Tags

LOVE IS ALWAYS COMPLICATED POSTER
Title                            :Love Is Always Complicated

Author                       : @dcnirwana

Genre                         : romance

Rate                           : General

Lenght                      : Continue

Cast                            :

  • Yesung
  • Cho Kyuhyun
  • Choi Siwon
  • Park Nichan
  • Kim Byulhyun
  • Shin Minso

Disclaimer                  : I OWN THE PLOT

 EPISODE 1

Seorang pria berpostur tinggi dan tampan memasuki area ruangan tempat konferensi yang diadakan. Begitu masuk, dia langsung disambut dengan hujan kilatan blitz kamera yang menurutnya sangat memuakan.

“Baiklah. Konferensi akan segera mulai. Mohon semuanya diam dan tenang.” Ujar Jongmin yang membuka acara itu. Semua wartawan langsung diam dan menyimpan kamera mereka untuk sementara.

“Dan perintah dari pihak perusahan, Cho Kyuhyun akan menjelaskan semuanya. Dan kalian semua hanya diperbolehkan bertanya tentang hal yang mendasar. Bisa kalian pahami?” Ujar Jongmin lagi.

“NE~!” Sahut para wartawan serempak. Sementara para kameramen segera memfokuskan kamera kearah Kyuhyun.

“Jadi sekarang, saya akan menanyakan satu pertanyaan yang mewakili kalian semua.” Ujar Jongmin lalu menghadap kearah Kyuhyun. “Jadi, siapa gadis yang terdapat sedang berciuman dengan anda beberapa waktu lalu dibandara?”

“Aku tidak akan mengelak dan tidak berbasa-basi. Dia adalah kekasihku.” Ujar Kyuhyun dengan tenang.

Sementara para wartawan langsung heboh mendengar jawaban dari Kyuhyun. Kilatan blitz mulai menghujani Kyuhyun lagi. Untung dia sedang menggunakan sunglass, jadi dia sedikit terbantu.

“Itu sudah cukup jelas, bukan? Jadi kalian semua bisa pergi.” Ujar Kyuhyun tenang.

Seorang wartawati berdiri. “Hajiman, Kyuhyun-sshi, siapa nama wanita itu?”

“Aku tidak akan menyebutkan nama, pekerjaan, alamat, atau yang lain. Ini untuk melindunginya. Jadi aku harap, kalian bisa megerti keadaan ini.”

“Bisakah anda hanya menyebutkan namanya?”

“Tolong sebutkan nama dan pekerjaannya saja.”

“Kyuhyun-sshi tolong namanya.”

“Kyuhyun-shhi….”

Kalimat itu semakin mengabur di telinga Kyuhyun. Kepalanya menjadi pusing. Kyuhyun yang duduk disalah satu kursi dibalik meja yang diatasnya berisi banyak microfon yang mengarah padanya itu sedang menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya kerana frustasi dengan para pencari berita yang menghujaninya dengan ratusan pertanyaan.

Dia menyambar botol air mineral dihadapannya dan meminum seluruh isi botol itu dengan sekali teguk. Kesabarannya menghadapi wartawan itu sudah tiba diambang batas. Dia menghentakan tangannya diatas meja dengan kasar.

“Bisakah kalian semua diam? Sudah dengan jelas aku katakan, kalau dia adalah kekasihku dan aku bahagia bersamanya.” Ujarnya dengan tajam dan langsung keluar meninggalkan ruangan itu diiringi ratusan kilatan blitz kamera.

-=.=-

“Kyuhyun-ah tidak sepantasnya kau melakukan itu. Kau harus sabar menghadapi mereka.” Ujar Manager Bin.

“Tapi Hyung, aku bisa gila kalau terlalu lama berada disana.”

“Kau, kan, bisa menyebutkan nama Byulhyun dan pekerjaannya guru.”

“Kalau aku menjawabnya, mereka pasti akan menanyakan hal yang lain. Byulhyun bisa dalam bahaya, Hyung!” elak Kyuhyun. “Kau tahu, kan, kalau kita sudah membuka mulut, pasti mereka akan mengoreknya dalam-dalam. Mereka itu dikasih hati minta jantung.”

“Kau benar juga. Tapi, kau bisa pergi dengan sopan. Bagaimana mereka akan menilaimu nanti.”

