Tags

LOVE IS ALWAYS COMPLICATED POSTER

Title                            :Love Is Always Complicated

Author                       : @dcnirwana

Genre                         : romance

Rate                           : General

Lenght                      : Continue

Cast                            :

  • Yesung
  • Cho Kyuhyun
  • Choi Siwon
  • Park Nichan
  • Kim Byulhyun
  • Shin Minso

Disclaimer                  : I OWN THE PLOT

 EPISODE 3

Minso menghela nafasnya. Dia melihat pantulan dirinya di cermin. Dan dengan mudahnya sebuah bulir air keluar dari matanya. Dia segera manghapus airmatanya dan berjalan keluar dari dalam kamarnya.

Dia turun dan masuk kedalam garasi dan mulai melajukan mobilnya. Dia melajukan mobilnya menuju gereja yang dulu pernah ia kunjugi bersama Siwon dulu saat merayakan ulang tahunnya.

Minso duduk disalah satu kursi itu. Dan dia mulai berdoa dalam hati. “Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Siapa yang harus aku pilih? Dia atau sahabatku?”

Airmatanya menetes. “Tuhan… Haruskah aku egois? Membantu ‘orang itu’ dan mengecewakan sahabatku. Atau aku harus mengecewakan ‘orang itu’ demi melindungi perasaan sahabatku?”

Minso kalut dalam pikirannya. Dia benar-benar bingung siapa yang harus dia bantu. Ini sangat menyakitkan baginya. Tapi ada suatu hal yang benar-benar menyakitkan baginya. Siapapun yang ia pilih, dia akan tetap hancur karena keputusannya. Dalam hal ini, siapapun yang Minso bantu, Minso benar-benar harus mengorbankan perasaannya.

-=.=-

Byulhyun duduk bersandar pada dinding. Wajahnya sangat pucat. Tubuhnya juga lemas tidak bertenaga. Sudah tiga hari dia menolak semua makanan yang Kimmie rutin berikan. Ini adalah bentuk protesnya yang ia tunjukan pada Kimmie.

Byulhyun merasakan perutnya sakit karena tidak memiliki makanan untuk diolah dan diambil tenaganya untuk tubuhnya. Kepalanya mulai berat dan pandangan matanya mulai mengabur.

Terdengar suara langkah kaki mendekati kamar. Byulhyun mulai berdiri dengan seluruh sisa tenaga yang ia miliki.

Pintu terbuka. Kimmie keluar dari belakang pintu sambil membawa nampan penuh makanan. Kimmie melihat meja yang diatasnya diletakan sebuah nampan penuh makanan yang kemarin malam Kimmie berikan. Dia tersenyum miris. “Kau belum mau makan juga?”

Kimmie melatakan nampan sarapan lalu mengambil nampan makan malam kemarin. “Lebih baik kau makan.” Lalu berjalan keluar.

Byulhyun sudah tak sanggup menompang tubuhnya lebih lama. Dan akhirnya dia tergeletak tak berdaya diatas lantai kamarnya.

Kimmie menoleh dan langsung mendekati Byulhyun dengan khawatir. “Hyunnie-ah, irreonayo! Hyunnie-ah!”

-=.=-

“How was her condition?” Tanya Kimmie pada dokter yang baru memeriksa Byulhyun.

“She was dehydrating. She’s loss a lot of her energy. But she’s fine now.” Ujarnya.

“OK. Thank you so much, doc.”

“My pleasure. But, I gotta go now.”

“Yes, sure.”

Kimmie berjalan mendekati Byulhyun. Lalu duduk di kursi didepan ranjang Byulhyun. “Mianhaeyo. Karena aku kau jadi begini.” Ujarnya merasa bersalah. Airmatanya jatuh begitu saja. Kimmie memutar badannya memunggungi Byulhyun.

“Baboya! Harusnya kau tidak memaksakan dirimu!” rutuknya. “Tapi itu bukan salahku. Kau yang memaksa. Kalau kau menurut padaku, kau tidak akan seperti ini.” Ujarnya diakhiri dengan isakan.

“Seharusnya kau mengiyakan ucapanku. Kalau kau begini, aku jadi khawatir. Aku tidak tega melihatmu seperti ini. Aku juga tidak bermaksud untuk membuatmu menjadi seperti ini. Mianhaeyo.” Ujarnya dengan tangisan.

Tanpa Kimmie sadari, Byulhyun sudah sadar dan mendengar semua perkataan Kimmie. Dia juga menjadi merasa bersalah pada Kimmie.

