Tags

,

Aku berjalan keluar sambil bersin sesekali. Gatal sekali rasanya hidungku ini. Saat aku melewati aoptik aku berhenti sebentar.

Apa aku harus beli obat? Tapi minum obatpun percuma. Smbuhnya 2 minggu lagi. Aku melanjutkan perjalan menuju toko buku.

Aku mencari beberapa buku bisnis. Setelah memilih beberapa buku aku berjalan menuju rak fiksi.

Aku mengambil 2 buku fiksi dan 3 buku bisnis. Setelah mmbayar dikasir, aku pergi mengunjungi beberapa café.

Aku mencicipi beberapa makanan, melihat dekorasi, cara pelayanan dan menanyakan beberapa pertanyaan pada pelanggan.

Aku ingin membuka restoran setelah kuliah nanti jadi aku melakukan ini karena aku ingin tahu, bagaimana selera masyarakat Korea pada umumnya.

Terakhir aku memutuskan untuk pergi ke handel and gratel. Kudengar itu adalah coffee shop milik Yesung.

Aku mengamati dekorasinya. Sangat nyaman. Itu kesan pertamaku. Aku memesan mocachino dan shortcake. Aku mengambil kursi dekat dengan jendela.

Sekarang sudah jam setengah sembilan malam. Tapi aku masih berjalan-jalan menggunakan seragam.

Aku bergegas pulang. Aku memutuskan berjalan kaki. Karena letak handel and gratel hanya berbeda beberapablokdengan rumahku.

Aku masih bersin-bersin. Aku menggosok hidungku. Berusaha menghilangkan rasa gatal. Tapi sama saja. Hanya hilang sebentar lalu bersin lagi. Entah sudah berapa banyak aku bersin hari ini.

Aku sedikit ragu-ragu untuk melewati gang sepi didepanku. Setahuku ini adalah jalan cepatnya.

Aku ingin cepat sampai rumah tapi aku takut melewatinya. Bukannya aku takut pada setan atau sejenisnya. Tapi aku takut dengan orang berandalan yang biasa sembunyi di gang sepi.

Apa aku meminta Jinki menjemputku? Tapi itu akan merepotkannya. Aku berbelok kea rah jalan raya. Memutuskan mengambil jalan yang cukup ramai.

“Nanti jam 8”

Bahta! Aku teringat janjiku pada Jinki. Ah dia pasti marah. Ah Park Nichan babo!

Aku berlari melewati gang sepi itu. lalu tiba-tiba seseorang menarik tanganku dan membekap mulutku. Waktu itu sudah gelap, jadi aku tak bisa melihat siapa yang membekapku. Di menyeretku ke suatu tempat.

Kemudian, orang itu mendorongku di sebuah bangunan yang rusak. Tak sengaja kaki kiriku tergores benda tajam tepat diatas mata kaki.

Dengan pencahayaan yang minim, aku melihat badannya seukuran dengan Jinki. “Jinki-ya! Apa itu kau?” tanyaku. Tapi tak ada balasan. Orang itu mendekat. Aku jadi takut.

Dansaat wajahnya terkena  sinar lampu, ternyata aku tak mengenali orang itu. dia berjalan mendekat. Aku mundur. Tapi badanku sudah mempet dengan tembok.

“Mau apa kau?” tanyaku takut-takut.

“Tenanglah anak manis! Aku hanya ingin bersenang-senang!”

“Benar! Kami hanya ingin bersenang-senang!”

Aku menoleh. Ternyata mereka ada 2 orang. Aku sangat takut. Ah otthe? Tuhan bantu aku! Kirim bantuan apa saja! Hujan atau kirim seseorang. Siapa saja! Aku mendengar derap langkah. Semoga dia orang baik dan mau menolongku.

“Hwangju-ya! Kita sudah dapat mangsa! Ayo kita bersenang-senang!”

