Tags

Yoseob jadi panik dan khawatir atas keadaan Nichan. “Geu yeoja… Bagaimana kalau dia berbuat nekat lagi.”

“Nekat apa maksudmu?” Tanya Byulhyun.

“YA!! PARK NICHAN!! CHANKAMAN!!” Seru Yoseob lalu menyusul Nichan tanpa menghiraukan teman-temannya yang lain. “Park Nichan!! Jangan berbuat nekat!”

Nichan tak menghiraukan panggilan Yoseob. Dia terus berlari kecil hingga keluar dari wilayah kampusnya. Dan karena dia tak tahu tata letak kampusnya, dia berada di daerah belakang kampusnya yang jarang dilewati orang banyak.

Yoseob mengejar Nichan. Dia menarik lengan Nichan. Dengan jelas ia dapat melihat genangan airmata di mata Nichan. “Kau mau kemana? Kau jangan berbuat nekat lagi!!”

“Aku tak akan bunuh diri lagi. Aku sudah berjanji padanya untuk bertahan hidup.”

“Padanya? Pada siapa?” Tanya Yoseob penasaran.

Nichan menggenggam erat liontin kalungnya. “Aku sudah berjanji padanya.”

“Kevin?”

Nichan mengangguk bersamaan dengan jatuhnya airmatanya.

“Sampai kapan kau berpikir bahwa Kevin masih hidup? Dia sudah pergi Nichan-ah. Kau harus terima bahwa dia sudah pergi!”

“Dia masih disini! Dia selalu disampingku! Dia masih melindungi dan menjagaku! Dia selalu memberiku semangat dan memberiku saran. Dia masih rutin menemuiku! Dia masih disini! Dia belum pergi!” Nichan beralih histeris.

“Kau harus sadar Park Nichan!! Dia sudah pergi!!” Yoseob tetap gigih.

“Dia tidak pernah pergi! Dia masih disini! Dia selalu menemaniku! Dia…” Ucapan Nichan terhenti. Badannya mulai tak seimbang dan tak berapa lama dia pingsan.

Untung Yoseob segera menangkap tubuh Nichan. Karena Nichan lebih tinggi, Yoseob menahan tubuh Nichan sambil terduduk. “Nichan-ah, ireonayo! Baiklah, Kevin masih disini! Kumohon sadarlah!” Yoseob berusaha membangunkan Nichan.

Yoseob mencoba mengendong Nichan, tapi ia tidak kuat. Dia memutuskan membaringkan tubuh Nichan dan mencoba mencari bantuan. Dia berjalan kembali ke arah kantin. Tapi tak jauh dia menemukan Jongwoon datang dengan nafas yang tersenggal-senggal.

“Apa yang terjadi? Dimana Nichan?” Tanya Jongwoon khawatir.

Dibelakangnya, Sungmin, Byulhyun, dan Kyuhyun datang menyusul mereka. “Kami khawatir dengan kalian. Apa yang terjadi?”

“Nichan pingsan.”

“MWO?”

Jongwoon mengalihkan pandangannya dibelakang dan dengan jelas dia melihat Nichan terbaring diatas tanah. Jongwoon langsung berlari mendekatinya. “Nichan-ah, irreonayo!”

Jongwoon menepuk pipi Nichan pelan. Tapi dia sama sekali tak bergeming. Jongwoon langsung menggendong Nichan dan membawanya ke lapangan parkir.

“Hyung!! Kau tidak membawa mobil, bukan?” Sungmin mengingatkan.

“Mobilku saja!” Ujar Yoseob lalu langsung berjalan menuju tempat mobilnya diparkirkan.

Jongwoon merebahkan Nichan di jok belakang mobil Yoseob. Dan Yoseob langsung membawa mobilnya ke rumah sakit. Jongwoon hendak menyusulnya dengan motor miliknya yang ia parkiran di dekat mobil Yoseob. Tapi Sungmin mencegahnya.

