Tags

Seorang gadis memasuki sebuah restoran kecil tapi cukup ramai dikunjungi pelanggan. Dia segera menuju tempat pemesanan makanan.

“Anyeong, Yonghee-ya!” Sapa gadis yang ada di belakang kasir.

“Anyeong, Nichan-ah! Aku pesan yang biasa, ya!” Ujar gadis yang tadi disapa sebagai Yonghee itu.

“Arraso. Tunggu sebentar, ya!” Gadis itu segera menyuruh pegawai lain untuk menyiapkan pesanan Yonghee. “Yonghee-ya, untung saja aku sudah menyiapkan meja untukmu. Sudah tidak ada yang tersisa. Hari ini ramai sekali.”

“Jinja? Maaf merepotkan.”

“Gwaenchana. Kau, kan, sahabatku. Ayo, aku antar ke mejamu.” Nichan lalu menunjukan meja Yonghee. Dan Yonghee duduk disitu.

“Kau mau aku temani?” tawar Nichan.

“Apa tidak merepotkan?”

“Sebentar saja masih bisa. Belum ada pengunjung baru dan yang lain masih menyantap hidangannya.” Ujar Nichan lalu duduk dihadapan Yonghee. “Bagaimana kuliahmu?”

“Melelahkan sekali. Bahkan jauh lebih lelah dibandingkan tahun pertamaku.”

“Aku tahu rasanya. Tapi tahun akhir akan sangat menyebalkan. Jongwoon Oppa sudah mengalaminya dan menceritakannya padaku.”

“Haha.” Yonghee tertawa kecil. “Ngomong-ngomong kapan dia akan diwisuda?”

“Sekitar dua bulan lagi mungkin.”

“Oh, ya. Selamat atas pertunanganmu kemarin. Maaf aku tidak bisa datang.”

“Gomapta. Sayang sekali kau tidak datang. Tapi ya sudahlah. Itu demi kebaikanmu juga, kan? Bagaimana hasilnya kemarin?”

“Sudah sedikit membaik.”

“Baguslah!”

“Hari ini Jongwoon Oppa tidak datang?”

“Akhir-akhir ini dia sangat sibuk. Dia bahkan tak menemaniku disini. Menyebalkan sekali.” Keluhnya. Nichan mulai mengamati para pengunjung yang hendak pergi. “Yonghee-ya, aku tinggal dulu, ya! Aku harus mengurus pengunjung yang akan pulang. Aku tinggal dulu, ya!”

Yonghee hanya mengangguk. Dia mengamati Nichan yang melayani pengunjungnya dengan senang hati. Terkadang ia iri dengan apa yang Nichan miliki. Dia ingin hidup seperti Nichan. Memiliki keluarga yang perhatian padanya. Bisa melakukan hal yang ia mau. Seperti membangun restoran ini. Yang ia jalankan bersama dengan Jongwoon. Juga sekolah vokal yang mereka dirikian beberapa bulan lalu.

Bahkan Yonghee sempat iri dengan Nichan yang memiliki Jongwoon, kekasih yang sangat mencintainya. Dan bisa menjadi sandaran saat Nichan lelah. Bagi Yonghee, hidup yang Nichan miliki sangat sempurna.

Sementara dia? Ayah dan Ibunya tinggal di luar negeri dan jarang menghubunginya. Dia bahkan tidak memiliki kekasih sebagai sandaran saat ia lelah

Ia mengalihkan pandangannya. Tak sengaja dia melihat seorang pria berjalan masuk kedalam restoran ini. Entah mengapa, Yonghee enggan melepas padangan matanya dari sosok pria itu.

Ddrt.. ddrt..

Ponsel Yonghee bergetar. Ia segera meraih Galaxy SS2 miliknya. Ada sebuah pesan masuk untuknya.

-=.=- Hyera Shin -=.=-

Yonghee-ya, sore ini datanglah ke apartemenku. Kita kerjakan tugas di apartemenku.

Yonghee hanya menghela nafas berat. Dia sudah muak akan tugas-tugas kuliah yang sangat menyiksa itu. Terlebih kesehatannya yang semakin memburuk.