Omona! Dia adalah kawanannya. Tuhan, bagaimana ini? Selamatkan aku. Siapa saja tolong aku! Kevin-ah tolong aku! Aku berjongkok menangis ketakutan.

“Berdirilah! Kami tidak bisa bersenang-senang!”

“Jangan menangis. Ini akan menjadi malam indah untuk kita semua!”

Mereka mulai berusaha membuatku berdiri. Aku mempertahankan posisiku. Tapi mereka adalah 3 pria, sekuat apapun aku melawan, pasti aku akan kalah. Tapi aku tak mau pasrah begitu saja.

BUG….

Aku mendengar dentuman yang cukup keras. Aku membuka mataku, dan kulihat orang yang tadi dipanggil Hwangju jatuh terperosok.

Aku mendongak keatas, kulihat Kevin menatap marah pada Hwangju.

“Kau, bocah tengik! Untuk apa kau menganggu kesenangan kami?” kata salah satu dari mereka lalu mencoba memukul Kevin.

Mereka berdua mengeroyok Kevin. Aku berusaha sekuat tenaga untuk berdiri. Menahan luka kakiku yang terus mengeluarkan darah.

Aku mencoba berjalan untuk melindungi Kevin. Tapi aku tak bisa berjalan, karena luka dikakiku. Aku bahkan berdiri hanya dengan tumpuan kaki kanan.

Kulihat Hwangju mulai sadar dan bangun. Dia melihat Kevin yang mulai kalah dari pertarungan itu.Kevin, kumohon bertahanlah!

Hwangju lalu menatapku geram. Aku menelan ludahku takut. Dia melihat botol soju yang telah kosong. Dia mengambilnya dan berjalan perlahan kearahku.

Kakiku masih sakit dan sulit untuk digerakan. Aku memejamkan mataku.

“Kevin, tolong aku…” gumamku.

PYAR…

Aku membuka mataku. Aku melihat Kevin yang kini terkulai. Kepalanya banyak mengeluarkan darah. Aku berjongkok dan mencoba membuatnya sadar.

“Neo nappeun namja‼” seruku pada hwangju yang masih memegang botol soju yang ia gunakan untuk memukulKevin.

“Aku tidak sengaja! Sasarnku itu kau!” elaknya.

Kemudian terdengar suara sirine. Mereka terliht pucat lalu lari menyelamatkan diri mereka.

Setelah mereka pergi, tak ada polisi yang datang. Saat kudengr baik-baik, asal suara itu berasar dari kantung kemeja Kevin.

Aku mengeceknya, ternyata suara sirine itu berasal dari hape Kevin. Aku melihat siapa yang menelepon ternyata Cheondung.

Aku hendak mengangkatnya tapi tiba-tiba terputus. Aku bersyukur karena mereka telah pergi. Tapi apa yang harus kulakukan denganKevin.

Terdengar suara sirine lagi. Dari Cheondung lagi. Aku segera mengangkatnya.

“Kevin-ah! Cepat pulang! Kau sudah mulai gila! Kau menyiksa dirimu hanya untuk yeoja menyusahkan itu!”

Aku melihatKevin, kau bahkan mau membuat dirimu susah hanya demi yeoja yang kau sukai. Dia sungguh beruntung sekaligus bodoh.

“Kevin-ah! Yoboseo! Yoboseo!” suaranya menyadarkan aku lagi.

“Cheondung-ah!”

Sejenak tak ada suara.

“N.. n.. neo??‼ apa kau Nichan?” tanyanya takut.

“Ne.”

“Tapi aku menelepon Kevin. Dan benar ini nomornya Kevin.”

“Ini memang ponsel milik Kevin.”

“Tapi kenapa kau bisa mengangkatnya?Dan…”

Aku memotong perkataannya. “Bisa kau kirim ambulan kesini? Kevin terluka. Kepalanya banyak mengeluarkan darah.”

“Apa yang terjadi?”

“Akan aku ceritakan nanti! Bisa kau kirim ambulan?”

