Tags

Sebenernya ga jelas juga alurnya. Cuman dapet ide kaya gini dan ga nyambung ke FF yg lain. Alhasil, jadilah FF-Ficlet gak jelas ini. Hope you like it aja lah buat FF ini…

Yesung berlari menyusuri lorong itu. Dia mencari sosok yang baru saja meneleponnya tadi. Secepat mungkin dia datang ke tempat wanita yang meneleponnya barusan.

Dia melihat Nichan yang sedang duduk sambil menangis. Yesung menghampirinya. Nichan menyadari kehadiran Yesung.

“Oppa.” Panggilnya dengan isakan dan langsung memeluk Yesung. Dia masih tetap menangis. Yesung mengusap punggung Nichan pelan berusaha membuatnya tenang.

“Gwaenchana. Uljimayo. Tak usah khawatir.” Ujar Yesung mencoba memenengkannya.

“Tapi keadaanya sangat kritis. Aku tak mau kehilangan dia, Oppa!”

“Dia pasti baik-baik saja. Percaya padaku. Dia laki-laki yang kuat. Dia pasti bisa bertahan.”

“Bagaimana kalau tidak? Bagaimana kalau dia…” Nichan tak sanggup melanjutkan ucapannya.

Yesung mempererat pelukannya. “Jangan berpikir seperti itu. Kita masih punya harapan, Kkoma-ya. Tenanglah!”

Isakan Nichan sudah mulai mereda. Yesung mengajaknya duduk. “Ceritakan padaku! Kenapa bisa begini?”

“Mollayo. Aku tadi ke dapur untuk mengambil minum. Tak tahu bagaimana, dia sudah jatuh dari tangga, tak sadarkan diri dan banyak darah keluar dari kepalanya.”

Yesung menaruh kepala Nichan dipundaknya. Lalu mengusap-usap kepala Nichan. “Dia pasti baik-baik saja. Kita berdoa saja.”

“Oppa, bagaimana kalau dia pergi?”

“Jangan berpikir seperti itu. Dia pasti selamat. Kau harus percaya itu!”

“Aku hanya takut kalau dia pergi, Oppa!”

“Dia akan baik baik saja, Kkoma-ya!”

“Kalau tidak bagaimana?” Tanya Nichan dengan nada anak kecil sambil menatap Yesung.

“Kita tidak tahu apa yang terjadi. Jadi kita harus percaya, kalau dia akan baik baik saja!”

“Apa itu sudah pasti?”

Yesung mendengus kesal. “Kau ini sudah menikah! Sampai kapan kau betingkah kekanakan seperti ini?”

“Aku hanya ingin meyakinkan diriku, kalau dia akan baik-baik saja.” Ujar Nichan pelan.

“Aku sudah meyakinkanmu berkali kali. Kau saja yang keras kepala.”

Nichan menghembuskan nafas. Dia menaruh kepalanya dibahu Yesung. “Dia akan baik baik saja, kan, Oppa?”

“Keuromyo. Dia harus baik-baik saja.” Ujar Yesung meyakinkan. “Dia tak akan pergi meninggalkanmu. Dia tidak akan kemana mana. Dia akan tetap disini.” Tambah Yesung.

“Tapi aku takut, Oppa!”

“Dia akan kembali menemani hari harimu. Percayalah.”

“Kim Jinyoung, saranghae. Kau harus tetap disini menemaniku.” Nichan menyenandungkan kalimat itu.

“Kau harus yakin. Aku saja yakin bila Jinyoung akan baik baik saja.” Kata Yesung berusha membuat Nichan optimis.

“Arasseo. Dia pasti bertahan. Aku harus yakin. Begitu, kan, Oppa?”

“Ehm. Keuromyo!” Balas Yesung sambil mengelus kepala Nichan lembut. “Kau tidak mau memberinya hadiah?”

“Sonmul?”