Byulhyun langsung memejamkan matanya lagi saat Kimmie mulai memutar badannya dan menghadap Byulhyun.

Perlahan Byulhyun membuka matanya lagi. Dia berpura-pura kebingungan. Dan masih tetap memandangnya dengan pandangan kesal.

“Apa kau mau tidak aku kurung lagi?” Tanya Kimmie tulus.

Byulhyun terbelalak mendengar perkataan Kimmie yang sangat mengejutkan untuknya. “Jongmalyo?”

“Tapi kau harus berjanji satu hal padaku.”

“Ne? Igeon mwonde?”

“Kau tidak boleh berusaha kabur kembali ke Korea!”

-=.=-

“Waeyo?” Tanya Yesung khawatir

Nichan memandang Yesung dengan mata penuh permohonan bantuan. Airmata langsung jatuh begitu saja. Yesung langsung memeluk Nichan. Membiarkan gadisnya yang sedang rapuh bersandar padanya. Membantu gadis itu untuk tetap bertahan ditempatnya. Tidak terjatuh dan merasakan sakit yang lebih mendalam.

“Mwohaeyo? Ceritakan padaku! Apa ada kabar buruk untuk Star Angel?” Tanya Yesung dengan nada yang menenangkan untuk Nichan sambil mengusap-usap punggung Nichan berusaha menenangkan Nichan.

“Apa aku masih bisa memertahankan Star Angel?” Tanya Nichan dengan nada yang sangat pasrah dan lirih.

Yesung melepas pelukannya dan menatap Nichan lembut lalu tersenyum. Merapikan anak rambut Nichan dan menyimpan anak rambut itu dibelakang telinga Nichan. “Kau harus percaya dan yakin. Aku yakin kalau kau bisa bertahan diterjang angin badai.”

“Star Angel sangat kritis. Harapanku hanya bergantung pada King’s Corp. Tapi aku harus bersaing dengan Luxim. Dia adalah lawan terberat Star Angel. Apa aku masih bisa?”

Yesung masih tersenyum lalu mencium dahi Nichan lembut. “Kau harus yakin kalau kau bisa. Kalau kau yakin, kau pasti bisa, Kkoma-ya!”

Nichan tersenyum lalu merenungkan perkataan Yesung. Tak lama senyum penuh semangat muncul diwajahnya membuat Yesung merasa senang karenanya. “Kau benar, Oppa! Aku harus optimis. Aku juga punya tim-tim hebatku. Benar, kan?”

“Itu baru Nichan yang kukenal. Selalu optimis dan bersemangat. Kkoma, fighting!”

“Ambilkan iPadku, Oppa!”

“Eh? Buat apa? Kau masih sakit, Kkomaya. Istirahat dulu!”

“Tadi Oppa yang menyuruhku untuk semangat. Aku sudah semangat tapi kenapa kau tidak mendukungku sekarang?”

“Kau sedang sakit, Kkoma. Dr. Yoon menyuruhmu untuk beristirahat total. Setidaknya hingga malam ini.”

“Tapi aku harus, Oppa! Nasib Star Angel ada ditanganku sekarang.”

“Istirahatlah dulu! Hanya malam ini. Besok pagi kau boleh bekerja seperti biasa.”

“Wae?” Tanya Nichan beralih marah. “Setiap kau sakit dan memohon padaku agar kau tetap melakukan perform, aku mengijinkanmu! Tapi kenapa aku tidak?”

“Itu berbeda Kkoma. Aku harus menghibur para ELF diluar sana!” Ujar Yesung mengelak.

“1300.” Ucapnya dengan setetes airmata yang sukses lolos dari tempatnya.

“Ne?” Tanya Yesung tidak mengerti.

“1300 pegawai bergantung padaku sekarang. Hidup mereka bergantung padaku!” Ujar Nichan setengah berteriak. “Dan 1300 orang itu bekerja untuk menghidupi kebutuhannya untuk dirinya sendiri atau bahkan untuk orang lain. Kalau Star Angel bangkrut, bagaimana mereka bisa menyambung hidup?”

Yesung terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab dengan apa. Dalam hatinya dia membenarkan perkataan Nichan. “Tapi kau tidak boleh memaksan dirimu lagi! Yaksok?” Janji Yesung sambil menunjukan kelingkingnya.

Nichan tersenyum. Dia mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Yesung. “Yaksokeyo!”

