Tags

Title                : My Hidden Hero

Author            : Lee Yonghee & Park Nichan (Raisha & Nirwana)

Genr               : Friendship & Romance

Rate                : General

Main Cast      :

  • Lee Sungmin
  • Lee Yonghee

Supporting Cast

  • Yesung
  • Park Nichan

Yonghee sedang duduk di sofa di ruang tengah. Dia terlihat sedang sibuk memikirkan sesuatu. Tapi terkadang, dia terlihat menggeleng-gelenggkan kepalanya.

“Kau kenapa?” Tanya Nichan yang baru keluar dari dapur sambil memegang semangkuk eskrim.

“Aku bingung, Chan-ah!”

“Bingung kenapa?”

“Aku bingung ingin memberi kado apa untuk ulang tahun Sungmin Oppa.” Jelasnya dengan nada yang benar-benar bingung.

Nichan yang sedang memakan eskrimnya menjadi tersedak karena mendengar penuturan Yonghee. “Mwo? Ya, Eonnie!! Ini sudah tanggal berapa? Sudah terlambat dari ulang tahun Sungmin Oppa!”

“Justru itu masalahnya! Aku semakin bingung untuk memberinya hadiah apa. Lagi pula, dia pasti sudah memiliki semuanya.”

“Jangan katakan padaku, kalau kau juga belum mengucapkan selamat tahun untuknya!” Ancam Nichan.

Yonghee hanya menggeleng pelan.

“EONNIE!!!” Nichan teriak gemas melihat kelakuan Yonnghee.

“Chan-ah, kumohon bantu aku! Dohajoseyo, Park Nichan Sajangnim!” Ujar Yonghee memohon sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya dengan melakukan aegyo.

“Aku juga bingung, Eonnie. Aku hanya mengucapkan selamat ulang tahun melalui sms.” Jelas Nichan seadanya.

“Kau melakukannya pada Yesung Oppa?” Tanya Yonghee tak percaya.

“Tentu saja tidak! Maksudku pada Sungmin Oppa. Kalau untuk Yesung Oppa pasti lebih spesial, Eonnie”

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Yonghee penasaran.

“Saat ulang tahunnya yang kemarin?”

Yonghee mengangguk-anggukan kepalanya dengan antusias.

“Aku memberi kejutan.” Jawab Nichan singkat.

“Kejutan seperti apa?”

“Kejutan yang seadanya. Setelah aku tidak memberi kabar dua bulan, aku…”

“Dua bulan tidak memberi kabar?” Tanya Yonghee terkejut. “Apa saja yang kau lakukan?”

“Kau mau dengar ceritaku tidak? Kalau kau uterus memotong ceritaku, aku tidak mau menceritakannya.”

“Arraseo. Aku akan diam! Ayo cerita padaku!”

“Waktu itu sudah tanggal 24 agustus, dan aku sama sekali tidak ingat tentang ulang tahunnya. Tapi saat aku mengunjungi Kpop Festival di Jepang, aku jadi teringat. Aku segera pulang ke Seoul. Sementara aku menyuruh asistenku untuk menyiapkan semuanya. Sekitar jam sebelas malam, aku sudah sampai di dorm. Yesung Oppa langsung turun dan kami pergi ke rumahku.”

“Apa kejutan yang kau siapkan?”

“Hanya membuat home theater kecil di halaman belakang.”

*P.S. : Yang mau tahu ceritanya, baca aja ‘{ChanSung’s Melody} Never foget about you, so this special For You

“Lalu apa yang harus aku berikan untuk Sungmin Oppa?”

“Terserah padamu dan aku tak peduli!! Aku mau tidur! Kau mau pulang atau tidak, aku tidak peduli!”

Yonghee mendengus kesal. Lalu beranjak menginggalkan apartemen Nichan. Dia segera pulang ke rumahnya.

Sesampai, di rumahnya, dia segera masuk ke dalam kamarnya. Dia masih sibuk memikirkan apa yang ingin ia berikan untuk Sungmin kekasihnya.

Dia melihat kearah notebook yang bertengger dia atas mejanya. Dia beranjak mendekatinya. Layar itu menunjukan tulisan yang berisikan tentang Sungmin. Dia segera melanjutkan tulisan itu.

Setelah beberapa jam, dia menutup notebooknya. Senyum puas terpasang di wajahnya. Kemudian dia beralih menuju kasur dan langsung terbang kea lam mimpi.

