Tags

TIN… Byulhyun tak sengaja memencet klakson mobil dengan kepalanya karena menginjak rem dengan mendadak. Hampir saja dia menabrak seseorang. Dia berjalan keluar. Tampak seorang pria dengan pakian jas serba hitam sedang duduk di jalan di depan mobilnya. “Gwaenchanaseumnida?” “Aniyo. Gwaenchana.” Jawab pria itu. “Apa ada yang terluka?” “Obsoseumnida” “Kalau tiba-tiba ada yang terasa sakit, kau bisa hubungi aku.” Ujar Byulhyun sambil memberikannya kartu nama. “Kim Byulhyun? Kau masih seorang mahasiswa.” “Ne.” “Keurom saya permisi. Saya terburu-buru.” -=.=- Byulhyun memasukan mobil ke dalam basement, lalu beranjak memasuki lift. Dia menekan tombol 10. Setelah tiba di lantainya, dia segera keluar dan masuk ke dalam apartemennya. Setelah masuk, dia segera melepas blazer hitamnya dan membasuh mukanya di wastafel kamar mandi. Setelahnya, Byulhyun duduk di sofa. Dia teringat pada namja yang hampir ia tabrak tadi siang. “Apa dia baik-baik saja?” Memikirkan namja tadi saja, Byulhyun menjadi senang dan senyum senyum tidak jelas. “Aish, kenapa aku jadi memikirkannya?” Katanya sambil menepuk kepalanya pelan. “Ah, keundae, geu namjaga jinja moshissoyo. Neomu neomu mojyeo.” Ujarnya dengan senyuman. Rasanya dia sedang kasmaran. “Aish, kenapa aku tak menanyakan namanya? Bodohnya aku.” -=.=- Byulhyun sedang pergi ke sebuah restoran. Dia melihat pria tempo hari disana. Seketika senyumnya mengembang. Dan dia berjalan mendekati pria tadi. “Chogi…” Pria itu mengangkat kepalanya. “O?? Kim Byulhyun-sshi?” “Ne. Bagaimana keadaanmu? Tidak ada yang sakit, kan?” “Eobsoyo. Neo…” Pria itu terlihat ragu melanjutkan ucapannya. “Kau mau bergabung?” Ujarnya pada akhirnya. “Jinja? Gomawo.” Byulhyun lalu duduk dihadapan pria itu. “Kalau boleh kutahu, siapa namamu?” Pria yang sedang minum itu mejadi tersedak. Byulhyun jadi panik. “Kalau aku tak boleh tahu, juga tidak apa-apa.” “Gui Xian imnida.” Jelas pria itu, tapi wajahnya penuh dengan rasa kekhwatiran. “Gui Xian? Kau bukan orang Korea?” “Eomma yang orang Korea. Sementara Appa orang Taipe.” “Aa, araseo! Kau punya nama Korea?” “Eobsoyo. Mungkin kau mau memeberikan nama Korea untukku?” “Jinja. Ayo kita cari…” Byulhyun terlihat dalam pemikirannya. “Kyuhyun. Otthe? Kyuhyun?” Gui Xian terlihat terkejut. “Kyuhyun? Kenapa kau berpikir nama itu cocok untukku?” “O. Itu terdengar mirip dengan namamu. Dan terdengar bagus. Otthe?” “Baiklah.” “Kau mau aku panggil Gui Xian atau Kyuhyun?” “Terserah padamu. Kau bebas memilih.” “Mm.. aku panggil Gui Xian saja. Nama Kyuhyun masih tidak resmi. Gwaenchana?” “Ne.” “Kau mau pesan makanan?” “Mm..” -=.=- Byulhyun pulang dengan perasaan bahagia. Hingga dia sudah tidak lagi merasa sedih akan kematian ayahnya. Karena Gui Xian sudah menghiburnya. Dia juga sudah melupakan masalahnya bersama Kimmie, mantan pacarnya. Sakit hatinya benar-benar sembuh. Byulhyun merasakan bahwa dia sedang jatuh cinta dengan Gui Xian. Walau khawatir bahwa Kimmie mungkin akan memaksanya untuk kembali menjadi kekasihnya, dia tak lagi memedulikannya. Yang ia pedulikan bagaimana dia bisa bertemu lagi dengan Gui Xian. Tapi dia merasa aneh bila ada di dekat Gui Xian. Byulhyun merasa bahwa Gui Xian selalu waspada terhadap sekelilingnya. Dia juga terlihat misterius. Hal itu membuat Byulhyun tidak berani bertanya banyak pada Gui Xian tadi. Tapi ke-miserius-an Gui Xian yang membuat Byulhyun menyukainya. “Aish… Kim Byulhyun tugas kuliahmu masih banyak. Ayo! Acha acha fighting!!” Byulhyun mulai membuka buku dan mengerjakan tugas kuliahnya. -=.