Akhirnya dia hanya memangku wajahnya dengan kedua tangannya. Dia menatap ke arah luar jalan. Dia melihat-lihat para pejalan kaki dan mobil-mobil yang melintas. Juga beberapa fans yang menunggu untuk melihat idolanya. Maklum, restoran ini dekat dengan gedung stasiun televisi yang ternama.

“Yonghee-ya!” Nichan memanggil Yonghee. Yonghee menoleh dan kaget karena sosok pria yang tadi dia perhatikan ada di belakang Nichan.

“Oh. Waeyo?”

“Perkenalkan dia Lee Sungmin. Dia adalah temanku. Bisakah dia duduk bersamamu? Maaf karena tempat yang lain sudah penuh.”

“O. Gwaenchana.”

“Gamsahamnida.” Ujar pria yang dikenal dengan nama Sungmin itu. Tak lupa dia membungkuk sebagai tanda terimakasih.

“Keurom, aku tinggal dulu. Aku sedang sibuk. Anyeong!!” Nichan segera kembali ke bagian kasir lagi.

“Maaf aku mengganggumu.” Ujar Sungmin.

“Aniya. Gwaenchana.”

“Ah, ya, aku belum memperkenalkan diriku. Lee Sungmin imnida.”

“Lee Yonghee imnida.”

Setelahnya tak terjadi percakapan diantara mereka. Mereka hanya diam dan sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing.

Hingga akhirnya, Yonghee memutuskan untuk pergi menuju tempat Hyera. Setelah berpamitan dengan Sungmin, dia menemui Nichan.

“Nichan-ah, aku pergi dulu!” pamitnya.

“Kenapa cepat sekali. Disinilah lebih lama.”

“Aniya. Aku harus mengerjakan tugas kuliahku di tempat Hyera.”

“Baiklah. Hati-hati di jalan! Semoga tugasmu cepat selesai. Hwaiting!!”

-=.=-

Selesai mengerjakan tugas dari rumah Hyera, Yonghee segera kembali ke apartemennya. Setelah menempelkan ibu jarinya di mesin finger-print, dia segera masuk kedalam.

Tapi, segera dia merasakan dadanya sakit. Yonghee memegangi dadanya memberi sugesti agar sakitnya mereda. Namun, nyeri itu tak kunjung mereda. Bahkan semakin menjadi. Dia meraih ponselnya dan segera menelepon Nichan melalui speed-dialnya.

“Yoboseo!”

“Ni.. chan-ah… dohojo… dadaku… sak.. kit..” Kata Yonghee dengan tersenggal-senggal karena sakit di dadanya.

“Neo oddiya? Aku akan segera kesana.”

“Ak… ku.. di.. rumah.. Ppali…”

Sambungan telepon tertutup. Yonghee langsung merosot lemas. Dia tidak bisa melakukan apapaun. Bernafaspun susah untuknya. Dia hanya berdoa agar Nichan cepat datang dan menolongnya.

Tapi pada akhirnya, Yonghee terlalu lelah menahan rasa sakit itu, hingga akhirnya dia tak sadarkan diri.

Tak berapa lama, Nichan datang bersama Jongwoon. Mereka menemukan Yonghee yang sudah tidak sadarkan diri.

“Yonghee-ya, irreona!” Nichan berusaha membuat Yonghee sadar. Tapi Yonghee tetap tak bergeming. “Oppa, telepon ambulans!”

Jongwoon menelepon ambulans yang membutuhkan waktu 5 menit untuk sampai di Apartemen Yonghee.

Mereka segera membawa Yonghee ke Seoul Hospital. Mereka membawanya ke unit UGD. Nichan menunggu di luar UGD dengan cemas. Sementara Jongwoon berusaha menenangkan Nichan.

Sekitar 20 menit, akhirnya dokter keluar dari UGD. Nichan segera menanyai keadaan Yonghee.

“Dia baik – baik saja. Dia hanya kelelahan dan stress. Sehingga membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Untung dia segera di bawa kemari, kalau tidak, aku tak tahu yang terjadi padanya.”

“Baiklah. Terimakasih dokter!”

Kemudian Yonghee dipindahkan ke ruang inap. Nichan dan Jongwoon menemaninya selama Yonghee tak sadarkan diri.

-=.=-

Perlahan, Yonghee membuka matanya. Dia langsung mengenali keberadaanya. Tempat yang sangat dibencinya.

