Tags

Sedetik kemudian, seorang gadis dengan sebuah peluru tertancap di bawah tulang selangka sebelah kanan terkapar tak berdaya di lantai. Dan keluar banyak darah dari lubang yang diakibatkan peluru itu.

Byulhyun membuka matanya. Badannya bergetar hebat. Tapi saat melihat tubuh Hyera terkapar tidak berdaya dan banyak darah keluar dari dadanya, badannya langsung lemas. Hingga ia sendiri tidak sanggup menopang badannya sendiri. Badannya sudah mulai limbung, tapi sedetik kemudian, dia merasa ada tangan yang menopang tubuhnya agar tidak menghantam lantai.

“Gwaenchana?” Tanya suara lembut yang berhasil membuat perasaan Byulhyun menjadi lebih tenang.

Byulhyun membalikan tubuhnya ke belakang. Dia langsung memeluk tubuh Kyuhyun dan menangis dalam dekapannya.

“Gwaenchana?” tanya Kyuhyun mengulangi pertanyaannya sambil mengusap punggung Byulhyun lembut. Byulhyun mengangguk sambil masih terisak.

Tapi tiba-tiba Kyuhyun meraih lengan Byulhyun dan menariknya agar berdiri disampingnya. Dan sedetik kemudian, terdengar suara mengerikan itu lagi.

DOR!!

Kyuhyun menembak Hyera tepat di jantungnya, karena Hyera belum mati dan berusaha menembak Byulhyun. Tapi tak terelakan, sebuah peluru melukai betisnya.

Kyuhyun mengangkat celananya keatas lalu memeriksa lukanya. Dan dengan hati-hati, Kyuhyun menarik peluru yang menusuk betisnya. Sementara Byulhyun hanya bisa terdiam membeku melihat apa yang kini ia saksikan.

Setelah membalut lukanya dengan sapu tangannya dan merapikan celananya, dia mendekai Byulhyun dengan langkah sedikit pincang. “Kau pergilah!”

Byulhyun menatap Kyuhyun dengan pandangan tidak percaya.

“Pergilah! Aku sudah menelepon Hyukjae. Dia sangat mencintai Hyera. Dan bila dia melihat Hyera seperti ini, kau tidak akan selamat.”

“Lalu bagaimana denganmu?” Tanya Byulhyun khawatir.

“Aku bisa menghadapi Hyukjae sendiri. Dia tidak pernah menang melawanku. Tenanglah.” Jawabnya gampang. “Pergilah. Sebelum Hyukjae melihatmu! Bawa ini juga. Kalau kau sudah sampai bawah buang saja. Lalu terus pergi dan jangan kembali kesini apapun yang terjadi.”

Byulhyun mengangguk. Dan dengan sedikit takut, dia menerima pistol yang diberikan Kyuhyun. Setelah mengambil tasnya yang sempat terjatuh dia berjalan mendekati tangga.

“Dan Byulhyun-ah!” Kyuhyun mencegah Byulhyun yang baru saja akan melangkahkan kakinya. “Aku tak tahu apa kita akan bertemu lagi tau tidak. Tapi sebelum kau pergi aku hanya ingin mengatakan bila aku sangat mencintaimu. Melebihi apapun di dunia ini.” Ujarnya tulus. Lalu langsung membalikan badannya. Air matanya mulai tergenang karena harus menghadapi kenyataan bila dia harus berpisah dengan Byulhyun.

Byulhyun menatap punggung Kyuhyun. Nado saranghae. Jawabnya dalam hati. Byulhyun melangkahkan kakinya mendekati tangga. Tapi langkahnya terhenti saat melihat seorang pria kurus agak berotot dan bertinggi sedang berdiri dihadapannya. Karena terlalu terkejut, dia menjatuhkan tasnya.

Kyuhyun menoleh dan cukup terkejut mendapati Hyukjae yang berdiri di depan tangga dengan tangan yang mengenggam keras menahan emosi. “Hyukjae-ah?” kyuhyun beralih menatap Byulhyun yang masih diam di depan tangga. “Byulhyun-ah, lari!”

Byulhyun menoleh menatap Kyuhyun. “Mwo?”

“LARI!!” Seruanya. Dan tanpa berpikir lagi, Byulhyun menaiki tangga dengan tergesa. Hanya dengan menaiki tangga dia bisa lolos dari Hyukjae.

