Tags

LOVE IS ALWAYS COMPLICATED POSTER

Title                            :Love Is Always Complicated

Author                       : @dcnirwana

Genre                         : romance

Rate                           : General

Lenght                      : Continue

Cast                            :

  • Yesung
  • Cho Kyuhyun
  • Choi Siwon
  • Park Nichan
  • Kim Byulhyun
  • Shin Minso

Disclaimer                  : I OWN THE PLOT

 EPISODE 5

– – LAX Airport – –

“Kau jaga diri selama aku tidak ada.” Pesan Kimmie pada Byulhyun.

Byulhyun hanya diam dan hanya memandang sekelilingnya. Mengamati sibuknya orang yang berlalu lalang disekitarnya mengejar jadwal penerbangan. Kimmie mendesah karena Byulhyun tidak memerhatikanya. “Keurom, aku pergi. Jal ga!” Kimmie langsung membalikan badannya dan berjalan memasuki gerbang penerbangan.

Byulhyun tersenyum senang melihat punggung Kimmie yang mulai tertelan akan padatnya calon penumpang. Dia segera berjalan keluar ke daerah parkiran.

Disana sudah ada Celline yang menunggunya. Dan sebuah koper kecil berisi barang-barang Byulhyun. “Apa dia sudah berangkat?” Tanya Celline.

Byulhyun mengangguk senang. “Ne.”

“Chukahae. Ayo cepat! Kau harus check in pesawat dulu.” Celline meningatkan.

Kemudian Byulhyun mengurus check in sekaligus pemeriksaan passport dan visa. Setelahnya hanya menunggu pesawatnya tiba dan akan segera membawanya kembali ke Korea.

-=.=-

– – Seoul National Hospital – –

Tit… Tit… Tit…

Mesin elektrokardiograf berdetak seirama dengan detak jantung pasien. Dan dilayarnya terpampang garis penunjuk detak jantung dan angka penjelas. Dan alat terhubung dengan salah satu jari pasien. Selang infus terpasang disalah satu tangan putihnya. Sebuah perban membalut perutnya yang terkena bekas tusukan.

Di samping ranjang duduk orang yang sangat ia cintai. Mengenggam tangannya. Menumpahkan air matanya tanpa isakan. Menangis di dalam hatinya. Meneriakan namanya dan menyuruhnya untuk terbangun. Menyalahkan dirinya sendiri karena dialah kekasihnya kini terbaring di depannya, memejamkan mata, berjuang sendiri memertahankan hidup.

“Mianhae.” Ujarnya mulai terisak. “Karena ingin melindungiku, kau jadi seperti ini. Mianhaeyo. Jebal ireonayo… jebal…” Pintanya dan air matanya kembali jatuh membasahi pipinya.

Sungmin mendekati sosok itu yang sedari tadi tidak bergeming dari posisinya. “Hyung!”  Sungmin menepuk pundak Yesung berusaha membuat hyungnya menjadi lebih tenang. Tapi Yesung masih saja menangis. Sambil menenggelamkan kepalanya di atas kasur. Sementara member lain hanya duduk di sofa. Ikut merasa bersalah.

“Yesung-ah, kau harus makan. Setelah mendonorkan darah untuk Nichan, kau harus makan. Kalau tidak kondisimu akan memburuk.” Ujar Leeteuk. Tapi Yesung hanya menggeleng lemah.

“YA!! Kalau kau sakit, Nichan pasti sedih!! Neo jinja babo!” Hardik Heechul. “Sekarang makan! Atau kau tidak kuijinkan menjenguk Nichan!” ujar Heechul kesal. Sejujurnya dia mengkhawatirkan kondisi Yesung. Tapi hanya dengan cara itu agar Yesung mau memasukan suplai tenaganya berupa makanan itu kedalam tubuhnya.

Mau tidak mau Yesung bangkit dan makan. Walau dimulutnya makanan itu terasa hambar. Tapi karena ancaman dari Heechul, akhirnya Yesung menghabiskan makanannya.

