Tags

Jinki seketika menghentikan aktifitasnya memunguti pecahan vas ketika mendengar suara logam jatuh. Dia langsung menoleh mencari sumber suara itu. Dia melihat sebilah pisau buah tergeletak diatas lantai dihiasi cairan kental berwarna merah yang khas.

Jinki melebarkan matanya dan segera berdiri. Dia terpaku mendapati Nichan berbaring dengan mata terpejam. Tapi yang lebih membuatnya terpaku adalah pergelangan tangan kiri Nichan yang terus menerus mengeluarkan darah.

Jinki dengan khawatir mendekati Nichan. Dia menekan tombol darurat yang ada. Dia mencoba menghentikan aliran darah itu dengan menutup luka Nichan. Tapi tetap saja, darah keluar terus menerus. Kini tangan Jinki berlumuran darah.

Pintu terbuka dan seorang dokter bersama dua perawat memasuki kamar itu. Salah seorang perawat menyuruh Jinki untuk berada di luar.

“Tuhan, tolong selamatkan Nichan!” Doa Jinki setelah dia duduk di luar. Jinki mencoba menelepon Ahrim, tapi ponsel Ahrim tidak bisa dihubugi. Jinki memasukan poselnya lagi kedalam saku.

Setelah beberapa menit menunggu, dokter keluar dari UGD. “Bisakah anda hubungi bumonim dari Nona Park?”

“Saya sudah mencobanya. Tapi ponsel eommonim tidak aktif. Mereka sedang ke gereja.” Jelas Jinki. “Memang kenapa, dok?”

“Kami sudah menutup lukanya dan untung saja nadinya tidak terpotong. Dia kehilangan banyak darah. Tapi byeongwon saat ini tidak memiliki stok darah untuk Nichan. Stok AB terakhir digunakan untuk operasi saat ini.”

Jinki terlihat berpikir. “Darah saya bukan AB. Golongan darah eommonim dan ahjussi juga bukan AB. Mereka A dan B. Otthokhaeyo?”

“Berarti kita harus mencari pendonor segera. Saya mengkhawatirkan kondisinya yang lemah saat ini tidak bisa bertahan lama.”

“Anda bisa menggunakan darah saya. Kebetulan darah saya AB.” Ujar seprang pria.

Jinki menoleh. Ternyata pria yang sedari tadi duduk dihadapannya. “Jinjayo?”

“Tentu saja.”

“Gamsahamnida!” Ujar Jinki penuh rasa terimakasih

“Kalau begitu silahkan anda mengikuti saya.”

-=.=-

“Terimakasih atas bantuan anda. Lee Jinki imnida.”

“Gwaenchana, Jinki-sshi. Kim Jongwoon imnida.”

“Sekali lagi terimakasih banyak. Aku tak tahu harus membalasnya dengan apa.”

“Gwaenchana. Tak perlu dibalas. Kalau begitu saya permisi.” Ujar pria yang mengenalkan diri sebagai Jongwoon lalu dia berjalan pergi.

Dan dari arah yang berlawanan Ahrim dan Jaekyong berjalan mendekati Jinki. “Jinki-ah, kau barusan berbicara dengan siapa?” Tanya Ahrim.

“Geu namjaga, orang yang sudah membantu Nichan.”

“Membantu apa?” Tanya Jaekyong bingung.

“Nichan tadi mencoba bunuh diri.”

“Oh tuhan….” Ahrim sudah tak kuat. Tubuhnya mendadak lemas. Untung Jaekyong langsung menahannya.

Ahrim duduk di ruang tunggu dengan gelisah. “Kenapa dia sama sekali tidak ada kemajuan? Kenapa dia malah ingin bunuh diri? Ya tuhan… Ada apa dengannya? Tuhan…”

“Bagaimana cara pemuda itu membantu Nichan?” Tanya Jaekyong.

“Nichan kehilangan banyak darah. Dan stok darah AB sudah habis. Kebetulan pria tadi bergolongan darah AB dan bersedia mendonorkan darahnya untuk Nichan.”

“Siapa namanya? Apa dia menuntut balasan atau bayaran?”

