Tags

Mobil Kyuhyun berhenti di depan gedung apartemen Byulhyun. Mereka saling diam. “Byulhyun-ah, kalau waktunya tepat, aku akan memberitahumu semuanya.”

“Arraseo.”

“Byulhyun-ah…”

“Ne?”

“Kita ini berpacaran tidak?” tanya Kyuhyun.

“Molla.” Jawab Byulhyun singkat.

“Nado molla.” Timpal Kyuhyun. “Kita mengungkapkan perasaan masing-masing dan kita berciuman. Keurom, kita ini memiliki hubungan apa?”

“Mollayo. Aku saja tak tahu harus memanggilmu Kyuhyun atau Gui Xian.”

“Panggil saja Kyuhyun. Gui Xian nama yang tidak resmi.”

Byulhyun terkekeh mendengarnya. “Terserah kau menyebut hubungan kita dengan apa. Aku sendiri tak tahu.”

Kyuhyun terdiam. Lalu mencium kening Byulhyun. “Tak penting sebutan untuk hubungan kita. Yang terpenting kau dan aku adalah orang yang ditakdirkan untuk bersama karena saling mencintai. Arraseo?”

“Arreta!!”

“Sudah. Sana masuk!!”

“Mm… Aku pulang dulu!”

“Jaljayo…”

“Neodo. Anyeong!”

-=.=-

Byulhyun duduk di kantin sendiri. Dia melihat Nichan berjalan mendekatinya dengan merangkul tangan kiri Jongwoon. Tapi Nichan terlihat sesekali mencubit perut dan pipi Jongwoon karena kesal. Jongwoon yang sedang membawa nampan pesanan terlihat menjaga agar nampan itu tidak jatuh dengan susah payah. Byulhyun yang melihatnya hanya tersenyum.

“Kalian kenapa?” Tanya Byulhyun setelah mereka berdua duduk dihadapannya.

“Kenapa apanya?” Tanya Nichan tak mengerti sambil memasukan sesendok eskrim ke dalam mulutnya. Lalu menyuapi sesendok untuk Jongwoon.

“Dwaesso!” Ujar Byulhyun jengah melihat Nichan menyuapi dak gang jung untuk Jongwoon, sementara Jongwoon menyuapi eskrim vanilla pada Nichan.

Byulhyun mengambil ponsel dan memainkan angry birds. Tak lama dia merasakan pipinya dicium seseorang. Byulhyun memegangi pipinya. Dia melihat Nichan dan Jongwoon menatapnya tak percaya. Dia menoleh ke samping.

“Kyuhyun-ah!”

“Anyeong!” Kyuhyun menyapa Byulhyun.

“Byulhyun-ah, nuguji?” Tanya Nichan berbisik.

“Ah… Chosohamnida. Cho Kyuhyun imnida.” Kyuhyun memperkenalkan diri.

“Kalian berpacaran?” Tanya Nichan bingung.

“Bisa dibilang begitu.” Ujar Byulhyun.

“Keurom, Gui Xian otthe? Bukankah kau menyukai Gui Xian?”

Byulhyun dan Kyuhyun saling pandang lalu mereka tertawa. Sementara Nichan dan Jongwoon menatap mereka bingung.

“Mwohaeyo? Apa yang lucu? Kenapa kalian tertawa?” Tanya Nichan bingung.

“Gui Xian itu nama samaran. Nama aslinya adalah Cho Kyuhyun.”

“Bukankah namja ini Cho Kyuhyun?” Tanya Yesung sambil menunjuk Kyuhyun dengan bingung.

Byulhyun tersenyum. “Dia itu Cho Kyuhyun sekaligus Gui Xian.”

“Oh.” Ujar Nichan dan Jongwoon singkat.

Ponsel Jongwoon berdering. Dia segera membuka ponselnya. Sebuah pesan masuk baru dia dapatkan. Jongwoon segera membacanya dan membalas pesan itu dengan cepat.

“Kkomaya, Dongwook Hyung menyuruh kita untuk datang. Katanya ada masalah dengan lagu rekaman kita kemarin.”