Tepat setelah Yesung menghabiskan makanannya, Nichan mulai membuka matanya. Yesung segera mendekati Nichan dan menggenggam tangannya. Sementara Sungmin keluar untuk memanggil dokter.

“Gwaenchana?”

Pandangan mata Nichan masih belum bisa fokus. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali agar matanya bisa melihat dengan jelas.

“Gwaenchana?” Yesung mengulang pertanyaannya.

“Yesung Oppa?!” Tanya Nichan dengan suara tercekat.

“Ne. Aku disini.” Balas Yesung sambil tersenyum.

Nichan menatap Yesung dengan teliti. “Oppa gwaenchana?” Nichan bertanya balik.

Air mata Yesung menetes. “Babo!” Hardiknya. “Harusnya biar aku yang terluka! Jangan korbankan dirimu untuk menyelamatkanku! Neo jinja babo yeoja!”

Kemudian Sungmin masuk sambil membawa dr Cho. “Nona Park, anda sudah sadar?” Tanyanya basa-basi.

Yesung dan member yang mengerubunginya langsung memberi jalan agar dr Cho bisa memeriksa keadaan Nichan.

“Keadaannya baik. Tidak ada masalah apapun. Kurasa besok dia sudah boleh pulang.” Ujar dr Cho setelah memeriksa keadaan Nichan.

Yesung menghela nafas lega. “Gamsahamnida, dokter.”

“Setelah pulang, aku akan menyuruh dr Yoon, isteriku untuk mengontrolmu setiap hari. Gwaenchana?” Tanya dr Cho pada Nichan. Nichan hanya mengangguk. Setelahnya dr Cho langsung keluar.

“Chan-ah, bagaimana lukamu?” Tanya Sungmin selepas dr Cho pergi.

Nichan memegang perutnya. “Sudah tidak sakit.”

“Nichan-ah, aku tadi menyuruh dokter untuk melakukan operasi pelastik agar bekas lukanmu hilang. Kuharap hasilnya bagus.” Ujar Heechul.

“Arra!” jawab Nichan malas. “Jadi kalian yang sudah menyelamatkanku?” tanya Nichan sambil memandangi semua member yang ada. Dan dia terkejut melihat Kangin yang baru pertama kali bertemu secara langsung. “Kangin Oppa do weosso?”

Kangin tersenyum. “Ne. Senang bertemu denganmu, Nichan.”

“Nado, Oppa!” Balas Nichan senang.

“Hey, Nichan-ah, kau berhutang padaku. Aku yang melepas ikatan talimu itu.” Ujar Kyuhyun.

Nichan mendengus. “Arra. Memang kau mau apa?”

“Apa saja yang penting aku suka.” Balas Kyuhyun asal.

“Kalau kaset game dan seperangkat game, kau sudah punya banyak. Lalu apa?” Nichan terlihat berpikir. “Bagaimana bila Byulhyun aku bawa pulang?”

Wajah Kyuhyun sontak bersemu merah. Dia langsung menundukan wajahnya dengan linglung. Sementara member lain langsung menyorakinya.

“Ya! Kyuhyun-ah, sebenarnya, hubungan apa yang kau jalin antara kau dan ‘yeoja primitive’ itu?” Tanya Heechul sambil menirukan nada bicara Kyuhyun saat mengatakan ‘yeoja primitive’.

Kyuhyun menatap setiap member dengan bengis dan dengan tatapan iblisnya. Tapi dia tidak menjawab pertanyaan Heechul. Dia terlalu malu untuk mengakuinya. Karena selanjutnya, para member akan membujuknya untuk menceritakan bagaimana Kyuhyun menyatakan cintanya.

“Sudah, ini rumah sakit. Jangan berisik!” Yesung menengahi.

“Gwaenchana. Ini semacam hiburan untukku, Oppa!” Timpal Nichan yang masih tertawa bersama sepupunya itu.

Ditengah canda mereka, ponsel Leeteuk berdering karena alarm yang sudah diset oleh Leeteuk. “Ah, Nichan-ah, maaf aku tidak bisa lama. Aku harus recording untuk We Got Married.”