=- Di kampus, setelah mengumpulkan tugasnya, dia berjalan ke kantin. Setelah mengambil pesanannya dan duduk, dia segera memakannya. Tapi tak sengaja dilihatnya Gui Xian berjalan keluar dengan tergesa dari fakultas seni musik. Byulhyun segera menghabiskan makanannya. Setelah itu dia berjalan memasuki fakultas musik. Dia bertemu dengan Nichan disana, diapun langsung mendekati Nichan. “Nichan-ya, apa kau kenal di jurusan ini ada mahasiswa bernama Gui Xian?” Tanyanya langsung. “Byulhyun-ah, kau tahu aku bukan anak seni, kan?” “Tapi kau sering datang kesini, Chan-ah!!” “Gui Xian?” Nichan memastikan. “Kurasa tidak ada. Waeyo?” “Jinja eobso?” Tanya Byulhyun sekali lagi dengan kecewa. “Lalu apa yang ia lakukan disini?” Nichan melihat jam di tangannya. “Byulhyun-ah, aku harus pergi! Jongwoon Oppa sudah menungguku. Anyeong!!” Byulhyun menghela nafasnya kecewa. Lalu berjalan keluar. Dia berjalan menuju tempat parkir untuk menaiki mobilnya yang akan membawanya pulang ke rumah. Byulhyun membuka pintunya dan saat melihat kearah depannya, seorang namja tinggi yang sedang ia cari ada di hadapannya. “Gui Xian-sshi!” Namja itu terlihat menegang sedikit lalu membalikan tubuhnya. Wajah lega terpampang jelas di wajahnya saat mengenali yang memanggilnya adalah Byulhyun. “Anyeonghaseyo, Byulhyun-sshi!” “Anyeonghaseyo! Sedang apa kau disini?” Gui Xian terlihat bingung. “Mencari informasi.” “Informasi apa?” Gui Xian tampak tegang. Kemudian dia berhasil menguasainya. “Adikku ingin masuk ke Seoul University tahun depan. Jadi aku mencari informasi.” “Ah, arraso!” “Keurom, saya permisi. Aku sedang terburu-buru.” Gui Xian permisi kepada Byulhyun. “Ah baiklah! Aku juga ingin pulang. Sampai jumpa lagi, Gui Xian-sshi!” Ujar Byulhyun dengan senyum. Gui Xian sedikit terpaku melihat Byulhyun yang tersenyum lebar. “Ne. Semoga kita bisa bertemu lagi.” Balas Gui Xian dengan senyum yang lebar juga. Byulhyun sedikit terpesona melihat Gui Xian tersenyum seperti itu. Hingga mobil Gui Xian pergi dari arena lapangan, baru dia tersadar dari lamunannya. Diapun segera masuk ke dalam mobil dan mengendarainya menuju apartemennya. “Ah!! Senyumnya bisa membuatku gila!!” Ujarnya pada dirinya sendiri setelah masuk ke dalam apartemennya. “Tuhan, kenapa kau bisa menciptakan manusia sempurna seperti dia? A.. dola boli gettne.” -=.=- “Ya!! Byulhyun-ah! Kau mendengarkanku tidak?” Tanya Nichan emosi. Sementara Byulhyun masih saja menatap ponselnya. “KIM BYULHYUN!!!” Byulhyun tersadar. “Mwohaeyo??! Kenapa kau berteriak? Aku tidak tuli!!” “Salah siapa?? Aku sudah memanggilmu dari tadi. Kau kenapa?” “Aniya. Aku bingung.” “Bingung kenapa?” tanya Jongwoon sambil mencomot kentang goreang milik Nichan. “YA!!” Protes Nichan tak terima. “Hi babe!!” serunya sambil mengangkat alisnya dan terus mengambili kentang goreng milik Nichan. “Diamlah! Aku sedang bingung!!” Ujar Byulhyun. “Wae?” Tanya Nichan sambil menyuapi Jongwoon. “Bimilyeyo!” ujar Byulhyun penuh teka teki. “Ayolah Byulhyun-ah. Ceritakan padaku. Ayo cerita!!” Pinta Nichan membujuk Byulhyun. “Shireo!” “Shireo wae?” “Aku tak mau cerita, kalau orang aneh nan gila ini masih ada dihadapanku!” “YA!! Kau harus beruntung bisa mengenal, Art of Voice Seoul University ini!!” “Mengenalmu tidak memberi efek apapun padaku.” “Arrayo. Na ga. Jagiya, aku ke tempat latihan, ya!! Kau mau berlatih tidak, Jagi?” “Ne. Nanti aku menyusulmu. Materi lagunya sudah kau bawa, kan?” “Ne. Aku latihan dulu, ya!” Jongwoon berdiri lalu mencium pipi Nichan lalu pergi menggunakan motor sport hitam miliknya. “Baik. Sekarang dia sudah pergi. Ayo, ceritakan padaku!!” “Aku baru