“Baik. Kau dimana?”

“Buk ChonHanOk Maeul”

“Tunggu.”

Setelah 5 menit, akhirnya ambulannya datang. Mereka membopong Kevin masuk dan aku ikut masuk kedalam.

Kevin belum sadarkan diri. Aku menggenggam tangan Kevin. “kumohon bertahanlah!” pintaku dengan menangis.

Sampai di rumah sakit, Cheondung sudah menunggu didepan. Saat Kevin dibawa masuk, dia mengikutinya.

Akhirnya aku berjalan pelan-pelan mengikuti mereka. Jalan yang awalnya bersih kini dipenuhi bercak darah dari kakiku.

Aku sudah sampi di tempat Kevin dirawat. Cheondung langsung mendekatiku. “ppali malhae! Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kepalanya terluka?”

“Aku sedang menuju perjalan kerumah. Tapi aku ditarik oleh 3 orang pria. Mereka mencoba ‘bermain’ denganku. Kemudian Kevin datang menolongku. Saat salah satu dari mereka mau memukulku dengan botol soju, Kevin tiba-tiba datang, dan botol itu mengenai kepalanya.”

Cheondung menundukan kepalanya sambil menggaruk. Kemudian dia mendongak dan menatapku.

“Kakimu terluka. Cepat ke UGD‼”

“Gwaenchana! Aku bisa ke UGD nanti.”

“Kau tidak lihat? lantai ini sudah kotor karena darahmu. Cepat ke UGD‼”

“Aniya! Aku akan ke UGD kalau aku sudah melihat keadaan Kevin.”

“Aku tidak akan mengijinkanmu!”

“Mwo?”

“Kau urusi lukamu dulu! Baru kau boleh masuk!”

Dengan terpaksa aku menuju UGD. Setelah lukaku dirawat, aku kembali menuju ruangan Kevin. Tapi aku tak melihat Cheondung disitu. Kubuka ruangan itu. disana juga tidak adaKevin. Hanya ada perawat yang membersihkan ruangan.

“Chogi, dimana orang yang tadi dirawat disini?”

“Dia dipindahkan di lantai 2 kamar no203.”

“Gamsahamnida”

Aku menuju lift. Beruntung kamar 203 ada didepan lift. Jadi aku tak perlu repot mencarinya.

Aku memasuki ruang itu. aku mendekati ranjangKevin.

“Bagaimana keadaannya?”

“Lukanya tidak terlalu parah. Beruntung tidak mengalami luka dalam.” Terangnya. Aku masuh berdiri disampingnya.

“Kau tidak duduk? Kakimu kan terluka. Duduklah!” perintahnya sambil menunjuk sofa dengan dagunya.

Aku berjalan ke sofa dan duduk disitu. Untuk beberapa saat tak ada percakapan yang terjadi.

“Kau tidak pulang?” tanyanya.

“Aku akan pulang kalau dia sadar dan dia yang menyuruhku.”

“Kau masih memakai seragam. Kakimu juga terluka. Rawat dirimu dulu baru urusi orang lain.”

“Kenapa kau sendiri tidak pulang?”

“Kalau bukan aku, siapa lagi?”

“Kan ada keluarganya. Orang tuanya mungkin.”

“Mereka sedang ke luar negeri. Lebih baik kau pulang. Kembalilah besok!”

Aku hendak menolak, tapi hapeku berbunyi. Kulihat siapa yang menelepon.TernyataJinki. Aku mengangkatnya.

“Yoboseo!”

“Nichan-ah, neo oddieya? Kenapa tidak pulang? Aku khawatir padamu. Kau tidak apa-apa, ka?”

“Gwaenchana, Jinki-ah. Maaf aku tidak menghubungimu.”

“Baik. Kau dimana sekarang? Aku akan menjemputmu!”

“Aku di Rumah Sakit K. dikamar203.”

“Rumah sakit? Apa kau sakit atau terluka?”