Yesung mengambil iPad Nichan dan memberikannya pada gadis itu. Dan sedetik kemudian Nichan mulai sibuk. Mengetikan sesuatu diatas layar sentuh dari iPad yang ada di genggamannya. Membaca laporan yang masuk ke dalam kotak emailnya. Menelepon sana sini dan membicarakan hal tentang Star Angel.

Sementara Yesung hanya duduk bersila diatas kasur Ryeowook dengan bersandar pada dinding kamarnya. Memerhatikan semua yang Nichan lakukan. Yesung mulai menyadari betapa melelahkan pekerjaan Nichan. Seberapa besar tanggung jawabnya dan beban yang Nichan tanggung sendiri.

Setidaknya Yesung lebih beruntung. Walau pekerjaanya sangat melelahkan, tapi mendengar fanchan atau teriakan fans memberikan kepuasan, kebangaan, dan kebahagiaan tersendiri. Tapi, Nichan tidak mendapat sorakan atau sebagainya.

Yesung sangat ingin membantu Nichan. Berusaha mengurangi beban yang ada dipundak Nichan. Tapi apa daya. Dia tidak mengerti tentang dunia yang Nichan tekuni. Kadang ia merasa marah, kesal, kecewa, dan tidak berguna pada dirinya sendiri karena tidak bisa membantu Nichan. Yang ia bisa lakukan hanya mendoakan yang terbaik untuk Nichan.

Airmatanya mulai tergenang. Nichan menoleh dan mengerutkan dahinya. “Oppa, waeyo? Kenapa menangis?” Tanya Nichan khawatir alu beranjak dari atas kasurnya dan mendekati Yesung.

“Gwaenchana, Kkoma-ya. Apa kau sudah selesai?”

Nichan mengangguk. “Sudah. Lusa aku akan ada fight tender dengan Luxim. Doakan aku, ya!”

“Keuromyo!” Ujar Yesung lalu mengelus pipi Nichan sayang. “Star Angel pasti bisa mengalahkan Luxim. Fighting!”

“Gomawo, Oppa!” Nichan duduk disamping Yesung setelah memasukan iPadnya kedalam tas. “Mmm… Oppa…”

“Waeyo?”

“Eommoni bogoshipo. Aku ingin bertemu dengannya.”

“Jinjja? Nado bogoshipo. Bagaimana kalau videocall?”

“Kau tidak sibuk, kan? Kita ke H&G saja.”

“Uri duri?” Tanya Yesung tidak yakin. “Ini masih jam buka. Kalau ada gossip bagaimana?”

“Bahta! Kita kesana kalau sudah tutup bagaimana?”

“Biasanya H&G tutup jam sembilan. Aku telepon Jongjin dulu.”

Yesung mengambil ponselnya dan langsung menelepon Jongjin.

“Yoboseo!”

“Yoboseo Jongjin-ah!”

“Waeyo, Hyung?”

“Hari ini H&G tutup jam berapa.”

“Jam sembilan, Hyung. Waeyo?”

“Aku dan Nichan akan kesana setelah tutup.”

“Ke rumah saja, Hyung. Eommoni dan Aboji sudah pulang. Hanya aku yang masih di H&G.”

“Ah arraseo. Kau mau aku jemput juga?” Yesung memberi tawaran.

“Boleh, Hyung.”

“Arraseo. Aku akan segera kesana.” Yesung mengakhiri panggilannya. “Kau mau berangkat sekarang, Kkoma?”

“Aku inginnya juga sekarang. Tapi infusku belum habis.”

“Jinja?” Yesung mengecek infus Nichan yang masih tersisa setengah. “Sayang sekali. Ini sudah jam delapan lebih seperempat.”

“Aku hentikan infusnya saja. Besok malam dilanjutkan.”

“Mana bisa begitu?”

“Aku sudah sering melakukannya, Oppa! Kau tak tahu, kan?” Cibir Nichan.

“Jadi kau sering di infus dirumah begini?” Nada bicara Yesung berubah menjadi khawatir.

“Terutama diakhir tahun. Sudahlah. Ayo berangkat.” Nichan langsung menghentikan aliran infus dan melepas selang infus. Dalam hal ini, Nichan terlihat cukup mahir. “Kajja, Oppa!”

“Kau yakin kuat?”

“Keuromyo. Aku sudah sangat merindukan eommonim.”

“Kau ini. Ayo!”

-=.=-

“Kau tunggu di dalam mobil saja. Aku akan menjemput Jongjin.” Yesung memberi perintah.

Nichan mengangguk. “Arraseo!”