berkenalan dengan seseorang. Sudah tiga kali aku bertemu dengannya secara tidak sengaja. Aku bingung bagaimana untuk menemuinya lagi.” “Telepon saja!” Nichan memberi saran. “Aku tak punya teleponnya. Aku hanya tahu wajah dan namanya saja.” “Keurom, nuguji?” “Gui Xian.” “Ah, namja yang kau cari-cari waktu itu. Keundae, Gui Xian bukan nama Korea. Dia orang cina?” “Taipe.” “Ah, keurom nan mollayo, Byulhyun-ah!” ujar Nichan pasrah. “Aku tau kalau kau tak akan bisa membantuku. Na ga!!” “Ya! Baiklah! Aku akan pergi latihan menyanyi dengan Jongwoon Oppa!” “Ya sudah! Sana pergi!! Aku mau ke toko buku. Bye!” Byulhyun melangkahkan kakinya menjauh dari arena kantin lalu berjalan mendekati mobilnya. Diapun segera melajukan mobilnya menuju toko buku yang biasa ia kunjungi. Byulhyun memarkirkan mobilnya dan segera masuk ke dalam toko buku itu.  Dia segera menuju rak buku bagian matematika. Dia mencari buku yang cocok untu tugas kuliahnya. Setelah mendapat bukunya, dia berjalan melihat buku-buka yang ada. Tapi di bagian rak fiksi dia melihat sosok yang sangat ingin ia temui. Gui Xian. Dia langsung mendekati Gui Xian. “Gui Xian-sshi…” Panggil Byulhyun sedikit berbesik. Gui Xian menoleh. Dia tersenyum setelah melihat bahwa gadis yang memanggilnya adalah Byulhyun. “Ah, senang bisa bertemu denganmu lagi, Byulhyun-sshi!” “Kau sedang mencari buku?” “Mm.. Aku hanya ingin mencari buku untuk pengalamanku dan sumber latihanku.” “Oh. Boleh aku lihat bukunya?” Gui Xian menunjukan buku-buku yang ia pilih. Byulhyun melihatnya. Buku-buku itu bergenre misteri, penyamaran, detektif, dan pembunuhan dari sisi penjahatnya. “Kau suka membaca buku-buku seperti ini?” “Mm… untuk menambah pengetahuanku sekaligus untuk bahan uji coba. Lumayan untuk rencanaku selanjutnya.” Terang Gui Xian. “Maksudmu?” Tanya Byulhyun tak mengerti. “Rencana apa?” “Mwo?” Tanya Gui Xian balik. “Dwaesso.” “Huh?” Byulhyun semakin tak mengerti. “Jangan dengarkan apa yang aku katakan. Otakku sedang banyak pikiran. Jadi, banyak sikapku yang lepas kendali dan sering tidak aku mengerti.” “Aa… Pemaksaan kinerja otak? Jangan terlalu memforsir diri.” “Ne. Aku juga sedang menurunkan kinerja otakku. Kau sudah selesai? Aku mau ke kasir.” “O. Aku cukup membeli buku ini saja.” Gui Xian dan Byulhyun berjalan berdampingan menuju kasir. Selesai membayar Byulhyun mengajak Gui Xian untuk mampir di restoran kecil yang ada di sebelah toko buku. “Gui Xian-sshi, bisakah aku meminta nomor ponselmu?” Pinta Byulhyun. “Aku sering ganti nomor. Dan mungkin kau akan sulit untuk menghubungiku.” Elaknya. Byulhyun mendesah kecewa lalu meminum jus jeruknya. Byulhyun memakan makanannya agak cepat. Gui Xian hanya melihat Byulhyun sambil tersenyum kecil. Entah kenapa, untuk dirinya, berada di sebelah Byulhyun menghadirkan rasa kedamaian yang sudah lama tidak ia rasakan. Dia juga merasakan kenyamanan saat ada di samping Byulhyun. Sudah lama ia tak merasakan kenyamanan dan kedamaian dalam hatinya. Tapi saat ia berada disamping Byulhyun, dia bisa merasakan kenyamanan dan kedamaian itu. Walau dia sadar berdekatan dengan Byulhyun akan membawanya dalam bahaya.. -=.=- Byulhyun sedang berbaring. Dia melihat sebuah buku yang ada ditangannya. ‘Cinta sang Pembunuh’. Buku itu adalah pemberian Gui Xian tadi sore. ‘Buku ini bercerita tentang pembunuh yang jatuh cinta dengan anak orang yang ia bunuh.’ Itu adalah inti cerita buku ini kata Gui Xian. Byulhyun membuka buku itu dan mulai membacanya. Tak lama, dia merasakan getar dari ponselnya. Byulhyun meraih ponsel itu dan membuka pesan yang baru saja masuk.