Dia menoleh kearah sofa, mendapati Jongwoon dan Nichan yang tidur saling bersenderan kepala.

“Lagi lagi aku merepotkan kalian.” Keluhnya. Yonghee melepas selang oksigen dari hidungnya. Dia juga melepas selang infuse di tangan kirinya.

“Kau mau kemana?”

Yonghee menoleh. Nichan menatapnya dengan kesal.

“Aku muak dengan rumah sakit. Ayolah, Nichan, kumohon. Aku ingin keluar dari sini! Aku ingin kembali ke apartemenku.”

“Kau masih lemah, Yonghee-ya!”

“Aniya. Aku sudah tidak apa apa.”

“Kau ini!”

Terpaksa, Nichan mengalah. Mereka berdua sama sama keras kepala. Tak akan selesai, kalau tak ada yang mengalah.

“Tapi jangan sekarang! Pulang nanti sore saja Yonghee-ya! Setidaknya, biar dokter memeriksamu pagi ini.” Saran Jongwoon.

“Benar. Setidaknya hingga dokter memeriksakanmu sekali lagi dan infusmu habis dulu.” Nichan ikut membenarkan.

“Jongmalyo?”

“Ne.”

“Sore nanti pulang. Janji?” Tanya Yonghee memastikan.

“Janji, Yonghee-ya!”

-=.=-

Yonghee sudah keluar dari rumah sakit. Dia berjalan menyusuri kota Seoul. Tanpa sadar dia berjalan menuju Sungai Han.

Yonghee tak sengaja melihat Byulhyun bersama beberapa temannya. Yonghee berjalan mendekati Byulhyun. “Byulhyun-ah!”

“Ah, Yonghee-ya! Anyeong! Kau sedang apa disini?”

“Ah, aku sedang jalan jalan saja.” Yonghee melihat teman Byulhyun. Dia terkejut karena ada Sungmin disana. “Sungmin-sshi, senang bertemu anda lagi.”

“Nado, Yonghee-sshi!”

“Kalian saling kenal?” Tanya Byulhyun bingung.

“Ne. Kemarin kami bertemu di café milik Nichan.”

“Ah begitu? Sungmin Oppa dia ini hoobaemu.”

“Hoobae?” Tanya Yonghee dan Sungmin bersamaan.

“Kalian tak tahu? Kalian ini satu kampus satu jurusan beda angkatan.”

“Jinja?”

“Kalian ini!”

“Ah, Byulhyun-ah, aku harus pulang sekarang. Nanti Nichan menceramahiku lagi. Anyeong!”

-=.=-

“Kau dari mana saja?” Tanya Nichan selesai Yonghee masuk ke apartemennya.

“Aku hanya pergi ke sungai han.” Jawabnya enteng.

“Kau baru sembuh, Yonghee-ya!”

“Arrayo.”

“Aish. Kau ini!” Nichan kesal dengan sikap Yonghee yang suka menyepelekan sesuatu itu. Tapi dia merasa aneh karena Yonghee terus tersenyum dari tadi.

“Yonghee-ya!”

“Wae?”

“Kau kenapa? Kau tersenyum terus?”

“Jinja?” Yonghee malah bertanya balik pada Nichan lalu masuk ke dalam kamar.

Nichan mengikuti Yonghee yang kini sudah berbaring di atas kasurnya. Dan senyumannya tak hilang dari wajahnya.

-=.=-

Mata pelajaran kuliah Yonghee sudah selesai hari ini. Dia berjalan meninggalkan gedung itu. Beruntung kuliah hari itu tidak terlalu berat.

“Yonghee-sshi!”

Yonghee berbalik. Dia berusaha menyembunyikan senyumannya. “Anyeonghaseyo, Sunbaenim.”

“Aish, panggil aku Sungmin itu sudah cukup.”

“Ne.”

“Kau ada acara setelah ini?” Tanya Sungmin.

“Eobsoyo.”

“Kau mau makan siang bersamaku?”

Yonghee merasakan jantungnya siap meledak. Yonghee hanya bisa membalas pertanyaan Sungmin dengan anggukan kepala.

-=.=-

Sudah dua tahun berlalu. Hubungan Yonghee dan Sungmin semakin dekat. Terlalu dekat untuk seorang teman. Bagi yang tidak tahu, pasti mengira Yonghee dan Sungmin merupakan pasangan kekasih.

