidak bisa memiliki dia. Dia sudah ada yang punya. Yang Yoseob, juniornya di Beast adalah kekasih dari Yonghee. Untuk itulah, Sungmin tidak memberankikan diri untuk mendekati dirinya. Dia hanya bisa mengagumi Yonghee dari jauh. Dan ternyata lagu ‘Midnight Fantasy’ dari grupnya itu seperti mengejeknya. Karena Sungmin benar-benar merasakan lagu itu benar-benar terjadi di dalam kehidupannya saat ini.

“Kkoma-ya, kau itu baru sembuh tapi sudah memikirkan pekerjaanmu!” Yesung menggelengkan kepalanya dengan iba.

Suara Yesung menyadarkan Sungmin dari lamunanya. Dia harus sadar dalam kenyataan dan membuatnya hanya bisa mencuri pandang kearah Yonghee. Dan saat mata mereka bertemu, Sungmin hanya tersenyum kikuk dan canggung.

“Biar saja. Memang kau tidak?!” Balas Nichan sengit sambil melihat laporan yang diserahkan Yonghee tadi.

“Aish! Jangan diteruskan! Tidak akan selesai!” Pangkas Byulhyun sedikit kesal. “Sekarang kita antar Nichan pulang saja.”

“Aku akan naik mobilku saja. Sekertaris Kim, kau ikut aku! Aku harus membicarakan beberapa hal.” Ujar Nichan.

“Ne, sajangnim. Han Gisangnim sudah menunggu di luar.”

“Byulhyun-ah, kau ikut aku! Minnie juga.” Ujar Kyuhyun sambil menarik tangan Byulhun.

“Lalu Nona Lee?” tanya Sungmin

Nichan mengernyitkan dahinya mendengar penuturan Sungmin. “Kau mengenalnya?”

“Kami pernah bertemu saat acara Cube waktu itu.”

“Kau menonton juga, Eonnnie?” Tanyanya pada Yonghee. Sementara Yonghee hanya tersenyum malu lalu mengangguk. “Chankaman. Namamu Lee Yonghee? Apa kau itu Lee Yonghee kekasih dari Yoseob?”

Yonghee hanya mengangguk dan tersipu malu.

Nichan bertepuk tangan gembira. “Berarti, kau adalah adik Lee Joon?”

Yonghee tersentak. Ekpresi wajahnya berubah menjadi mendung. “Ne. Aku adik angkatnya.”

Tidak hanya Nichan, semua orang terkejut mendengar perkataan dari Yonghee bila dia hanya adik angkat dari Lee Joon.

“Adik angkat?”

“Aku yatim piatu. Jadi, mereka mengangkatku menjadi puteri mereka. Tidak secara resmi. Mungkin yang lebih tepat, Joon Oppa menganggapku sebagai adiknya. Hanya Joon Oppa.”

Nichan tersenyum miris mendengar pengakuan dari Yonghee. Tidak sengaja dia melihat Sungmin. Sungmin terlihat kasihan padanya. Tapi ada sebuah pandanga tersirat dari pancaran mata Sungmin untuk Yonghee. Nichan tersenyum mengerti. “Yonghee Eonnie ikut mobil Kyuhyun saja.”

-=.=-

“Kkoma, aku tidak bisa mengantarmu masuk. Aku harus latihan.” Ujar Yesung sambil memegang kedua pipi Nichan dengan kedua telapat tangannya.

Nichan mengangguk. “Arra. Pergilah. Jangan terlalu memaksakan diri!” pesan Nichan.

“Langsung masuk kamar dan istirahat!” Yesung menekan pipi Nichan hingga membuat mulut Nichan menjadi manyun.

“Arra.” Jawab Nichan dengan suara yang aneh karena efek mulutnya.

“Ingat langsung masuk kamar!” Yesung mengangguk puas lalu mengecup bibir Nichan yang masih dalam posisi manyun. “Aku pergi. Jaga kesehatanmu!”

“Neodo, Oppa!”

Yesung segera berjalan dan masuk ke dalam mobil Kyuhyun yang langsung melaju meninggalkan kawasan Seongnam.