From          : 010-653XXXX

Bagaimana buku yang baru saja aku berikan? Apakah kau sudah membacanya?

Byulhyun mengernyitkan dahinya heran. “Buku? Apa ini Gui Xian?” Byulhyun langsung semangat mengetikan beberapa kata di layar datar ponselnya.

From          : Byulhyun Apa ini Gui Xian? Aku baru saja membacanya. Sepertinya jalan cerita novel ini sangat menarik. Aku akan menyelesaikannya dengan cepat. Gomawo atas bukunya.

Byulhyun menunggu balasan Gui Xian. Dan setelahnya mereka melanjutkan bertukar sms satu sama lain. Dari membicarakan buku hingga ke masalah sepele. Hingga pagi menjelang, Byulhyun tidak lelah ber-sms-an dengan Gui Xian.

From          : Byulhyun. Sudah dulu, ya! Aku harus bersiap untuk kuliah hari ini.

Byulhyun meninggalkan ponselnya dan beranjak masuk ke dalam kamar mandi. Keluar dari kamar mandi, Byulhyun langsung mengambil ponselnya.

From          : Gui Xian. Baiklah. Semoga lancar kuliah hari ini. Fighting!!

Byulhyun semakin semangat mengikuti kuliah. Dia tak henti-hentinya tersenyum. Nichan menjadi heran dengan sikap Byulhyun itu. “YA!! Kau kenapa, huh? Senyum-senyum terus. Kau tak kasihan pada urat senyummu?” “Aniya…” Jawab Byulhyun lalu tersenyum lagi. “Aku bisa gila menghadapimu!!” Ujar Nichan “Byulhyun-ah! Kau gila, huh? Makanya! Jangan masuk jurusan matematika! Gila, kan, jadinya!!” Jongwoon ikut menimbrung. “Apa hubungannya dengan jurusanku?” Protes Byulhyun. “Lalu apa lagi??” Jongwoon dan Nichan bertanya bersamaan. “Bimilyeyo.” Ujar Byulhyun lalu mengambil ponselnya dan mengetikan sms.