“Usahakan bersembunyi, ya?!”

“Arrayo. Tapi cepatlah!”

Yesung mengelus puncak kepala Nichan. “Arra.” Setelahnya dia segera keluar dari mobil dan memasuki Handel & Gratel. Sementara di dalam mobil, Nichan menutupi dirinya dengan mantel milik Yesung.

Tapi, setelah setengah jam dia menunggu, Yesung tidak juga kembali. Dengan kesal, dia menyibakkan mantel yang ia gunakan untuk menutupi dirinya.

Dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan untuk Yesung. Tapi dia bertambah kesal saat melihat ponsel Yesung tergeletak diatas dashboard.

Dia menghempaskan tubuhnya di jok karena kesal. Dia menghembuskan nafasnya. Dia mengambil iPodnya dan memasang earphonenya.

Nichan bertambah kesal saat melihat gambar baterai kosong dan dicoret dengan garis berwarna merah. “Aish… Kenapa baterainya juga habis?!”

Nichan melihat kearah gedung H&G yang sudah sepi. Lampu luar gedung itu sudah mati. Hanya tersisa lampu yang menyala remang dari dalam. Tak lama, Yesung dan Jongjin keluar dari pintu itu. Setelah Jongjin mengunci pintu, mereka berdua segera berjalan menuju mobil.

“Nichan-ah, sudah lama tidak bertemu!” Sapa Jongjin riang setelah duduk di jok belakang.

“Jongjin-ah! Sudah lama menunggu kalian!” Sinis Nichan kesal. “Oppa, kenapa lama sekali?”

“Mianhaeyo. Tadi masih cukup ramai. Kalau mengusir mereka tidak sopan, keurae?”

“Keuraeyo!”

“Ya, Nichan-ah, aku lebih tua darimu, kenapa tidak memanggilku dengan sebutan ‘Oppa’?” Tanya Jongjin.

“Shireyo. Aku kekasih dari Hyungmu. Untuk apa aku memanggilmu dengan ‘Oppa’? Cish…”

Jonjin mendengus kesal. Sementara Yesung hanya tersenyum kecil melihat pertengkaran kekasih dengan adiknya itu dari balik kemudi.

-=.=-

“Eommoni, na weosso!” Seru Yesung setelah masuk.

“Adeul-ah?!” Eommoni menoleh menatap Yesung. Wajahnya makin sumringah saat melihat Yesung datang. “Bogoshipoyo Jongwoon-ah!”

“Nado, Eommoni!” Yesung langsung memeluk ibunya erat. Ibunya mencium kedua pipi Yesung setelah Yesung melepas pelukannya.

“Kau makan dengan teratur, bukan? Cukup tidur, kan?” Tanyanya dengan nada agak khawatir.

“Keuromyo. Eommonim, lihat aku datang dengan siapa?”

“Nugunde?” Tanyanya penasaran

“Eommonim!” Sapa Nichan lalu membungkuk.

“Nichaniedo weoso?” Tanyanya senang mendapati Nichan mengunjunginya.

“Ne.”

“Kenapa tidak bilang kalau kalian akan datang? Untung tadi memasak makanan kesukaanmu, Jongwoon-ah! Kajja! Kita makan malam dulu!”

Mereka semua menuju ruang makan. Disana sudah ada ayah Yesung yang sedang menyiapkan sumpit dan sendok. Yesung langsung berlari memeluknya ayahnya dari belakang. “Aboji bogoshipo!”

“Jongwoon-ah?! Neo weosso?”

“Ne, Aboji.”

“Anyeonghaseyo, abonim!” Nichan ikut menyapa.

“Nichan, kau juga datang? Ayo, semua makan. Eommonim kalian baru memasak masakan spesial. Ayo!”

Mereka duduk melingkari meja makan. Dan memulai makan malam. Setelahnya mereka berbincang di ruang tengah hingga pukul sebelas malam.

“Eommonim, sudah malam. Lebih baik aku pulang sekarang!” Yesung mohon pamit.

“Waeyo? Apa besok kau ada jadwal? Kalau tidak, tidurlah disini malam ini. Eommonim masih ingin berbincang-bincang denganmu.”

“Ne. Hajiman, aku mengantar Nichan pulang dulu. Sudah malam.”

“Ah. Arraseo! Hati-hati dijalan!”

“Yeobo, biarkan Jongwoon pulang! Kasihan dia bolak-balik begitu. Lagipula ini sudah malam. Lain kali biar Jongwoon menginap disini.”