“Hyung, kau mau kemana?”

“Aku mau menyusulnya.”

“Tapi Kang Saem menunggumu. Kau tau kalau dia sangat sibuk, bukan?”

Jongwoon mengurungkan niatnya. Dia hanya melihat mobil Yoseob yang mulai menjauh meninggalkan area Soeul University.

Jongwoon menundukan kepalanya. Dia melihat kalung apel milik Nichan. Dia memungut kalung itu. Dengan tidak sengaja dia membuka liontin apel itu. Dia tersenyum kecil melihat foto Nichan. Tapi, senyumnya perlahan memudar melihat foto pria yang tak lain adalah Kevin.

“Bukankah itu Nichan? Siapa ini? Apa ini foto kekasihnya?” Tanya Byulhyun sekenanya dan langsung merebut kalung Nichan dari tangan Jongwoon. “Kekasihnya ternyata sangat tampan.”

“YA!!” bentak Kyuhyun.

Jongwoon mengambil kembali kalung itu. “Aku akan mengembalikan kalung ini padanya nanti.”

“Biar aku saja, Hyung! Besok aku ada kelas dengannya lagi.”

Dengan perasaan berat, Jongwoon memberikan kalung itu pada Sungmin.  “Kau harus memastikan kalau Nichan sendiri yang langsung menerimanya.”

“Kau kenapa, Hyung?” Tanya Kyuhyun sambil menatapnya curiga.

“Kenapa apanya? Aku baik-baik saja.” Jongwoon mengelak.

“Dari sudut pandanganku, kau itu berbeda. Kau sangat khawatir saat Nichan pingsan. Dan tadi kalung itu, kau terlihat tidak rela saat memberikannya pada Sungmin.” Jelas Kyuhyun.

Jongwoon terlihat salah tingkah. “Aku hanya menolongnya. Bukankah kita harus saling menolong?”

Kyuhyun mengangkat bahunya sedikit tidak percaya pada Jongwoon.

“Sudahlah. Kajja Sungmin-ah!” Ujar Jongwoon lalu berjalan mendahului Sungmin.

“Bagaimana menurut kalian? Prediksiku salah tidak?” Bisik Kyuhyun.

“Mollayo. Aku tidak terlalu mengenalnya.” Byulhyun membalas.

“Dia memang perhatian dengan orang lain, bukan?” Sungmin membalas.

“Tapi tidak ditunjukan. Perhatiannya itu tersirat Tapi kali ini perhatiannya sangat terlihat.” Kyuhyun tetap gigih.

“SUNGMIN-AH!! PALLIWA!!” Seru Jongwoon yang sudah berada cukup jauh dari mereka.

“NE HYUNG!! CHANKAMANYO!!” Balas Sungmin agak berteriak juga.

“Sudah. Aku kesana dulu. Anyeong!!” Pamitnya lalu segera berjalan mendekati Jongwoon sambil berlari kecil.

-=.=-

Yoseob sedang menunggu Nichan di UGD. Dia baru saja menelepon Ahrim untuk datang. Dia memandangi wajah Nichan. Dia merasa kasihan dengan sepupunya itu.

“Nichan-ah, mianhaeyo. Aku tak tahu kalau kau sudah sangat bergantung padanya.” Sesalnya.

Perlahan Yoseob dapat Nichan mulai membuka matanya. “Nichan-ah, kau sudah sadar?” Tanya Yoseob dengan bahagia.

“Oppa, antarkan aku ke makam Kevin!” Nichan memohon.

“Tapi keadaanmu masih lemah.”

“Aku sudah kuat. Antarkan aku kesana!”

“Kau tidak boleh kemana-mana!”

“Keurom, aku akan berangkat sendiri!”

Nichan mulai melepas selang infusnya. Tapi Yoseob menahannya. “Arrayo. Aku akan mengantarmu!” Ujarnya agak kesal.