From          : Gui Xian. Anyeong, Gui Xian!! Bagaimana harimu? Apa aktifitasmu lancar?

Byulhyun menaruh ponselnya. Ditunggunya balasan dari Gui Xian. Tapi tak juga ponsel itu menandakan akan mendapat balasan sms dari Gui Xian. Byulhyun menghela nafas dan menggerutu pelan. “Byulhyun-ah, kukira kau benar-benar gila sekarang. Tadi kau sanyam-senyum sekarang kau menggerutu. Kkomaya, kau jangan dekat-dekat dengan Byulhyun. Nanti kau ikut gila!” Byulhyun menjitak kepala Jongwoon cukup keras. “Yang ada, Nichan akan gila bila terus bersamamu!” “Tapi Jongwoon Oppa benar.” Nichan membenarkan Jongwoon. “YA!! Kenapa sekarang kau membelanya?” Protes Byulhyun. “Sebenarnya kau kenapa?” “Gui Xian.” “Gui Xian? Apa itu?” Tanya Jongwoon tak mengerti. “Ah, Oppa. Rupanya Byulhyun sedang jatuh cinta.” Ujar Nichan. “Mwo? Gui Xian nama seorang namja?” “Neo jinja babo gateun saram!” Hardik Nichan. “Tentu saja nama namja.” “Kalian ini berisik sekali? Lebih baik kalian ke studio menyanyi dan menyanyi sesuka kalian.” Ujar Byulhyun. “Ah… membicarakan menyanyi, bagaimana kalau kau melihat kolaborasi lagu kami yang baru? Kau mau tidak?” Tawar Nichan. “Shireo. Aku mau pulang saja!” ujar Byulhyun lalu melangkah menjauhi singing couple itu. “Sinis sekali dia.” Komentar Jongwoon yang melihat Byulhyun berjalan menjauh. Tak sengaja dia melihat ponsel Byulhyun yang masih ada di atas meja. “Dia pakai Galaxy S2? Kenapa aku tidak tahu, ya?” Nichan memukul kepala Jongwoon pelan. “Itu karena kau tidak pernah memperhatikan sekitarmu!” Setelah mengambil ponsel Byulhyun dari tangan Jongwoon, Nichan berjalan mendekati Byulhyun dengan sedikit berlari. “Byulhyun-ah! Ponselmu ketinggalan!!” “Oh? Gomapta!” Ujar Byulhyun -=.=- Dirumah Byulhyun masih saja menantikan balasan sms dari Gui Xian. Tapi Gui Xian tak juga memberikan balasan sms. Hingga esok harinya, balasan dari Gui Xian juga belum Byulhyun dapatkan. Hingga membuat Byulhyun menjadi tidak semangat selama mengikuti kuliah hari ini. “Byulhyun-ah, kau kenapa lagi hari ini? Tidak semangat sekali.” Nichan memberi komentar. “Molla.” Jawab Byulhyun singkat lalu berjalan menjauh. -=.=- Sudah delapan hari Gui Xian tidak mengirimi Byulhyun sms. Byulhyun merasa khawatir. Dia sering mengirim sms pada Gui Xian. Byulhyun juga pernah memberanikan diri untuk meneleponnya, tapi nomor Gui Xian tidak aktif. “Sebenarnya dia kemana?” Tanya Byulhyun bingung pada dirinya sendiri. Tak lama ponselnya bordering. Dengan malas diambilnya ponsel miliknya. Di lihat sebuah pesan dari nomor yang tidak ia kenal. Byulhyun membuka pesan itu.

From          : 010-378XXXX Anyeong!! Maaf tidak menghubungimu selama ini. Aku sedang sibuk. Bagaimana kabarmu, Byulhyun-ah?

Byulhyun mengernyitkan dahinya. Dia tidak tahu siapa yang mengiriminya. Tapi tak lama, Byulhyun berpikir bahwa dia adalah Gui Xian.

