Tags

,

Kevin menatap kaget kearahku. Matanya memandangku tak percaya. “Kau peduli terhadapku?” tanyanya. Aku menangguk.

“Kenapa? Apa karena kau menyukaiku?” tanyanya lagi. Aku memandangnya kaget. Tapi dia menatapku serius.

“Jawablah karena kau menyukaiku. Karena aku menyukaimu.”

MWO?? Dia menyukaiku? Aku kaget mendengarnya. Kukumpulkan semua petunjuk. Dan semuanya memang mengarah padaku.

“Kenapa kau terlihat sangat terkejut? Apa kau tak menyukaiku?”

TIN..

Aku menoleh kearah pintu. Ternyata Jinki sudah menjemputku. Aku segera mengambil barang bawaanku. “Aku juga menyukaimu, Kevin-ah.” Ujarku malu lalu segera berjalan menuju mobil.

Aku duduk di kursi. Aku mengibas-ibaskan tanganku di depan wajahku yang merah dan panas. Jinki menatapku bingung. “Kau kenapa?”

“Aniyo. Ayo pulang!”

-=.=-

Aku berjalan menuju kelasku. Entah ini perasaanku atau memang kenyataannya, semua orang yang menatapku, berbisik-bisik dengan teman yang ada didekatnya.

Aku segera mempercepat langkahku. Disana juga sama. Saat melewati pintu, semua orang menatapku. Aku merasa tak nyaman dengan itu.

Aku belum berjalan menuju bangkuku. Aku menunggu semua orang mengalihkan perhatiannya dariku, tapi mereka sama sekali tak bergeming.

Tak berapa lama, kelas menjadi ricuh. Aku menoleh kebelakang, ternyata Kevin. Sebegitu senangkah mereka, karena Kevin kembali masuk sekolah? Entahlah.

Tapi samar-samar aku banyak mendengar kata ‘pasangan kekasih’. Siapa yang mereka bicarakan?

Kemudian seorang siswi yang kukenal bernama Hyera berkata, “Selamat datang pasangan kekasih baru dikelas ini!”

“Siapa yang menjadi pasangan kekasih?” tanyaku pada Hyera.

“Tentu saja kau dan Kevin!” jawabnya dengan eyesmile-nya.

“MWO?? Aku, kan, tidak sedang berpacaran dengan Kevin!” tegasku. Semua orang dikelas seketika diam. Bisa kurasakan, Kevin memandangku kaget.

“YA!! Cepat kalian duduk. Tidak kalian dengar bel masuk?” Ujar Han Sonsaengnim.

Aku segera duduk di bangku. Begitu juga Kevin. Dan kemudian mengikuti pelajaran seperti biasa.

-=.=-

Bel istirahat berbunyi. Aku segera menuju ke Kantin. Entah kenapa, perutku jadi lapar sekali. Aku melihat Yonghee, tapi dia hanya melirikku sekilas lalu berjalan melewatiku. Dia bahkan tidak menyapaku. Kenapa dia?

“Nichan-ah!”

Aku menoleh. Ternyata Kevin. Dan seperti biasa dibelakangnya ada Cheondung. Kurasa dia lebih cocok sebagai asisten pribadi Kevin.

“Apa maksud perkataanmu tadi?” Tanyanya marah.

“Perkataan yang mana?”

“Kalau kau bukan kekasihku.”

Aku mengangguk paham. Jadi ini masalahnya. “Aku memang bukan kekasihmu, kan?”

Dia melongo. “Kau mempermainkanku?”

“Siapa yang mempermainkanmu?”

“Tentu saja kau. Semalam kau bilang kalau kau menyukaiku.”

“Aku memang menyukaimu.”

“Lalu kenapa mengatakan kau bukan kekasihku?”

“Kau belum memintamu menjadi kekasihmu.”

“Kalau aku memintamu, kau akan mengiyakannya?”

Aku mengangkat bahuku. Dia terlihat berpikir. Aku memutar tubuhku dan mulai melangkah. Tapi keadaan kantin mendadak sepi.