“Baiklah. Kalian pasangan serasi, Oppa! Kapan kalian akan go public?”

“Rencananya setelah WGM selesai, aku akan megumumkannya.”

“Bukankah, akan ada rumor bila kalian itu cinta lokasi?” Tanya Nichan khawatir.

“Terserah mereka mau bilang apa. Yang penting aku mencintai Minah. Mau mereka bilang cinta lokasi atau apapun, aku tidak peduli.” Leeteuk menjelaskan.

“Arra. Oppa Fighting!”

“Ne Gomawo. Ayo, kita pulang!”

“Yang recording kan kau, Hyung. Bukan kami. Kenapa kau mengajak kami pulang?” Tanya Donghae tidak setuju

“Tapi kita berangkat dengan mobil Kyuhyun. Lalu bagaimana caranya aku ke set lokasi?”

“Itu masalahmu, Hyung!” Cibir Kyuhyun ketus.

“Pakai taksi!” Sungmin memberi saran.

“Kau pikir dari sini ke set biayanya murah, huh?”

“Kau pelit, sih, Hyung!” Cibir Eunhyuk.

Leeteuk menjitak kepala Eunhyuk. “Memang kau tidak? Ini namanya pengiritan.”

“Mana ada orang yang mengirit dengan mengangsur rumah 240 kali?”

“Aish! Ayo kalau pulang ya pulang! Biar Nichan istirahat.” Perintah Leeteuk.

“Aku sudah tidur tadi, Oppa!”

Leeteuk menatap Nichan memohon. “Kumohon bantu Oppamu ini, Nichan-ah! Suruh mereka pulang bersamaku!”

“Kau memang pelit, Oppa. Padahal kau itu Leader.”

“Eiy, itu prinsip hidup.” Ujar Leeteuk mengelak.

“Cish… Kau tidak pantas menyandang best group’s leader. Tapi kenapa kau bisa terpilih tiga tahun berturut-turut, ya?” bukannya membantu, Nichan malah ikut menggoda Leeteuk.

“Ah, kau ini sama saja.”

“Sudah. Jangan ganggu Leeteuk Hyung lagi! Cepat sana pulang! Istirahat! Besok jadwal kalian padat! Kalian sendiri tidak mau dikerjai seperti itu, kan?” Ujar Yesung.

Semua langsung diam. Entah kenapa tidak ada yang mau membantah perkataan Yesung ini. termasuk Kyuhyun dan Heechul yang biasanya menjadi pembangkang.

“Ah, Nichan-ah, keurom aku pamit.” Eunhyuk berpamitan.

“Ah keurom aku juga harus pulang. Kita semua kesini dengan mobil Kyuhyun.” Ujar Donghae denga kecewa.

“Gwaenchana, oppadeul! Fighting!” Nichan menyemangati.

Kemudian mereka semua pulang. Menyisahkan Yesung dan Nichan di dalam.

“Mianhae.” Ujar Yesung penuh penyesalan. “Karena ingin melindungiku, kau jadi seperti ini.” Sesalnya.

“Gwaenchana, Oppa!” Nichan meraih tangan Yesung dan menyuruhnya untuk duduk. Dia mengusap pipi Yesung. “Hitung-hitung untuk membalasmu karena menyelamatkanku dari penculikan itu.”

“Tapi tidak seperti itu juga caranya. Lain kali kau tidak boleh seperti itu. Jangan korbankan dirimu untuk menyelamatkanku.” Pinta Yesung. Nichan tersenyum lalu mengangguk yang menyisahkan senyum lega di wajah Yesung.

-=.=-

“Kau sudah memutuskan, Minso-ya? Siapa yang kau bela? Dia atau aku?” Tanyanya sambil tersenyum yang bisa membuat hati Minso menghangat ditengah dinginnya hujan salju.

“Yongjun Oppa?!” Hanya itu yang bisa Minso katakan. Pria yang Minso panggil dengan kata Yonjun beralih duduk disampingnya.