From          : Byulhyun. Apa ini Gui Xian? Kalau iya, kabarku baik sekali. Bagaimana denganmu?

Byulhyun menekan tombol kirim di layar ponselnya. Dia merasa senang karena Gui Xian mengiriminya sms. Tak berapa lama, sebuh pesan baru masuk di ponselnya lagi.

From          : 010-378XXXX Ne. Aku Gui Xian. Kabarku baik sekali. Sudah lama tidak bertemu, ya? Mau bertemu denganku besok?

Byulhyun langsung berteriak histeris karena senang. Dia segera membalas sms itu.

From          : Byulhyun. Keuromyo. Kita bertemu dimana?

Byulhyun memandangi layar ponselnya. Tak sabar menunggu balasan dari Gui Xian. Ponselnya berdering, dia langsung membukanya. Betapa kesalnya dia, melihat pesan masuk yang dia dapat adalah dari Nichan. Tak dihiraukan pesan dari Nichan. Dan terus menunggu pesan balasan dari Gui Xian. Lagu Super Junior – Good Friends mulai terdengar. Byulhyun melihat ponselnya. Gui Xian menelepon. Dia langsung mengangkatnya. “Yoboseo.” Ujar Byulhyun dengan menahan senyum bahagia. “Yoboseo, Byulhyun-ah. Besok kau mau bertemu?” Tawar Gui Xian langsung. “Ne. Eodiyeyo? Eonje?” “Bagaimana kalau besok siang di restoran kecil di sebelah toko buku waktu itu? Otthe?” “Mm… Aku hanya bisa sekitar jam empat hingga setengah enam sore.” “Arraseo. Bisa jam setengah lima, kan?” “O.” “Keurom, kita bertemu jam setengah lima besok di restoran kecil itu. Deal?” “Ok.” Byulhyun mengakhiri teleponnya dengan Gui Xian. Dia berteriak histeris. Tapi kemudian Byulhyun sadar bila ‘aktifitas’-nya itu menganggu para tetangganya. Byulhyun mulai membayangkan apa saja yang akan ia lakukan bersama Gui Xian nanti -=.=- “Maaf aku terlambat. Sudah lama menunggu?” Tanya Gui Xian. “Lumayan. Silahkan duduk.” Byulhyun membalas. “Gomapta.” “Kau membawa apa saja itu?” Tanya Byulhyun heran dengan tas Gui Xian yang sangat besar. “Um.. Hanya beberapa barang bekas.” Jelasnya singkat. “Oh. Kau mau pesan apa?” “Sama sepertimu saja.” “Chankaman.” Byulhyun memesankan makanannya. “Tumben, ya, kita bertemu dengan janji. Biasanya tidak pernah. Hanya kebetulan saja.” “Ne.” Ujar Gui Xian dengan sedikit senyuman. “Untuk apa kau meminta bertemu seperti ini?” Tanya Byulhyun. Gui Xian kaget. “Kau bertanya seperti itu seperti kau tidak suka dengan pertemuan ini.” “Animida. Bukan maksudku bertanya karena aku tidak suka. Aku hanya heran saja. Untuk pertama kalinya kau mengajaku bertemu. Padahal waktu itu, kau menolak untuk memberi nomor ponselmu. Itu saja.” Jelas Byulhyun. “Oh… Aku hanya ingin meminta maaf karena tidak membalas smsmu selama beberapa hari ini.” “Oh.” “Kyuhyun-ah!!” Panggil seorang gadis. Gui Xian terpaku diam membeku. Byulhyun yang melihatnya jadi khawatir. “Gui Xian, gwaenchanayo?” “Gui Xian?” Tanya gadis itu pada Byulhyun. “Mm… Dia adalah Gui Xian.” Gadis itu menatap Gui Xian tak percaya. Gadis itu mengambil tangan kiri Gui Xian dan mengamati pergelangan tangan itu. Ada sebuah tato kecil di situ. “Apa yang kau lakukan?” Tanya gadis itu marah. “Neo nuguya? Kenapa kau datang dan marah-marah?” Tanya Byulhyun setelah berdiri menghadapi gadis