“PARK NICHAN!!”

Aku menoleh. Omo!! Kevin berdiri diatas meja makan.

“Apa kau mau menjadi kekasihku?” tanyanya tanpa basa-basi sambil mengulurkan tangan kanannya. Aku hanya bisa menatapnya tak percaya.

Aku tersenyum, mengangguk, dan menerima uluran tangannya. Kevin langsung turun dan memelukku. Bisa kudengar semua orang bersorak.

-=.=-

“Jagiya, setelah ini kau mau kemana?” Tanya Kevin padaku yang sedang membereskan buku. Pipiku memerah mendengar kata ‘jagi’ yang keluar dari mulutnya.

“Kenapa kau memanggilku ‘Jagi’?”

“Waeyo? Aku, kan, kekasihmu sekarang. Dan kau adalah kekasihku.” Pipiku semakin merah. Dia mencubit pipiku gemas. “Neomu gwiyowo.”

-=.=-

Aku menaiki tangga rumah. Sementara Eomma baru menutup pintu kamarku. Aku langsung memeluk Eomma.

“EOMMA!!!” seruku bahagia.

“Kau kenapa, sayang? Kau terlihat bahagia sekali. Ada apa?”

“Aku sudah memiliki kekasih.”

“MWO?? Dengan siapa? Apakah dengan Jinki?”

Aku melepas pelukanku. Eomma menyebalkan sekali. Kenapa semua orang menganggap aku lebih cocok berpacaran dengan Jinki. Menyebalkan!

“Bukan Jinki, Eomma! Dia, kan, sahabat terbaikku. Mana mungkin aku mengencani sahabatku?”

“Arraso. Arraso. Lalu dengan siapa lagi?”

“Kevin Woo.” Ujarku bahagia. Aku melihat Eomma sedang berpikir.

“Apa dia yang menyelamatkanmu waktu itu?”

“Ne.”

“Baguslah. Setidaknya dia bisa melindungimu, Nichan-ah!”

“Eomma merestuiku?”

“Tentu saja. Asal kau bahagia dan dia bisa melindungimu dengan baik.”

Aku sengan sekali. Aku langsung masuk kedalam kamar. Aku menatap kalender. Aku melingkari tanggal 24 Agustus 2011. Hari jadiku bersama Kevin.

Aku beralih ke jendela dan membukanya. Aku mengetuk jendela kamar Jinki. Tapi tak ada respon.

Kemana dia? Apa dia pergi? Ya sudahlah. Nanti malam, dia pasti melempar jendelaku dengan batu.

-=.=-

Sudah jam sepuluh malam, tapi Jinki belum mengetuk jendelaku. Sebenarnya ada apa dengannya?

Aku menuju jendela lagi, tapi jendela Jinki tertutup rapat. Namun, segera aku menangkap siluet orang.

“Jinki-ah!” panggilku.

“Lee Jinki!!” Seruku lebih keras.

Tiba-tiba, Jinki muncul. Hinga membuatku terlonjak kaget. “Ommo, kau mengaggetkanku saja!”

“Wae?” Tanyanya dengan ekspresi datar.

“Dari tadi aku menunggumu! Tapi kau tidak muncul juga!”

“Aku mengantuk.”

“Matamu belum merah! Kau bohong! Dengarkan ceritaku sebentar saja!”

“Hanya sebentar?”

“Ne.”

“Kau mau cerita apa?”

“Tadi aku berkencan dengan Kevin.” Ceritaku. Dia terlihat mengambil nafas dalam dan menoleh kearah lain.

Aku melanjutkan ceritaku, tapi jinki hanya mengangguk-angguk. Matanya sudah merah dan berair. Kurasa dia sangat mengantuk.

“Kau benar-benar lelah, ya?”

Dia hanya mengangguk.

“Ya sudah. Tidurlah! Jaljayo!”