“Jinja? Masalah apa? Kemarin kita sudah mendengar hasilnya dan hasilnya baik-baik saja. Tidak ada masalah. Dan saat aku memberikan hasilnya pada Dongwook Hyung, dia sudah mendengarnya dan mengatakan hasilnya sangat baik.”

“Mollayo. Dongwook Hyung hanya menyuruh datang karena ada masalah dengan lagunya. Lebih baik kita bergegas. Kajja!” Jongwoon berdiri memberikan uluran tangan pada Nichan. Dan Nichan mengambil uluran tangan Jongwoon. Mereka berlari kecil sambil bergandengan tangan.

“Mereka berpacaran?”

“Mm…”  Byulhyun bergumam lalu mengangguk.

“Mereka sangat berbeda.”

“Tidak juga. Lima puluh persen mereka berbeda. Dan lima puluh persennya lagi mereka itu sama.”

“Nama gadis itu Kkoma?”

“Aniya. Jongwoon Oppa memanggilnya Kkoma karena Nichan itu sangat kekanak-kanakan.” Byulhyun menjelaskan.

“Tapi, yang aku lihat tadi, Nichan terlihat lebih dewasa. Justru Jongwoon yang kekanak-kanakan. Lihta saja, dia memesan eskrim.”

“Eskrim itu Nichan yang pesan. Mereka itu berkepribadian ganda. Butuh waktu lama agar bisa mengenal mereka dengan baik. Kalau baru lima kali atau enam kali, kau baru melihat sebagian kecil dari kepribadian mereka. Sudahlah, jangan bicarakan mereka lagi. Tak akan ada habisnya.”

“Hahaha. Arraseo. Arraseo.”

“Kau mau?” Tanya Byulhyun sambil menunjukan daging dengan sumpit. Kyuhyun mengangguk lalu membuka mulutnya. Byulhyun memasukan daging itu ke dalam mulut Kyuhyun.

“ Makanan disini enak juga. Apa jajangmyun disini enak?”

“Tentu saja. Walau ini hanya kantin, tapi rasanya setara dengan restoran.”

“Arraseo. Ayo, sekarang gantian aku yang menyuapimu.” Kyuhyun mengambil sumpit itu dan menyuapi daging untuk Byulhyun.

“Hyunie-ah!” Panggil seseorang.

Byulhyun dan Kyuhyun menoleh ke arah orang yang memanggil Byulhyun itu. Melihat siapa yang memanggil, wajah Byulhyun berubah kesal.

“Kau bersama siapa?” Tanya dia.

“Apa urusanmu?” Tanya Byulhyun sinis. Byulhyun berdiri lalu menggandeng Kyuhyun untuk berjalan menjauh.

“YA!! Kim Byulhyun!” Pria itu menarik lengan Byulhyun dengan kasar hingga Byulhyun merintih kesakitan.

Kyuhyun menarik pria itu dengan kasar untuk menjauh. “YA!! Jangan main kasar!”

“Kau siapa, huh?”

“Aku kekasihnya!” Tegas Kyuhyun.

“Jadi kau berselingkuh?” Tanya pria itu. Kyuhyun mengernyitkan dahinya dan menatap Byulhyun menuntut penjelasan.

“Kimmie-ya, hubungan kita sudah berakhir dua bulan yang lalu!”

“Mwo? Tapi aku sudah memintamu untuk kembali menjadi kekasihku!!”

“Dan aku menolakmu! Mulai sekarang, jangan ganggu aku lagi! Aku membencimu!” Ujar Byulhyun lalu menarik Kyuhyun menjauh.

“Tadi itu mantan kekasihmu yang kau ceritakan padamu dulu?” Tanya Kyuhyun setelah mereka duduk di dalam mobil milik Kyuhyun.

Byulhyun mengangguk. “Kuharap dia akan berhenti mengangguku.”

“Dia akan berhenti. Tenang saja.”

-=.=-

Kimmie masih ada di dalam kampus. Saat dia berjalan menuju tempat parkir, dia tidak menemukan mobilnya. Dia berkeliling kampus mencari mobilnya. Dan dia menemukan mobilnya ada di dekat gudang kampus.

Kimmie membuka pintu mobilnya. Bau amis khas darah langsung tercium dari dalam mobilnya. Kimmie menyalakan lampu. Dia terkejut melihat jok mobilnya dipenuhi bercak darah. Ada sebuah mayat di jok belakang mobilnya.