“Kim Jongwoon. Animida. Dia tidak meminta balasan.”

“Syukurlah dia mau membantu Nichan. Jaman sekarang masih ada pria baik seperti itu ruapanya. Kulihat dia juga masih muda.”

“Ne. Tadi aku tidak sengaja mengetahui bahwa dia adalah seorang mahasiswa di Seoul University.”

-=.=-

Nichan membuka matanya. Dia menghela nafas kecewa. Kecewa karena gagal ‘menyusul’ Kevin.  Nichan duduk diranjangnya. “Bagaimana aku bisa ‘menyusul’-mu, Oppa?”

Nichan menoleh kekanan dan kiri. Dia tak menemukan foto Kevin. Nichan berubah panik. Nafasnya terasa tercekat. Selang oksigen yang ada di hidungnya tak membantu pernafasannya. Entah sejak kapan, melihat Kevin adalah keharusan untuknya.

Dia melepas selang infuse dan selang oksigen. Dengan susah payah, Nichan berjalan keluar. Bekas lukanya kini mengeluarkan darah lagi.

“Nichan-ah, kau kenapa?” Tanya Ahrim melihat Nichan keluar dari kamar dengan nafas tersenggal senggal dan keringat dingin keluar dari tubuhnya.

“Ke.. Kevinnie… Kevinnie Imiji…” Ujar Nichan terbata bata.

“Kevinnie imiji wae?”

“Aku harus melihatnya. Apa Eomma punya fotonya di ponsel?”

Ahrim membuka tasnya dan mengambil ponselnya. Kemudian dia mencari foto Kevin. Untung ada satu fotonya bersama Nichan.

Nichan langsung merebut ponsel itu dan langsung memeluknya erat. Sesak nafas yang ia rasakan perlahan menghilang.

Jinki melihat Nichan dengan miris. Dia cemburu dengan Kevin. Walau Kevin sudah tiada, Nichan masih saja menganggapnya ada. Dan kehadirannya adalah keharusan untuk Nichan.

Jinki mengalihkan pandangannya pada pergelangan tangan Nichan. “Nichan-ah, bekas lukamu berdarah lagi.” Ujarnya khawatir.

Nichan dengan pandangan datar melihat bekas lukanya yang tertutup perban dengan penuh darah. Tangan kanannya bergerak mendekati lukanya. Sedetik kemudian dia menekan bekas luka itu.

Ahrim menyibakan tangan Nichan dengan sedikit keras. “YA!! Apa yang kau lakukan?”

Nichan hanya menatap Ahrim sebentar. Lalu berjalan masuk kedalam kamarnya. Dia berbaring di ranjangnya dan melihat foto. “Oppa, bogoshipo…”

Di depan pintu Ahrim melihat Nichan dengan penuh rasa khawatir. “Nichan-ah, Eomma harap kau cepat kembali ceria seperti dulu.”

-=.=-

Seorang pria dan wanita duduk berdua di bangku taman bunga yang sangat cerah. Mereka berdua duduk sambil bergandengan tangan erat. Sang gadis menyandarkan kepalanya di bahu sang pria yang juga menyandarkan kepalanya di kepala gadis di sebelahnya.

“Jagiya, kenapa kau seperti ini?”

“Aku ingin bersamamu, Oppa!”

“Tapi belum waktumu untuk datang ke tempatku!”

“Aku ingin menemuimu. Aku ingin bersamamu selamanya.”

“Aku tak ingin kau menyakiti dirimu sendiri. Aku sedih melihatmu seperti itu.”

“Kau tak ingin aku menyusulmu?”

“Bukan begitu. Dengar, Nichan! Aku ingin kau melanjutkan hidupmu. Kau harus terus bertahan meski tanpaku. Dan aku mau kau tak lagi menyakiti dirimu sendiri. Kalau kau melakukannya, aku menjadi tidak tenang.”

“Tapi aku ingin bertemu denganmu!”

“Kita bisa bertemu di mimpi kalau memang waktunya tepat. Di setiap malam bulan purnama. Kita bisa bertemu.”