“Kau apakan Hyeraku?!” Tanya Hyukjae geram.

“Hyuk-ah, dengarkan aku dulu.” Ujar Kyuhyun lalu mendekati Hyukjae.

“KAU APAKAN HYERA??!”

“Dia berusaha membunuhku dan Byulhyun. Aku tidak punya pilihan.”

Tapi Hyukjae tidak menggubris jawaban Kyuhyun dan langsung berlari menaiki tangga.

“HAJIMA!! HYUKJAE-AH!!” Kyuhyun ikut berlari menaiki tangga. Menghiraukan seluruh rasa sakit di bekas lukanya, Kyuhyun terus memaksakan dirinya untuk berlari menaiki tangga itu. Bagaimanapun juga, ini menyangkut keselamatan Byulhyun. Keselamatan hidup dan matinya.

-=.=-

Byulhyun sudah tiba di lantai 10. Atap gedung tua itu. Dia menoleh ke kanan dan kiri. Tapi tidak ada jalan yang bisa membawanya pergi dari gedung itu. Melompatpun juga tidak bisa. Dia ada di lantai teratas.

“BYULHYUN!!” Hanya selang beberapa detik, Hyukjae sudah berhasil menyusul Byulhyun. Dia tersenyeum kejam. “Kau mau kemana? Sudah tidak ada jalan untuk kabur.” Ujarnya lalu berjalan mendekati Byulhyun.

“Jangan mendekat!” Ujar Byulhyun lalu menodongkan pistol yang Kyuhyun berikan.

Hyukjae berpura-pura memasang wajah terkejut. Lalu dia terkekeh melihat Byulhyun yang terlihat kurang lihai dalam memengang pistol. “Kau tahu itu bukan mainan, bukan? Jadi taruh saja.” Ucapnya sambil terus berjalan mendekati Byulhyun.

Byulhyun melangkah mundur perlahan. “Jangan men…”

DOR…

Byulhyun tidak sengaja menekan pelatuk pistol itu. Karena tekanannya yang kuat, Byulhyun terdorong kebelakang dan melempar pitol itu.

“HAHA… lebih baik kau menyerah saja.” Ucapnya meremehkan. Hyukjae berjalan mendekati Byulhyun. Tapi Byulhyun sudah berdiri di tepi atap itu.

“Kau tidak perlu takut. Aku tidak akan menyakitimu!”

“BYULHYUN!!” Seru Kyuhyun yang baru saja tiba dan langsung berlari mendekati Byulhyun.

“Mendekatlah!” Hyukjae mengulurkan tangannya dan mendekati Byulhyun. Tapi karena takut, Byulhyun mundur dan tubuhnya oleng karena berada di tepi gedung. Dan tepat saat tangan Kyuhyun meraih tangan Byulhyun, Byulhyun jatuh dari gedung itu.

“Byulhyun-ah, bertahanlah!” Ujar Kyuhyun di atas gedung dengan Byulhyun yang melayang dengan bergantung pada tangan Kyuhyun.

Tapi tidak terlalu lama badan Kyuhyun tidak terlalu kuat menahan Byulhyun, hingga akhirnya Byulhyun dan Kyuhyun terjatuh dari gedung.

Kyuhyun memeluk Byulhyun lalu memutar tubuhnya hingga dia yang berada dibawah Byulhyun. Menjadikan dirinya sendiri sebagai pelindung Byulhyun bila badan mereka akan menghantam tanah.

BUG!!

Badan Kyuhyun menghantam tumpukan futon bekas di atas tanah. Walau jatuh diatas futon, tapi tetap saja jatuh dari ketinggian 40 meter tetap saja dia merasakan sakit.

Byulhyun membuka matanya dan mendongakan kepalanya. Dia melihat wajah Kyuhyun yangs sedang menahan sakit. “Oppa?!” Byulhyun langsung beranjak dari atas tubuh Kyuhyun yang melindunginya. “Gwaenchana?”

“O.. Gwaenchana.” Ujarnya sedikit merintih. “Sudah, kau pergilah. Dari pada nanti Hyukjae menangkapmu. Aku akan mengurusnya.”

Byulhyun masih diam ditempatnya. Dia memandang Kyuhyun dengan perasaan campur aduk. “Tapi…”

“Sudah. Selamatkan dirimu sendiri dulu.” Kyuhyun mendorong Byulhyun dengan pelan karena tidak memiliki tenaga sisa. “Aku akan baik-baik saja.”

