Tags

,

 

“Jagiya, bagaimana kalau aku pergi?” Tanya Kevin yang sedang duduk menyandarkan tubuhnya di bangku taman bunga, tempat kencan faforitnya bersama Nichan.

“Wae? Memang kau mau kemana?” Tanya Nichan bingung sambil menatap Kevin.

“Mollayo. Tapi aku harus pergi.” Ujar Kevin dengan nada sangat menyesal.

Airmata Nichan sudah siap untuk ditumpahkan. “Aku harus tahu alasanmu dan tujuan pergimu.”

“Itu tidak penting. Aku harus meninggalkanmu sekarang juga.”

Nichan tak sanggup lagi menahan airmatanya. “Aku tidak mau kau pergi, Oppa! Kau harus tetap disini! Jangan tinggalkan aku!” Ujar Nichan memohon sambil memegangi lengan kanan Kevin.

Kevin menetaskan airmatanya. “Sejujurnya aku juga masih ingin bersamamu. Aku harus pergi. Jagiya. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu. Melebihi apapun didunia ini. Kau adalah hidupku. Jadi selama aku tidak ada, aku berharap kalau kau akan baik baik saja. Kau harus melanjutkan hidupmu! Arraso?”

Nichan hanya menangis menatap Kevin dengan pandangan memohon tergambar jelas dimatanya.

“Jugodo meot bonae, jagiya!” Ujar Kevin lembut lalu mencium Nichan lembut.

Nichan merasakan tubuh Kevin mulai menjauh. Dia membuka matanya. Dia hanya melihat Kevin yang berjalan menjauh. Dia hanya dapat melihat punggung Kevin.

“Oppa kajima!” Pinta Nichan dengan nada tercekat. Dia mencoba berdiri, tapi tubuhnya terasa terpaku pada bangku taman itu. “Oppa kajima! Jangan tinggalkan aku, Oppa!”

“Oppa, jebal! Kajima!” Nichan menangis sendiri di taman itu. Suasana langit cerah yang ada di taman berubah menjadi gelap. Mendung mulai menyelemuti langit taman bunga hari itu. Tak butuh waktu lama, hujan deras mulai mengguyur taman itu.

Tapi Nichan tak bergeming. Dia masih berteriak memanggil Kevin agar kembali. Tapi Kevin tak juga kembali. Dan Nichan masih terus berteriak memohon. “Oppa dorawa! Kajima!”

-=.=-

“Oppa! Kajima!” Nichan meningau dalam tidurnya. “Dorawa!!”

“Nichan-ah irreona!” Jinki menepuk pipi Nichan, berusaha untuk membuatnya sadar.

“OPPA!!” Nichan terbangun dan langsung terduduk di kasurnya. Dia menoleh manatap sekelilingnya. Setelah sadar dia ada di ruang inap, dia segera melepas selang oksigen dari hidungnya.

“Ya! Neo mwohaeyo?” Tanya Jinki panik.

“Kevinie eoddie?” Tanya Nichan setelah sukses berdiri di lantai.

Jinki hanya terdiam. Dia tak berani menatap Nichan sedetikpun.

“Ppali malhae! Diamana dia? Aku ingin menemuinya?” Tanya Nichan dengan histeris. Nichan tak sabar menunggu Jinki yang hanya diam. Nichan langsung melangkahkan kakinya keluar. Jinki mengikutinya.

“Kau sudah lihat, bukan?” Tanya seseorang kepada Nichan setelah melewati pintu ruang inap. Suara itu terdengar familiar di telinga Nichan. Dia membalik tubuhnya dan mendapati Sunghyo sedang berdiri bersandar di dinding rumah sakit.

“Apa maksudmu, Oppa?” Tanya Nichan tak mengerti.

“Kau tahu aku adalah tipikal orang yang akan melakukan apapun untu melindungi dan membahagiakan orang yang aku sayangi bukan?”

“Aku tak mengerti. Apa yang sedang kau bicarakan, Oppa?” Tanya Nichan tak mengerti.

“Ini semua adalah akibat dari perbuatanmu yang membuat adikku, Jinki, menjadi menderita.” Ujar Sunghyo dingin.

“Memang apa yang sudah aku lakukan?” Tanya Nichan semakin bingung.

“Apa kau tidak sadar, bahwa Jinki itu menyukaimu? Jauh sebelum kau mengenal Kevin. Bahkan sebelum kau pindah. Tidak mungkin kau tidak tahu. Yonghee dan Yoseob saja juga mengetahuinya.”