“Aku akan melanjutkan hidupku. Tapi dengan cara yang berbeda, karena aku akan menjaga hatiku selamanya untukmu.”

“Gomapta. Jugodo meot bonnae, Jagiya.”

-=.=-

Nichan membuka matanya. Dia teringat akan mimpinya tadi. Dia melihat foto Kevin lagi dan tesenyum kecil. “Aku akan menepati janjiku.” Ujarnya pelan.

“Kau sudah bangun? Mau sarapan?” Tanya Ahrim dengan penuh senyum. Nichan hanya mangangguk kecil. Tapi Ahrim sangat lega. Setidaknya ini adalah kemajuan.

Ahrim mengambilkan nampan berisi makanan. Diletakan diatas meja. Ahrim membuka penutup makanan. Semangkuk nasi, semangkuk bulgogi, semangkuk samgyetang, dan sepiring kecil potongan buah kiwi dan jeruk.

Nichan melihat semangkuk samgyetang itu. Ingatannya beralih menuju beberapa waktu silam, saat dia memasakan samgyetang untuk Kevin yang sedang sakit. Airmata mulai tergenang di matanya.

Melihat Nichan yang hendak menangis, Ahrim jadi sangat khawatir. “Chanie, wae geurayo? Kenapa menangis?”

“Ani. Samgyetang mengingatkanku pada Kevin.”

“Keurom, kau tak perlu memakannya.” Ujar Ahrim sambil mengambil samgyetangnya.

“Andwae. Aku akan memakannya.”

Ahrim tersenyum lalu menaruh kembali samgyetang itu. Dia melihat Nichan makan dengan lahap. Dia sangat bersyukur akhirnya Nichan makan lagi, walau Nichan memakannya dengan mata penuh air mata.

-=.=-

Sudah beberapa hari, keadaan Nichan mulai membaik. Dia juga makan dan tidur teratur.  Berat badan Nichan juga sudah naik lagi. Ini kemajuan pesat untuknya. Walau sikapnya tak lagi ceria dan sedikit lebih dingin.

“Chan-ah, hari ini kau sudah diperbolehkan pulang. Apa kau mau pulang sekarang?” Tanya Ahrim.

Nichan mengangguk.

“Hari ini, Jinki akan berangkat kembali ke Jepang. Apa kau mau mengantarnya?”

“Berpamitan di rumah saja.”

“Baiklah. Eomma mengurus administrasi dulu, ya!”

Ahrim pergi keluar. Dan tak lama Jinki datang dan masuk kedalam. Dia duduk di kursi samping ranjang.

“Kudengar kau sudah boleh pulang?”

Nichan mengangguk.

“Aku akan kembali ke Jepang hari ini.”

“Eomma sudah memberitahuku.”

“Aku ada hadiah untukmu.”

Jinki mengeluarkan sebuah kalung dengan bandul berbentuk buah apel. Dia memberikannya pada Nichan.

“Kalung ini sudah aku beri fotomu dan Kevin. Kau tinggal memakainya saja. Supaya kau lebih mudah untuk melihat foto Kevin dan tidak mudah hilang.”

Nichan membuka liontin itu. Sudah ada fotonya dan Kevin. Nichan langsung memakainya. “Gomawo.” Ujarnya sambil tersenyum kecil.

“Apa kau akan melanjutkan kuliah?”

Nichan hanya mengangguk.

“Baguslah. Kalau begitu aku pulang. Aku akan langsung ke bandara. Kau baik-baiklah disini! Harus hidup dengan baik. Arraso??!”

Nichan menangguk. Jinki tersenyum puas. “Keurom, Sampai jumpa lagi!”

“Jalga…”

-=.=-

Nichan sedang bersiap untuk berangkat kuliah. Dia melihat bayangan dirinya di cermin. Dia tidak berdandan dengan cantik yang mungkin dilakukan gadis lain di hari pertama mereka masuk kuliah. Nichan hanya memberi bedak tipis dan menggunakan lipgloss berwarna pink. Rambutnya ia tata sederhana. Pakaian yang ia gunakan juga tidak mencolok. Hanya celana jins hitam dan kemeja putih. Dan sebuah clutch putih kecil.