“Kenapa tidak mengiyakannya dari tadi?”

“Cish… Tunggu disini! Aku akan memanggil perawat untuk melepas infusmu!”

Yoseob segera berjalan keluar meninggalkan Nichan di ruang UGD sendiri. Nichan hendak melihat foto Kevin yang ada di kalungnya. Tapi kalung itu sudah tidak lagi melingkar di lehernya.

Dengan panik, ia mencari kalungnya. Dia menggeledah kantong, tas, dompet, dia menggeledah semuanya. Tapi ia tetap tidak menemukan kalung itu.

Mungkin melihat foto Kevin, dia bisa melakukannya memalui ponselnya dimana ribuan foto Kevin tersimpan didalamnya. Tapi, kalung itu adalah pemberian dari Jinki. Nichan sudah menganggap Jinki sebagai kakaknya. Mereka berdua adalah laki-laki yang menempati posisi penting dihatinya. Jadi, semua barang yang mereka berikan adalah barang yang paling berharga untuknya.

Nichan meringkuk disamping ranjang rumah sakit itu. Dia menangis kecil. “Kalungku… Dimana kalungku?” ujarnya sambil menangis. “Tolong kembalikan kalungku… Aku membutuhkan kalungku.”

Yoseob masuk bersama seorang suster. Tapi, dia tidak menemukan Nichan berbaring diatas kasur. Barang-barang dalam tas Nichan juga sudah berserakan diatas kasur dan dilantai. Yoseob panik dan berpikir bahwa Nichan kabur. Tapi segera, dia mendengar suara isakan.

Yoseob berjalan mendekat. Dia melihat Nichan yang sedang duduk dilantai sambil menangis. “Nichan-ah, kau kenapa?”

“Kalungku…” rengeknya.

“Ne? Kalung pemberian Jinki maksudmu?”

Nichan mengangguk.

“Lepas infusmu dulu. Setelahnya, kita cari kalungmu dikampus.”

-=.=-

“Apa kau melihat kalungku?” Tanya Nichan pada Kyuhyun.

“Kalung apa?” Tanya Kyuhyun tak mengerti. Lalu dia teringat akan sesuatu. “Ah! Kalung yang berisi fotomu dan kekasihmu itu?”

Nichan mengangguk antusias. “Kau tahu ada dimana kalungku itu?”

“Tadi dibawa Sungminie.”

“Keurom, ada dimana Sungmin sekarang?”

“Molla.”

“Bisakah kau telepon dan tanyakan keberadaannya?”

“Untuk apa?” Ujar Kyuhyun santai lalu beranjak berdiri.

“Oh?! Nichan-ah, kau ada disini?” Tanya Byulhyun yang tiba-tiba sudah ada disana.

“Apa kau tahu Sungmin dimana? Aku ingin mengambil kalungku.”

“Coba kau cari di studio music di fakultas seni. Kurasa dia ada disana bersama Jongwoon Oppa dan juga Kang Sonsaengnim.”

“Cepat ikuti aku!” Perintah Yoseob lalu memimimpin jalan diikuti Nichan.

“Kau kenapa memberitahu gadis tengik itu?” Ujar Kyuhyun kesal.

“Kasihan dia, bukan? Masih sakit tapi memaksakan dirinya mencari kalung pemberian kekasihnya.”

“Dia saja tidak mengucapkan terimakasih untukmu.”

“Memang kau tidak begitu?” Cibir Byulhyun lalu berjalan meninggalkan Kyuhyun dibelakangnya.

“YA!! Kenapa kau tidak pernah membelaku?!” Rajuk Kyuhyun pada Byulhyun yang masih terus berjalan dan menghiraukan Kyuhyun. “YA!! KIM BYUHYUN!!

-=.=-

“Ayo! Kau mau masuk tidak?” Tanya Yoseob bingung.