Dengan terpaksa Byulhyun berjalan meninggalkan Kyuhyun yang masih terbaring lemah di atas tumpukan futon bekas itu.

Sebelum benar-benar pergi dari area gedung itu, dia menoleh memandang kyuhyun yang berbaring. Air matanya jatuh begitu saja. Tapi saat melihat Hyukjae, dia langsung berlari secepat mungkin.

Dan saat merasa sudah jauh, dia mulai melambatkan kecepatannya. Dia berjalan lunglai menyusuri jalan besar nan sepi itu.

Saat tiba di tengah kota, langit cerah mulai tertutupi oleh awan mendung. Tak lama hujan mulai turun membasahi Seoul. Dan dalam hujan, Byulhyun masih saja berjalan sambil menangis. Berbanding terbalik dengan keadaan orang-orang yang berjalan cepat atu bahkan berlarian menghindari hujan. Bahkan tidak sedikit orang yang mengatainya gila.

-=.=-

Byulhyun berjalan keluar dari lift dengan gontai. Dia menekan kombinasi angka di pintu lalu membuka pintunya.

“Byulhyun-ah?!” Tanya Nichan yang sudah ada di dalam apartemen Byulhyun.

Tapi byulhyun tidak menanggapi Nichan dan berjalan masuk kedalam kamarnya. Nichan mengikuti masuk kedalam kamar Byulhyun.

“Kau kenapa? Penampilanmu berantakan sekali.”

Ya. Penampilan Byulhyun memang sangat berantakan. Tapi perasaannya jauh lebih berantakan.

“Bisa kau tinggal aku sendiri? Aku ingin sendiri. Datanglah besok.” Ujarnya pelan.

Nichan mengangguk mengerti. “Arra. Kalau kau butuh bantuan telepon aku.”

Byulhyun mengangguk pelan. Dan setelahnya dia masuk ke dalam kamar mandi.

-=.=-

Byulhyun merebahkan tubuhnya diatas kasur. Pikirannya kacau. Walau setelah mandi, dia tidak bisa merasa lebih segar. Sedikit membaikpun tidak.

Dia tidak tahu harus berbuat bagaimana. Dia masih bimbang. Semua ini terlalu cepat baginya. Kenyataan bahwa kedua orang tuanya dibunuh oleh Kyuhyun, seorang pembunuh bayaran yang merupakan kekasihnya yang mungkin kini adalah mantan kekasihnya.

Seharusnya dia membenci Kyuhyun karena sudah membunuh orang tuanya. Tapi setiap mencoba untuk melupakan ataupun membenci Kyuhyun dadanya langsung sesak dan rasanya sangat menyakitkan.

Jujur ia akui, ia sangat mencintai Kyuhyun. Tapi sayangnya dia harus dihadapkan dengan situasi seperti ini. Tak pernah sekalipun ia membayangkan bila perjalanan cintanya akan menjadi rumit dan menyedihkan seperti sekarang ini.

-=.=-

“Byulhyun-ah, apa kau mau berangkat kuliah bersama kami?”

“O. Kebetulan mobilku masih di bengkel. Tapi tidak merepotkanmu, kan, Nichan-ah?”

“Aninde. Aku sedang ada di daerah Myeongdong. Kau tunggu didepan gedung, ya?! Aku sedang malas naik.”

“Arra.”

Byulhyun memutuskan sambungan teleponnya. Dia menatap bayangan dirinya dalam cermin. Ia menghela nafas berat. Mulai sekarang dia harus berusaha menjalani hidupnya tanpa Kyuhyun. Walau sangat berat baginya, tapi ini adalah kenyataan dari hidup yang harus ia jalani.

Byulhyun mengambil tas tangannya. Dan segera berjalan keluar dari pintu apartemennya. Saat menutup pintu, kakinya tersandung oleh sesuatu. Dia menunduk. Ternyata tas tangan yang kemarin tertinggal di gedung itu.

Byulhyun memungut tas itu. Ada sepucuk surat disana. Byulhyun mulai membaca rentetan tulisan tangan itu.