“Majya! Kau pulang saja ke dorm! Tapi lain kali kau harus menginap, arra?” Eomonim memberi syarat.

“Aniyo! Aku akan menginap hari ini! Keurom, aku antar Nichan pulang dulu!”

“Abonim, Eommonim, Jongjin-ah, aku pamit pulang!”

“Ne. Hati-hati dijalan. Jaga kesehatan juga, Arra?!”

“Ne Eommonim.”

Yesung dan Nichan langsung keluar dari rumah. Yesung mengantar Nichan kerumahnya yang jaraknya tidak jauh dari rumah orang tua Yesung.

“Oppa, terimakasih untuk hari ini!” Ujar Nichan berterimakasih pada Yesung yang duduk dibalik kursi kemudi dalam mobilnya.

“Waeyo? Gomaptareul eobsoyo, Kkoma-ya! Sudah sana masuk! Kau tidak kedinginan diluar begitu? Sana!”

Nichan mencium pipi Yesung lalu tersenyum. “Saranghae Oppa!”

“Kau kenapa tiba-tiba menjadi seperti ini?” Tanya Yesung heran.

“Aku merasa jarang mengungkapkannya setelah tiga tahun hubungan kita.”

“Nado saranghae.” Balas Yesung sambil tersenyum

Nichan mengangguk sambil tersenyum senang. Dia melambaikan tangannya sebelum membalikan badannya memasuki rumahnya.

Yesung mengeluarkan tangannya dari jendela dan menahan lengan Nichan. “Aku tak tahu kenapa. Hanya saja… berhati-hatilah!”

Nichan terlihat bingung. Namun melihat eskpresi Yesung yang benar-benar terlihat khawatir dan sedikit takut, Nichan hanya bisa mengangguk lagi.

Tapi tak lama setelahnya, mata mereka berdua menangkap kilatan cahaya.

“Blitz kamera?” Tanya Yesung bingung.

“Bagaimana mungkin?” Nichan mengadahkan kepalanya meatap langit gelap diatasnya. “Mungkin petir. Cepat pulang sebelum hujan!” Nichan mencari alasan lain. Yesung mengangguk lalu melajukan mobilnya menjauhi rumah Nichan.

Tak lama setelah mobil Yesung menjauh, sebuah kilatan cahaya kembali singgah di mata Nichan. Dia menoleh melihat sekeliling rumahnya. Tapi dengan pencahayaan yang minim dan tanpa kacamatanya, dia tidak bisa melihat dengan jelas. Tapi sejauh yang ia bisa amati, dia tidak menemukan siapapun. Akhirnya Nichan hanya bisa berpikir positif. Walau sebagian dari dalam dirinya membenarkan perkataan Yesung tentang kilatan blitz kamera.

“Kalau itu benar blitz kamera, semoga bukan milik paparazzi.” Harapnya lalu melangkah memasuki rumahnya.

Tak jauh dari rumah Nichan. Dibalik sebuah pohon berdiri seorang wanita muda yang sedang melihat layar kamera DSRL miliknya. Dia mengernyitkan dahinya saat melihat hasil fotonya. “Kalau ini seperti dugaanku…” Ujarnya menggantung. “Tidak akan kubiarkan kau lolos begitu saja.”

-=.=-

King’s Corp – 23 Desember 2011

Nichan duduk dikursi ruang tunggu ditemani dengan Sekertaris Kim. Mereka sudah melakukan presentasi dan kini tinggal menunggu pengumuman dari King’s Corp.

Ekspresi wajah Nichan memang terkesan santai, tapi dia sangat resah dan khawatir akan hasilnya nanti. Otaknya terus bekerja hal apa yang akan ia lakukan bila King’s Corp menolaknya. Dia harus bertindak cepat.

“Park Nichan-sshi?!” Panggil seorang wanita penuh percaya diri dengan penekanan disetiap katanya.

Nichan mendongak, dia langsung menghela nafas berat. “Ne, Cho Yoonji-sshi?”

“Kita bertemu lagi di fight-tender ini. Apa kau yakin Star Angel dapat menang atas Luxim? Persentasimu tadi cukup membuatku terkesan.” Tanya Yoonji dengan nada yang meremehkan.

Nichan hanya tersenyum kecil.

“Kau takut kalah? Kudengar Star Angel dalam masalah. Dan keputusan dari King’s Corp adalah harapanmu satu-satunya? Tenang saja, Luxim akan membantumu. Atau aku perlu mengalah untuk Star Angel?” Remehnya lagi.