“Aniya! Bukan aku tapi orang yang menolongku.”

“Tunggu aku disana!”

Dia memutuskan teleponnya. Aku memasukan kembali hape milikku kedalam tas.

“Harusnya aku menelepon namjamu untuk menjemputmu!”

“Aku sudah bilang berkali-kali, kalau dia bukan namjaku!”

“Itukan katamu!”

Aku merasa jengah menghadapi Cheondung. Kenapa Kevin betah berteman dengannya? Aku mengambil earphone dan mulai mendengarkan lagu.

Sekitar 30 menit, akhirnya Jinki sampai. Dia langsung fokus terhadapku.

“Kau kenapa pulang malam dan tidak memberiku kabar?”

“Aku sudah beritahu eomma kalau akan pulang malam.”

“Tapi, kau baik-baik saja, kan?”

“Ne.”

Dia menoleh kearah Cheondung dan baru sadar kalau ada dia disana. Dia melirik Kevin yang terbaring dengan kepalanya yang dibalut.

“Apa yang sebenarnya terjadi. Kau bilang, yang terluka adalah orang yang menolongmu. Lalu kenapa Kevin yang terbaring disitu?”

“Kevin adalah orang yang menolongku. Kalau tidak ada dia, entah apa yang akan terjadi denganku.”

“Apa maksudmu? Kau mau dirampok?” tanya Jinki masih bingung.

“Ada3 orang yang ingin merampok hal terpenting sebagai seorang wanita.” Jelasku.

Jinki sudah mengerti dan mendekatiku dan menaruh telapak tanganya dipipiku. “Tapi mereka belum sempat mengapa-apakanmu, kan?”

Aku menggeleng sambil tersenyum. Dia ikut tersenyum lega. Dia mengambil tasku disofa.

“Aku pamit dulu, Cheondung-sshi! Tolong sampaikan salam dan ras terima kasihku padanya.” Pamitku lalu membungkuk singkat.

“Aku pulang dulu, Cheondung-ah!” pamitnya juga.

Aku berjalan terseok-seok menuju pintu. Jinki menoleh. “Kenapa kau jalan seperti itu? kakimu sakit?”

“Hanya tergores sedikit.”

Dia melihat pergelangan kakiku. Dia berjongkok dan memeriksanya. “Kau bilang sedikit? Sepatumu saja basah karena darah.”

Dia lalu memutar badannya menuju pintu. Tapi masih dengan posisi jongkok. “Cepat naik! Aku akan menggendongmu!”

“Tidak usah! Aku pasti berat. Lagi pula, aku masih bisa berjalan.”

“Cepat naik! Atau aku akan menyuruhmu pulang dengan berlari tanpa alas!”

Apa-apaan dia? Menyebalka! “Kalaupun aku menolak, kau tak akan tega.” Kataku sambil mendekatinya. Kasihan dia sudah berjongkok seperti itu.

aku memeluknya dari belakang, dia bangkit berdiri. Dia membawaku hingga ke mobil. Aku membuka pintu dan langsung masuk.

Jinki masuk, dan membawa mobil pulang ke rumah. Aku terlalu lelah hari ini, sehingga aku tertidur di mobil.

-=.=-

Aku membuka mataku. Ternyata aku sudah dikamarku dan hari sudah pagi. Aku bergegas bersiap masuk sekolah. Aku turun setelah siap dan aku bertemu Jinki didepan tangga.

“Kau sudah siap?” tanya Jinki agak bingung.

“Terimakasih sudah membawaku ke kamar semalam!”

“Gwaenchana.”

“Kau mau ikut sarapan?” tanyaku sambil duduk dimeja makan.

“Aku minta susu vanilla saja.”

Aku memberinya segelas susu. Aku mengambil roti dan mengolesinya dengan selai coklat putih. Aku menikmati rotiku, sementara Jinki membaca buku sambil sesekali meminum susunya.