Kimmie beralih membuka pintu belakang. Di lihatnya wajah Dongju sangat pucat. Dia sedikit senang melihat Dongju terbujur tak berdaya. Memang Dongju adalah musuh terbesarnya saat ini.

Dia mengambil sebilah pisau yang masih tertancap di perutnya. Dia menusukan pisau itu lagi di leher Dongju. Kimmie tertawa puas.

“Jatuhkan pisau itu! Dan taruh tanganku di belakang kepala!”

Kimmie tercengang. Dia melepas pisau itu. Dia keluar dari mobil. Dia memutar badannya perlahan. Dan pemandangan segeromobolan polisi menodongkan pistol ke arahnya.

Dua orang polisi maju dan memborgol Kimmie. “Kau ditahan karena masalah pembunuhan atas mahasiswa bernama Moon Dongju.” Kemudian Kimmie diseret masuk ke dalam mobil polisi

Di belakang itu semua, seorang pria bertubuh tinggi bersembunyi di balik kegelapan. Dia mengeluarkan smirk melihat Kimmie diborgol dan dibawa pergi menggunakan mobil polisi.

-=.=-

“Byulhyun-ah, kau sudah tahu?” Tanya Nichan setelah melihat Byulhyun duduk di hadapannya di dalam perpustakaan.

“Tahu tentang apa?”

“Kimmie.”

“Sudahlah. Aku tak ingin membicarakannya lagi.” Ujarnya jengah.

“Aniya. Ini beda. Kau tak akan percaya.”

“Kimmie wae?”

“Dia di bawa ke kantor polisi karena membunuh Dongju.”

“Dia membunuh Dongju?” Tanya Byulhyun tak percaya.

“Ne.”

“ Tak kusangka dia tega membunuh Dongju.”

“Nado. Tapi melihat hubungannya dengan Dongju kurasa hal itu bisa saja terjadi.”

“Ya, setidaknya tidak akan ada yang mengangguku lagi. Oh ya, tumben kau tidak bersama Jongwoon Oppa. Dia kemana?”

“Rekaman untuk iklan.”

-=.=-

Sudah lima bulan Byulhyun dan Kyuhyun menjadi pasangan kekasih. Mereka juga sering melakukan double date bersama Nichan dan Jongwoon. Seperti yang mereka lakukan saat ini. Melakukan double date disebuah restoran kecil di mall seperti yang biasa mereka lakukan.

“Setelah ini, apa acara kita?” Tanya Byulhyun.

“Nonton bioskop!” Seru Nichan dan Jongwoon bersamaan.

“Kalian saja! Setiap kita bertemu pasti makan disini, kemudian membeli es krim dan dilanjutkan  menonton film. Kalian tidak bosan?” Tanya Byulhyun jengah.

Nichan dan Jongwoon kompak menggelengkan kepala mereka. “Ayolah. Aku dan Jongwoon Oppa sudah sering melakukannya.”

“Shirende. Aku sudah bosan dengan bioskop.”

“Kyuhyun-ah kau mau ikut tidak? Sedang aa film bagus.” Tanya Jongwoon.

“Lebih baik pulang dan bertanding game.”

“Ya sudah! Oppa, ayo kita ke bioskop saja sendiri!” Pinta Nichan manja.

“Ayo.”

“Beli eskrim dulu, ya!”

“Ya! Nichan-ah, kau tak punya menu lain selain eskrim, huh?” Tanya Kyuhyun.

Nichan hanya terkekeh. Selesai Jongwoon membayar, Nichan dan Jongwoon pergi berdua. Kini tinggal Byulhyun dan Kyuhyun yang masih ada di restoran itu.

“Lalu, kita mau apa?” Tanya Byulhyun bingung. Kyuhyun hanya mengangkat bahunya. Tak lama ponsel Kyuhyun bordering. Kyuhyun langsung mengangkat telepon itu.

“Hyun-ah, aku harus pergi sekarang.”

“Neo eoddiga?”

“Sunbaenim meneleponku untuk segera datang menemuinya.”

“Arraseo! Jalga!”

“O. Kau ikut dengan Nichan saja.”