Nichan mulai jengah menghadapi celotehan Yoonji. Dia berdiri menatap Yoonji. “Yoonji-sshi, terimakasih atas bantuanmu. Tapi aku ingin menyelamatkan Star Angel dengan tanganku sendiri. Lagipula, mana mungkin Luxim menyerahkan tender sebesar ini begitu saja?”

“Silahkan kalian masuk. Presdir Kang akan memberitahu perusahaan mana yang akan bekerja sama dengan King’s Corp.”

Yoonji tersenyum penuh kemenangan. “Saatnya pengumuman. Lebih baik, siapkan ucapan selamat untukku dan Luxim. Anyeong!” Ujarnya sombong lalu berjalan masuk kedalam ruangan.

Nichan menghembuskan nafas panjang. Berusaha mengatur emosinya. “Apa dia tidak bisa untuk tidak meremehkan orang lain?” tanyanya tidak habis pikir lalu masuk kedalam ruangan yang sema dengan yang Yoonji masuki tadi diiuti sekertaris Kim.

Di dalam sudah ada Presdir Kang yang sedang melihat ulang kedua proposal. Dia terlihat mengangguk-anggukan kepalanya karena puas.

“Baiklah. Saya akan memilih salah stau dari lain. Jujur, semua proposal kalian memiliki keunggulan masing-masing. Ini membuatku sulit untuk memutuskan.” Ujarnya.

Yoonji yang mendengar terlihat santai dan selalu tersenyum percaya diri. Namun, di sisi lain, Nichan mendengarkan dengan sedikit tegang.

“Jadi… Luxim saya suka dengan proposal yang kalian buat. Sungguh suatu prospek yang menjanjikan.”

Yoonji menganggukkan kepalanya penuh percaya diri dan terlihat sangat puas. Sementara Nichan menundukan kepalanya. Dia hanya bisa berharap akan sebuah keajaiban sekarang.

“Dan Star Angel aku berharap surat kontrak kerja sama yang akan aku tanda tangani tiba secepatnya.!”

“MWO??!” Seru Nichan dan Yoonji bersamaan. Mereka berdua sama-sama terkejut mendengar keputusan Presdir Kang.

“King’s Corp akan bekerja sama dengan Star Angel. Saya sangat suka dengan konsep yang ditawarkan oleh Star Angel. Sangat kreatif dan jenius. Dan kurasa akan membawa keadaan menguntungkan untuk kedua belah pihak. Jadi kuharap, kerja sama ini bisa berjalan lancar.”

Presdir Kang berdiri dan menghadap Nichan yang ikut berdiri. Presdir Kang mengulurkan tangan. Nichan membalas uluran tangan Presdir Kang dengan percaya tak percaya. “Kami akan melakukan yang terbaik.” Setelahnya Presdir Kang melangkahkan kakinya keluar ruangan.

Nichan tersenyum bahagia masih dalam keadaan setengah percaya. “Eonnie!” Serunya bahagia lalu memeluk Sekertaris Kim karena bahagia.

“Anda sudah melakukan yang terbaik, Sajangnim!”

“Selamat atas kemenanganmu! Aku tidak kalah. Mungkin Presdir Kang tahu bila Star Angel akan bangkrut, jadi dia mau membantumu.” Sinis Yoonji tajam.

Nichan melepas pelukannya lalu menatap Yoonji agak geram. “Gamsahamnida Cho Yoonji-sshi atas ucapan selamatmu. Tapi King’s Corp memilih Star Angel karena kasihan? Apa kau tidak salah?”

“Mwo?”

“King’s Corp tidak mungkin memilih kerja sama dengan perusahan yang akan bangkrut. That doesn’t make sense. Akuilah bila Star Angel memang lebih baik daripada Luxim hari ini.”

“Neo!!”

“Na mwo?”

“YA!! Jangan karena kau mengalahkanku hari ini, kau jadi berpikir bila kau lebih baik dariku!”

“Kenapa tidak? Aku mendapatkan nilai terbaik di GE Crotonville. Kau bahkan tidak masuk dalam daftar lulusan terbaik disana.”

Yoonji menjadi geram mendengar perkataan karena dia tidak suka ada orang yang merendahakanya. “YA!!”

Nichan tidak menghiraukan Yoonji lalu mengambil blackberry torch putih miliknya. Dan segera menelepon satu-satunya kontak yang ada dalam ponsel itu.

“Yoboseo!”