Kini Nichan tengah berdiri di depan gedung fakultas seni Seoul University. Gedung yang sebenarnya akan menjadi tempat untuk Kevin melanjutkan jalan hidupnya. Tempat menuntut ilmu yang Kevin ingankan sejak lama

Nichan merasa ragu tapi setelah meyakinkan dirinya, Nichan memberanikan dirinya masuk. Dia merasa canggung pada awalnya karena fakultas seni mengingatkannya pada Kevin. Kenangannya bersama Kevin kembali berkecamuk di dalam pikirannya.

Kenangannya saat Kevin bermain piano dan menyanyikan sebah lagu. Lalu disaat pelajaran seni musik, disaat dia dan Kevin melakukan duet sambil bermain gitar bersama. Dan juga saat Kevin dengan iseng bermain biola milik Nichan.

Nichan mengingat itu semua dan membuat hatinya menjadi kembali terasa pilu. Matanya juga sudah mulai berair.

“Nichan-ah, kau kenapa?” Tanya Yoseob khawatir melihat Nichan yang matanya sudah sembab.

“Gwaenchana. Kau benar tahu studio musiknya tidak?” Tanya Nichan waspada.

“Sebenarnya… tidak. Aku hanya thu fakultas seninya.” Ujar Yoseob lalu tersenyum merasa bersalah. Nichan langsung menatapnya tajam yang langsung membuat Yoseob takut. “Akan kutanya pada temanku.”

Yoseob melihat seklilingnya. Lalu dia mendekati seorang pria yang sedang berbincang dengan seorang gadis. “Hyunseung-ah, kau tahu studio musiknya ada dimana?”

“Di lantai tiga di lorong sebelah kanan.”

“Gomapta. Kalau begitu aku duluan, Hyunseung-ah, Hyuna-ya!”

Yoseob kembali mendekati Nichan. “Ayo! Studio Musiknya ada diatas.”

Setelah tiba dilantai atas dan berjalan kearah kanan. Merasa bingung, Yoseob ingin bertanya lagi, tapi tidak ada seseorang disana.

Tak lama ada seorang pria tinggi berpostur gagah dengan pipi tembab melewati sambil membawa beberapa lembar paritur lagu. “Chogi…”

“Ne?”

“Kau tahu dimana studio musik?” Tanya Yoseob.

Tapi pria itu tidak memerhatikan Yoseob. Dia malah asik memerhatikan Nichan. “Nichan-ah?”

Nichan mendongakan kepalanya. Dia terkesiap melihat pria itu. “Cheondung-ah?”

“Sedang apa kau disini?”

“Mencari studio musik.”

“Ada di ujung lorong ini. Kau tinggal jelan terus. Ada di pojok kiri.”

“Gamawoyo.”

“O. Keurom, aku pergi dulu.”

Nichan mengangguk dan Cheondung langsung berlalu. Yoseob dan Nichan langsung berjalan mendekati studio musik.

Yoseob membuka pintu. Dia melongokan kepalanya masuk “Chogiyo…”

“Ah, Yoseob-ah!” Sapa Sungmin yang sedang duduk sambil memainkan gitar.

“Kudengar kau membawa kalung Nichan? Bisa aku ambil?” Tanyanya setelah dia benar-benar masuk ke dalam studio itu.

“Kalungnya disimpan Jongwoon Hyung. Dia sedang take vocal didalam.” Ujar Sungmin sambil menunjuk Jongwoon yang sedang menyanyi di balik kaca di belakangnya. “Kau tunggu di dalam saja.”

Yoseob menengok keluar. “Nichan-ah, Jongwoon Hyung sedang take vocal. Kita tunggu di dalam saja.”

Yoseob dan Nichan duduk di samping Sungmin yang masih berlatih menyanyi dengan gitarnya juga. Dia melirik Jongwoon yang sedang menatapnya. Jongwoon tersenyum lalu membungkuk kecil untuk menyapanya. Tapi, Nichan langsung mengalihkan pandangannya.