Dia berjalan menuju balkon. Dia mengeluarkan kalung pemberian Jinki. Dia membuka liontin itu dan melihat foto Kevin didalamnya. “Oppa, hari ini adalah hari pertama aku kuliah. Doakan aku, ya!”

Dia merasakan angin menerpa wajahnya. Di telinganya, angin serasa berbisik dalam suara Kevin. “Aku selalu mendoakanmu. Selamat belajar. Fighting!!”

Nichan tersenyum bahagia. Dia beranjak keluar kamar dan berjalan mendekati area dapur. Dia membuka pintu.

Ahrim dan Jaekyong melihat Nichan yang sedang berjalan masuk. Mereka terlihat lega dan bahagia, karena Nichan kini sudah bisa menjalani hidup dengan normal.

“Pagi, sayang. Kau mau makan apa?”

“Apa saja.” Jawab Nichan dingin. Ini yang berbeda dari Nichan yang dulu. Nichan yang dulu ceria dan ramah berubah jadi Nichan yang pendiam dan dingin.

“Eomma baru membeli eskrim kemarin. Kau mau?”

Nichan mengangguk dengan senyum kecil. Walau begitu, dia tetap tidak bisa menolak eskrim yang menjadi faforitnya.

Ahrim meletakan piring beisikan waffle dengan tiga skup eskrim vanilla dengan topping saus lemon diatasnya. “Kesukaanmu, bukan?”

“Ne.” balasnya singkat lalu dengan lahap menghabiskan eskrim itu. Walau ini masih pagi, Nichan tidak akan sakit perut. Sudah sejak lama Nichan mengkonsumsi eskrim di pagi hari.

“ANYEONG!!” Sapa Yoseob ceria.

“Anyeong, Yoseobie.” Ahrim membalas sapaan Yoseob. “Mau eskrim?”

“Animinda. Pagi-pagi makan eskrim, nanti perutku sakit.” Ujar Yoseob. Nichan hanya melirik Yoseob tajam.

“Nichan-ah, ppali! Bukankah mahasiswa baru harus kumpul terlebih dahulu?”

“Arraso! Eomma, Appa, aku berangkat!”

Nichan dan Yoseob berangkat ke Seoul University bersama. Saat menutup gerbang, Yoseob bertemu dengan Yonghee. Mereka saling diam dan tak menyapa. Yoseob langsung masuk ke dalam mobil. Dan Yoseob langsung melajukan mobilnya.

-=.=-

*Flashback*

Yonghee bertemu dengan Yoseob di lapangan parkir. Saat ini hubungannya dengan Yoseob sedang renggang.

“Oppa…” Panggil Yonghee pelan.

“Mwo?” Jawab Yoseob dingin.

“Oppa, neo waegeurae? Apa salahku? Kenapa kau jadi dingin padaku?” Tanya Yonghee dengan mata penuh airmata.

“Kau tak salah.”

“Apa ini karena Sunghyo Oppa?”

“Kau tahu sendiri.”

“Tapi masalah Sunghyo Oppa itu dengan Jinki Oppa dan Nichan Eonnie.”

“Nichan itu sepupuku. Dan Nichan mencoba bunuh diri karena ingin menyusul Kevin yang Sunghyo tabrak!” Jelas Yoseob setengah emosi.

“Tapi jangan balas kesalahan Sunghyo Oppa padaku!”

“Entahlah! Setiap aku melihatmu aku seperti melihat Sunghyo!!”

“Lalu sekarang bagaimana?” Yonghee sudah mulai menitikan airmata.

“Mollayo. Tapi untuk sementara ini, aku tak mau bertemu denganmu!” Ujar Yoseob lalu berlalu pergi.

*End of Flashback*

-=.=-

Nichan tak bertanya, karena Nichan kini sosok yang tak ambil pusing dengan masalah orang lain. Sementara Yoseob melajukan mobil dengan sedikit emosi. Bahkan hingga mereka sudah memasuki kawasan Seoul University.