Nichan terkesiap. Dia menoleh manatap Jinki yang ada di depan pintu ruang inap.

“Dan dengan mudahnya, kau menjalin hubungan dengan Kevin. Kau tidak memikirkan perasaan Jinki? Perasaannya hancur. Padahal dia sudah mencipatakan lagu untukmu!” Ujar Sunghyo berapi api.

“Hyung!” Ujar Jinki sedikit membentak.

Nichan masih diam. Dia hanya larut dalam pikirannya. Nichan teringat lagi akan lagu ciptaan Jinki itu. Juga perkataan Jinki dulu saat berkunjung ke kedai es krim di hari pertama dia pulang ke Seoul

‘Andai kita berdua bisa seperti itu.”

Akhirnya, Nichan tahu kenapa Yonghee dan Yoseob bersikap dingin pada Kevin saat dia mengenalkan Kevin pada mereka sebagai kekasihnya.

“Sekarang rasakan. Kalau Jinki tidak bisa mendapatkanmu, namja lain berarti juga tidak bisa mendapatkanmu! Dan aku sudah berhasil menyingkirkan namja yang sudah merebutmu dari Jinki!” Ujar Sunghyo tajam.

Nichan dan Jinki terkejut atas penyataan dari Sunghyo.

“Apa maksudmu, Oppa?”

“Hyung, apa yang kau bicarakan?”

“Natamune!!” Bentak Sunghyo. “Kecalakan yang menimpa Kevin. Natamune!! Aku sengaja menabraknya.”

“Hyung, kau keterlaluan!”

“Choyo? Neomuhae? Aku yang keterlaluan? Sadarlah, Jinki-ah! Dia yang merebut Nichan darimu! Sekarang ambil Nichan lagi. Karena Kevin sudah mati. Hahahaha…” Uajarnya tanpa rasa bersalah diakhiri tawa puas dari mulutnya.

“Ju… jugo?” Tanya Nichan kaget.

“Neon molla? Keurom, jigeumeun aku akan memberitahumu. Kevin sudah mati.”

Nichan membelalakan matanya. Dia segera berlari menuju ruang UGD. Dia berlari sambil bergumam. ‘Kevin tak mungkin meninggalkanku.’

Di lorong UGD, Nichan bertemu dengan beberapa saudara Kevin yang sudah ia kenal. Mereka semua menangis.

‘Ya tuhan. Apa yang terjadi? Kenapa Kevin harus mengalaminya?’; ‘Sesange. Malang sekali nasibnya.’ Kalimat-kalimat seperti itu berulang kali mereka ucapkan.

Nichan mencoba melangkah memasuki ruangan itu. Meski kakinya terasa berat, Nichan terus memaksakan langkahnya.

Dengan perlahan, Nichan membuka pintu ruang UGD. Dia melihat orang tua Kevin sedang menangis. Nichan mengalihkan pandangannya pada sosok yang tertidur di kasur rawat dengan tertutup kain putih. Seketika, airmata Nichan tumpah tak terkendali.

Nichan berjalan mendekati sosok itu. Disibaknya kain putih itu. Wajah pria yang selalu menemani hari harinya ada di balik kain itu. Nichan memeluk tubuh itu. Walau sosok itu sudah terbujur kaku dingin tak berdaya, tapi masih mampu memberi kehangatan dan kenyamanan untuk Nichan.

“Oppa irronayo! Buka matamu!” Pinta Nichan dengan terisak. “Oppa kau berjanji untuk selalu menemaniku, kan? Ayo tepati janjimu! Irreona, Oppa!!”

Nichan hanya menangis sambil menggoyangkan sosok Kevin yang sudah tak bernyawa itu. Dia juga terus memanggil dan menyuruhnya untuk bangun.

Jinki dari pintu hanya dapat melihat Nichan dengan pandangan miris dan penuh rasa bersalah. “Mianhae.” Ujarnya lirih dalam hati.

-=.=-

Kevin sudah di makamkan. Dan kini di ruamhnya sedang diadakan upacara penghormatan. Seluruh keluarga Kevin dan Nichan sudah menggunakan hanbok hitam.

Seluruh tamu memberikan penghormatan terakhir untuk Kevin. Mereka juga menaruh bunga putih di depan foto Kevin yang sedang tersenyum bahagia.