-=.=-

“Sungmin-ah, coba lihat ini!” Seru Yesung sambil berlari kecil mendekati Sungmin yang sedang menonton televisi.

“Lihat apa, Hyung?” tanya Sungmin agak malas.

Yesung menyerahkan galaxy tab miliknya. “Nichan menyuruhku untuk membukanya. Dan kurasa, kau juga harus membacanya.”

Sungmin mengambil galaxy tab itu daru Yesung. Dia tersenyum saat melihat disain web milik Yonghee itu. Background yang menggunakan kumpulan foto-fotonya. Menggunakan tema yang lucu dan dipenuhi nuansa pink. Walau ia tahu, Yonghee sangat membenci warna pink, tapi Yonghee sering memberi barang berwarna pink, atau membuat tema websitenya dengan nuansa pink. Sungmin tahu, itu karena dirinya, yang menyukai warna pink itu. Dia tahu, bahwa ini adalah ajaran dari kekasih dari hyung teranehnya, Park Nichan. “Geu yeoja jinja…”

“Aku kembali ke dalam dulu. Aku masih mau menonton film yang belum selesai aku tonton.”

“Keurom, aku pinjam dulu, Hyung!”

“Kalau sudah selesai, taruh saja di kamarku.”

“Arraseo!”

Sungmin melanjutkan lagi postingan baru dari wordpress milik kekasihnya itu, Yonghee. Sungmin tahu, bila Yonghee suka memosting semua yang Yonghee anggap menarik ke dalam wordpressnya. Dan kini ia memosting postingan tentang dirinya.

-=.=-

 

My Hidden Hero…

 

No matter how chaotic others’ world is, he is surrounded with quiet.

Sungmin bukan seorang Paus di roma yang membutuhkan ruangan tenang untuk kusyuk berdoa, hanya saja ia memiliki dunia dimana tak seorangpun dapat bertahan diri untuk betah dengan ritme yang datar tanpa grafik.

Dan diibarat Kursi beroda empat, ia adalah sebuah ‘replacement for walking’. Seakan hidup dalam dunianya sendiri, follow to his place. Dibandingkan dengan yang lain, profil hidupnya mungkin yang paling lurus tanpa kelok. Mungkin bila diandaikan ketika saat dimana semua orang berdiskusi ria dengan kehebohan Kate-William yang akan menikah di Inggris, Sungmin lebih memilih membaca wacana perkiraan indeks saham wallstreet yang tetap stabil, meski sedikit mengalami guncangan saat Osama dinyatakan tewas.

 

“Tolong lihat aku sebagaimana seorang laki-laki. Because  I’m Really Man!”

Ia mengaku kalau dia tidak pernah menciptakan image imut, tidak meminta dianugerahi gigi kelinci ketika tersenyum, tetapi ‘sweet pumpkin’ kerap melekat di belakang namanya meski mungkin ia sendiri sangat membenci buah labu.

Sungmin mungkin yang menghadapi tembok tersulit di album ke-4. Ia dituntut paksa mengubah image cute-nya sedemikian rupa. Andaikan saja ia tidak memiliki tampang imut layaknya bayi, maka tak mungkin ada orang yang mengaitkan kata ‘cute’ terhadap dirinya.

Jika ingin melihat otot, lihat Siwon! untuk kecantikan seorang dewi, lihat Heechul! Untuk anak manis, tengok Lee Sungmin! Tiga hal tersebut sudah menjadi pola selama enam tahun. Dan mengubah pola yang sudah menancap juga menbutuhkan waktu bertahun-tahun.

Jenuh dan lelah, tidak dipungkiri sebab tak ada pekerjaan yang menyenangkan di dunia ini untuk dijalankan. Talenta di semua bidang, ia menjelma menjadi sosok yang dikagumi karena memiliki ‘Handy Hand’ apapun yang dilakukannya akan memiliki hasil sempurna.

Ia sosok yang sempurna seperti seniman kebanyakan, memiliki tangan seniman dan terlahir sebagai seorang artis yang sempurna sebagai pekerja seni. Tetapi untuk tampil sebagai ‘Ideal Person’, sosok idola nasibnya mungkin miris dan kemampuan seninya tidak terlalu banyak membantunya menjadi seorang panutan diatas panggung.

 

“Aku lelah mentolerir diriku sendiri.”

Saat lampu kamera itu diredupkan maka perannya usai sudah. Hingga saat ini, ia mengaku masih belum memiliki tempat untuk dirinya diatas panggung meski hanya beberapa meter persegi.