“Mm? Jadi kau pilih siapa?” Tanyanya lagi dengan penuh harap.

“Mollayo!” Jawab Minso dengan kalut lalu menundukan wajahnya.

Yonjun memegang kedua pipi Minso. Memaksa Minso menatapnya. “So-ya! Lihat aku! Apa kau tidak bisa membantuku?” Tanya penuh harap.

Ponsel Minso berdering. Minso langsung melihat ponsel yang ada dalam genggamannya.

= = = Prince Choi = = =

“Yoboseo!”

“…” tidak terdengar balasan diseberang. Minso semakin panik dan cemas.

“Yoboseo?! Oppa?! Gwaenchanayo?!”

“Yoboseo, Min-ah!” Jawab Siwon pada akhirnya.

Minso menghela nafasnya lega. “Oppa?! Bagaimana?” tanyanya cemas.

“Gwaenchana. Nichan sudah tidak disekap. Tapi dia kena tusukan dan dibawa ke Seoul Hospital.” Ujar Siwon.

Minso langsung membalikan badannya memandang gedung rumah sakit dihadapannya. “Dia dikamar berapa?”

“24.” Dan ucapan Siwon itu terdengar begitu lirih. Tapi Minso tidak bisa mendengar suara lirih yang sebenarnya mengandung rasa derita dan kecewa.

“Aku akan kesana.” Minso langsung memutuskan sambungan telepon meski Siwon masih sedang berbicara dengannya. Minso menatap Yongjun dengan air mata yang terbendung di kedua matanya.

“Gwaenchana?” Tanya Yongjun.

Alih-alih menjawab, Minso langsung memeluknya. Dan menangis terisak dalam dekapan Yongjun. Yonjun yang tidak mengerti hanya balas memeluk lalu mengusap punggung Minso mencoba membuatnya tenang. “Wae geurae?”

Minso melepaskan pelukannya. “Nichan diculik.” Jawabnya sambil terisak.

“MWO??” Yongjun tidak percaya dengan apa yang ia dengar. “Sekarang bagaimana?”

“Dia sudah selamat. Tapi dia terkena tusukan dan dibawa ke rumah sakit Seoul.”

“Lalu kau kenapa menangis?”

“Nichan diculik karena aku.”

“NE??! Apa maksudmu.”

“Tadi siang, ada seseorang yang menemuiku. Dan mencari info tentang Nichan. Aku ingin merahasiakannya. Tapi mereka mengancam akan merusak resort eomma. Aku tidak mungkin menghancurkan perusahaan yang eomma dirikan susah payah.” Jelasnya sambil menangis.

Yongjun kembali merengkuh Minso dalam dekapannya. Dia merasa bersalah sekaligus khawatir tentang keselamatan Minso. “Tapi kau tidak apa-apa, kan? Mereka tidak menyakitimu, bukan?” tanyanya dengan nada khawatir terdengar jelas dari suaranya. Yongjun merasakan Minso mengangguk kecil. Dia menghelas nafas lega.

“Oppa, aku akan masuk menjenguk Nichan.” Pamit Minso setelah melepas pelukannya.

“Arraseo!” Yongjun “Hati-hati.” Ujarnya sambil mengelus puncak kepala Minso.

Minso berdiri lalu segera menyebrang dan berjalan masuk ke dalam gedung rumah sakit Seoul itu. Sementara Yongjun, setelah memastikan Minso masuk dengan selamat, dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang. “Yoboseo, Eommonim.”

“…”

“Ada masalah. Dan kurasa ini adalah saatnya.”

-=.=-

Siwon’s POV

Aku keluar dari ruang inap Nichan. Aigoo… untung penculiknya tidak menyiksanya lebih parah. Kalau terjadi hal yang buruk dengan Nichan, entah apa yang akan dilakukan kedua hyungku yang berdarah AB itu.

“Apa ada yang tahu motif penculikan Nichan?” tanyaku penasaran.