Aku kembali kekasurku. Aku terbelalak karena sekarang sudah jam sebelas malam. Pantas dia tidak mendengarkanku.

-=.=-

Aku sudah siap dengan seragam sekolahku. Aku turun dan sarapan bersama. Aku menunggu Kevin diluar rumah. Dia bilang ingin menjemputku.

Aku menengok kesamping rumah. Mobil Jinki sudah tidak ada. Berarti dia sudah berangkat sekolah.

Kemudian, sebuah audi hitam yang kukenali sebagain mobil Yoseob berhenti di depan rumah Jinki. Dia pasti mau mengantar Yonghee.

“Anyeong, Yoseobie!!”

“Anyeong, Nichan!! Bagaima kabarmu?”

“Baik sekali.” Ujarku dengan tersenyum lebar.

“Kau senang sekali. Ada apa?”

“Aku sudah memiliki kekasih?”

“Jinja? Kau berpacaran dengan Jinki?”

Seketika aku menghilangkan senyum diwajahku. Dia juga berpikir seperti itu? Tuhan, adakah yang mendukungku dengan Kevin?

“Aniya! Aku berpacaran dengan Kevin.”

“Oh. Chukahae.” Ujarnya datar. “YONGHEE!!!” dia memanggil Yonghee dari luar.

“OPPAA!!!!!!!” Yonghee berteriak dari dalam. Dia berlari sambil tersenyum menghampiri Yoseob. Tapi saat dia memandangku, senyum cerianya berubah jadi senyum yang dipaksakan.

Tin.. Tinn…

Aku menoleh. Kevin sudah sampai. Kemudian dia turun dan menghampiriku.

“Oppa, kenalkan, dia adalah Yonghee adik dari Jinki. Dan ini Yoseob, kekasihnya Yonghee. Yoseob juga sepupuku.”

“Anyeonghaseyo. Kevin Woo imnida!” Kenalnya.

Aku langsung mengajak Kevin berkenalan dengan kedua orang tuaku. Setelahnya kami langsung pergi ke sekolah.

-=.=-

Hari hari berlalu. Kini musim panas sudah tiba karena berakhirnya musim semi.Tapi, tidak dengan hubunganku dengan Kevin yang semakin bersemi.

Aku dan Kevin sudah melewati Ujian Akhir. Dan masing masing dari kami juga sudah mengikuti tes masuk universitas.

Aku dan dia sama sama masuk ke Seoul University. Tapi jurusan kami berbeda. Kevin masuk ke jurusan seni. Sementara aku masuk ke dalam jurusan menejemen bisnis.

Hari ini kami akan menghadiri farewell party sekolah kami. Tak terasa, aku sudah bukan murid SMA lagi.

Aku segera merapikan pakaian dan gaunku. Gaun ini adalah hadiah dari Kevin.

Tapi sebelum aku menuruni tangga. Jantungku berdetak cemas. Aku sangat merasa khawatir. Tapi aku tak tahu apa yang aku khawatirkan. Aku memberikan sugesti pofitif terhadap diriku sendiri.

Aku segera turun dan menemui Kevin yang terlihat tampan dengan jasnya. Tapi dia terlihat imut dengan dasi kupu-kupunya.

“Oppa!” Panggilku.

“Yeoppeuda!” pujinya tulus. Aku hanya tersenyum malu. “Sudah siap, kan? Ayo!”

“Tunggu. Aku mau mengambil gambarmu. Lakukan selca!”

Dia mengeluarkan ponselnya. Dan dia melakukan selca dengan baik.

“Ayo! Sebelum kita terlambat.”

-=.=-

Disana sudah banyak yang tiba. Aku mencari Jinki. Apa dia pergi dengan gadis yang ia sukai? Tapi apa yang kutemukan? Dia pergi bersama Yonghee.

Aku mendekatinya. “Jinki-ah! Kau berpasangan dengan Yonghee?”

“Ne. Lebih baik mengajak Yonghee dari pada gadis lain.”