“Eonnie, kau pergilah ke kantor. Lakukan seperti apa yang aku katakan di dalam mobil. Yonghee Eonnie, tanyakan tugasmu padanya. Dia sudah kuberitahu semua yang harus kau lakukan.”

“Algeshimnida, Sajangnim.”

Setelahnya, Nichan berjalan masuk ke dalam rumah bersama Byulhyun.

“Kau suka mengatur hal-hal seperti itu? Kau tidak lelah?” Tanya Byulhyun jengah.

“Tidak. Sama sekali tidak melelahkan. Rasanya menyenangkan.” Jawab Nichan seadaanya. Mengurus bisnis mungkin sudah menjadi bagian dari dirinya.

“Bagiku itu memuakkan.”

“Kau lebih suka berpikir tentang science dan seni. Kerja otakku hanya sesuai untuk hal semacam ini.”

“Terserah katamu sajalah.” Ujar Byulhyun malas sambil membuka pintu rumah Nichan.

“Memang terserah kepadaku, kan?”

“Aish… Kau ini. Sudahlah! Aku akan ke dapur. Kau naik saja sendiri.”

Nichan berjalan naik keatas sambil memegangi perutnya yang sedikit terasa nyeri bila digunakan untuk menaiki tangga. Dan saat kakinya menginjak dilantai dua, dia tersenyum lega karena tidak harus menahan nyeri lagi.

Dia segera berjalan ke arah kiri dia meraih ganggang pintu kamarnya. Dia membuka sedikit dan kamarnya gelap. Dia masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya. Dia merasa ada yang berbeda dengan kamarnya. Tangannya meraba-raba dinding mencari saklar lampu. Setelah menemukannya, dia langusng menyalakannya.

Dan saat terang, dia benar benar dibuat terpaku oleh keadaan kamarnya. Diatap kamarnya banyak terdapat balon warna warni. Dilantai kamarnya ada sebuah jalan yang disusun dari lilin yang menyala ditepinya. Diatas kasurnya ditaburi kelopak bunga mawar berwarna merah dan putih. Ditengahnya ada sebatang bunga lili putih yang masih segar. Nichan segera meraih bunga itu dan menghirupnya. Dibawahnya bunga itu ada sebuah papan. Nichan duduk diatas kasurnya dan meraih papan itu. Dia tersenyum melihatnya. Pesan pesan kecil yang ditulis langsung dari Yesung. Dan ada beberapa foto mereka berdua.

Nichan mengamati kembali kamarnya. Dia tersenyum puas mendapati hadiah kecil dari kekasihnya itu. Dan rasanya, rasa sakit dan nyeri dari perutnya itu lenyap begitu saja. Dia segera keluar dari kamarnya berniat memanggil Byulhyun dan menunjukan hadiah Yesung untuknya.

“Byulhyun-ah!” Nichan mendapati Byulhyun berdiri dihadapannya saat kakinya berhasil menapaki lantai satu setelah melewati anak tangga terbawah, matanya menangkap sosok yang berlari kearahnya sambil menangis.

“EONNIE!!” Minra memanggilnya setengah berteriak dengan suara bergetar lalu memeluknya. Dia terisak dalam pelukan Nichan.

“Waeyo? Kau kenapa menangis?” Tanyanya khawatir. Walau Minra bukan berasal dari rahim yang sama dengannya, dia tetap sayang kepada adiknya itu.

“Minho…” dia masih terisak. “Aku putus dengannya. Dia mencapakanku.”

“MWO?” serunya. Byulhyun juga menatap Minra tidak percaya.

“Setiap aku bersama dia, aku selalu tidak dianggap. Dia menganggapku patung yang selalu mengikutinya.” Jelasnya sambil terisak. “Karenanya, aku akan ikut dengan Eomma. Aku akan belajar di GE lalu ikut mengurus bisnis bersama Eomma.”

“Jadi kau akan pindah?”

Minra mengangguk. “Aku sudah memberi tahu Eomma tentang hal ini kemarin. Dan seharusnya, Eomma sampai di sini dua jam lagi.”

“Tidak perlu menunggu dua jam. Kami sudah sampai.”