Nichan yang biasanya saat melihat orang menyanyi akan langsung memerhatikannya tidak tertarik sama sekali untuk melihat kemampuan Sungmin menyanyi. Tapi saat dia mendengar suara Jongwoon yang sedang take vocal, dia tidak dapat mengalihkan fokusnya dari suara Jongwoon. Dan itu semua membuat sesuatu dalam dirinya perlahan mulai berubah.

Suara Jongwoon bak memiliki seusuatu yang membuat Nichan tidak dapat berpaling untuk terus mendengarkan suaranya dan tidak menghiraukannya. Akalnya menyuruhnya segera pergi untuk terus menjaga hatinya untuk Kevin tapi hatinya terus berontak untuk tetap berada disana.

Dia segera beranjak dan keluar dari studio tersebut. Perasaannya campur aduk. Hatinya berdebat dengan akalnya. “Oppa, kenapa ini berat? Kenapa tak kau biarkan aku menyusulmu?

“Kau kepana Nichan-ah?” Tanya Yoseob khawatir.

Nichan hanya menggelengkan kepalanya pelan. “Bisa aku dapatkan kalungku sekarang dan segera pergi dari sini?”

Yoseob menganggukan kepalanya. Saat dia ingin kembali masuk kedalam studio, Jongwoon keluar dari studio.

“Ambilah.” Ucapnya sambil menunjukan kalung Nichan di telapak tangannya.

“Gamsahamnida.” Ujar Nichan pelan dan singkat lalu mengambil kalung itu dari tangan Jongwoon.

Jongwoon tersenyum. Hendak dia mengatakan sesuatu, tapi Nichan sudah berbalik dan berlalu. Jongwoon mendesah kecewa.

“Mianhaeyo, Hyung. Nichan memang sedikit dingin dengan orang lain.” Ujar Yoseob. Jongwoon hanya mengangguk. “Keurom, aku permisi, Hyung!”

-=.=-

Nichan berjalan mendekati gundukan tanah dengan keramik hitam dan berukir membentuk rangkaian kalimat. Ditangannya ada sebuah buket bunga lili putih dan mawar putih.

“Oppa, apa kabar?” Tanya Nichan pada nisan Kevin sambil mengelus-elus nisan itu. “Oppa, kenapa semuanya terasa berat tanpamu? Kenapa aku tidak bisa mengendalikan diriku di depan Jongwoon tadi? Oppa, aku sangat ingin bersamamu saat ini.”

Lama Nichan terdiam. Dia hanya diam memandang nisan Kevin. “Oppa bogoshipoyo.” Ujarnya sambil menitikan airmata.

“Nichan-ah, sudah mulai gelap. Ayo, kita pulang!” Ujar Yoseob. “Eommamu sudah meneleponku dan menyuruhmu cepat pulang. Kajja!”

Nichan mengangguk kecil. Dia menaruh rangkaian bunga itu didepan nisan keramik berwarna hitam yang ada di hadapannya. “Oppa, aku pulang dulu.”

Nichan berdiri lalu memandang nisan Kevin lagi. Kemudian dia berbalik dan meninggalkan makam itu dan segera berjalan menuju mobil.

Sementara Yoseob masih memandang nisan Kevin. “Kau sudah pergi. Tapi, kenapa kau seakan masih berada disini dan membuat Nichan seperti itu?”

Yoseob menoleh menatap Nichan yang masih berjalan dengan perlahan. Tapi kemudian dia kembali menatap nisan. “Tak bisakah kau melepasnya pergi? Jangan mengekangnya. Kumohon.”

-=.=-

“Nichanie, gwaenchana?” Tanya Ahrim setelah Nichan masuk kedalam rumah.

“Gwaenchana, Eomma!” Jawabnya pelan lalu berjalan menaiki tangga dengan lesu.