“Terserah mereka. Sudah bagus aku mau jujur kalau Byulhyun adalah kekasihku.”

“Terserah padamu. Aku tidak mau tanggung jawab. Kalau ada masalah lagi, nanti akan aku serahkan pada Manager Kim.”

“Tidak akan. Mereka tidak akan mengusikku lagi. Kau tahu kekuatan netizen, kan? Mereka pasti bisa mencari informasi sendiri. Kau ingat masalah Nari? ELF bisa bisa memecahkan kode Shindong Hyung selama satu jam. Memerdeul saja diberi waktu satu minggupun tidak bakal mengerti.”

“Kau tahu sendiri bagaimana kekuatan mereka? Bagaimana keadaan Byulhyun nanti.”

“Tenang saja. Lagipula dia sedang di Amerika. Dan juga dia tidak memiliki akun jejaring sosial.”

“Arraseo.” Ujar Manager Bin mengalah. “Kau mau turun dimana?”

“Ke Dorm saja. Aku sedang malas. Lagipula, aku setelah ini aku kosong, kan?”

“Arra.”

Kyuhyun membuka tasnya dan mengambil ponselnya. Dia melihat foto Byulhyun yang ia jadikan wallpaper. Dia tersenyum. “Bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja, bukan? Aku sangat merindukanmu. Apa kau juga merindukanku?”

-=.=-

“Min-ah, apa kau mendengarku?” Tanya Siwon.

Minso tersedar dari lamunannya. Dia segera melihat Siwon yang menatapnya penuh bingung dan khawatir. “Ne Oppa?”

“Kau sakit?” Tanya Siwon khawatir.

“Aniyo.” Jawabnya sedikit tergagap.

“Keundae wae? Dari tadi aku berbicara denganmu tapi kau sama sekali tidak meresponku.”

“Jinjayo?” Tanya Minso tak percaya.

“Aish… neo jinja. Min-ah, kau tak mau makan?” Tanya Siwon sambil menunjukan daging yang ia apit dengan sumpit.

“Tidak. Oppa saja yang makan. Aku sudah makan.”

“Ya sudah.” Jawab Siwon sambil terus menikmati makanan yang Minso bawakan.

Minso kembali memasuki pikirannya yang dari tadi sibuk sendiri. Dia ada di samping Siwon, tapi pikirannya melayang ke tempat lain.

Siwon menatap kekasihnya itu penuh dengan tanda tanya. Dia sangat ingin menanyakannya, tapi ia lebih memilih diam hingga Minso sendiri yang mau mengatakannya.

“Min-ah…” Panggil Siwon lembut.

Minso masih sibuk merenungi pikirannya.

“Min-ah.” Panggil Siwon sekali lagi agak keras.

“Wae Oppa?”

“Kau ini kenapa?”

“Gwaenchana.”

“Apa ada masalah dengan perushan?”

“Ne?” Tanya Minso bingung tapi dia langsung melanjutkannya, “Ne. Hanya masalah kecil.”

“Oh. Setelah ini kau mau menemaniku atau langsung pulang? Setelah ini, akan ganti lokasi.”

“Aku pulang saja. Masih banyak yang harus aku lakukan.”

“Ya sudah. Aku sudah selesai makan. Aku bantu merapikannya.”

Minso tersenyum lalu merapikan kotak-kotak makanan. Dia memasukannya kembali kedalam tas bekalnya.

“Keurom, aku pulang. Kau jaga kesehatan. Jangan lupa makan dan istirahat, arra?” Minso member pesan.

“Arrayo. Kau hati-hatilah. Sedang turun salju. Jalanannya pasti licin.”

“O.”

“Sudah, sana pulang.”

“Baiklah. Aku pulang! Anyeong, Oppa!”

“Jal ga, Min-ah!”

Minso berjalan masuk kedalam mobil. Dia masih melihat aktifitas Siwon yang sedang menhafal skrip. Pikirannya bercampur aduk dengan perasaannya. Airmatanya jatuh membuat jalur kecil dipipinya. “Otthokhajyo?”

-=.=-

“Sajangnim, ini laporan kunjungan bulan ini.” Ujar Sekertaris Kim.

“O. Gomawo, Eonni.” Ujar Nichan.

Dia membuka map itu. Dia mendesah kecewa melihat grafik kunjungan perusahannya. “Bulan lalu turun. Bulan ini masak juga turun?”