Nichan menoleh. Mendapati kedua orang tuanya sedang berjalan memasuki ruang santai. “Eomma? Appa?”

“Kami harus membicarakan sesuatu denganmu, Nichan-ah. Minra-ya, masuk kedalam kamar. Kau juga Byulhyun-ah.”

Minra dan Byulhyun mengangguk lalu segera naik ke lantai atas. Ahrim berjalan mendekati Nichan lalu mengelus kepala Nichan. “Eomma dengar, kemarin kau diculik dan penculik itu menusuk perutmu?”

Nichan mengangguk.

“Eomma sudah mengurus gadis itu. Dia tidak akan berani lagi melakukan hal semacam ini padamu.” Ujarnya lalu tersenyum. “Hanya masalah bisnis. Seperti hukum rimba, yang kuat, dialah yang bertahan. Itulah dunia yang kau tekuni. Kau mengerti?”

Sekali lagi Nichan hanya bisa mengangguk.

“Tapi, yang Eomma tidak habis pikir adalah alasan lain kenapa Yoonji menculikmu.”

Nichan tercengang. Firasatnya mengatakan hal yang buruk tentang itu.

“Hanya karena seorang pria? Hah… yang benar saja.” Ujarnya lalu duduk di sofa. Sementara Jaekyong, suaminya sudah duduk sedari tadi. “Putuskan hubunganmu dengannya bila hanya akan menyakitimu.”

Nichan membelalakkan matanya. Sudah dia duga, hal ini akan terjadi cepat atau lambat. Ini adalah hal yang ia takutkan. Tapi dia tidak akan membiarkan ini terjadi. “Ani. Aku tidak akan memutuskan hubunganku dengannya. Sampai kapanpun.”

“Tapi ini akan terus membahayakanmu. Tidak ada yang tahu kau berpacaran dengannya saja kau sudah ditusuk. Bagaimana bila semua orang tahu?”

“Aku akan mencari jalan keluarnya.”

“Don’t waste your time, dear! Eomma sudah mencarikan jalan keluar yang lebih baik dari apapun.”

“Mwo? Apa maksudmu, Eomma?”

“Putus dengan pria itu lalu jalin hubungan dengan pria yang Eomma pilihkan untukmu. And I sure, you will be happy.”

“Tahu apa Eomma tentang kebahagianku? Makanan faforitku saja kau tidak pernah tahu. Bagaimana kau bisa mencarikan pria yang akan membuatku bahagia?”

“I don’t care with every single word that you said. We’ve decided it.”

“MOM!” Seru Nichan. Airmatanya sudah tergenang siap untuk ditumpahkan. “Tak pedulikah kau dengan perasaanku?”

“We cares about you.”

“Peduli? Apa yang Eomma maksudkan dengan peduli adalah mencampakanku? Kau mengangkat Minra menjadi anakmu. Kau lebih perhatian padanya. Appa juga lebih sayang pada Jungchan Oppa. Kalian bahkan tidak pernah mendengar dengan serius akan permintaanku atau keluhanku. Kalau Minra dan Jungchan Oppa yang menginginkannya, tidak butuh waktu lama, kalian akan mengiyakannya.”

“Nichan-ah, walau kau terus mengoceh untuk membujuk kami, itu tidak akan berhasil. Kau sudah menikah dengan pria yang kami pilihkan itu.” Ujar Jaekyong dingin tanpa sedikitpun menatap Nichan.

“MWO?”

“Kami sudah mendaftarkan pernikahanmu di kantor catatan sipil.”

“Jadi, akhiri hubungan kalian! Kau sudah menikah dengan Yongjun!” Ujar Ahrim tajam dan sedikit membentak.

“Tidak mungkin. Kalian tidak memiliki bukti untuk membenarkan perkataan kalian.” Ujar Nichan frustasi dengan apa yang ia hadapi.

“Bukti? Jadi kau mau bukti? Ini… surat ini adalah bukti pernikahanmu dengan Yongjun.” Kata Ahrim lalu menunjukan selembar kertas dan menyerahkannya pada Nichan.