Jinki berjalan mendekati Nichan setelah memberikan penghormatannya. “Nichan-ah!”

Nichan sama sekali tidak bergeming. Dia masih tetap duduk sambil memandang foto Kevin dengan nanar.

“Aku ingin minta maaf atas nama Sunghyo Hyung. Dan aku juga ingin minta maaf atas semua kesalahan yang sudah aku lakukan dulu.” Ujarnya lalu membungkuk hormat.

Nichan masih diam. Entah dia mendengarkan Jinki atau tidak.

“Aku juga ingin berpamtian. Aku akan melanjutkan sekolahku di Jepang.”

Walau tidak menatap Jinki, Airmata Nichan menetes mendengar pegakuannya.

“Aku harap kau bahagia. Semoga kita bisa bertemu lagi. Anyeong!”

Setelahnya Jinki langsung berlalu. Nichan sama sekali tak bergeming. Pada semua tamu yang hadirpun tidak. Dia hanya duduk diam sambil memandang foto Kevin yang diambil saat Nichan dan Kevin akan berangkat untuk farewell party kemarin. Hari yang sama saat terjadi kecelakaan itu.

Entah kenapa, hanya dengan melihat foto Kevin, Nichan merasa Kevin ada di dekatnya. Walau rasanya berbeda, Nichan tetap merasa nyaman. Bagi Nichan, tak ada yang lebih baik selain merasakan Kevin ada di dekatnya.

Sepulang dari acara penghormatan, Nichan langsung duduk dikasur kamarnya dan memandangi foto Kevin.

“Kau tega sekali karena sudah meninggalkanku. Tapi aku sangat mencintaimu!” Ujar Nichan berualang kali.

-=.=-

Sudah dua minggu berlalu semenjak kematian Kevin. Tapi, keadaan Nichan tak menunjukan kemajuan sedikitpun. Dia tak keluar dari kamar. Tidak makan, tidak minum, dia juga tidak tidur.  Dia tak beranjak satu langkahpun dari kamarnya atau lebih tepatnya dari kasurnya. Tubuhya menjadi kurus dan pucat.

Dia hanya tidur di atas kasurnya sambil memeluk pigura berisi foto Kevin. Walau, airmata tak lagi keluar dari matanya. Isak tangis tak terdengar lagi dari mulutnya. Tapi, tangis dan pilu hati masih tak terelakan dari dalam dirinya. Dan hatinya terus memanggil Kevin untuk kembali padanya.

Tak ada yang tahu seberapa besar pengaruh keberadaan Kevin untuk Nichan. Tak ada yang tahu dalamnya luka yang tertoreh di hatinya. Tak ada yang tahu rasa sakit dan pedih yang ia rasakan. Tak ada yang tahu seberapa kuat rasa sepi yang menyelimutinya kini. Tak ada pula yang tahu bahwa kehadiran Kevin telah menjadi candu untuk Nichan.

Ditambah tak ada lagi sahabat yang selalu setia menemaninya dan selalu menghiburnya. Tak ada lagi Jinki yang akan menghiburnya dan selalu membuat dirinya menjadi lebih semangat.

Lengkaplah sudah. Nichan kehilangan dua laki-laki yang menempati posisi penting dalam dirinya. Dan karenanya Nichan terlihat seperti mayat hidup. Tak ada yang ia inginkan selain berada diantara Kevin, kekasih yang sangat ia cintai dan Jinki, sahabat yang paling ia sayangi.

-=.=-

Ahrim melangkahkan kakinya menaiki tangga sambil membawa nampan berisikan sepiring sandwich, segelas susu vanilla tinggi kalsium, dan semangkuk kecil eskrim vanilla. Ini adalah rutinitas Ahrim. Walau Nichan hanya akan diam tak bergeming, Ahrim selalu berpikir bahwa mungkin suatu hari, Nichan akan kembali seperti biasa.

Tok… Tok…

Ahrim mengetuk pintu kamar Nichan. “Chan-ah! Ini Eomma!” Ahrim membuka pintu kamar Nichan. Dia menaruh nampan itu diatas meja kecil di samping ranjang Nichan.

Ahrim melihat Nichan yang sedang terpejam. Dia menghela nafas lega. Akhirnya Nichan tertidur setelah selama ini. Ahrim mengambil foto Kevin dari pelukan Nichan. Dia mengelus foto itu.