Aku dan Kevin sama sama tertawa pelan.

Setelahnya acaranya memberikan murid berprestasi yang tentu saja jatuh ditangan Jinki. Acara dilanjutkan dengan pesta dansa.

“Apa menurutmu ini membosankan?” Tanyanya

“Sangat. Kita sudah berdansa dari tadi. Kakiku sudah pegal semua.”

“Ayo pergi!” ajaknya lagi..

“Apa lebih baik kita tetap disini?”

“Tapi aku sudah bosan dan lelah.”

“Tapi aku rasa berbahaya.”

“Apanya yang berbahaya?”

“Aku tak tahu. Lebih baik disini saja!”

“Ayolah, Oppa. Aku ingin pergi!”

“Ya sudah. Ayo!”

Aku dan Kevin berjalan keluar gedung. “Kau tunggu disini. Biar aku yang ambil mobilnya.”

Gedung parki memang ada di seberang gedung acara. Aku mengambil ponselku. Melihat apa ada yang menghubungiku.

Terdengar suara mobil yang cukup keras dari jauh dan mulai mendekat. Aku mangacuhkannya.

Tak lama aku mendengar suara laki laki yang meronta kesakitan. Tapi hanya seklias. Aku mendongak dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Tapi, setelah aku melihatnya, aku merasa jantungku terhimpit batu raksasa. Rongga paru-paruku berasa diisi ribuan kerikil tajam. Tenagaku seperti dibuang tak tersisa.

Tak ada yang sanggup kuperbuat selain menitikan air mata. Aku mencoba melangkah mendekat. Tak kuasa kubendung air mataku.

Aku segera menangis histeris, mendapati Kevin terbujur tak berdaya. Banyak darah yang keluar dari tubuhnya.

Aku merosot lemas disampingnya. Aku mengguncang-guncang tubuhnya. “Oppa, irreona! Oppa!”

Kevin perlahan membuka matanya. Dia menatapku. Dia juga meraih tanganku. “Jagiya!” Ujarnya lirih.

“Sar.. sar.. ranghae.. Neomu.. sarang.. hae..” Ujarnya terbata bata.

“Nado saranghae, Oppa!”

“Ber.. jan.. jil.. lah.. kal.. lau ka… u.. ak.. kann.. sel..la..lu.. ba.. ha.. gia.. Yakshok?”

“Yakshoke! Aku akan selalu bahagia. Asal kau ada disini.”

“Akk.. ku.. ak.. kan.. me.. rin.. dukanmu… Saranghae, Nichan, naeui saranghan..” setelahnya Kevin tak sadarkan diri.

Aku semakin histeris memanggilnya. “Oppa, irreona!!” Panggilku samil menangis.

Jinki datang memelukku dari belakang. “Nichan-ah, lebih baik kita bawa Kevin ke rumah sakit.”

Aku hanya mengangguk. Dia menggendong Kevin dipunggungnya. Yonghee membawa mobil Jinki mendekat. Gantian Jinki yang menyetir mobil menuju rumah sakit.

Aku duduk dibelakang memangku kepala Kevin yang terus mengeluarkan darah. Tangannya menggenggam tanganku erat. Dari tadi dia belum melepasnya. Aku balas menggenggamnya erat.

“Oppa, bertahanlah!” Kataku terus menerus.

-=.=-

Di rumah sakit, kami segera membawa Kevin menuju UGD. Tapi tangan Kevin tidak bisa melepas tanganku.

Hingga para perawat membantu aku melepaskan genggaman tangan Kevin. Tapi sejujurnya aku enggan melepas genggamannya. Hatiku terus berkata ‘jangan lepaskan genggaman terakhirmu bersamanya’

Aku memantau Kevin dari jendela kecil pintu. Tapi saat satu perawat menutup Kevin dengan kain putih seutuhnya, aku merasa kepalaku sangat pusing dan berat. Dan pandangan mataku mulai gelap. Dan semuanya menjadi sangat gelap.

T.B.C

Advertisements