itu. Gui Xia menarik tangan Byulhyun agar duduk kembali disampingnya. “Hyera-ya, kumohon tenanglah!” “Kau mengenal gadis itu?” Tanya Byulhyun. “Aku mantan kekasihnya. Shin Hyera imnida.” Ujar gadis itu lalu duduk berhadap-hadapan dengan Gui Xian. Byulhyun menatap Gui Xian menuntut penjelasan. Tapi Gui Xian hanya mengangguk-angguk kecil. Byulhyun melirik kesal ke arah Hyera. “Untuk apa kau di sini? Bukankah kau ada di Luxemburg?” Tanya Gui Xian. “Kau lupa kalau aku adalah anggota terbaik?” katanya sambil menunjukan tato yang sama dengan milik Gui Xian. Yang membuat berbeda adalah jumlah bintangnya. Milik Hyera berbintang lima. Semantara Gui Xian hanya berbintang empat. “Tugasku sudah selesai. Dengan cepat dan bersih.” “Arraseo.” “Lalu siapa nona manis ini, Kyuhyun-ah?” Tanya Hyera sambil menatap Byulhyun. “Apa hubunganmu dengannya?” “Kyuhyun? Apa maksudnya?” Tanya Byulhyun tak mengerti. “Hoho. Jadi kau tak tahu kalau nama namja yang kau panggil Gui Xian adalah Cho Kyuhyun?” Byulhyun menatap Gui Xian tak percaya. Gui Xian hanya menundukan kepalanya dalam-dalam. Byulhyun menghela nafas lalu berjalan pergi. Gui Xian berdiri dan hendak menyusul Byulhyun. Hyera ikut berderi dan mencegah Gui Xian. “Kau tahu, akan sangat berbahaya kalau kau berhubungan dengan orang lain. Ini bisa membahayakanmu dan juga membahayakan gadis itu.” Gui Xian menatap Hyera tajam. “Aku tak peduli!” Ujarnya dingin lalu berjalna mengejar Byulhyun. “Byulhyun-ah! Chankaman!” Ujar Gui Xian. Byulhyun berhenti dan menoleh menatap Gui Xian. Matanya merah dan penuh airmata. “Mau apa lagi? Kau mau berbohong soal apa lagi, Gui Xian? Atau aku perlu memanggilmu dengan Kyuhyun?” Gui Xian berjalan mendekati Byulhyun dan langsung memeluk Byulhyun. “Mianhae. Bukan maksudku untuk membohongimu!” Byulhyun meronta ingin melepas pelukannya dari dia. Tapi Gui Xian tetap memeluk Byulhyun dengan erat. “Mianhae.” “Kau mau apa lagi? Tak cukup kau membohongiku? Kau datang seenaknya dalam hidupku. Kau membuat aku mencintaimu. Dan setelah itu, seseorang datang dan memberitahuku yang sebenarnya. Dan kau kini dengan mudahnya ingin meminta maaf?” Tanya Byulhyun dengan terisak. “Kau mencintaiku?” Tanya Gui Xian tak percaya. “Aku mencintaimu dalam kebohongan.” Ujar Byulhyun sambil mengangis dan memukuli punggung Gui Xian. “Kau benar-benar mencintaiku?” tanya Gui Xian lagi sambil menitikan airmata. “Aku mencitaimu dasar kau laki-laki kejam. Neo jinja nappeun namja.” Ujar Byulhyun sambil tetap memukuli punggung Gui Xian. “Nado saranghaeyo, Kim Byulhyun.” Ujar Gui Xian. Byulhyun langsung diam membeku. Gui Xian menggerakan kepalanya agar bisa melihat wajah Byulhyun. Dia langusng mencium Byulhyun lembut. Awalnya, Byulhyun hanya diam saja. Namun, akhirnya Byulhyun membalas ciuman Gui Xian. Di belakang mereka, Hyera melihat adegan itu. Hyera yang masih mencintai Gui Xian menjadi cemburu melihat Gui Xian berciuman dengan gadis lain. “Kim Byulhyun? Kita lihat seberapa tangguh gadis itu. Apa kau akan tetap bertahan dengn apa yang akan aku lakukan?” T.B.C

Advertisements