Setelah selesai. Aku mengambil susu yang dibuat khusus untukku. Susu vanilla lemon. Aku sangat menyukainya. Susu vanilla dingin dengan tambahan perasan lemon. Aku menikmati susuku dimeja.

“Sudah,kan? Ayo berangkat!” ujar Jinki.

“Mana Yonghee?” tanyaku

“Dia selalu berangkat bersama Yoseob. Kau tak tahu itu?” tanya Jinki bingung padaku. Aku menggeleng.

Disekolah aku tak melihat Kevin dan Cheondung. Apa dia juga tidak masuk? Aku mencarinya dikelasnya yang kebutalan ada disebelah kelasku.

“Apa Cheondung masuk hari in?” tanyaku pada seorang murid. Dia hanya menggeleng lalu berlalu.

Aku kembali kekelasku. Aku sangat malas mengikuti pelajaran. Aku sangat sering melihat jam. Aku tidak sabar untuk pulang dan mengunjungi Kevin dirumah sakit.

-=.=-

Akhirnya bel pulang berbunyi. Aku segera memberesi bukuku dan segera berjalan keluar. Di gerrbang Jinki sudah menungguku. Aku masuk kedalam mobilnya. Saat keluar aku melihat Yonghee memasuki mobil Yoseob dengan Yoseob yang membukakan pintu untuknya.

“Kau mau pulang langsung?” tanya Jinki.

“Aku mau ke rumah sakit!” kataku sambil menatapnya. Kulihat dia menggenggam kemudi terlalu kuat hingga tangannya berubah putih.

“Kenapa dengan tanganmu?” tanyaku sedikit khawatir.

“Aniya.” Ujarnya lalu mengendurkan genggamannya. “Kakiku sedikit sakit tadi. Kita mau kerumah sakit Kevin, ya?” tanyanya mengalihkan pembicaraan. Aku hanya mengagguk.

-=.=-

Aku memasuki ruangan itu. terlihatKevindan Cheondung sedang beres-beres. Kulihat Kevin juga sudah menggunakan pakaian bebas.

“Anyeonghaseyo!” sapaku. Mereka menoleh padaku. Kulihat mereka sedikit kaget. Aku hanya tersenyum menanggapinya. “Kau sudah boleh pulang?”

“Ne.” ujar Kevin singkat.

“Kevin-ah, aku ingin mengucapkan rasa terimakasihku. Entah apa yang terjadi kalau kau tidak ada.”

“Gwaenchana.”

Aku mengambil secarik kertas. Aku menyerahkannya pada Kevin. Aku berjalan dengan menyeret kaki kiriku.

“Kakimu terluka?” tanyanya terkesan khawatir.

“Waktu itu hanya tergores. Ini catatan tugas yang hari ini diberikan.”

“kenapa kau repot-repot?”

“Sebagai tanda terimakasihku dan permintaan maafku.”

“Keurom, gomapta!” aku hanya mengangguk.

“Gomawo! Kau sudah menyelamatkan Nichan!” Kevin hanya mengangguk menanggapi omongan Jinki.

Mereka melanjutkan merapikan pakaian. Jinki membantu membawakan tasKevin. Sementara Cheondung memapah Kevin.

Setelah sampai parkiran, Jinki memasukan tas di jok belakang. Kevin sudah ada dikursi penumpang dan Cheondung sudah siap dibangku kemudi.

“Apa besok kau berangkat sekolah?” tanyaku. Dia mengangguk. Aku tersenyum. “Keurom, jalga!”

Aku dan Jinki kembali kedalam mobil. “Kau menyukainya, huh?” tanya Jinki padaku setelah mobil mulai menjauhi rumah sakit.

“Apa maksudmu?” tanyaku pura-pura tidak mengerti.

“Kotjima! Kau sangat perhatian padanya. Padahal kau tipe orang yang cukup tak peduli sesama!”