Dibelakang Yoseob menyusul sambil membawakan clutch milik Nichan. Dia menyerahkannya pada Ahrim.

“Nichannie waeyo?” Tanya Ahrim khawatir.

“Gwaenchana, Ahjuma. Dia hanya sedikit tertekan karena teringat Kevin. Jadi dia pingsan.” Yoseob menjelaskan pada Ahrim.

“Kenapa pulang malam sekali?”

“Kami mampir ke makam Kevin.”

Ahrim menganguk mengerti. “Arraseo. Gomawoyo, Yoseob-ah!”

“Ne. Cheomaneyo, Ahjumma. Keurom, aku pamit pulang.”

“Ne. Sampaikan salamku untuk Eommamu.”

“Ne.”

-=.=-

Tak terasa, sudah tiga tahun Nichan menjalani hidupnya tanpa Kevin. Dan semua berjalan baik. Tapi tidak baik menurut Nichan. Dia kini lebih suka menyendiri. Tapi disaat dia ingin menyindiri, Byulhyun selalu mengajaknya untuk berkumpul bersama Kyuhyun, Sungmin, Yoseob, dan juga Jongwoon. Mau tak mau, hubungan mereka semua menjadi lebih dekat. Walaupun, Nichan tidak banyak berbicara. Dan Yoseoblah yang menjadi juru bicaranya.

Dan kini Nichan, Byulhyun, Kyuhyun, dan Sungmin sedang berkumpul bersama di kantin. Mereka semua mengobrol dengan asik. Terkecuali Nichan yang duduk paling ujung, memangku wajahnya dengan kedua tangannya, sementara dia mendengarkan musik melalui iPod miliknya.

Tak lama, Jongwoon datang dan langsung menuju meja mereka. Sungmin yang baru pertama kali menyadari kedatangannya. “Jongwoon Hyung!” Jongwoon mendekat dan melakukan high five bersama Sungmin. “Selamat atas kelulusanmu!”

“Gomawo.”

“Woah! Hyung selamat! Aku masih menunggu tahun depan agar lulus!” Kini Kyuhyun menyelamati Jongwoon dan mengeluh untuk dirinya sendiri.

“Gomawo. Lakukanlah dengan senang hati, maka akan terasa lebih cepat!” Jongwoon memberi saran.

Jongwoon’s POV

Aku keluar dari kelasku. Akhirnya… setelah 5 tahun kuliah disini, aku lulus juga. Lega dan senang rasanya. Tapi, kuakui aku juga sedih. Ya, sangat sedih sejujurnya.

Kenapa? Tentu saja karena aku tidak akan bisa bertemu dengan gadis yang aku sukai. Dan bila aku lulus, artinya aku akan susah untuk berbicara dengannya. Secara teknis, dia memang diam dan tidak banyak bicara. Tapi setidaknya, aku masih bisa bertemu dengannya. Mengobati rasa rindu bila aku tidak bertemu dengannya.

“Hah…” Aku menghela nafas. Mencoba untuk menerima nasib yang kumiliki. Lebih baik aku pergi ke kantin dan menemuinya.

Aish, duduk dimana dia? Kenepa tidak duduk di tempat biasanya. Hari ini keadaan akntin sangat ramai, aku semakin susah untuk mencarinya.

“Jongwoon Hyung!” Terdengar suara memanggilku yang kukenal sebagai milik Sungmin.

Ah itu Sungmin. Tapi dimana gadis itu? Aku melihat sekelilingnya. Itu didisana. Duduk paling pojok dan mendengarkan musik melalui earphonenya sambil memangku wajahnya dengan tangannya. Sesekali terlihat mengangguk-anggukan kepalanya mengikuti irama musik yang sedang ia dengarkan.

Aku mulai mendekati posisi mereka duduk. Aku mendekati Sungmin dan melakukan high five.

“Selamat atas kelulusanmu!” Ujarnya menyelamati.