Nichan meraih kertas itu. Dia tercekat lalu menggelengkan kepalanya karena tidak percaya dengan isi kertas itu. Air matanya tumpah begitu saja. “Ini tidak mungkin. Dihadapan tuhan, aku belum menikah dengan siapapun! Surat ini palsu. Kalian memanipulasinya.”

“Terserah. Tapi surat itu resmi. Dan kau tidak akan bisa mendaftarkan pernikahanmu dengan pria lain lagi! Jadi segera akhiri hubungan kalian!”

“Aku tidak mau! Aku tidak mencintai Yongjun. Aku bahkan tidak mengenali siapa itu Yongjun. Dan aku sama sekali belum menikah dengannya. Kalau Yongjun sudah menikah, orang yang ia nikahi itu bukan aku!” Nichan membantak karena sudah dikuasai oleh emosi.

“Masih ada waktu untuk berkenalan. I’ll call him for you.” Ujar Ahrim santai. “Yongjun-ah!! Ileowayo!!” Panggil Ahrim.

“EOMMA!! Aku tidak mau. Aku tidak mengenalnya apa lagi mencintainya. Aku hanya mau dengan Yesung, karena dia yang aku cintai.” Jelasnya dengan bersimbah air mata yang terus menganak sungai.

“Shut your mouth up! Yongjun sudah datang. Tengok kebelakang! Sambut dia dengan baik!”

“Eomma!!” Nichan masih berusaha membujuk Ahrim.

“Nichan-ah, oraenmaniyeyo!”

Nichan membeku. Suara itu. Sekelebat bayangan mendatangi pikirannya. Nichan menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba menjernihkan pikirannya. “Tidak mungkin.”

“Nichan-ah.” Panggilnya lagi.

Nichan masih membeku. Dia tidak menoleh kebelakang. Pikirannya masih sibuk melalang buana. Mencoba mencari celah untuk menyangkalnya. Walau sedikit.

“Nichan-ah.” Panggilnya untuk yang kesekian kalinya lalu menarik lengan Nichan, memaksa gadis itu untuk menatap wajahnya.

Nichan tercekat. Dia sangat kebingungan. Saat ini, dia tidak bisa membedakan realita dan memorinya. Ini menyakitkan. “Jungie Oppa?!”

Pria itu tersenyum. Tersenyum manis sebetulnya. Tapi entah kenapa, di mata Nichan, senyuman itu lebih terlihat sebagai seringaian mengerikan yang akan membawanya menuju derita. “Ya. Kau benar. Ini aku. Tapi aku bukan Park Jungchan yang kau kenal. Aku adalah Choi Yongjun.”

“Mwo? Choi Yongjun? Tapi bukankah kau…”

“Ya. Ini aku. Pria yang dulu selalu kau panggil dengan ‘Jungie Oppa’. Pria yang kau anggap sebagai kakakmu.”

“Tapi Jungchan Oppa sudah meninggal dua tahun lalu.” Sanggah Nichan.

“Keuroji. Jungchan memang sudah meninggal di paris tahun 2009 karena kecelakan. Tapi aku bukan Jungchan. Aku adalah Yongjun. Menghilangkan sosok Jungchan sama mudahnya dengan menghadirkan Jungchan.”

“Aku tidak mengerti. Apa yang terjadi? Eomma?”

“Duduklah. Akan kujelaskan.” Suara tegas dari mulut Jaekyong terdengar. Nichan berjalan duduk disofa diikuti Yongjun yang duduk disebelahnya.

“Jungchan itu bukan kakak kandungmu. Dulu dokter memvonis eomma tidak akan bisa punya anak. Jadi kami mengangkat bayi laki-laki. Dan kami menemukan Yongjun. Dia adalah anak dari sahabat Eomma yang meninggal dalam kecelakaan pesawat. Jadi, kami mengangkatnya dan merubah identitasnya yang saat itu baru berumur enam bulan.” Ahrim beralih menjelaskan. Nichan hanya diam dan masih bisa menerima penjelasan dari ibunya itu.