“Oppa!” Panggilnya bahagia. “Aku melakukannya. King’s Corp akan menandatangani kontrak kerja sama dengan Star Angel.”

“Jinjayo?! Chukahaeyo, Kkoma-ya! Sudah kuduga kalau kau bisa melakukannya. Jalhago isseoyo, Kkoma!” Ujar Yesung memberi selamat ikut berbahagia.

“Gomawo, Oppa! Ini juga berkat kau yang selalu memberiku semangat.”

“Gomaptareul eobso. Keurom, kau harus kesini. Kita rayakan bersama member yang lain selagi para member sendang kosong. Disini juga ada Hyera. Kau ajak Minso saja sekalian. Siwon sedang ada disini juga.”

“Arra! Aku akan kesana setelah ini. Aku coba hubungi Minso setelah ini. Kau mau aku bawakan apa, Oppa?”

“Aninde. Hanya kau datang saja, aku sudah senang.”

“Keurom anyeong!”

Nichan memutuskan sambungan teleponnya. Dia membuka slide layar bb-nya untuk mengetikan sesuatu.

“Igon… Dari pada kau mendapatkan ponsel itu?” Tanya Yoonji geram.

“Wae? Untuk apa kau menanyakannya?”

“Ppali malhaebwa! Darimana kau mendapat ponsel itu?”

“Wae? Kalau kau menginginkannya kau bisa membelinya sendiri.”

“Kau tak perlu mengatakannya akupun sudah tahu itu. Tapi yang ingin aku tanyakan, dari mana kau mendapatkan ponsel itu?”

“Naye Namchinyeyo. Wae?”

Yoonji terkejut mendengar jawaban Nichan. “Namchin?”

Nichan mengagguk risih. “Waeyo?”

“Siapa namanya?”

“Untuk apa kau menanyakanya? Tidak ada hubungannya denganmu.”

“Sejauh yang kutahu. Ponselmu itu adalah ponsel yang aku pesan kusus untuk Yesung.” Terang Yoonji.

Nichan terkejut mendengar penuturannya. Dia teringat akan ucapan Yesung bila ponselnya itu adalah pemberian dari ELF. Nichan langsung berusaha mencari alasan lain. “Bisa saja kekasihku juga melakukannya khusus untukku.”

Yoonji merasa alasan Nichan juga masuk akal. Tapi dia masih tidak bisa percaya begitu saja dengan apa yang Nichan katakan.

“Keurom, kita tidak ada urusan lain lagi. Aku permisi.” Ujar Nichan berusaha melarikan diri dari Yoonji yang mungkin akan menghujaninya dengan pertanyaan lain yang bisa membocorkan hubungannya dengan Yesung.

“Sajangnim, setelah ini kita akan ke kantor atau anda akan pergi ke dorm?” tanya Sekertaris Kim.

“Aku akan ke dorm. Tapi aku akan mampir membeli makanan dulu saja.”

Sementara di belakang, Yoonji masih mengikuti mereka dan mendengar percakapan mereka. “Dorm?”

-=.=-

Nichan sudah sampai di parkiran Star City. Sekertaris Kim membantunya mengeluarkan semua makanan yang baru saja ia beli dan memasukannya kedalam lift.

“Kau pulanglah, eonnie. Terimakasih sudah membantuku hari ini.” Ujarnya ditengah pintu lift mencegah agar pintu itu tidak menutup dan membawa makanannya pergi begitu saja.

“Keuromyo, Sajangnim! Hajiman, apa nanti anda tidak kerepotan membawa barang sebanyak ini?” Tanyanya agak khawatir.

“Aniya. Diatas akan ada yang membantu nanti. Kau pulanglah.! Kau minta Han Gisang saja untuk mengantarmu pulang.”

“Ne.” Setelahnya Sekertaris Kim masuk kedalam mobil milik Nichan. Setelah memastikan Sekertaris Kim masuk kedalam mobil, baru dia masuk kedalam lift dan menekan tombol nomor 11.

Karena masih didalam lift, dia tidak bisa mendapat sinyal, jadi dia belum bisa menelepon Yesung. Sekitar semenit kemudian, pintu lift terbuka di lantai 11.

Nichan mengeluarkan lima kantong belanjaan penuh makanan itu keluar dengan mendorongnya dengan kakinya. Setelahnya dia segera keluar dari lift itu. Kemudian dia mengambil ponselnya dan menelepon Yesung.

“Yoboseo, Kkoma!” Jawab Yesung.