Setiap pulang kuliah Sungmin selalu menyempatkan untuk mengantar Yonghee pulang. Ke kentin mereka selalu berdua. Mereka saling menemani atau membantu mengerjakan tugas, menemani mencari bahan tugas. Mereka hampir melakukan semuanya bersama. Dan sering kali, dimana ada Sungmin disitu juga ada Yonghee.

Hanya saja, mereka berdua sangat malu-malu. Mungkin bila salah satu dari mereka menyatakan perasaannya terlebih dahulu, mereka sudah lebih dari teman.

-=.=-

Yonghee sedang meminum mochacinonya di kantin. Tiba tiba Byulhyun datang sambil berlari lalu memeluknya.

“Kau bahagia sekali?” Tanya Yonghee.

“Keuromyo.” Jawab Byulhyun dengan senyum yang mengembang.

“Waeyo?”

“Kyuhyun memintaku sebagai kekasihnya.” Ujarnya sambil berseri seri.

“Chukahanda!”

“Gomapta. Semoga kau dan Sungmin Oppa cepat menyusul.” Doa Byulhyun tulus. Tapi muka Yonghee berubah merah.

“YA! Byulhyun-ah, apa yang kau lakukan hingga Yonghee bisa seperti itu?” Tanya Sungmin yang baru datang bersama Kyuhyun.

“Aniya. Aku hanya mendoakannya.”

“Jagiya, ayo duduk disebelahku!” Kata Kyuhyun manja pada Byulhyun.

“Shireo!” Balas Byulhyun singkat lalu merong kepada Kyuhyun.

“Jagiya, aku mendapat tiket bioskop gratis. Ayo nonton!”

“Jinja? Kajja!”

Kyuhyun dan Byulhyun pergi meninggalkan Yonghee dan Sungmin berdua di kantin.

“Geu saramdeul…” Ujar Yonghee tak tahu harus mengomentari apa.

“Ya, Yonghee-ya! Aku baru mendapat film musikal bagus. Kau mau menontonnya tidak?”

“Boleh. Tapi aku lapar. Kita ke café milik Nichan dulu.”

“Arraseo. Kajja!”

-=.=-

“Kkoma Chan!!” Sapa Yonghee aegyo kepada Nichan.

“Yonghee!! Bogoshipo!” Nichan membalas lalu memeluk Yonghee. “Aish… Sudah kubilang, jangan panggil aku Kkoma Chan lagi!!”

“Kau, kan memang Kkoma! Lagi pula Jongwoon Oppa memanggilmu dengan Kkoma. Kenapa aku tidak boleh?” Elak Yonghee.

“Hanya Jongwoon Oppa yang boleh memanggilku dengan sebutan Kkoma. Aku tak memberimu ijin!”

“YA!! Eomma menyuruhku agar kau menjadi pengganti Eomma selama mereka tidak disini. Eomma selalu mengijinkan apapun yang aku mau!”

“Pantas saja kau manja!! Karena aku adalah Eommamu, jadi kau harus menurut!”

“Mwo? Berarti aku boleh memanggilmu Eomma?”

“YA!!” Bentak Nichan. Sepontan Yonghee dan Sungmin menjadi kaget. “Sungmin-ah, kau ajari dia supaya tidak seperti ini!”

“Ya, Nichan-ah, kau berarti tau rasanya Jongwoon bila sedang menghadapimu!”

“Jinja? Tapi dia tidak pernah terlihat kesal.” Nichan mengelak.

“Berarti perasaan teman-temanmu menghadapi sifat kekanakanmu itu!” Ujar Sungmin lalu terkekah.

Sebal, Nichan melempar serbet yang ia gunakan untuk membersihkan meja dia lemparkan ke wajah Sungmin. “Aku tidak kekanakan-kanakan!” Ujarnya lalu merong kepada Sungmin.

“Bukankah tadi sifat anak kecil?” Bisik Sungmin dengan suara pelan.

“YA!! Lee Sungmin! Semua peralatan dapur akan transit diwajahmu itu, bila kau tak menutup mulutmu sekarang juga!” Hardik Nichan.

“Kau mendengarnya?” Sungmin bingung.