“Tapi eomma masih berusaha untuk punya anak. Dan saat Yongjun berumur dua tahun, eomma melahirkanmu.” Ujarnya lalu terhenti untuk menghela nafas. “Saat itu, eomma dan appa sudah memutuskan akan menikahkan kalian berdua. Kalian tidak punya hubungan darah, jadi itu tidak masalah.”

“Dan dengan begitu, Appa akan tenang. Karena Appa percaya Yongjun bisa menjagamu dan menjaga perusahaan. Appa bisa memercayakan perusahaan Appa padanya. Jadi perusahaan tidak akan jatuh ditangan orang yang salah.”

Nichan terdiam. Dadanya sesak. Inikah alasan yang sebenarnya? Ini bukan masalah kebahagiaan dan masa depannya. Ini lebih menjurus untuk menyelamatkan perusahaan mereka. Sebegitu tidak berharganyakah dirinya? Setidak peduli itukah orang tuanya terhadap dia? Nichan merasa dirinya tidak dianggap. Dia merasa dia bukanlah anak mereka melainkan alat untuk memertahankan perusahaan.

“Lalu bagaimana dengan masalah perjodohan dengan Minso waktu itu?” tanya Nichan tiba-tiba. Tanpa ada yang sadar, rahang Yongjun mengeras. Tatapan matanya menajam dan badannya menjadi tegang.

“Hanya scenario untuk menyempurnakan drama ini.”

“Kecelakaan itu… asli atau rekayasa?”

“Memang terjadi kecelakaan. Tapi tidak terlalu parah.”

“Untuk itukah, kalian tidak memberitahukan makam Jungchan Oppa?”

“Kurang lebih seperti itu.” Ahrim menjawab sambil mengangguk kepalanya. “Jadi kau menikah dengan Yongjun, kan? Bukankah kau sayang padanya?”

Nichan menghela nafas. Dia menundukan kepalanya dalam-dalam. Dan dengan mantap, dia berdiri kemudian tersenyum. “Tidak akan. Sampai kapanpun aku hanya akan menikah dengan Yesung Oppa. Lagipula, aku menyayangi Jungchan. Bukan Yongjun.” Ujarnya lalu berjalan masuk kedalam kamarnya.

“Park Nichan! Kau tidak bisa menolak rencana ini.” Ucap Ahrim setelah Nichan melangkah beberapa langkah.

Nichan berhenti lalu berbalik menghadap ibunya. Dia menatap Ahrim dengan tegas dan yakin lalu tersenyum. “Nothing’s impossible in this world, Mom. Dan kalau aku bilang ‘tidak’. Sampai kapanpun tetap menjadi ‘tidak’. Tidak akan berubah menjadi ‘ya’. Got it, Mom?” ujarnya yakin lalu berjalan pergi meninggalkan ruang santai.

“Park Nichan!!” Panggil Ahrim. Tapi Nichan tetap tidak berhenti. “Kenapa dia bisa sangat keras kepala seperti itu?”

“Yah, aku bisa melihatmu dalam dirinya.” Sindir Jaekyong. “Keras kepala. Keyakinan dan rasa percaya diri yang tinggi. You’re exactly the same with her.”

Yongjun tersenyum mendengar pertikaian kecil antara Ahrim dan Jaekyong. Dia mengedarkan pandangannya menyapu ruangan. Sudah lama dia tidak datang ke rumah ini, dan dia merindukannya.

Tidak sengaja dia melihat sosok yang berdiri dibalik pintu dapur. Dan gadis itu terlihat begitu rapuh pada sosoknya yang berdiri bersandar pada pintu dapur berwarna krem itu. Dan entah kenapa Yongjun bisa merasakan apa yang gadis itu rasakan. Sedih, sesak, perih, marah, juga kecewa. Semua perasaan tak mengenakan itu bercampur aduk dalam hatinya.

Di pipi gadis yang Yongjun liat, terpantul kilauan dari cahaya lampu. Air matakah? Apakah gadis itu menangis? Menangis sambil tepat menatapnya? Yongjun mengalihkan pandangannya darinya. Dia menolak menatap wajah sendu dari gadis yang pernah mengisi hari-harinya dulu. Atau mungkin masih hingga sekarang.

-cut-

Advertisements