“O. Dia suka sureprise, kan? Kalau kau memberinya hadiah, dia pasti suka.” Ungkap Yesung.

Nichan hanya mengangguk angguk menyetujui.

“Tapi aku harus memberi hadiah apa? Aku tak mau meninggalkannya sebelum dia sadar.”

“Apapun. Asal kau memberikannya dengan tulus, dia pasti akan menyukainya.”

Tiba-tiba pintu dari ruang rawat Jinyoung terbuka. Seorang dokter keluar. Nichan segera bangkit dan menemui dokter itu.

“Nyonya Kim.” Panggil dokter itu.

“Bagaimana keadaan Jinyoung?”

“Dia baik baik saja. Kami baru membersihkan lukanya. Dia juga tidak mengalami luka dalam. Hanya membutuhkan sedikit jahitan.”

“Berarti tidak akan mempengaruhi kesehatannya kedepan, kan?”

“Tentu tidak. Hanya pada masa penyembuhan luka saja. Kalau begitu saya permisi, Nyonya Kim.”

Dokter itu segera pergi dan tak lama para perawat keluar. Dan terdapat banyak kapas dengan noda darah yang cukup banyak di atas nampan yang mereka bawa. Nichan bergidik ngeri melihatnya. Tak tega dengan keadaan Jinyoung.

“Darahnya banyak sekali, Oppa. Dia pasti kesakitan sekali.”

“Sudahlah. Yang penting sekarang dia bak-baik saja. Lain kali kau harus menjaganya lebih baik.”

“Aku akan selalu menjaganya lebih baik, Oppa.” Ujar Nichan sambil menitikan air mata. Yesung menghapus air mata Nichan yang terjatuh

“Uljima!! Aku tak suka melihatmu menangis.”

“Aku tak menangis.” Ujar Nichan sambil menghapus air matanya lalu tersenyum manis sekali.

“Tak ingatkah kau, kalau kau sudah menikah? Tapi kenapa kau masih saja bersikap seperti anak TK, Kkoma?” Ujar Yesung gemas sembari menyubit kedua pipi Nichan.

Nichan menyingkarkan tangan Yesung. “Biar saja. Yang penting Jinyoung menyukainya!” Ujar Nichan lalu menjulurkan lidahnya. “Dan jangan ingatkan aku, kalau aku sudah menikah! Aku terdengar lebih tua.”

“Jadi kau menyesal karena sudah menikah?”

“Aniya. Kalau aku tidak menikah, aku tidak akan memiliki Jinyoung! Dan aku senang karena memiliki Jinyoung.”

“Begitu? Sekarang kau lebih mementingkan Jinyoung dari pada aku?” Canda Yesung.

“Kan memang seharusnya begitu.” Balas Nichan sambil terkekeh.

“Arasseo! Keurom, aku kembali ke KBS dulu, ya?”

“Untuk apa?”

“Tadi aku sedang recording. Tapi kau menelepon dan memintaku datang karena Jinyoung kecelakaan. Untung itu acaranya off air. Jadi tadi recording yang tanpa aku terlebih dahulu. Sekarang semuanya sudah beres, kan? Jinyoung sudah tidak apa-apa.”

“Keundae…”

“Tidak ada yang kau perlu khawatirkan lagi. Aku harus professional, Nichan-ah! Kalau kau butuh sesuatu, telepon saja aku. Arra?”

“Mm. Tapi setelah selesai, kau segera kesini lagi. Temani aku.”

“Pastinya. Aku pergi dulu! Anyeong!” Setelahnya, Yesung mengecup singkat bibir Nichan dan langsung kembali ke KBS yang cukup dekat dengan rumah sakit. Sementara Nichan, memasuki ruang rawat Jinyoung dan menunggunya sadar.

 -=.=- END -=.=-

And readers,  ada yang tau hubungan yang terjadi antara Jinyoung – Nichan – Yesung??

Kalo bisa dapet cium dari bias kalian..

Advertisements