“Sebegitu berharganyakah, kau untuk putriku?” Tanya Ahrim sedikit cemburu. Dia meletakan foto itu di meja. Dia mengelus kepala Nichan. “Chan-ah, irreonayo! Eomma membawakan sarapan untukmu!”

Nichan tetap terpejam. Ahrim tahu betul sifat putrinya, walau Nichan susah bangun, tapi setidaknya tingkat kesadarannya akan naik dan dia akan menggumam tak jelas. Berbeda dengan kali ini, Nichan masih saja diam.

Ahrim mendadak mendapat firasat buruk. Ahrim menempelkan punggung tangannya ke dahi Nichan. “Ommona! Panas sekali!!” Ahrim menggoyang-goyang tubuh Nichan pelan. Tapi Nichan juga tak memberi respon.

“Yeobo!! Yeobo, ppali illeowa! Nichan pingsan! Yeobo!!!” Ahrim memanggil suaminya dengan panik.

Jaekyong masuk kekamar Nichan dengan tergesa-gesa. “Mwohaeyo, Yeobo?”

“Nichan pingsan.” Kata Ahrim penuh khawatir.

Jaekyong langsung menggendong Nichan. Setelah memasukan Nichan kedalam mobil, Ahrim mengambil dompet dan langsung masuk kedalam mobil di jok belakang menemani Nichan. Sementara Jaekyong menggambil kunci mobil dan setelahnya langsung menuju Seoul Hospital.

Sesampai di rumah sakit, Nichan dilarikan menuju UGD. Ahrim dan Jaekyong menunggu di luar dengan cemas.

Terdengar alunan musik dari ponsel Ahrim. Dia segera mengambil ponsel dari dalam tasnya dan segera mengangkat telepon itu.

“Yoboseo!”

“Yoboseo eommonim! Narang, Jinkiyeyo!”

“Oh, Jinki-ah, waeyo?”

“Animida. Geunyang, aku melihat eommonim dan ahjussi pergi buru-buru dan terlihat panik. Keurigu, Nichan digendong dengan mata terpejam. Aku hanya ingin menanyakan, apa terjadi sesuatu?”

“Nichan pingsan tak sadarkan diri! Kau kesinilah Jinki. Kau sedang ada di Korea, bukan?

“Ne, eommonim. Aku dan Yonghee akan kesana.”

Ahrim memasukan kembali ponselnya kedalam tas. Tepat setelahnya, dokter keluar dari ruang UGD.

“Naeui dal, ottheyo?”

“Dia terkena dehidrasi berat dan asam lambungnya terlalu banyak. Dia juga depresi. Tekanan darahnya juga sangat rendah. Kondisi tubuhnya sangat lemah. Apa yang ia lakukan akhir-akhir ini?”

Ahrim terlihat khawatir. “Dia hanya berbaring diatas kasurnya. Tak melakukan apapun. Menolak melakukan apapun.”

“Kalau boleh saya tahu, kenapa?”

“Kekasihnya meninggal dua minggu yang lalu. Dan dia jadi seperti ini.”

“Mungkin lebih baik anda membawanya ke psikiater.”

“Kami sudah mencoba beberapa hari yang lalu. Tapi nihil.”

“Keurom, kami tidak bisa membantu. Kami hanya bisa memulihkan kondisi tubuhnya. Permisi, Nyonya Park.

Ahrim menghempaskan tubuhnya di ruang tunggu. Dia tak tahu harus berbuat apa lagi untuk menyadarkan Nichan.

“Yeobo, jigeum ottheyo? Bagaimana kalau Nichan akan terus seperti ini?” Tanya sambil menangisi Nichan.

Jaekyong yang ada disebelahnya hanya bisa menenangkan. “Tenanglah. Dia akan kembali menjalani hidupnya dengan normal. Ini hanya sementara.”

“Eommonim! Ahjussi!” Seru pria yang sudah dikenal Ahrim dan Jaekyong.

“Jinki-ah!!”

“Kau sedang di Korea? Tidak di Jepang?”

“Aniya! Aku baru pulang pagi tadi. Aku sedang ingin ke Korea saja.”

-=.=-

Setelah dokter memberi beberapa vitamin, dia membolehkan Ahrim, Jaekyong, maupun Jinki untuk masuk ke dalam UGD. Ruang inapnya sedang dipersiapkan. Jadi sementara, Nichan harus dirawat di UGD.