“Molla. Kurasa dia adalah die hard Clouds. Tapi tadi dia menyebutkan saham. Dia juga mungkin saingan Nichan. Jadi kusimpulkan, bila dia adalah saingan perusahaan Nichan dan juga die hard Clouds.” Jawab Kyuhyun sambil memberikan hipotesisnya.

Aku mengangguk. Persaingan bisnis dan cinta memang tidak pernah mudah. Terkadang nyawa juga dipertaruhkan. Untung saja Minso adalah tipe setia. Tanpa sadar aku tersenyum.

Ah ya Minso. Dia menunggu kabarku. Segera kuraih ponsel yang ada di kantungku ini. Aku mencari kontaknya. Tapi aku langsung terhenti saat melihat pemandangan yang ada di seberang jalan. Seorang gadis dan pria yang duduk berhadapan di bangku taman.

Minso? Benarkah itu Minso? Aku tidak terlalu jelas melihatnya dengan jarak sejauh ini. Aku mencoba memertajam penglihatanku. Dan aku yakin bila dia adalah Minso. Tapi, bila dia benar adalah Minso, lalu siapa pria yang ada disampingnya? Pria yang sedang menyentuh kedua pipinya?

Aku langsung menekan layar sentuh ponsel itu dan menaruhnya di telingaku lalu kutunggu jawaban dari suara wanita yang kucintai itu. Dan kuharap gadis yang aku lihat di taman itu bukanlah dirinya.

Tapi apa? Gadis itu merogoh tasnya dan mengambil ponselnya. “Yoboseo!” Sapanya diseberang.

Aku menelan ludahku. Tiba-tiba tenggorokanku terasa kering dan tercekat. Aku memejamkan mataku. Mencoba membuat diriku sendiri tenang.

“Yoboseo?! Oppa?! Gwaenchanayo?!” Tanyanya lagi dengan nada khawatir.

“Yoboseo, Min-ah!” Jawabku pada akhirnya.

“Oppa?! Bagaimana?” dari suaranya terdengar jelas sekali bila dia sedang sangat khawatir.

“Gwaenchana. Nichan sudah tidak disekap. Tapi dia kena tusukan dan dibawa ke Seoul Hospital.” Jelasku.

Gadis itu membalik badannya. Dan kini dengan jelas aku bisa melihat bahwa dia adalah Minso. “Dia dikamar berapa?”

“24.” Jawabku singkat tapi lirih. Akusaja menyadarinya.

“Aku akan kesana.”

“Min-ah, ka…”  ucapanku terputus sama seperti sambungan teleponku. Aku menghela nafas berat kemudian masuk ke dalam mobil.

Tapi betapa sakitnya yang kini kurasakan melihat Minso memeluk pria itu. Dan kuakui Minso terlihat sangat nyaman berada dalam pelukan pria itu yang mencoba menenangkannya. Karena emosi, aku menutup pintu mobil dengan keras.

“YA!! Jangan banting pintu mobilku!!” Protes Kyuhyun yang duduk di jok belakang. “Kalau mau membanting, banting saja Eunhyuk Hyung!”

“Na waeyo?” Tanya Eunhyuk dengan nada pasrah.

“Sudah diam!” Sergahku. Aku melirik ke arah kamera DSRL yang ada di dashboard. Aku mengambilnya dan langsung membidikan kameraku. Aku mengambil beberapa potret Minso dan pria itu.

“Siwon-ah, apa hobi fotografimu tidak bisa ditunda, huh?” Sindir Leeteuk Hyung yang sedang menyetir mobil. Tapi aku tidak menghiraukannya.

Dan sejauh yang kulihat Minso meninggalkan pria itu dan masuk ke dalam rumah sakit. Dan pria itu terlihat menghubungi seseorang lewat telepon. Aku membidik wajahnya. Aku melihat lagi pria itu yang masih menelepon dan menghilang saat mobil ini berbelok di tikungan.