 

Tasmu tertinggal. Sekarang aku kembalikan padamu. Dan kalung ini adalah hadiah terakhir dariku. Semoga kau menyukainya. Semoga hidupmu menyenangkan dan lebih baik dari sebelumnya

Monster yang selalu menicntai Bintang,

Kyuhyun

 

Baru saja Byulhyun berusaha melupakan Kyuhyun. Tapi takdir seolah memermainkannya. Air matanya menetes begitu saja tanpa sempat ia tahan.

Byulhyun kembali masuk kedalam apartemennya. Dia menyimpan kertas dari Kyuhyun di sebuah kotak yang berisikan barang-barang berharga miliknya.

Walau berat, akhirnya Byulhyun menutup kotak itu dan meninggalkannya. Dan segera menuju basement.

-=.=-

“Byulhyun-ah, kau kenapa? Matamu merah. Habis menangis? Apa ada sangkut pautnya dengan kemarin? Atau Kyuhyun mungkin?” Tanya Nichan khawatir.

Byulhyun terpaku mendengar nama Kyuhyun. Lalu dia menggeleng lemah.

“Aku tidak memaksa bila kau tidak mau cerita.”

“Ah Nichan-ah, kau suka menonton film, kan?” Tanya Byulhyun.

“Nado cohahae!” Seru Jongwoon dibalik kemudi mobil.

“Aku baru menonton film.” Ujar Byulhyun pelan.

“Tentang apa?” Tanya Nichan dan Jongwoon kompak dan sangat penasaran.

“Mm.. Seorang pembunuh bayaran. Dia mendapat tugas untuk membunuh sepasang suami isteri. Tapi akhirnya dia mencintai putri dari pasangan yang ia bunuh. Dan dia merelakan dirinya sendiri agar gadis itu selamat sambil membawa rahasia terdalamnya.”

“Film apa itu? Aku belum pernah dengar. Apa judulnya?” Tanya Jongwoon yang terlihat tertarik dengan film yang Byulhyun ceritakan.

Byulhyun panik. Jujur saja yang ia maksudkan adalah kisanya sendiri. Dan dia juga tidak terlalu banyak menonton film. “Molla. Aku tidak tahu.”

“Ah, apa pembunuh itu mengetahui dia itu putri korbannya setelah membunuh atau sebelumnya?”

“Setelahnya. Dari mantan kekasihnya. Lebih tepatnya dari rekan kerjanya yang juga mencintainya.”

“Cerita klasik. Tidak seru.” Ujar Nichan.

Sementara Jongwoon menagangguk-angguk. “Majja, Kkoma-ya!”

Kalian tidak akan mentakannya klasik bila merasakannya sendiri. Rutuk Byulhyun dalam hati.

“Lalu bagaimana akhir ceritanya?”

Aish, kalian bilang klasik. Tapi masih saja menanyakan ceritanya. Umpat Byulhyun lagi. “Molla. Aku baru setengahnya saja. Sisanya tidak bisa diputar.”

“Kkoma, menurutmu bagaimana akhirnya?”

“Sad ending. Dengan salah satunya mati. Pembunuh itu atau gadis itu.” Ujar Nichan tanpa rasa bersalah.

“MWO??!” Dari belakang Byulhyun berteriak tidak terima.

“Menurutku bagus juga idemu, Kkoma. Atau dibuat menggantung saja.” Ujar Jongwoon yakin.

Byulhyun menghempaskan badannya ke jok mobil Jongwoon. Bisakah mereka serius menanggapi ini? Inikan menyangkut hidupku juga. Dasar tidak peka!!Kyuhyun-ah,aku harus bagaimana sekarang?

-=.=-

One Year Latter…

Byulhyun duduk di salah satu bangku taman Namsan. Byulhyun memandang puncak Namsan tower sambil memainkan toga miliknya. Hari ini adalah kelulusannya. Dia menghela nafas berat. “Sudah satu tahun berlalu…”

“Jadi, kau masih menunggunya?” Tanya seseorang tiba-tiba.

Byulhyun menoleh. Dia sangat terkejut melihat siapa yang tengah duduk di sampingnya. “Hyukjae-ah?” Suaranya tercekat. Byulhyun langsung bangkit.

Tapi Hyukjae, menarik tangannya. Byulhyun sedikit meronta. “Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu. Duduklah!”

Entah kenapa, Byulhyun menuruti perkataan Hyukjae. Dia kembali duduk disamping Hyukjae. “Hyera… Maaf atas kejadian waktu itu.”