“Memang aku tuli?” Tanya Nichan kesal.

“Memang kau mengatakan apa tadi?” Tanya Yonghee bingung pada Sungmin. Semantara Sungmin hanya mengangkat bahunya.

“Kau kemana saja sebulan ini? Jongwoon Oppa juga ikut menghilang.” Yonghee beralhi bertanya pada Nichan.

Wajah Nichan yang tadinya kesal berubah cerah. “Itu karena ini…” Nichan menggantungkan kalimatnya dan mengeluarkan sesuatu dari laci meja. Dia menunjukan benda itu pada Yonghee.

“Nichanie, igo…” Ujar Yonghee tak percaya.

Nichan tersenyum dan menangguk kecil. Dia memeberikan benda itu pada Yonghee.

“Kau akan menikah dengan Jongwoon Oppa?” tanya Yonghee tak percaya.

“Ne.” Ujar Nichan bahagia. Nichan juga memberikan benda yang merupakan undangan itu kepada Sungmin.

“Chukahanda!”

“Ne. Gomawo!!”

-=.=-

“Oppa, kapan kau akan diwisuda?” tanya Yonghee sambil membuka pintu apartemennya.

“Bulan depan. Dua minggu sebelum pernikahan Nichan dan Jongwoon .”

“Bukankah Nichan juga akan diwisuda?”

“Ne. Geu yeoja… setelah wisuda langsung menikah.” Timpal Sungmin sambil menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tengah.

“Itu lebih baik. Mereka sudah berpacaran sejak masuk SMA. Kalau menunggu lagi, mereka belum tentu menikah. Lebih baik menikah sekalian.”

“Menikah juga masih bisa bercerai.”

“Kau mendoakan Nichan dan Jongwoon Oppa cepat bercerai?”

“Bukan begitu. Hanya saja, mereka masih muda. Masih banyak yang bisa mereka dapatkan.”

“Tapi mereka sudah mendapatkan semuanya. Hanya pengukuhan hubungan mereka saja yang belum dicapai.”

“Aish… Kenapa kita membicarkan pasangan bocah itu?” Tanya Sungmin bingung pada dirinya sendiri.

“Lalu, Oppa, apa rencanamu setelah diwisuda nanti?” Tanya Yonghee mencoba mengganti topik pembicaraan.

“Menurutmu aku harus bagaimana?” Sungmin bertanya balik sambil mengambil kaset musikal dari dalam tasnya.

“Aku bertanya padamu berarti aku tidak tahu akan jawabannya.”

“Bagaimana kalau rencanaku adalah mencari kekasih?” Tanya Sungmin menggoda.

Yonghee sedikit tertegun. Matanya mulai panas. Ia akui ia cemburu. “Geu yeoja… Nuguji?”

“Neo.”

“MWO??”

“Kurang jelas? Aku ingin menjadikanmu kekasih setelah aku lulus nanti. Apakah mustahil?” Ujar Sungmin seolah olah dia membecirakan hal yang mustahil.

“Tentu tidak, Oppa!” Jawab Yonghee dengan rasa bahagia yang teramat sangat.

“Keundae, jiguem otthe?”

“Chukahanda, Oppa!” Yonghee memberi selamat.

“Chuka waeyo?” Tanya Sungmin bingung.

“Kau mendapatkan kekasih yang kau inginkan.” Jawab Yonghee dengan senyum dan mata berkaca-kaca bahagia.

Sungmin tersenyum. Dia langsung memeluk Yonghee. “Gomawo, Yonghee-ya!” Ujarnya lembut lalu mencium dahi Yonghee dengan lembut.

-=.=-

“Yeppeuda.” Puji Sungmin tulus. Yonghee memang cantik hari ini. Dengan gaun tube selutut berwarna biru laut dengan ornamen kecil. Rambutnya ia kuncir kuda agak tinggi dan memberi poni miring.

“Gomapta Oppa.”

“Kajja!”

Sungmin dan Yonghee akan menghadiri pesta pernikahan dari Nichan dan Yesung. Pestanya terhitung megah dan mewah. Mengingat orang tua Nichan adalah salah satu pengusaha tersukses di Korea.

“Sungmin-ah!” Panggil Jongwoon dari jauh. Jongwoon dan Nichan mendekati mereka berdua.