Aku melihat hasil bidikanku. Semakin aku memerhatikan wajahnya, aku merasa ada yang janggal. Aku menyenggol lengan Heechul Hyung yang duduk di sampingku. “Hyung, aku baru memotret dan coba perhatikan wajah ini. Apa kau merasa tidak asing?”

Heechul Hyung mengambil kameraku dan memerhatikan wajah pria itu. Ekspresi wajah perlahan berubah. Dia memandangku tidak percaya dan sedikit tidak yakin. “Igon…”

-=.=-

Leeteuk memarkirkan mobil Kyuhyun di basement. Mereka semua keluar. Tak lama terdengar dering lagu A Day dari Super Junior berasal dari ponsel milik Kyuhyun. Kyuhyun langsung merogoh saku celananya dan segera mengambil ponselnya. Dan setelah melihat siapa yang menelepon, dia langsung tersenyum.

“Yoboseo.”

“Kyuhyun-ah.”

“Wae?” Tanyanya lembut.

“Apa kau merindukanku?” Tanya Byulhyun setelah terdiam sejenak.

Kyuhyun mengernyitakan dahinya. “Menurutmu bagaimana?” tanyanya dengan nada jahil.

“Aku tidak tahu. Tapi… aku merindukanmu.” Akunya.

Kyuhyun terpaku mendengarnya. Dia berusaha menyembunyikan senyumnya. “Kalau begitu pulanglah. Kembali ke Korea.”

“Dulu aku sangat ingin berkencan di tepi sungai Han dekat Hangangdaegyo. Bisakah kau pergi ke Hangangdaegyo untukku?”

Kyuhyun berjengit. “Jigeum? Wae? Lagi pula kau tidak ada disana. Shireo.”

“Kalau kau tidak mau, ya sudah!” Ujarnya sedikit kesal. Lalu berdecak. “Berarti pengorbananku untuk datang, sia-sia.”

“Mwo? Kau ada disini?”

Tut… Tut…Tut…

“YA!! Yoboseo?! Kim Byulhyun!! Yoboseo?! Yoboseo?!” Kyuhyun mengetuk-ngetuk ponselnya karena kesal.

“Wae? Byulhyun memutuskan sambungan teleponnya?” Goda Leeteuk.

Kyuhyun hanya diam. Lalu dia segera menyambar kunci mobilnya dan segera melajukan mobilnya menuju Hangangdaegyo.

“Dasar magnae! Untung magnae, kalau tidak…”

“Kau mau apakan? Memang kau berani?” Sindir Heechul. Leeteuk hanya bisa tersenyum kecut dan berjalan masuk kedalm lift diikuti member yang lain.

-=.=-

“Cish… dimana gadis itu? Menyuruhku datang, tapi dia malah tidak ada disini.” Kyuhyun menggurutu di dalam mobilnya. Tapi tak lama, matanya menangkap sesosok yang ia rindukan. Kyuhyun segera memarkirkan mobilnya.

Dia berjalan mendekati Byulhyun dengan penyamaran minim. Untung tidak terlalu banyak orang yang berkunjung, jadi Kyuhyun menjadi sedikit tenang.

Kyuhyun memasukan kedua tangannya kedalam saku mantel hitamnya. Dia terpaku melihat tumpukan salju yang menutupi mantel Byulhyun. Menandakan bila Byulhyun sudah lama berada disitu.

Kyuhyun dengan pasti memeluk Byulhyun dari belakang. “Kau datang? Untukku?”

Byulhyun sedikit kaget mendapat perlakuan Kyuhyun yang seperti itu. Dia hanya mengangguk menjawab Kyuhyun. Dia menjadi gugup, ditambah perlakuan Kyuhyun membuatnya menjadi lebih gugup walau hanya sekedar untuk berbicara.

“Kenapa kau tidak bilang kalau akan datang?” Ujarnya sedikit dengan nada manja. “Aku bisa menjemputmu.”

“Kaukan sibuk. Dan aku juga mendadak datang kesini.” Byulhyun melepas pelukannya. Lalu menghadap kearah Kyuhyun. “Kita pergi dari sini. Ini tempat umum. Aku takut akan ada yang mengenalimu.”