Hyukjae tersenyum miris. “Gwaenchana. Aku sudah melupakan masalah itu.” Ujarnya lalu menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

Byulhyun menunduk merasa bersalah pada Hyukjae.

“Sudah. Jadi, kau masih menunggunya?”

“Eh?” Byulhyun mendongak.

“Kyuhyun.” Ujarnya singkat sementara matanya memandang menara Namsan.

Byulhyun menangguk lalu mengikuti arah pandang Hyukjae. “Tentu saja. Sampai kapanpun.”

“Kau mencintainya?”

“Tentu. Untuk apa aku rela menunggunya bila aku tidak mencintainya.”

“Di saat bulan tersenyum, ketika bunga kehilangan panutannya, di sebuah taman dengan payung biru, kau akan temukan apa yang kau cari.”

“Apa maksudmu?” Tanya Byulhyun tidak mengerti dengan apa yang Hyukjae katakan. Tapi saat ia menoleh, Hyukjae tak lagi duduk di sampingnya. Dia menoleh ke sekelilingnya, tapi ia tidak bisa menemukan Hyukjae.

Namun, Byulhyun menemukan secari kertas di tempat yang Hyukjae duduki. Diambilnya kertas itu. Dia membuka untuk melihat apa yang ada dalam kertas itu.

Air mata Byulhyun mulai tergenang melihat lukisan yang ada ditangannya. Lukisan dirinya saat bertemu di restoran. Lukisan itu ditanda tangani langsung oleh Kyuhyun, jadi Byulhyun semakin yakin, bila itu memang lukisan dari Kyuhyun. Byulhyun langsung memeluk lukisan itu.

-=.=-

Byulhyun masuk kedalam apartemen. Dan langsung menjatuhkan tubuhnya diatas sofa. Kata-kata Hyukjae terus terngiang di otaknya. Itu pastilah bukan kata-kata tanpa makna.

Byulhyun mengambil remote TV lalu menyalakannya bermaksud menghilangkan stress. TV itu menyiarkan acara Invincible Youth 2.

“Cha! Sekarang kalian harus menebak nama bunga yang aku sebutkan cirinya!” Ujar Boom.

“OK!!” Seru Sunny dan Hyoyeon yang ikut dalam permainan itu secara antusias.

“Ilbon! Yang berwarna merah berarti menunjukkan soal rasa kagum dan menandakan bahwa kita selalu menginginkan orang itu untuk terus berada di samping itu.” Ujar Shinyoung. G8 yang ikut dalam permainan itu terlihat berpikir untuk menemukan jawabannya.

“Anyelir, kah?” Tanya Amber. Semua mata langsung menatap Amber.

“Jongdam!!” Shinyoung berseru. Semua yang ada di regu Amber bersorak.

“Cha ije, ibon!! Bunga yang kehilangan panutannya saat malam?” Boom beralih memberi pertanyan.

“HAEBARAGI!!” Sunny berteriak yakin.

Byulhyun yang mendengar langsung terdiam. Dia kembali teringat dengan kalimat Hyukjae.

ketika bunga kehilangan panutannya.

“Ketika bunga kehilangan panutannya. Bunga matahari.” Ujarnya pada dirinya sendiri. “Malam?”

Dia langsung berlari menuju mejanya. Dia menuliskan semua yang dikatakan Hyukjae.

“Di saat bulan tersenyum, ketika bunga kehilangan panutannya, di sebuah taman dengan payung biru, kau akan temukan apa yang kau cari. Apa maksudnya?” Tanyanya sambil melihat tulisannya sendiri.

“Ketika bunga kehilangan panutannya. Bunga matahari kehilangan matahari di saat malam.” Dia mulai berpikir dengan semua kemungkinan. “Sebuah taman dengan payung biru? Bulan tersenyum?”

Byulhyun melihat keluar jendela. Malam ini sedang malam bulan sabit. Dan berbentuk senyum. Byulhyun langsung tersenyum.

“Malam dengan bulan sabit. Berarti malam ini. Lalu taman dengan payung biru?”

Byulhyun menyalakan komputernya lalu membuka aplikasi peta. Dia mencari taman yang memiliki payung biru. Tapi dia tidak menemukannya.