“Aniya. Kau mau aku jadi nyamuk? Lagi pula bosan juga nonton di bioskop. Aku pulang saja.” Jelas Byulhyun.

“Arraseo. Aku antar kau pulang dulu. Ayo!”

-=.=-

Sudah satu minggu berlalu semenjak hari itu, Kyuhyun tak lagi mengabari Byulhyun. Kyuhyun bak menghilang di telan bumi.

“Byulhyun-ah, jangan sedih lagi.”

“Dia tidak berniat meninggalkanku, kan, Nichan-ah?” Tanya Byulhyun pasrah.

Nichan beranjak memeluk Byulhyun. “Dia sangat mencitaimu. Dia tidak mungkin meninggalkanmu. Mungkin dia ada urusan penting.”

“Kkoma, kita sudah di tunggu Kang Saem di studio.” Ujar Jongwoon.

“Ya sudah. Byulhyun-ah, kau jangan sedih lagi!” Ujar Nichan. Byulhyun mengangguk. Nichan dan Jongwoon langsung pergi ke studio, tampat mereka berlatih menyanyi.

Byulhyun melangkahkan kakinya menuju halte bus di dekat kampusnya. Saat menunggu bus, dia mencoba mengirim Kyuhyun sms lagi. Tapi Byulhyun juga tetap tidak mendapat balasan.

Byulhyun hanya menghela nafas lalu naik ke dalam bus. Setelah berhenti di halte berikutnya, Byulhyun turun. Dia menunggu bus yang kedua yang akan mengantar ke apartemennya.

Tapi saat dia melihat di seberang, dia melihat Kyuhyun sedang berjalan dengan tergesa-gesa. Byulhyun hendak menyeberang, tapi lempu penyebrangan belum hijau.

Tak lama, sebuah mobil berhenti di samping Kyuhyun. Seorang gadis keluar dari mobil itu, yang Byulhyun kenali sebagai Hyera.

Dapat dilihat, Hyera memegang lengan Kyuhyun. Byulhyun mendengus kesal karena cemburu. Tapi setelah melihat Kyuhyun menepis tangan Hyera, Byulhyun tersenyum kecil.

Byulhyun melihat mereka sedikit berargumen. Dan akhirnya Kyuhyun masuk  ke dalam mobil Hyera. Dan sedetik kemudian, mobil Hyera melaju di tengah jalanan Seoul.

Byulhyun memanggil sebuah taksi. Dan segera masuk ke dalam taksi itu. “Tolong ikuti mobil sedan merah di depan.”

-=.=-

“Kyuhyun-ah!” Panggil Hyera.

Kyuhyun merasa jengah dan meninggalkan Hyera. Tapi Hyera menarik lengan Kyuhyun, memaksanya untuk tetap tinggal.

“Aku ingin bicara denganmu.”

“Dan aku tidak. Permisi.”

“Dengarkan aku dulu!”

“Kalau kau tidak keberatan, aku menolaknya. Aku sedang sibuk.” Ujar Kyuhyun lalu melangkah menjauh.

“Ini tentang Byulhyun.”

Kyuhyun langsung berhenti dan menoleh kembali menatap Hyera. “Apa yang ingin kau katakan? Kenapa ada sangkut pautnya dengan Byulhyun?” Tanya Kyuhyun dingin.

“Aku akan mengatakannya di tempat bekas basecamp kita.” Jawab Hyera.

Hyera dan Kyuhyun masuk kedalam mobil. Hyera langsung menjalankan mobilnya menuju basecamp. Basecamp itu cukup jauh dan terletak di daerah yang sepi. Hyera memakirkan mobilnya di depan lapangan kosong dan melanjutkan dengan jalan kaki.

-=.=-

Sementara di belakang mereka, Byulhyun masih mengikuti mereka. Byulhyun mengikuti mereka hingga tiba di sebuah bangunan bekas terbakar. “Untuk apa mereka kesini?”

Byulhyun memasuki gedung itu. Saat mereka menaiki tangga, Byulhyun melepas sepatunya supaya tidak menimbulkan suara.

Setelah di lantai lima, Byulhyun bersembunyi untuk mencuri dengar pembicaraan antara Kyuhyun dan Hyera.