Satu-satunya harapan pertamanya yang hendak ia ubah sejak lama adalah imagenya sebagai seorang laki-laki. Dia ingin sempurna memerankan perannya sebagai kaum adam tanpa embel-embel sisi feminitas yang sudah terlalu lama melekat pada sosoknya selama ini.

Memiliki member seperti Sungmin dalam sebuah grup mungkin menjadi sebuah idaman. Fire Fighter, kartu as, joker dalam permainan black jack

 

 “Itu berarti mereka melihatku sebagai lilin di dalam gulita pekat”

Itu adalah jawaban dari Lee Sungmin ketika seseorang bertanya “Bagaimana rasanya dirimu, ketika orang baru melihat pijakan kau berdiri disaat mereka membutuhkan pertolongan?” padanya. Sungmin andaikan lilin yang disimpan dalam laci dapur bertahun-tahun, terlupakan. Tapi menjadi benda pertama yang akan dicari dan menyalakannya di saat listrik mati.

Bila Donghae absen dalam sebuah acara, Sungmin siap menggantikannya menjadi lead dancer. Siapa yang bisa melakukan hat dance selain dirinya? Bila Ryeowook terserang flu dan tidak bisa menyanyi di atas panggung, main vocal nomor 4 rasanya masih bisa menutupi talen si nomor 3. Butuh pengiring akustik? gitarnya siap untuk mengiringi sepanjang lagu yang dinyanyikan. Bosan dengan pertunjukan yang hanya itu-itu saja? Berdoalah ia dalam mood yang baik, maka Sungmin akan memertunjukan kebolehannya bermain sulap.

Masuk ke dunia Lee Sungmin, ia bukan ‘The Master’. Ia tidak memiliki kemampuan khusus yang menonjol. Siapa yang bisa mampu menjawab dalam 3 detik pertanyaan “Apa kemampuan Sungmin yang menonjol?” Setidaknyakita butuh lebih dari 10 detik untuk menjabarkannya satu demi satu, baru kemudian di sortir ulang untuk memilih dari sekian banyak talenta mana yang paling menonjol. Tidak ada yang khusus, seperti seorang menteri protocol. Tapi ia menonjol seperti seorang presiden yang dituntut menguasai semua bidang.

Semakin kesini kita semakin menarik kesimpulan. Menempatkan Sungmin dalam jajaran formasi SJ-M merupakan kesalahan fatal yang mungkin sangat disesali. Yah, Meski ia masih memiliki partner seorang Eunhyuk yang turut menemaninya terseok-seok di negeri orang dengan keterbatasan bahasa, tapi dibanding dengan member lain yang sudah 3 tahun menjalaninya, Sungmin tertinggal sangat jauh.

Barulah di Jepang ia bisa menonjol sebagai ahli translator. Oleh sebabnya sepanjang acara SJ-M, Sungmin sama sekali tidak bisa mempertunjukan talenta yang ia miliki. Ia hanya bisa mengucapkan satu atau dua kata atau mengatakan kalimat yang sangat sederhana. Di pertanyaan kedua, ia akan menyerah dan tidak bisa menjawabnya. Bahkan kemampuan host Eunhyuk yang paling unggul diantara rekan-rekannya, juga tidak bisa berbuat banyak.

Namun ia adalah ‘fast learner’. Berikanlah Sungmin sedikit waktu. Bukan tidak mungkin dalam waktu yang amat singkat ia bisa menyamai Zhoumi sebagai seorang ‘Mandarin Leader’.

 

“I always believe that I am a diamond in the rough”

Seperti ucapnya, ia mungkin tidak tahu caranya mempromosikan diri. Ia tidak memiliki kemampuan seperti itu. Ia sepertinya butuh waktu lebih lama dibanding rekannya yang lain untuk betul-betul menemukan passion dalam karirnya sebagai seorang artis. Alur karirnya jauh lebih lambat. Tapi kemampuan yang dimilikinya terasah dari tahun hingga tahun. Dikemudain hari, mungkin kita akan tercengang saat melihat anak pemalu ini akan menjadi salah satu seniman hebat yang diakui dunia.

Berbeda dengan sifat pekerja seni pada umumnya yang terbilang bebas. Lee Sungmin mungkin satu dari sedikit artis yang goes by rules, singing by the rules, dancing by the rules, acting by the rules, segala sesuatunya berpedoman pada buku teks dan aturan yang berlaku.