“Nichanie, neo neommu yeoppo!” Puji Yonghee setelah memeluk Nichan singkat.

“Gomawo. Neodo.”

“Gomapta. Maaf tidak menghadiri acara pemberkatan kalian.”

“Gwaenchana. Yang penting sekarang kau datang!”

“Jongwoon-ah, selamat atas pernikahanmu dengan Nichan.” Sungmin memberi selamat.

“Gomawo. Lalu, kapan kalian menyusul?” Canda Jongwoon. Tapi wajah Sungmin dan Yonghee berubah merah.

“Sudah, nikmati pestanya!” Ujar Nichan lalu mengajak Jongwoon menemui tamu yang lain.

“Tentu saja.” Sungmin melihat sekeliling. Dia menemukan sosok pria yang sedang memandangnya tajam dan dingin.

“Jagiya, aku ke toilet dulu.” Pamitnya pada Yonghee yang hanya mengangguk.

Sungmin berjalan mendekati pria tadi.

“Anyeonghaseyo, Appa!” Sapa Sungmin lalu membungkuk memberi hormat.

“Jadi dia yang bernama Yonghee?” Tanya pria tadi yang rupanya ayah Sungmin.

Sungmin tertegun. Dia menelan ludahnya takut. “Ne. Dia Lee Yonghee.”

“Lepaskan dia!” Ucap pria itu tegas.

“Ne?” Tanya Sungmin tidak mengerti.

“Tiggalkan dia! Cari gadis lain yang lebih baik darinya!” Katanya geram.

“Shirende! Aku tidak akan pernah meninggalkannya, Appa! Apapun yang terjadi, aku tak akan melakukannya!” Balas Sungmin dengan menatap Ayahnya tajam.

“Kau bisa memilih gadis lain yang lebih baik! Jangan kau seperti Nichan yang bodoh! Memilih laki-laki yang tidak memeliki apapun dan tidak sebanding dengannya. Hanya karena cinta.”

“Appa! Appa justru harus belajar pada Nichan! Appa harus belajar apa itu cinta. Uang bukan segala-galanya, Appa!” Balasnya lalu meninggalkan Appanya.

“Kau tahu apa yang akan aku lakukan jika kau melawanku, Lee Sungmin?” Sungmin terhenti. Dia meremas tangannya menahan emosi. Tapi dia melanjutkan jalannya kembali menuju Yonghee.

-=.=-

Jauh dari itu semua, Yonghee mendengarkan percakapan antara Sungmin dan ayahnya. Dia menangis dan merasa bersalah.

Sungmin sudah berdiri dihadapannya. “Kau kenapa menangis. Uljimayo!” Kata Sungmin khawatir lalu menghapus air mata Yonghee.

“Dia ayahmu, kan?”

Sungmin diam membeku.

“Dia tak suka padaku, kan?”

“Ayo pulang!” Sungmin menarik tangan Yonghee keluar dari arena pesta. Dia mengantar Yonghee pulang.

“Kau tak perlu mengkhawatirkannya. Aku akan mengurusnya.” Kata Sungmin setelah mereka ada di dalam mobil.

“Mianhae.” Lirih Yonghee.

“Gwaenchana.”

Yonghee menundukan kepalanya. Dadanya terasa sakit lagi. Dia meremas tube dress-nya. Berusaha mengurangi rasa sakitnya.

Sungmin yang sedang melihat spion, tak sengaja melihat Yonghee yang menunduk dan meremas gaunnya. “Neo gwaenchana?”

“Gwaenchana.” Jawab Yonghee dengan penuh rasa sakit. Tapi Sungmin semakin khawatir karena mendengar suara Yonghee yang dicampur rintihan menahan sakit.

Dada Yonghee semakin sakit. Yonghee mulai kesulitan bernafas. Tanggannya mulai bergetar. Sungmin yang melihatnya menjadi panik.

“Jagiya, wae geuraeyo?”

“Op.. ppa.. apo.. appeuda..” Lirih Yonghee sambil meremas lengan kanan Sungmin.

Sungmin meminggirkan mobilnya ke tepi jalan. “Apanya yang sakit?” Tanya Sungmin dengan sangat khawatir mengingat genggaman tangan Yonghee yang kuat di lengannya. Pasti Yonghee merasakan sakit yang amat sangat.