Ahrim dan Jaekyong memlilih untuk pergi ke gereja untuk berdoa. Sementara Jinki memilih menunggu Nichan.

Dia duduk di kursi sampan ranjang. Dia mengamati wajah Nichan yang terlihat pucat. Dia menyibakan anak rambut yang menutupi wajah Nichan. “Apakah Kevin memang sangat berarti untukmu?” Tanyanya dengan nada cemburu.

“Apa yang ia lakukan hingga bisa membuatmu merasa kehilangan seperti ini? Apa yang tidak aku lakukan tapi ia lakukan untukmu?” Tanyanya lagi dengan mata merah dan penuh airmata yang siap ditumpahkan. Dia juga menggenggam tangan Nichan.

“Apakah kau memang mencintai Kevin sebegitu besar?” Tanya Jinki lagi dengan airmata yang sudah tumpah.

“Ne. Jongmal.” Jawab Nichan perlahan.

Jinki terkejut dan segera melepas genggaman tangannya. Dia melihat Nichan yang mulai membua matanya perlahan. Setelahnya Nichan melihat sekeliling. Dan pandangannya jatuh pada vas bunga yang terbuat dari kaca.

-=.=-

“Tak bisakah kau kembali, Oppa?”

“Aniya. Aku sudah tidak bisa kembali. Aku tak bisa pergi lagi dari tempatku yang sekarang.”

“Tapi aku ingin bersama denganmu, Oppa!”

“Nado. Keundae, satu satunya cara agar kita bisa bersama hanya dengan kau pergi menyusulku.”

“Menyusulmu?”

“Mm…”

“Apakah aku bisa bertemu denganmu, kalau aku menyusulmu?”

“Kita lihat saja nanti.”

-=.=-

“Nichan-ah, kau sudah sadar?” Tanya Jinki.

Nichan tak menjawab. Dia mulai bangkit dari kasur dan segera berdiri diatas lantai. Jinki yang melihatnya hanya bisa melihat dengan khawatir.

“Nichan-ah, apa yang ingin kau lakukan?”

Nichan tak menjawab. Dia meraih vas bunga itu dan segera meleparnya hingga terpecah berkeping keping.

Jinki hanya tertegun melihat itu. Dia khawatir dengan keadaan Nichan. “Nichan-ah, apa yang ingin kau lakukan?”

Nichan sama sekali tak mendengarnya. Dia melangkahkan kakinya perlahan menuju pecahan kaca itu dengan pandangan kosong. Dia meraih satu pecahan yang terlihat tajam. Dan meletakannya di atas pergelangan tangannya.

“YA!! Park Nichan, apa yang ingin kau lakukan?” Tana Jinki khawatir sambil mengambil pecahan itu dari tangan Nichan.

“Kembalikan padaku! Aku ingin menemui Kevin!!” Jawab Nichan emosi.

Jinki tertegun. “Kau sadar kalau ini berbahaya? Ini bisa membunuhmu!!” Timpal Jinki sedikit berteriak.

“Aku tak peduli!!!” Nichan beralih membentak.

“YA!! Lebih kau kembali keatas kasur dan tidur!!” Perintah Jinki sambil mendorong Nichan mendekati kasur.

Nichan berjalan kembali menuju ranjang. Sementara Jinki sibuk memunguti pecahan kaca dan membuangnya di keranjang sampah yang ada didekatnya.

Nichan duduk diatas kasur. Dia melihat Jinki dengan tajam. Dia mengalihkan pandangannya diatas tumpukan buah di meja. Tapi matanya lebih fokus dengan benda logam tipis panjang dan tajam yang sedang menusuk sebuah apel.

Nichan meraih pisau buah itu. Dia kembali menatap Jinki yang masih sibuk memungut pecahan kaca. Setalahnya dia mengamati pisau buah itu.

Dia mengetes ketajaman pisau itu dengan menggoreskannya di ujung jari telunjuknya. Dia menggoresnya cukup dalam hingga darah keluar cukup banyak dari tangannya. Tapi, meski begitu, Nichan bukannya merasa kesakitan, dia malah tersenyum lebar karena senang melihat darah keluar dari tangannya.

Nichan menaruh pisau diatas pembuluh nadinya dengan posisi siap untuk menggoresnya. “Oppa, sebentar lagi aku akan menemuimu.”

Dan tepat setelahnya, Nichan langsung menggores pergelangan tangannya dengan senyum senang terpampang di wajahnya.

T.B.C

Advertisements