Byulhyun berdecak kesal. “Payung biru?” dia menggerakan pointer mouse-nya membentuk payung. Tapi yang kemudian ia sadari, aliran sungai han di Tosandaero berbentuk melengkung seperti payung. “Inikah maksudnya?”

Dia meneliti daerah Tosandaero, tapi tidak ada taman. Dia mencoba meneliti seluruh aliran sungai han yang mirip di Tosandaero. Dan ia menemukannya di Yeouido. Sungai Han terlihat memayungi Sport Park Yeouido.

Senyum Byulhyun terkembang sempurna. “Malam ini di Sport Park Yeouido. Kau akan temukan apa yang kau cari.” Byulhyun kembali berpikir. “Yang kucari?”

“Kyuhyun…” Lirihnya. Dan sedetik kemudian, Byulhyun langsung mengambil kuncinya dan segera menuju Sport Park Yeouido.

-=.=-

Byulhyun memarkirkan mobilnya ke tepi taman. Dia keluar dari mobil dan melihat sekeliling. Sepi. Tidak ada orang sama sekali.

Byulhyun terus melangkahkan kakinya masuk ke wilayah sport park itu. Tapi sejauh mata memandang, tidak ada orang yang ada disana.

“Kyuhyun-ah, eoddiya?” Ucapnya lirih lalu sebulir cairan bening jatuh membasahi pipinya.

Byulhyun berjalan menuju timur kearah Mapodaegyo. Matanya terus menoleh kekanan dan kekiri mencari keberadaan Kyuhyun.

Dan saat dia berada dalam jarak seratus meter dari jembatan Mapo, dia menangkap bayangan dari seorang pria yang berdiri angkuh sambil memasukan kedua tangannya kedalam saku celana. Dan Byulhyun cukup yakin, bila yang ia lihat adalah Kyuhyun.

“KYUHYUN-AH!!” Byulhyun berteriak memanggil namanya dan langsung berlari mendekati pria itu.

Pria itu menoleh dan terkejut mendapati Byulhyun berlari kearahnya. Byulhyun yang melihat wajahnya langsung mempercepat larinya. Dan saat tinggal selangkah, Byulhyun langsung memeluk Kyuhyun.

“Kenapa kau pergi lama sekali?” Tanyanya sambil terisak. Dia menumpahkan semuanya dalam dekapan Kyuhyun.

Kyuhyun hanya diam. Bahkan tidak membalas pelukannya. “Byulhyun-ah…”

“Kau tahu seberapa lama aku menunggumu?”

“Kupikir kau membenciku karena masalah waktu itu.”

“Babo!!” hardiknya sambil memukul punggung Kyuhyun kesal beberapa kali. “Kau tahu aku mencintaimu. Aku tidak pernah membencimu walau satu detik.”

Kyuhyun langsung membalas pelukan Byulhyun. Dia memeluk Byulhyun sangat erat seakan mengekang gadis itu agar tidak pergi dari sisinya. “Mianhae. Keurom, mulai sekarang aku tidak akan pernah melepasmu dan meninggalkanmu.”

“Yakshokaeyo?”

“Yakshokae.”

“Bagaimana dengan organisasimu itu?”

Kyuhyun melepas pelukannya. Dia memutar tubuhnya hingga memunggungi Byulhyun. Dia menghela nafas berat.

Byulhyun berjalan mendekati Kyuhyun dan berdiri di sampingnya. “Waeyo?” Tanyanya khawatir.

“Aku mendapat hukuman seumur hidupku.” Ujarnya lirih.

Byulhyun terkejut. Dadanya langsung sesak. “Jinjayo?”

Kyuhyun mengangguk lalu menundukan wajahnya dalam-dalam. Dan dia menghembuskan nafas berat lagi.

“Memang kau mendapat hukuman apa?” Tanya Byulhyun benar-benar khawatir.

Kyuhyun menatap Byulhyun dengan tampang memelas. Lalu dia merangkul Byulhyun dan mengecup bibirnya singkat. “Aku mendapatkan hukuman tidak boleh mencintai gadis lain selain kau dan harus selalu mencintaimu selamanya.”

END

Kyaaaa….. A Love To Killnya cukup sampe disini aja ya…

Tiba-tiba dapet ide dibuat kaya gini dan karena idenya juga udah mentok..

dan kalo ngecewain.. maaf banget ya…

Advertisements