“Appeuda… Jinja.. appeuda..” Setelahnya Yonghee tak sadarkan.

“Jagiya, irreonayo! Jagiya.” Sungmin berusaha menyadarkan Yonghee. Tapi Yonghee tetap tak bergeming.

“Jagi. Yonghee-ya! Lee Yonghee!” Yonghee tetap diam. Sungmin segera membawanya ke rumah sakit terdekat.

“Yonghee-ya! Kumohon bertahanlah!”

-=.=-

Nichan datang bersama Jongwoon masih dengan pakaian pesta pernikahan mereka.

“Apa yang terjadi?” Tanya Nichan khawatir.

“Mollayo. Aku sedang dalam perjalan pulang. Lalu dia tiba tiba susah bernafas kemudian dia pingsan.

“Apa yang sedang dia pikirkan? Aku sudah sering mengingatkan agar menjaga kesehatannya. Dia kambuh lagi, kan!” Cemas Nichan.

“Kambuh? Apa maksudmu?”

“Kau tak tahu tentang keadaan Yonghee?” Tanya Nichan heran.

Sungmin hanya menggeleng lemah.

“Kekasih macam apa kau? Salah satu hal terpenting tentang Yonghee saja kau tak tahu?” Tanya Nichan sinis.

“Yonghee tidak memberitahuku! Jangan salahkan aku!”

“Lalu siapa? Kau bisa mencari tahu tentangnya, kan?” Nichan sudah mulai emosi.

Jongwoon meraih lengan Nichan. “Sudahlah, Kkoma! Yonghee sedang kritis. Lebih baik kita berdoa untuknya.”

“Sebenarnya apa yang terjadi?” Tanya Sungmin bingung.

“Yonghee tak mau kami menceritakannya. Lebih baik kau tanyakan langsung padanya.” Ujar Jongwoon singkat. Lalu menarik Nichan menjauh.

Sungmin menoleh miris menatap pintu UGD. Otaknya masih berkutat masalah Yonghee. Dia sama sekali tidak tahu apapun tentang Yonghee.

Pertama dia berpikir bahwa Yonghee terguncang karena sikap ayahnya. Tapi mendengar Nichan bahwa Yonghee sedang kambuh, Sungmin langsung menyangkal alasan itu.

Sungmin masih berusaha mencari tahu tentang itu. Dia teringat bahwa sudah beberapa kali wajah Yonghee terlihat pucat. Dia juga sering melihat Yonghee di rumah sakit saat ia mngunjungi adiknya, Sungjin, yang bekerja di rumah sakit yang sama.

Mengingat Sungjin, yang juga bekerja disini, Sungmin segera menemui Sungjin yang ada di ruang kerjanya.

“SUNGJIN-AH!!” Seru Sungmin.

“Hyung?” Tanya Sungjin terkejut melihat Sungmin berdiri di depan pintu.

Sungmin berjalan mendekati Sungjin. “Apa kau kenal Yonghee?” Tanya Sungmin tanpa basa basi.

“Keuromyo. Dia kekasihmu, bukan?” Ujar Sungjin seadannya.

“Bukan itu yang aku maksudkan. Yang aku maksudkan adalah pasien disini yang bernama Lee Yonghee.” Timpal Sungmin dingin.

“… Igo…” Balas Sungjin bingung.

“Apa kau tahu sesuatu tentang Yonghee?” Tanya Sungmin curiga.

“Noonaga…” Sungjin masih terlihat ragu dan takut.

“Ppali malhae!”

“Yonghee noonaga…”

“Malhaebwa, Sungjin-ah!!”

“Dia adalah pasien dari dr. Cho.” Kata Sungjin dengan takut.

“Atas keluhan apa? Dia sakit apa?” Tanya Sungmin dengan khawatir.

“Karena kecelakaannya 7 tahun lalu, dadanya tertimpa beban berat, tepat diatas jantungnya. Dan itu membuat jantung Yonghee tidak bekerja dengan baik.” Cerita Sungjin tanpa menatap Sungmin. “Singkatnya, jantung Yonghee mengalami kelainan.”

“Mwo? Kelainan jantung?”

-=.=- T.B.C -=.=-

Advertisements