“Oppa. Aku sudah sampai dan membawa banyak belanjaan. Bisa ka…” Ucapannya terputus. Dia melihat layarnya sudah mati. “Aish kenapa batereinya mati?” keluhnya kesal.

Nichan melihat kantong belanjaannya dengan malas. “Apa aku harus menenteng barang sebanyak ini sendiri? Kamarnyakan masih agak jauh. Bisa patah aku mengangkatnya belanjaan sebanyak ini.”

Akhirnya dia memutuskan untuk mendorong kantung belanjaan itu dengan kakinya hingga sampai di dorm.

Tak lama dia merasa ada orang yang mendekapnya dari belakang dan menutup mulutnya. Dia berpikir bahwa itu adalah Yesung, makanya dia tidak memberontak untuk melepaskan dirinya.

-=.=-

Yesung bersama member Super Junior sedang berkumpul di ruang tengah. Mereka sedang menonton acara televisi bersama. Tak luput disana juga ada Hyera, Minah dan Minso. Dan juga ada Kangin disana. Karena lusa adalah hari natal, jadi dia mendapatkan libur. Dan kini dia berkunjung ke dorm untuk mengobati rasa rindunya kepada sahabatnya. Bukan. Lebih tepatnya keluarganya, Super Junior.

Ditengah acara, terdengar suara dering ponsel. Semua orang langsung mencari sumber suara yang ternyata adalah ponsel Yesung.

Yesung segera merogoh ponsel di dalam kantungnya. Dia tersenyum melihat bahwa Nichan meneleponnya.

“Yoboseo, Kkoma!” Jawabnya ceria.

“Kkoma? Panggilan sayang apa itu?” ejek Kangin setengah berbisik. Yesung melirik Kangin kesal sementara yang lain terkekeh mendengar celotehan Kangin yang sudah lama mereka rindukan.

“Oppa. Aku sudah sampai, dan membawa banyak belanjaan. Bisa ka…” Ucapan Nichan terputus.

“Kkoma! Yoboseo!” Panggilnya. Tapi dia melihat ponselnya sudah tidak melakukan sambungan telepon. Dia berdecak kesal. Dia mencoba menelepon Nichan ulang. Tapi ponselnya tidak aktif. “Baterai ponselnya habis, ya?”

“Waeyo, Hyung?” Tanya Sungmin yang kebutulan duduk disebelahnya.

“Nichan sudah sampai. Dia memintaku untuk membantu membawakan barang.” Ujarnya.

“Aku bantu, Hyung?” Sungmin menawarkan bantuan.

“Jinja? Keurom, kajja!”

“Kalian mau kemana?” Tanya Leeteuk saat Yesung dan Sungmin melewati Leeteuk yang baru saja keluar dari kamar mandi.

“Mau menyusul Nichan. Katanya dia butuh bantuan untuk membawa belanjaan.” Yesung menjelaskan.

“Hati-hati!” Leeteuk memberi pesan.

“Woaah… bila membutuhkan bantuan untuk membawa belanjaan, berarti Nichan membeli banyak. Kita pesta!!” Seru Eunhyuk gembira.

“Let’s pary tonight!” Ujar Donghae dengan nada yang ia katakan olehnya dalam intro Oppa Oppa.

Yesung hanya tersenyum kecil lalu segera keluar dari dorm disusul oleh Sungmin yang berjalan dibelakangnya. Tapi langkahnya segera terhenti saat berada di tikungan koridor. Dia merasakan ada yang janggal.

Di tikungan terdapat beberapa kantung belanjaan berukuran besar yang hanya berisi bahan makanan dan beberapa makanan ringan. Di samping kantung belanjaan tergeletak sebuah clutch berwarna putih yang ia kenali sebagai milik Nichan. Tak jauh juga ada sebuah blackberry tourch putih milik Nichan. Tapi ponsel itu sudah tidak berbentuk. Pecah layaknya ponsel itu terjatuh. Atau lebih tepatnya dibanting.

Jantungnya langsung berpacu cepat karena khawatir. Dalam benaknya, dia memiliki firasat buruk. Tapi dia berusaha untuk berpikiran positif.

Dia menoleh kearah koridor lift. Otaknya menolak sugesti positif yang ia berikan untuk dirinya sendiri. Dia sudah tidak bisa berpikiran positif, ketika dia melihat Nichan yang sedang tidak sadarkan diri diseret oleh seseorang berpakaian serba hitam masuk kedalam lift.

-cut-

Advertisements