“Sajangnim, kurasa kita harus melakukan sesuatu. Para pengunjung lebih tertarik mengunjungi Mall L, dari pada Star Angel Park.”

“Tapi setidaknya Star Angel Resort di Jeju masih baik-baik saja.” Ujar Nichan yang sekali lagi melihat laporan itu. “Aku sedang memikirkan caranya. Bisakah kau mencari tahu, kenapa pengunjung lebih memilih Mall L dari pada SAP.”

“Apa kita harus membuat angket?”

“Tidak perlu. Tolong panggilkan manager pemasaran.”

“Hajiman, Manager Kang sedang absen. Bukankah dia sedang sakit?”

“Ah, iya, aku lupa. Tolong panggilkan Kepala Tim Pemasaran saja.”

“Ne.” Sekertaris Kim segera beranjak dari ruangan kerja Nichan.

Nichan menghebuskan nafas. Dia berjalan mendekati maket Star Angel Park yang bersebelahan dengan Star Angel Appartment dan Star Angel Resort yang terletak di box terpisah.

Star Angel adalah hasil jerih payahnya. Cita-cita yang sudah berhasil ia wujudkan. Perusahan yang ia dirikan dari nol hingga kini menjadi Mall dan Apartemen ternama di Korea Selatan. Hampir semua orang mengetahui Star Angel.

Tapi kini Star Angel sedang dalam masa sulit. Kalau saja Nichan tidak segera mengambil tindakan, Star Angel hanya bisa meninggalkan nama.

“Sajangnim, Ketua Tim sudah datang.” Ujar Sekertaris Kim.

Nichan menoleh. “Ne. Silahkan duduk.” Ujar Nichan sambil menunjuk sofa yang ada disamping maket.

“Jadi, bisa aku meminta bantuanmu?” Tanya Nichan penuh harap.

“Kenapa Sajangnim mengatakan itu? Cukup perintahkan apa yang harus aku lakukan, aku pasti melakukannya.” Ujar Ketua Tim dengan sungkan.

“Aniya. Itu tidak sopan. Dan kau dua tahun lebih tua dariku. Jadi kurasa aku harus memanggilmu Yonghee Eonni.”

“Ne?” Tanya Yonghee bingung. “Tapi, aku hanya Ketua Tim Pemasaran. Sementara anda adalah Direktur Utama sekaligus pemilik Star Angel.”

“Tapi kita harus mengutamakan kesopanan juga, Eonnie. Sudah, Eonni bisa membantuku?”

“Ne.”

“Bisakah kau menanyakan pengunjung Mall L, kenapa mereka lebih memilih Mall L dari pada Star Angel.”

“Apa kita harus membuat angket?”

“Tidak perlu. Kau bawa lima orang dari tim, lalu lakukan wawancara singkat saja.”

“Algeshimnida Sajangnim.”

“Dan bisakah kau memberikan laporannya besok? Tidak perlu laporan tertulis.”

“Ne. Keurom, saya permisi.”

“Silahkan.”

Yonghee segera beranjak dan keluar. Sekertaris Kim kembali masuk dan mendekati Nichan yang sedang duduk menyandarkan kepalanya diatas sofa dan memejamkan matanya.

“Sajangnim, apa anda membutuhkan sesuatu lagi?” Tanya Sekertaris Kim.

“Untuk saat ini tidak. Kau pulanglah. Sebentar lagi jam pulang kantor, bukan?”

“Apa Sajangnim tidak pulang lagi hari ini?”

“Tugasku masih banyak.” Ujar Nichan sambil menunjukan tumpukan berkas disamping meja kerjanya.

“Sajangnim sudah enam hari tidak pulang ke rumah. Sajangnim juga jarang makan dan bahkan pernah tidak tidur.”

“Gwaenchanayo. Aku akan beristirahat kalau semuanya sudah selasai. Terimakasih sudah mengkhawatirkanku. Sekarang kau pulang saja.”

“Hajiman, Sajangnim. Anda sangat pucat. Beristirahatlah dirumah. Aku akan mengurus sisanya.”

“Aniyo. Aku bisa.”

Nichan langsung berdiri. Tapi kepalanya langsung pusing dan matanya menjadi kabur. Hampir saja dia pingsan. Untung Sekertaris Kim langsung menahannya saat dia sudah sempoyongan.