-=.=-

“Cepat katakan apa yang ingin kau katakan!” Perintah Kyuhyun.

“Kenapa kau menjalin hubungan dengan orang lain?”

“Tersarah padaku! Apa hakmu melarangku?”

“Kau tahu, kan, bila ketua tidak mengijinkan kita menjalin hubungan dengan orang lain?”

“Apa pedulimu? Itu urusanku!”

“Kau tak memikirkan perasaanya kalau dia tahu, kau anggota pembunuh bayaran?” Tanya Hyera dingin.

Kyuhyun terdiam.

“Lalu apa alasan kau membunuh Moon Dongju dan membuat situasi seolah-olah Kimmie yang sudah membunuh Moon Dongju juga karena Kimmie yang terlalu sering mengganggu Byulhyun?”

“Sekali tepuk dua nyamuk mati di tangan. Moon Dongju mati seperti yang ketua perintahkan dan Kimmie bisa berhenti menganggu Byulhyun.”

“Tapi bukan kau yang diperintahkan oleh Ketua untuk membunuh Moon Dongju. Tapi sekarang itu tidak penting. Apa kau masih ingat pria saingan ayahmu yang kau bunuh delapan bulan lalu?”

“Keuromyo.”

“Kau membunuhnya untuk mendapat pengakuan dari ayahmu karena berhasil menyingkirkan saingannya. Tapi apa kau mendapat pengakuan dari ayahmu?”

Kyuhyun terdiam.

“Aniyo? Kasihan sekali kau.”

“Itu semua tak ada hubungannya denganmu!”

“Memang tidak. Tapi ada hubungannya dengan Byulhyun.”

“Mwo?”

“Neo. Lebih baik kau tak membunuh saingan ayahmu itu. Dan kau seharusnya memeriksa keluarga sasaranmu juga.”

“Wae?”

“Karena kau sudah membuat Byulhyun sedih.”

“Wae? Apa hubungannya?”

“Karena membunuh pria itu berarti kau membunuh ayah Byulhyun. Pria yang kau bunuh itu, Lee Jaeshim, dia adalah ayah Byulhyun.”

“Mwo?” Kyuhyun shock.

PRAK…

Kyuhyun dan Hyera sama-sama menoleh. Betapa terkejutnya Kyuhyun melihat Byulhyun berdiri dengan wajah shock.

“Byulhyun-ah?”

“Benarkah itu? Benarkah kau yang membunuh ayahku?”

“Biarkan aku jelaskan dulu…” Kyuhyun melangkahkan kakinya mendekat dan memegang lengan Byulhyun.

“Manchijima! Menjauh dariku!” Ujar Byulhyun dingin. Kyuhyun mundur menjauhi Byulhyun. “Malhaeyo!! Apa kau yang membunuh ayahku?”

“Aku memang membunuh Lee Jaeshim, tapi aku tak tahu…” Ucapan Kyuhyun  terhenti karena Byulhyun sudah beranjak menjauh.

“Byulhyun-ah!!” Kyuhyun hendak mengejar Byulhyun tapi dicegah oleh Hyera.

“Kenapa kau tidak membiarkan dia pergi? Apa dia mau menerimamu lagi setelah dia tahu semuanya?”

“Aku tak peduli!”

“Kenapa kau lebih memilihnya dari pada aku?”

“Dengar! Kita tak pernah memiliki hubungan apapun. Kau saja yang menganggap kita ada hubungan. Lebih baik kau urusi Hyukjae yang sudah mengejarmu sejak lama!”

“Aku tak menginginkan Hyukjae. Yang kuinginkan adalah kau!”

“Nado. Aku tak menginginkanmu. Yang aku inginkan adalah Byulhyun!” Kyuhyun menepis kasar lengan Hyera. Lalu beranjak menuruni tangga./

BRUK…

Kyuhyun pingsan. Hyera memukul tengkuk Kyuhyun dengan balok kayu. Dia melihat kearah luar. “Byulhyun-ah, tak akan membiarkanmu lepas begitu saja!”

-=.=-

Byulhyun menghentikan langkahnya dalam menuruni tangga. Dia menghapus airmatanya. Dia menoleh keatas. Sedikit berharap bahwa Kyuhyun akan menyusulnya. Tapi segera dia menepis pikirannya. “Untuk apa memikirkannya lagi?”