“Ayo, aku temani kau ke tempat kuliahmu. Kau bilang pertemuannya di kelas, kan?”

Nichan mengangguk. Kemudian dia berjalan menjajari Yoseob yang akan mengantarkannya menuju kelasnya.

“Nichan-ah, kalau kau pergi bersamaku jangan pakai high heels, ya! Aku terlihat pendek.”

“Aku pakai sneakers.”

Yosoeb menoleh melihat sepatu Nichan. Dan memang benar bahwa Nichan hanya menggunakan sneakers. “Kau kenapa tinggi? Tinggi kita harusnya bertukaran.” Ujar Yoseob iri. Sementara Nican hanya diam tidak menanggapi.

BRUK!!

Tak sengaja ada seorang gadis menabrak Nichan. Tapi tangan gadis itu mengenai bekas luka tangan Nichan yang membuat rasa sakit itu timbul. Sehingga refleks Nichan berhenti dan memegangi bekas lukanya.

“YA!! Berhati-hatilah!” Yoseob menegur gadis yang baru menabrak Nichan.

“Mianhamnida. Aku sedang terburu-buru. Gwaenchana.”

“Gwaenchana.” Balas Nichan datar tanpa rasa sakit.

Gadis berambut sebahu itu membungkukan badannya untuk minta maaf lalu berlari kecil meninggalkan Nichan dan Yoseob.

Akhirnya mereka sudah sampai di kelas Nichan. “Kita sudah sampai. Ini kelasmu! Keurom, aku pergi ke kelasku dulu! Kalau kau butuh sesuatu, kau telepon saja aku. Arra?”

Nichan mengangguk. Lalu masuk kedalam. Ternyata semua orang sudah tiba dan kini semuanya menatap Nichan. Sementara Nichan berjalan dengan santai tanpa rasa bersalah.

“Chosohamnida.” Ujarnya singkat pada dosen yang ada di depannya.

“Dan kau adalah?”

“Park Nichan.”

“Ah… Jadi kau yang bernama Park Nichan?”

“Ne.”

“Silahkan duduk. Dan maaf hanya ada satu kursi yang tersisa.”

Nichan langsung duduk di tempat kosong itu. Bersebelahan dengan seorang namja berperawakan sedikit berisi dan lumayan tinggi.

Nichan melihati namja di sebelahnya. Menurutnya namja itu lebih mirip disebut sebagai yeoja. Wajahnya yang cantik dan kulitnya yang putih bersih, membuat Nichan ragu untuk menyebutnya sebagai namja.

Lee Sungmin. Tak sengaja Nichan melihat namja itu menuliskan nama itu pada buku cetak yang baru saja dibagikan.

Nichan tersadar dan mengambil buku dari yeoja di hadapannya. ‘Hukum dan Menejemen Bisnis Internasional’. Kemudian Nichan menuliskan namanya di bagian bawah halaman cover buku itu.

Setelah mendapatkan pengarahan awal, mereka langsung mengadakan kuliah untuk materi awal untuk pembekalan materi.

Selasai kuliah, Nichan langsung keluar dari kelas. Dia tak sengaja bertemu dengan gadis yang menabraknya tadi.

“Anyeong! Bukankah kau yang tadi aku tabrak? Apakah tanganmu masih sakit?” Tanya gadis itu sambil menarik pergelangan tangan kiri Nichan hingga membuat Nichan mengerang sakit karena lukanya masih belum terlalu kering.

“Mianhae. Aku tak tahu kau punya luka di tanganmu.” Ujar gadis itu. “Ah, aku belum memperkenalkan diri. Kim Byulhyun imnida. Aku jurusan ilmu matematika. Kau?”

“Nichan imnida. Jurusan bisnis.”

“Apa kau lapar? Aku sangat lapar. Ayo ke kantin!!” Ujar gadis itu semangat. Nichan hendak menolak, tapi tangan kanannya sudah ditarik gadis itu.

“Chankamanyo, Byulhyun-sshi!!” Nichan mencoba untuk menghentikan Byulhyun. Tapi Byulhyun serasa tak mendengar ucapan Nichan dan terus menggandengnya hingga tiba di kantin kampus.