Aku tersenyum. “Gomawo.”

“Woah! Hyung selamat! Aku masih menunggu tahun depan agar lulus!” Kini Kyuhyun menyelamatiku dan juga mengeluh untuk dirinya sendiri. Anak ini. Selalu tidak mau kalah saja.

“Gomawo. Lakukanlah dengan senang hati, maka akan terasa lebih cepat!” Aku mencoba memberi saran untuknya. Yang entah akan ia dengarkan atau tidak.

“Ah, chukahaeyo, Oppa! Kau harus mentraktir kami karena kelulusanmu!” Kini Byulhyun juga ikut menyelamatiku.

Aku melirik kearah gadis itu. Nichan. Sedikit berharap bila dia akan memberiku ucapan selamat. Ya, walau aku tahu, itu mustahil. Dan seperti dugaanku, Nichan hanya diam saja. Aku menghela nafas sedikit kecewa.

“Ne, majja! Kita BBQ party saja!” Sungmin memberi saran. Aigoo, kenapa anak ini selalu mengajak pesta. Tapi tak apalah. Sesekali berlibur bersama.

“Bagaimana kalau ke Jeju? Aku yang menanggung semuanya!” Tanyaku mencari saran.

“Jinjayo? Itu lebih bagus!” Kyuhyun menyutujui.

“Daebak! Kita kesana bersama-sama! Kau juga ikut Nichan-ah, ya?!” Pinta Byulhyun. Aku ikut menoleh kearah Nichan, sedikit berharap dia akan mengiyakan. Tapi kemudian yang terdengar adalah suara gebrakan dari meja yang ditimbulkan oleh Yoseob.

“PARK NICHAN!” Teriaknya. Aish, kenapa anak ini tidak bisa diam?

Nichan hanya memandangnya dengan ekspersi datar. Sementara Yoseob hanya menunjukan selembar surat dengan senyum bahagia. “Kau tahu ini apa?” Tanyanya berteka-teki.

Nichan hanya diam tidak merespon. Yoseob perlahan mengambil isi surat itu dan menunjukan isinya pada Nichan. “Chukahae! Permintaanmu untuk melewati 2 semeseter di terima. Jadi kau bisa mempercepat kelulusanmu menjadi tahun depan. Bersamaan denganku.”

Wah, jinjayo? Dia akan lulus lebih cepat. Ada perasaan bangga menyelimutiku. Aish, gadis yang aku sukai memang berbeda. Haha…

Nichan mengangguk sederhana lalu menerima surat itu. Harusnya dia tersenyum senang. Tapi dia hanya berekspresi datar tanpa senyum sama sekali.

“Mwo? Jadi dia akan lulus bersama denganku?” Tanya Kyuhyun tidak percaya dan merasa tidak terima.

“Nichan-ah, wae? Aku yang lulus terakhir diantara kalian semua?” Tanya Byulhyun memelas.

“Oh.” Jawab Yoseob. “Hyung, kapan kau diwisuda?” Tanyanya.

“Dua atau tiga bulan kedepan.” Jawabku seadanya.

“Ah, lalu kapan pesatanya?” Tanya Sungmin.

“Pesta apa?” Tanya Yoseob tidak mengerti.

“Kelulusanku. Bagaimana saat minggu pertama musim semi? Setelah wisudaku?”

“Itjimayo, Hyung! Kau biasanya kan pelupa!” Celetuk Kyuhyun. Aish, anak ini selalu berbicara sesukanya. Apalagi dihadapan gadis yang kusakai. Bagaimana kalau dia berpikir hal buruk tentangku. Bagaimana pamorku nanti? Dasar evil hoobae menyebalkan.

“Aniya. Aku tidak akan lupa. Yakshokhae!” Janjiku sedikit kesal pada Kyuhyun.