“Orang bisa berubah Jinki-ah!” ujarku menyangkal. Jinki hanya tersenyum.

-=.=-

Esoknya aku tak melihat Kevin. Dia tidak masuk hari ini. Apa dia sakit lagi? Tapi kemarin dia terlihat baik-baik saja. Semoga dia besok masuk.

-=.=-

Sudah 4 hari Kevin tidak masuk. Jujur aku khawatir. Kucoba mencari kabar melalui Cheondung. Tapi setiap aku tanya masalah ini, jawabanya selalu sama.

‘apa urusanmu?’

Dia selalu menjawab itu. jujur aku sedikit kesal padanya. Ingin aku memukul kepalanya agar dia mau mengatakan hal yang sesungguhnya padaku.

Aku sudah tidak tahan lagi. Kemudian aku menanyakan alamat Kevin pada sekertaris kelas yang menyimpan bank data.

Aku mendapatkan alamat itu akhirnya. Sepulang sekolah aku akan menjenguknya. tapi aku ingat, sepulang sekolah aku ada pelatihan untuk lomba olimpiade fisika. Jam 4 sepulang pelatihan aku akan menjenguknya.

Sepulang pelatihan aku bersiap untuk ke rumah Kevin. Tapi aku bertemu dengan Jinki di koridor didepan ruang pelatihan olimpiade matematika.

“Sudah mau pulang? Ayo, aku antar!”

“Aniya! Aku mau kerumah Kevin!”

“Untuk apa?”

“Dia sudah tidak masuk 4 hari.”

“Keurom, apa hubungannya denganmu?”

“Apa kau ketularan Cheondung? Dia selalu mengatakan itu padaku!” ujarku sedikit kesal padanya. Dia hanya terkekeh.

“Kau tahu, kan? Kevin terluka karena aku. Kalau kepalanya sakit, aku jadi merasa bersalah.”

“Lebih baik pulang dulu, mandi, dan makan! Tidak sopan, kalau orang tua Kevin melihatmu datang masih dengan seragam.”

“Baiklah! Ayo pulang!”

-=.=-

Jinki mengantarku ke rumah Kevin. Tapi dia tidak ikut masuk ke dalam. “Kau jemput aku jam setengah delapan, ya!” Jinki hanya mengangguk lalu melajukan mobilnya menjauhi pekarangan rumah Kevin.

Aku menatap rumah yang cukup megah tanpa pagar itu. aku mendekatinya dan mengetuk pintunya.

Saat hendak mengetuk, aku baru sadar, bila pintu itu tidak tertutup sempurna. Kemudian terdengar suara keributan. Aku membuka pintu, dan melihat pemandangan tak mengenakan.

“KAU PIKIR INI HANYA TUGSAKU??! KAU JUGABERTUGASMELAKUAKNNYA‼”

“AKUSUDAHLELAH! KENAPA KAU MENAMBAH BEBAN PIKIRANKU??”

“KAUTAKPERNAHMEMBERIKANPERHATIAN PADANYA‼”

“KAUPIKIRKAU MELAKUKANNYA? KAU SAMA SEPERTIKU‼”

“SETIDAKNYAWAKTUBAYIAKUMEMBERIPERHATIANKHUSUS‼”

“ITUDULU!AKUJUGA‼SEKARANGKAUSIBUKDENGANPEKERJAANMU‼”

“KAUSELALUMEMIKIRAN BISNISMU‼”

“AKUBERBISNIS‼SEMENTARAKAUASIKDENGANBOSMUITU‼”

“DIAPENGERTIANPADAKU‼TAKSEPERTIKAU YANG EGOISDANACUH‼”

Kemudian pria itu meraih vas bunga dan membantingnya. Aku sedikit kaget. Wanita dihadapannya menangis lebih keras.

Aku melihat sekeliling. Ditangga aku melihat Kevin melihat kedua orang itu dengan sayu. Sedih dan marah adalah ekspresi yang jelas terbaca.