“Tada!! Kita sudah sampai. Kau mau pesan atau duduk dulu? Kalau aku mau duduk dulu supaya dapat tempat. Kalau kau bagaimana?” Tanya Byulhyun.

“Terserah kau sajalah!”

Byulhyun menggandeng Nichan ke meja yang masih kosong. “Aku mau pesan makanan. Kau mau aku pesankan?”

“Bulgogi dan jus jeruk saja.”

“Baiklah. Tunggu sebentar, ya!!”

Nichan hanya menatap punggung Byulhyun. Gadis itu sangat mirip dengannya yang dulu. Tidak Nichan yang seperti sekarang ini

Seseorang menepuk pundak Nichan, dia menoleh. Ternyata Yoseob. Dia langsung duduk di sebelah Nichan. “Kau kesini sendiri?”

“Siapa dia Yoseob-ah? Yonghee?” Tanya seseorang. Nichan menoleh. Seorang namja tinggi yang tidak ia kenal dan namja yang tadi duduk di sebelahnya, Sungmin.

“Ani. Dia Nichan, sepupuku. Dia anak baru jurusan bisnis.” Jelas Yoseob karena dia tahu, Nichan tidak mau untuk memperkenalkan diri.

“Dia temanmu, Minnie?” Tanya pria tinggi sambil menunjuk Nichan.

“O. Dia duduk disebelahku tadi.”

“OPPA!!” Seru seorang yeoja. Nichan mendongak melihat siapa yang berteriak. Byulhyun mendekat dengan langkah cepat sambil membawa nampan makanan. “Oppa, kau sudah datang?”

“Ne.”  Ujar pria tinggi itu lalu mendekati Byulhyun.

“Byulhyunnie, anyeong!!”

“Anyeong Byulhyun-ah!!”

Sungmin dan Yoseob ikut menyapa gadis itu. Byulhyun menaruh nampan di meja dan mengangkat tangan kanannya. “Anyeong, Oppadeul!”

“Jagi, kau tahu saja aku lapar! Maaf merepotkanmu dengan membelikanku bulgogi dan jus jeruk.” Ujar pria tinggi ittu.

“Enak saja. Ini punya Nichan!”

“YA!! Kau tahu aku kekasihmu, tapi kenapa kau membelikan makanan untuk orang lain sementara aku tidak?” Ujarnya marah

“Jangan membentakku!!” Balas Byulhyun sedikit membentak. “Aku sudah membelikanmu jajangmyun. Nanti akan diantar kesini.”

“Ah, kau tak melupakanku!!”

Nichan melihat pemandangan itu dengan nanar. Dia merindukan Kevin. Kalau Kevin masih hidup, mereka pasti sedang berduan tanpa ditemani orang-orang penggangu di sekitarnya.

“Nichan-ah, ini bulgogi dan jus jeruk milikmu!” Byulhyun menyerahkan  menu itu untuk Nichan.

“Gomapta.” Balas Nichan singkat.

“Kau datar sekali? Cerialah sedikit!” Komentar Byulhyun. “Sungmin Oppa, bagaimana kuliah bisnismu? apakah lancar? Lebih mengasyikan musik atau bisnis?”

“Bisnis lumayan seru. Musik lebih seru karena bisa mendengarkan lagu sambil kuliah. Tapi secera keseluruhan semua mengasyikan.”

“Kau ini mengambil 2 jurusan. Selesaikan dulu jurusan musikmu itu! Baru mengambil jurusan lain!” Hardik pria tinggi yang dikenal sebagai kekasih Byulhyun.

“Mwo? Kalau aku mengambilnya satu persatu, aku akan tua ketika lulus! Kalau aku mengambilnya bersamaan setidaknya aku bisa lulus dari kedua jurusan itu dengan cepat!”

“Kau tidak bersamaan mengambilnya!” Koreksi pria tinggi itu.

“Setidaknya hampir. Hanya selang dua semester, Kyuhyun-ah!!”