“Aku ikut, Hyung!” Pinta Yoseob. Aku mengangguk. Semoga bila Yoseob ikut, Nichan mau ikut bersamaku. “Nichan-ah, apa kau akan ikut?” Tanya Yoseob. Byulhyun dan yang lainnya menunggu jawaban Nichan dengan penasaran. Terutama aku.

Dan seperti yang kuduga, Nichan hanya menggeleng pelan. Aku berdecak kesal. Sungmin menyenggol lenganku. Aku menoleh kearahnya. Dia tersenyum jahil. “Mwo?” tanyaku.

“Kau kecewa, ya? Nichan tidak ikut kepestamu?” Godanya dengan nada berbisik.

Aku berdecak. “Mwoya?”

“Akuilah, hyung! Kau suka padanya, kan?” tanyanya lagi dengan nada jahil.

“Tahu dari mana kau? Jangan sok tahu!” Ujarku bersi keras mengelak.

“Hyung, jelas sekali bila kau menyukainya. Hanya orang buta yang tidak mengetahuinya! Benar, kan?”

Aku menghela nafasku. Apa memang sebegitu jelaskah? “Ne.” Ujarku membenarkan.

“Sayangnya, Nichan sudah memeliki kekasih!” Ejek Kyuhyun yag mencuri dengar pembicaraanku dengan Sungmin. Dan kini Sungmin dan Kyuhyun hanya terkekeh mengejeku. Sial!

“Ayolah! Ikut pesta bersama kita!” Byulhyun berusaha membujuk Nichan. Perhatianku beralih memandang Byulhyun yang masih membujuk Nichan. Tapi Nichan yang tentu saja masih tetap bersikeras menolak.

Aku mengalihkan pandanganku dari Byulhyun yang masih membujuk Nichan dan dari Sungmin serta Kyuhyun yang terus saja mengejekku.

Dari arah parkiran, aku melihat sosok namja yang berjalan memasuki kantin. Wajahnya terlihat asing. Walau aku tidak mengenal semua mahasiswa disini, aku masih bisa membedakan mana yang mahasiswa dan mana yang bukan. Dan kini aku yakin, bila pria itu bukan mahasiswa Seoul University ini.

“Hey, apa kalian tahu siapa pria itu? Aku baru melihatnya.” Tanyaku pada Sungmin dan Kyuhyun.

“Molla. Mungkin dia calon mahasiswa baru. Bukankah kampus kita sedang membuka pendaftaran untuk mahasiswa baru?” Jawab Sungmin yang notabene hampir mengenal seluruh mahasiswa di kampus ini. Aku hanya mengangguk mengerti.

Aku mengamati pria itu lagi. Pandanganya fokus pada satu arah. Aku mengikuti arah pandangnya. Awalnya aku ragu. Aku memastikan lagi untuk kedua kalinya. Tapi sama. Dia hanya melihat Nichan. Siapa dia? Aku yakin bila dia bukan Kevin. Aku pernah melihat Kevin sebelumnya.

Pria itu terus melangkah mendekati meja ini. Aku semakin penasaran padanya. Sebenarnya siapa pria ini. Dan saat dia sudah sampai, dia langsung menepuk pundak Nichan. Dia tersenyum lembut lalu menyapanya, “Nichan-ah?”

Nichan sedikit terkejut mendapati pria itu ada dihadapannya. Dia berdiri lalu membalas senyum pria itu dengan senyum sederhana yang membuatnya tampak lebih cantik. Senyum yang baru pertama kali ia tunjukan. Senyum yang selalu kunantikan. Senyum yang membuat jantung ini berpacu lebih cepat. Senyum yang membuatku menjadi lebih menyukainya bahkan mencintainya.

Sayangnya, senyum itu bukan ia tunjukan padaku. Senyum itu ia tunjukan pada pria lain. Pria yang mungkin ia cintai. Pria yang mungkin adalah kekasihnya. Pria yang mungkin akan menjadi sainganku.

T.B.C

Advertisements