Stuktur birokasi hidupnya terlalu ketat. Itu sebabnya ia selalu mencari ‘kesempurnaan’ yang tak mungkin didapat. Berlatih lebih keras menyempurnakan dance group meski hanya seorang diri. Setiap artis memiliki apa yang disebut ‘beginner’s heart’. Di awal ia mencoba, tapi terus menyimpan keyakinan “Aku masih belajar” seperti Sungmin, hal tersebut merupakan kisah lain dibalik lampu sorot.

 Orang easy going seperti Kangin, tidak akan pernah bisa mengerti melankolisnya seorang Sungmin. Maka cocoklah keduanya diduetkan dalam acara Intimate note. Meski pada akhirnya, hasinya tidak terlalu memuaskan.

Kangin yang hidupnya berpola lingkaran, sulit menembus kotak segi empat milik Sungmin. Ryeowook pernah mengatakan, saat dimana Sungmin duduk bersila dan duduk di pojok maka dunia akan berubah hening dan tenang, seakan waktu akan berhenti. Heechulpun mempromosikan Sungmin sebagai anak ayam yang sudah menetas dari cangkangnya.

 

“Whenever you need me, I’ll always be there.”

Catat kalimat credit yang ditulis sendiri oleh Lee Sungmin tersebut. Dia bisa disebut sebagai member paling rajin atau kerajinan? Setidaknya kehadiran Sungmin membantu Leeteuk meringankan beban di pundaknya sejenak. Ia tidak banyak ulah, tidak ada yang perlu mencemaskan dirinya karena Sungmin mampu menjaga dirinya sendiri.

Sebagai member, ia jarang mengisi kolom absen, malah double melakukan job, tak jarang kita menemukannya mengisi spot member yang lain. Bukan berarti ia bebas dan free, justru sebaliknya. Mungkin ia yang memiliki jadwal yang akan membuat kita sesak napas. Tapi masalahnya, selain Sungmin, siapa lagi yang mau dan bisa melakukannya? Yup! No other than Sungmin

Sungmin, yang pemalu, pendiam, tidak banyak tingkah, dan yang tak pernah menonjolkan diri  sehingga fansnya yang mencari tahu segala sesuatu tentang dirinya. Meskipun dia anak orang yang berada, tapi selalu down to earth. Bakatnya yang menggunung, mungkin membuatnya pusing, bidang apa yang benar-benar ingin ia tekuni.

 

Lee Sungmin, Nega saranghaeneun iyu.

There’s no one like you.

Lee Sungmin, you’re the one!!

 

-=.=-

Sungmin tersenyum. Dia mematikan galaxy tab tersebut. Dia mengembalikan galaxy tab milik Yesung. Dia menaruhnya di atas kasur. Tapi Yesung yang sibuk menonton film melalui laptopnya, tidak memerhatikan kedatangan Sungmin.

Sungmin masuk ke dalam kamarnya. Seperti biasa, Kyuhyun masih asik bermain dengan ‘istrinya’ yang baru ia ‘nikahi’ minggu lalu.

“Kyuhyun-ah, berhenti bermain. Kau tidak ingin mati konyol karena terlalu lama bermain game, bukan?”

“Aku tak peduli!” Balas Kyuhyun singkat dan dingin.

Sungmin hanya menggelengkan kepalanya pelan lalu mengambil ponsel yang ada di meja kecil di samping kasurnya. Saat melihat gitar di atas kasur, ia menentengnya. Dia menekan nomor yang sudah ia hapal di luar kepala. Sebelum melakukan penyamaran, dia memasang bluetooth headset, lalu dia beranjak menuju lift.

“Yoboseo Oppa!” Jawab diseberang. Tepat saat pintu lift terbuka. Dia masuk lalu menekan tombol angka tiga.

“Yongie-ya!” Sapa Sungmin pelan hingga terdengar seperti berbisik. Karena dia tidak sendiri di dalam lift itu.

“Oppa wae gurae? Kau sakit?” Tanya Yonghee khawatir.

“Aniya. ”

“Keurom waeyo? Apa kau kelelahan setelah berlatih? Sudah kubilang, jangan terlalu la…”

“Aku sudah membaca postinganmu yang baru!”

“MWO??”

“Aku membaca postingan terbaru yang kau masukan ke dalam web milikmu.”

“Kau tahu dari mana?” Tanya Yonghee agak ketakutan.

“Hyung yang aneh menyuruhku untuk membacanya. Dia tahu dari anak kecil yang menjadi kekasihnya.”