“Sajangnim…” Panggilnya khawatir. “Badan Anda panas. Anda juga sudah sangat pucat. Kumohon, pulanglah.”

Nichan akhirnya mengangguk. Pusing dikepalanya sudah tidak bisa dikompromi. Sekertaris Kim menuntunya kembali duduk di sofa.

“Aku akan membereskan barang dan menelepon Supir Han.”

Nichan hanya mengangguk. Kepalanya sangat berat. Serasa diikat dengan beban seberat 100 kg.

“Sajangnim, ini teh gingseng. Minumlah dulu.”

Nichan meminum teh itu sekali teguk. Beban dikepalanya mulai terasa ringan. “Gomawo.” Ujarnya lemah.

Tiga puluh menit kemudian, mobilnya sudah tiba. “Sajangnim, Supir Han sudah sampai dibawah.”

Nichan dibantu dengan Sekertaris Kim menuju mobilnya. Keadaan Nichan sangat lemah saat ini.

Di depan Star Angel Park, Nichan melihat seorang anak laki-laki sedang memandangi Star Angel Park. Nichan melepaskan dirinya dari Sekertaris Kim.

“Sajangnim, anda mau kemana?”

“Aku hanya ingin menemui anak itu.”

Nichan berjalan mendekati anak kecil itu dengan langkah yang sangat dipaksakan. “Adik kecil, siapa namamu?”

“Jung Minwoo.” Ujarnya polos.

Nichan tersenyum lalu mengacak-acak rambut anak itu. “Minwoo—ya, kenapa kau memandangi Star Angel? Kenapa kau tidak masuk?”

“Aku tidak punya uang. Aku selalu ingin masuk ke taman bermain Star Angel, tapi harganya terlalu mahal. Jadi eomma selalu mengajakku ke Mall L yang lebih murah.”

“Jinjayo?”

“O. Aku juga ingin membeli pakaian didalam untuk eomma. Eomma sangat ingin membeli baju dari Star Angel.”

“Sebentar lagi natal. Apa yang kau harapkan?”

“Aku ingin membelikan Eomma sebuah gaun yang cantik dari Star Angel. Mengajak Minjung adikku bermain didalam dan membelikannya sepatu. Aku sudah menabung. Tapi tetap saja harganya terlalu mahal.”

“Benarkah? Semahal itukah Star Angel?”

“Ne. Noona pasti orang kaya hingga bisa membeli barang dari Star Angel.”

“Tidak juga.”

“Aku berharap, pemilik Star Angel mau menurunkan harganya. Pasti pengunjungnya semakin banyak.”

Kepala Nichan yang tadi sudah meringgan kembali menjadi berat. Nichan terduduk diatas tanah.

“Noona kenapa? Noona sakit?”

Sekertaris Kim segera mendekatinya. “Sajangnim?”

“Gwaenchana.”

“Sajangnim lebih baik pulang. Ayo!”

Sekertaris Kim membantu Nichan berdiri. Nichan menoleh kearah Minwoo lalu melambaikan tangannya. “Sampai jumpa lagi, Minwoo-ya!”

“Sampai jumpa lagi, Noona!”

Nichan menyandarkan kepalanya disandaran jok mobilnya. Dia memijat-mijat pelipisnya perlahan.

“Supir Han, antarkan Sajangnim pulang.” Ujar Sekertaris Kim sebelum menutup pintu.

“Ne.” Jawab Supir Han.

Mobil segera melaju meninggalkan kawasan parkiran Star Angel dan berjalan menuju ke rumah Nichan.

“Supir Han, bisakah kau mengantarku ke Sky City?”

“Hajiman, sajangnim…”

“Kumohon, Supir Han! Tolong antarkan aku ke Sky City.”

“Ne Sajangnim.”

Nichan memejamkan matanya. Yang ingin ia lakukan sekarang adalah menemui Yesung. Dia sangat merindukannya. Terakhir bertemu adalah saat Nichan, Minso, dan Byulhyun pergi bersama Yesung, Siwon dan Kyuhyun di saat salju pertama turun.

Ddrrt…

Nichan mengambil ponselnya. Ternyata Yesung mingirim pesan melalui BBM. Nichan tersenyum

Babo Jong       : Kkoma, hari ini aku sangat merindukanmu. Kapan kau mau menemuiku lagi?

Kkoma Chan   : Kau sedang tidak ada jadwal? Apa kau mau bertemu sekarang?”