Pria yang tadi membanting vas, berjalan kearahku. “Neo nuguya?” tanyanya. Aku hendak menjawab, tapi dia mengibaskan tangannya dan berlalu.

Aku menatap Kevin yang tengah menatapku. Dia beranjak mendekatiku, dan menariku keluar. Aku berusaha melihat wanita itu yang kini beranjak menuju kamarnya. Tapi Kevin tetap menarikku keluar.

Dia melepaskan genggamannya. Dia menatapku marah. Dia melipat tangannya di depan dadanya.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanyanya marah.

“Aku hanya ingin menjengukmu. Kau sudah 4 hari tidak masuk.” Jelasku seadanya. Aku melihat wanita yang menangis tadi keluar membawa sebuah koper.

Kevin menoleh mengikuti arah pandangku. Wanita itu berhenti sejenak dan menatap Kevin yang melihatnya penuh harap. Tapi wanita itu mengalihkan pandangannya dan pergi menggunakan mobilnya.

Kevin mengacak-acak rambutnya. Dia berjalan masuk kedalam rumah. Aku mengikutinya. Dia duduk disofa ruang tamu. Tapi aku hanya berdiri menatapnya.

Dia memejamkan matanya. Wajahnya terlihat pucat dan keringat dingin keluar dari dahinya. Aku mendekatinya dan menempelkan telapak tanganku didahinya. Badannya panas sekali.

“Kenapa kau tidak bilang, kalau sakit?” tanyaku khawatir.

“Apa urusanmu?” tanyanya.

“Jinja! Aku muak mendengar kata itu!” kataku kesal padanya. Sekarang dia ikut berkata seperti itu.

“Apa kau punya jeruk nipis?” tanyaku. Dia hanya mengangguk. Aku beranjak menuju dapur. Aku membuatkan jus jeruk nipis dan air kompres untuknya. Aku kembali dan memberikan jus itu.

“Minumlah!” kataku dia menurutiku dan meminumnya. Aku memberikan sapu tangan yang sudah kubasahi dengan air jeruk nipis. Aku menaruhnya didahinya. Aku memberikan satu lagi dan kutaruh di hidungnya.

Aku kembali kedapur dan membuatkannya samgyetang. Cukup mudah membuatnya. Setelah jadi aku kembali dan memberikan samgyetang ke Kevin.

“Ini! Makanlah!” Kevin melepas semua kompresannya.

“Igo mwoya?”

“Samgyetang.” Dia hanya mangangguk-angguk. Dia mangambil mangkok itu. “Kenapa kau masih menaruh ginsengnya?”

“Kau masih sakit. Supaya gingsengnya bisa membuatmu lebih sehat.” Jelasku. “kau juga tak perlu makan nasi. Aku memasukan banyak daging ayam.” Tambahku. Sekitar 30 menit, dia sudah menghabiskan makanannya.

“Sudah jam tujuh lebihlima. Aku akan pulang jam setengah delapan.” Ujarku setelah melihat jam. “Kau sudah membaik, kan?”

“Berkat kau. Gomawoyo.” Ujarnya sambil berdiri. “Kita kedepan saja.”

Kami duduk di taman depan rumahKevin. “Kenapa kau mau menjengukku?” tanyanya.

“Aku khwair bila kepalamu sakit. Luka itu, kan, karena aku.”

“Hanya itu?”

“Lalu apa lagi?”

“Kau menjenguk bukan karena khawatir atau peduli. Hanya karena rasa bersalahmu.” Ujarnya. Aku sedikit kaget.

“Memang tak ada yang peduli padaku. Orang tuaku saja tak peduli padaku.” Ujarnya. Aku berdiri kesal menatapnya.

“Siapa yang tak peduli? Kau anggap apa Cheondung yang selalu menemanimu?” dia menatapku. “Dia peduli padamu.” Dia menundukan kepalanya.

“Aku juga peduli padamu…”

Advertisements