Byulhyun meneruskan langkahnya menuruni tangga. Di lantai dua, dia mendengar suara gadis yang sedang berdeham. Dia menoleh. Dia kaget sekaligus ketakutan melihat Hyera yang berdiri bersandar di dinding dengan angkuh sambil melipat kedua tangannya didepan dada.

Byulhyun hendak meneruskan langkahnya tapi Hyera mencegahnya. “Kau mau kemana? Kemarilah!”

Byulhyun berjalan dan berhenti di tengah ruangan itu. Hyera maju selangkah. Mengeluarkan sebuah senjata pistol jenis dessert eagle dan memainkannya dihadapan Byulhyun. “Kau pikir aku akan melepasmu begitu saja membawa rahasia kami?”

“Aku berjanji tidak akan mengatakannya pada siapapun.”

“Aku percaya itu. Tapi…” Ucapnya menggantung.

“Tapi apa?” Kata Byulhyun ketakutan sambil mengawasi gerak gerik Hyera.

“Kau sudah mengambil Kyuhyun dariku!” Balas Hyera geram.

“Kalau kau mau mengambilnya lagi, ambil saja!”

“Tapi dia tidak menginganku!” kata Hyera setengah berteriak. Dia berjalan mengitari Byulhyun. “Yang dia ingingkan adalah kau! Aku tak tahu dengan jalan pikirannya. Kenapa dia memilihmu dari pada aku?”

“Tapi kalau kau berusaha, kau akan berhasil mendapatkannya lagi.” Ujar Byulhyun sedikit tidak rela.

Hyera berhenti dan menatap Byulhyun marah. “Sudah lebih dari lima tahun aku berusaha! Tapi tak ada hasilnya. Di tambah kau datang. Aku semakin susah!”

“Kalau begitu maafkan aku!” Kata Byulhyun lalu membungkuk.

“Maaf tak akan membawa Kyuhyun kepadaku!”

“Lalu aku harus bagaimana?”

“Kau tahu, agar singa melepas mangsanya adalah mangsa itu harus hilang.” Ujar Hyera sambil berjalan memunggungi Byulhyun.

“Lalu kau menyuruhku untuk pergi dari hidup Kyuhyun?”

Hyera menoleh menatap Byulhyun. “Tentu saja tidak. Kalau kau pergi, kau bisa kembali lagi. Aku tak mau itu.”

“Keurom otthe?”

“Kau harus hilang.”

“Mwo?”

“Hilang. Lenyap. Pergi dari muka bumi ini.”

“Apa maksudmu? Apa aku harus mati?”

“Kau memang gadis pintar.”

Byulhyun menatap Hyera tak percaya juga ketakutan.

“Kau tak perlu takut. Aku akan melakukannya dengan cepat. Jadi kau tak akan merasa sakit. Aku adalah agen terbaik, kau ingat itu?”

“Apa waktu kau Luxemburg itu juga untuk membunuh?”

“Tentu saja. Memang apa lagi yang aku lakukan disana?

“Berlibur mungkin. Mencari hiburan di hari yang sibuk.”

“Benar juga. Membunuh merupakan hiburan tersendiri untukku. Sudahlah. Apa ada kata-kata terakhir yang ingin kau katakan?”

Byulhyun mengangguk yakin.

“Ppali malhaeyo!”

“Kyuhyun tak akan pernah mencintaimu!”

Senyum Hyera langsung menghilang. Dia menodongkan pistol ke arah Byulhyun. Byulhyun sudah pasrah dan memejamkan matanya erat. “Tuhan tolong selamatkan aku. Kyuhyun-ah, saranghaeyo yongwonhi.”

“Selamat tinggal, Byulhyun-sshi!”

DOR…

Sedetik kemudian, seorang gadis dengan sebuah peluru tertancap di bawah tulang selangka sebelah kanan terkapar tak berdaya di lantai. Dan keluar banyak darah dari lubang yang diakibatkan peluru itu.

T.B.C

 

Hayo…

Udah ketembak deh…

wkwkwk….

Galau..

Dilanjutin chapter tiga apa nggak ya??

Advertisements