“Nichan-ah, apa kau punya kekasih?” Tanya Byulhyun. “Kalau punya kita bisa berkumpul bersama kekasihmu itu.”

Nichan yang sedang makan menghentikan aktifitasnya. Tangannya yang sedang menyumpit daging terhenti di udara. Dadanya terasa sesak bila memikirkan fakta Kevin tak lagi di sampingnya.

Dia meletakan sumpitnya kembali dengan sedikit keras dan meminum jus jeruknya hingga habis. Yoseob yang melihatnya menjadi khawatir, kalau-kalau Nichan akan berbuat hal nekat yang lain.

Nichan melihat bekas luka di pergelangan tangan kirinya. “Aku punya. Namanya Kevin Woo.”

“Kevin Woo? Kelihatannya dia adalah hoobaeku di jurusan musik. Kata Jongwoon Hyung dia adalah salah satu kandidat terbaik sebagai mahasiswa jurusan musik. ” Jelas Sungmin.

“Jinjayo?” Kyuhyun bertanya tak percaya pada Sungmin.

“Mm… Jongwoon Hyung yang memberitahuku. Dia mendapat nilai tertinggi dalam performing arts.”

“Oh.” Kyuhyun membalas singkat.

“Kalian tidak memesan makanan?” Tanya Byulhyun setelah meminum jus wortelnya.

“Ah, aku sedang menunggu pesananku.” Jawab Yoseob.

“Aku menunggu Jongwoon Hyung. Hari ini kelasku dipercepat dan Jongwoon Hyung memintaku menemuinya setelah kelasnya berakhir. Katanya dia ingin menemuiku disini.” Jelas Sungmin.

Sungmin mengedarkan pandangnya ke seluruh penjuru kantin. Dan saat sosok yang ia tunggu mencul dia langsung memanggilnya. “HYUNG!! Jongwoon Hyung! Disini!”

Namja yang di panggil Jongwoon oleh Sungmin berjalan mendekati mereka. Dia sedikit terpaku saat melihat Nichan. Tapi kemudian, dia melanjutkan mendekati Sungmin.

“Jongwoon Hyung, sudah lama tidak bertemu!” Ujar Kyuhyun setelah berdiri.

“Ne. Bagaimana vokalmu? Sudah meningkat?” Tanya Jongwoon balik.

“Ah tentu saja sudah meningkat, Hyung!”

“Kalian saling kenal?” Tanya Sungmin bingung.

“Ne. Kyuhyun ini hoobaeku saat sekolah vokal dulu. Dari semua karakteristik vokal yang dramatik, dia yang paling baik!”

“Ah jadi kau yang namanya Jongwoon Hyung?” Tanya Yoseob

“Wae?” Jongwoon balas bertanya

“Aniya. Banyak yang bilang kalau kau sangat baik dalam bernyanyi. Aku hanya penasaran denganmu, Hyung!”

“Ah, karena kita belum saling kenal, aku akan memperkenalkan diriku secara resmi. Kim Jongwoon imnida. Jurusan seni vokal dan performing arts.”

“Yang Yoseob imnida. Jurusan komunikasi masa.”

“Dan dia?” Tanya Jongwoon sambil menatap Nichan.

“Park Nichan imnida. Jurusan hukum dan menejemen bisnis internasional.” Nichan memperkenalkan diri. Yoseob bingung melihat Nichan memperkenalkan dirinya.

Nichan tersadar dan refleks memegangi liontin apelnya. Dia segera berdiri dan membungkuk hormat. “Mianhamnida. Aku harus pergi. Byulhyun-sshi terimakasih atas makanannya.” Lalu berlalu pergi begitu saja.

Yoseob jadi panik dan khawatir atas keadaan Nichan. “Geu yeoja… Bagaimana kalau dia berbuat nekat lagi.”

“Nekat apa maksudmu?” Tanya Byulhyun.

“YA!! PARK NICHAN!! CHANKAMAN!!” Seru Yoseob lalu menyusul Nichan tanpa menghiraukan teman-temannya yang lain. “Park Nichan!! Jangan berbuat nekat!”

T.B.C

Advertisements