“Oh…” Balas Yonghee singkat. Yonghee tahu, kalau Sungmin berbicara seperti ini, berarti dia tidak sendiri. Sejenak tak ada pembicaraan yang terjadi. Yonghee mencoba memecah keheningan. “Kuerom, bagaimana pendapatmu?”

“Kurasa kau berbakat. Aku suka tulisanmu apalagi kalau objeknya bukan aku.”

“Ne?” Tanya Yonghee bercampur antara kaget, kecewa, sedih, dan takut. Entah kenapa, Yonghee merasa takut bila Sungmin membaca tulisannya.

“Kau terlalu melebihkannya. Aku tak sehebat itu.”

“Aku tahu kau akan mengatakan hal itu.” Balas Yonghee. “Tapi aku hanya menulis sesuai apa yang aku ingin tulis. Itu dari sisi pandangku dan itu semua adalah apa yang aku lihat dari darimu.”

“Arraseo. Lee Yonghee melakukan apa yang ingin ia lakukan.” Sungmin memberi komentar. “Keundae, gomawoyo. Aku tak tahu bila aku sehebat itu di matamu.”

“Sashil, masih banyak hal hebat dari dirimu yang tak bisa aku tulis. Karena aku sendiri tak tahu harus mendeskripsikannya seperti apa.”

“Jinjayo? Bisa kau sebutkan salah satunya?” Suara Sungmin kembali seperti biasa, karena orang itu sudah keluar di lantai 18.

“Bukankah aku sudah mengatakannya? Aku tidak bisa menjelaskannya.”

Sungmin terkekeh kecil. “Apa hal itu sama dengan sebagaimana halnya seorang Lee Yonghee bisa menaklukan seorang Lee Sungmin?” Ujarnya sedikit menahan malu.

“Kurang lebih sama.” Ujarnya.

“Keurom, kau tak perlu menjelaskannya padaku. Karena, kurasa aku mengerti.”

“Oppa, saenggil chukaeyo!” Yonghee memberi selamat. “Mungkin, aku bukan Nichan atau Siwon yang memiliki banyak uang hingga mudah memberikan kejutan yang tak terduga. Ataupun suara indah milik Yesung Oppa atau Kyuhyun untuk menyanyikan lagu ulang tahun untukmu. Aku juga bukan Eunhyuk yang baik dalam menari untuk menghiburmu. Mianhaeyo. Aku hanya bisa memberimu hadiah sebuah posting kecil, jelek, tidak berharga, tid…”

“Hey, siapa yang bilang itu postingan jelek dan tidak berharga? Itu postingan terbaik dan paling berharga yang pernah aku baca.”

“Tapi…”

“Sst!!… Kau tahu? Belum tentu mereka semua bisa menulis seperti yang kau lakukan. Dan aku bersyukur atas hal itu.”

Yonghee tersenyum. “Gomawo, Oppa.”

“Untuk?”

“Untuk menerimaku dengan semua kekuranganmu. Disaat member lain mendapat gadis-gadis yang hebat, kau hanya mendapatkan gadis sepertiku.”

“Asal kau tahu, kau tidak kalah hebat dari mereka semua. Kau sama hebatnya dengan Nichan, Byulhyun, Minso, bahkan Hyera. Yang terbaik untuk mereka, belum tentu itu yang terbaik untukku. Dan kau adalah hal terbaik untukku.”

Yonghee tak membalas. Dan Sungmin tahu, bahwa kini Yonghee sedang menangis. Sungmin mulai menyanyikan lagu ‘You’re My Endless Love’ untuk menghibur Yonghee.

Sungmin tahu, jauh di dalam diri Yonghee, dia adalah gadis yang rapuh. Walau Yonghee kekeh untuk memertahankan wajahnya yang tegar dan memasang wajah aegyo untuk menutupi kesedihan dan rasa kesepian yang selalu menyelimuti dirinya, Sungmin dapat melihatnya dengan jelas.

Di saat semua berkumpul dan menceritakan hal-hal yang mungkin tidak mungkin dilakukan oleh Yonghee, dia hanya akan duduk di pojok ruangan. Mungkin dia merasa malu. Bagaimana seorang gadis yatim piatu yang tidak memiliki apa-apa dan harus berjuang untuk bertahan hidup, berkumpul satu ruangan dengan member Super Junior dengan ditemani kekasihnya yang juga sama hebatnya.