“Mau kemana? Dorm?”

Byulhyun menggeleng. “Aku tidak mau mereka tahu aku ada disini. Dan juga bisa ada skandal bila aku kesana. Dan rahasiakan kedatanganku dari mereka.”

Kyuhyun mengangguk. “Lalu? Kemana?”

“Rumah Nichan saja.”

“Baiklah.”

Byulhyun berjalan mendahului Kyuhyun. Tapi Kyuhyun langsung mensejajarkan langkahnya dan menggandeng tangan Byulhyun.

“Boleh aku bertanya?” Ujar Byulhyun tiba-tiba.

“Apa?”

“Kenapa kau mengadakan acara konferensi pers? Kau berlebihan.”

“Bukan aku yang mengadakannya. Aku diundang untuk menyelesaikan masalah itu. Foto dan video kita sudah beredar di kalangan netizen.”

“Kau sih, tidak pakai penyamaran.”

“Mana kutahu akan terjadi hal itu. Waktu itu aku hanya memikirkan bagaimana cara mencegahmu pergi ke Amerika. Tapi kau tetap saja pergi.”

Byulhyun mendengus.

“Disana kau hidup dengan baik, kan?” Tanya Kyuhyun. “Kimmie menjagamu dengan baik, kan?”

Byulhyun tertegun. Bagaimana dia bisa hidup dengan baik, bila Kimmie terus saja menyiksanya. Tapi dia jelas tidak mungkin mengatakannya pada Kyuhyun. Bukan karena Byulhyun ingin membela Kimmie, tapi ini karena dia ingin melindungi Kyuhyun. Dia tidak ingin membuat Kyuhyun khawatir. “Keuromyo.”

“Syukurlah.”

“Apa kau tahu kabar Nichan? Aku sudah lama tidak berbincang dengannya.”

Kyuhyun menghela nafas. Byulhyun pasti belum tahu masalah penculikan itu. “Nichan sedang ada di Rumah Sakit.”

“MWO?” Pekik Byulhyun.

“Masuklah. Aku ceritakan didalam.”

Byulhyun dan Kyuhyun masuk kedalam mobil dan kyuhyun langsung melajukan mobilnya menuju rumah Nichan di daerah Seongnam.

“Nichan kenapa di rumah sakit? Dia sakit?”

“Dia terkena tusukan. Tadi siang dia di culik. Untuk kami bisa menyelamatkannya.”

“Omona. Tapi dia baik-baik saja, kan sekarang?”

Kyuhyun hanya mengangguk.

“Antarkan aku kesana.”

“Kemana?”

“Rumah Sakit tempat Nichan dirawat.”

“Aku baru saja dari sana.” Balas Kyuhyun malas.

“Jebal. Antarkan aku kesana.”

Kyuhyun tidak menjawab, tapi dia melajukan mobilnya menuju Seoul National Hospital tempat Nichan dirawat.

-=.=-

Seorang wanita paruh baya menutup sambungan teleponnya. Dia menoleh menghadap pria yang tengah duduk di sebuah kursi dengan angkuhnya sama seperti wanita yang baru saja menelepon.

“Yeobo, ini tidak bisa dibiarkan terjadi begitu saja. Ini mungkin saat yang tepat.” Ujar wanita itu deangan sedikit was-was.

Pria itu mengangguk. “Bukan mungkin. Tapi ini memang sudah saatnya kita untuk bertindak.” Ujarnya lalu mengambil gelas Kristal berisi wine Valences’ 2005 kemudian meneguknya.

“Semua harus sesuai dengan rencana. Tidak boleh gagal. Ini untuk kebaikan kita semua.” Timpal wanita itu lalu ikut meminum wine yang sama dari gelasnya.

“Besok kita harus memulainya. Beri tahu dia untuk bersiap. Dan jangan sampai ada satupun orang yang mengenalinya. Dan jangan lupa untuk membawa dokumen itu. Semua tidak berarti tanpa dokumen itu.”

-cut-

Advertisements