Babo Jong       : JINJA??

Babo Jong       : Keuromyo…

Babo Jong       : Datanglah ke dorm. Disini sedang sepi. Hanya ada aku, Sungmin, dan Henri

Kkoma Chan   : Belikan aku es krim dulu…

Babo Jong       : Di dorm sedang banyak es krim. Kau bisa makan sepuasnya.

Babo Jong       : Kkoma kesini ya…!!?

Kkoma Chan   : Apa aku harus kesana?

Babo Jong       : HARUS!!

Babo Jong       : Datang ya! Temani aku disini…. ㅜㅜ

Kkoma Chan   : Kalau aku tidak mau bagaimana?

Babo Jong       : KKOMA!! ㅠㅠ

Nichan terkekeh melihat balasan Yesung. Dia sengaja tidak membalas Yesung. Karena mobil Nichan sudah berhenti di parkiran Sky City.

“Supir Han, gamsahamnida. Kau pulang saja. Aku mungkin pulang agak malam.” Setelahnya Nichan keluar dari mobil.

Nichan menaiki tangga dengan susah payah. Untung dia tidak terjatuh. Dia menunggu pintu lift terbuka.

Di dalam lift, Nichan hanya bisa bersandar di dinding lift sambil memejamkan matanya. Kondisi tubuhnya sangat tidak baik hari ini.

Pitu lift terbuka di lantai sebelas. Nichan keluar. Dia berjalan memasuki appartemen nomor 1101 itu dengan susah payah. Dia berjalan sambil bertumpu pada dinding.

Nichan sudah tiba di depan pitu dorm. Dia meletakan ibu jarinya diatas mesin finger print yang ada dibawah ganggang pintu.

Pintu sudah tidak terkunci. Dia melihat sekeliling memastikan tidak ada orang yang melihatnya memasuki dorm.

“Oppadeul, aku datang.” Seru Nichan dengan suara lemah. Dia segera mengganti high heelsnya dengan sandal rumah.

Di ruang tengah dia bertemu Sungmin yang membawa segelas air.

“Oppa, apa Yesung Oppa ada?” Tanyanya mencoba dengan suara yang terlihat normal.

“O. Dia sedang mandi. Kau mengerjainya lagi, ya? Tadi kudengar dia memanggil ‘Kkoma’ dengan nada merengek yang sangat menjijikan.”

Nichan terkekeh kecil. “Biarkan saja.”

“Ya sudah. Aku tinggal ke dalam!” pamit Sungmin lalu kembali masuk ke dalam kamarnya. Nichan merebahkan dirinya di sofa. Dia melepas blazer putihnya.

Tak berapa lama Yesung keluar dari kamar mandi dengan handuk kimono menutupi tubuhnya. Yesung melihat Nichan yang sedang duduk diatas sofa. Dia langsung tersenyum.

“KKOMA!” serunya bahagia. “Kau datang?” Tanya Yesung sambil berjalan mendekat.

“Kau pakai baju dulu. Aku risih melihatmu hanya dengan handuk kimono.”

“Arraseo. Aku kemarin membeli es krim kesukaanmu. Ambil saja di kulkas. Aku mau gaunti baju dulu.”

Yesung kembali ke dalam kamarnya. Dia tersenyum senang karena Nichan mengunjunginya.

“Kkoma sudah datang. Aku pakai baju apa, ya?” Tanyanya pada dirinya sendiri sambil meliat tumpukan baju miliknya yang ada dalam lemari.

“Kkoming, menurutmu aku pakai apa?” Tanya Yesung pada Kkoming yang sedang tidur. “Aish, kenapa kau harus tidur? Ddangkoming dan Ddangkome juga tidur.”

Yesung kembali menatap tumpukan bajunya. “Kaos pemberian Kkoma saja.”

Yesung mengambil kaos lengan pendek berwarna dasar putih dengan corak abstrak berwarna merah dan biru. Dia memadukannya dengan celana jins biru selutut.

Yesung mematut dirinya di kaca besar disamping lemarinya. Setelah merapikan rambut dan memakai parfum, dia segera keluar kamarnya.

“Kkoma… Apa kau sud…” Ucapannya terhenti. Melihat kearah ruang tengah, dia disambut dengan pemandangan yang membuat nyawanya layaknya menghilang.

-cut-

Advertisements