Byulhyun yang pintar dan ahli waris salah satu sekolah seni terbaik di Amareika. Nichan yang memiliki perusahan yang ia impikan sejak kecil. Minso yang menjadi direktur sebuah resort ternama di Jeju. Hyera yang merupakan trainee di SM Entertainment. Dan kekasih member lain, yang tentunya lebih hebat dari Yonghee yang hanya bekerja di perusahan Nichan sejak awal berdirinya perusahan itu.

Pintu lift terbuka, Sungmin segera keluar karena dia sudah tiba di lantai tiga. Sungmin tetap bernyanyi sambil berjalan menuju apartemen Yonghee.

Setiba di depan pintu, Sungmin menempelkan ibu jarinya di mesin finger-ptint. Dia membuka pintu perlahan dan menutupnya juga dengan perlahan. Dia melepas sepatu dan mengantinya dengan sandal rumah.

Sungmin mulai memainkan gitarnya. Nada dari lagu ‘Love You More’ mulai terdengar. Sungmin memainkan gitar dengan bernyanyi sambil mencari keberadaan Yonghee. Sungmin tersenyum melihat Yonghee yang terduduk di sofa yang ada di ruang tengah.

“Oppa…”

Sungmin menghentikan permainan gitarnya. Dia duduk di samping Yonghee. Yonghee segera menghapus bekas airmatanya.

Sungmin mengerucutkan mulutnya melihat mata Yonghee yang basah dan merah. “Aku sudah katakan padamu. Kalau kau jadi kekasihku, kau tak boleh menangis dan sedih.”

“Mianhae. Mereka keluar begitu saja.”

“Mereka akan tetap berada di tempatnya, bila kau selalu memikirkan hal yang indah dan optimis.”

“Arraseo.”

“Mau aku ajari memainkan gitar?”

“Tapi aku tak mau melihatmu stress karena mengajariku.”

“Aish. Kau itu gadis pintar. Ayo, aku ajari!” Sungmin tetap memaksa. Dia menaruh gitar pink itu di pangkuan Yonghee. Sementara, Yonghee hanya pasrah menerima perlakuan Sungmin.

“Kalau kau jadi stress atau bahkan gila, jangan salahkan aku!”

“Aku sudah gila karenamu. Jadi, aku tidak akan gila karena mengajarimu bermain gitar. Ayo, ini kunci A!” Ujar Sungmin sambil membetulkan posisi jari Yonghee.

“Aish… Sakit jarinya!” Yonghee merengek.

“Yeoja jinja!!” Sungmin mendengus kesal. “Sunny saja tidak merengek sepertimu!”

Yonghee hanya melirik Sungmin tajam. Karena Sungmin sudah biasa dilirik dengan tajam oleh Kyuhyun, dia tidak takut dengan tatapan Yonghee yang masih mengandung unsure aegyo dalam tatapannya.

“Tatapanmu itu tidak menyeramkan seperti milik Kyuhyun, Byulhyun, Nichan , dan Yesung Hyung!”

“Aish..” Yonghee menggembungkan pipinya kesal.

“Yongie-ya, kenapa kau terlambat mengucapkan selamat ulang tahun untukku?”

“Itu karena aku terlalu bingung untuk memberimu apa. Jadinya terlambat hingga sekarang. Mianhaeyo, Oppa!”

“Tapi setidaknya kau mengucapkannya dulu! Padahal, aku sangat ingin kau yang mengucapkannya pertama kali.”

“Kau tidak melihat Hyungmu yang cantik itu? Dia saja baru mengucapkan selamat tahu baru tanggal sebelas kemarin. Kenapa aku tidak boleh?”

“Itu berbeda.”

“Sama saja! Kau saja yang berlebihan.”

“Aku tidak berlebihan. Itu wajar. Justru kau yang berlebihan!”

“Na? Wae? Kenapa kau selalu menyalahkan aku. Dasar kau kelinci menyebalkan!!”

 

E.N.D

 Di bagian postingan yang ditulis oleh Yonghee, nggak ada maksud apa-apa.  Bukan maksud ngerendahin atau ngeremehin member Super Junior yang lain juga. Mohon kalian melihat FF ini sebagai FF biasa ya…!

Sebenarnya, ini FF buat ulang tahun Sungmin yang ke 26!!

Telat ya?

Nggak apa-apa lah. Saya, kan mengikuti jejak The Big Space Star, Kim Heechul yang mengucapkan selamat tahun baru yang telat.ᄏᄏᄏ

SAENGGIL CHUKAHAMNIDA LEE SUNGMIN!!!

Advertisements