Tags

,

“Tapi aku jatuh cinta padanya!” kataKevinsambil menangis. Sama seperti hatiku yang mengeluarkan tangisan.

Kalimat itu bagai racun untukku. Serasa aku ingin mati. Walau aku tak tahu siapa yeoja yang ia maksudkan.

Tapi itu cukup. Tak perlu aku tahu siapa. Aku sudah cukup mendengar dia mencintai seorang gadis yang ternyata bukan aku.

Ku coba menahan tangis mataku. Kugenggam tangaku kuat-kuat, mencegah airmata ini jatuh.

KiniKevinberada di pelukan Cheondung sambil menangis tersedu. Aku sudah tak sanggup lagi, dan aku memilih pulang.

Aku berlari kecil menuju rumah sambil terisak. Entah kenapa dengan diriku ini. Sudah kucoba berulang kali, tapi tangsiku tetap tak tertahan.

Dankini aku baru sadar kalau aku menyukainya. Aku menyukaiKevin.Dankuakui aku cemburu pada gadis itu.

Apa nasibku memang buruk? Untuk pertama kalinya jatuh cinta dan langsung merasakan patah hati.

Aku terduduk di trotoar pinggir jalan. Padahal tinggal150 meterlagi aku sudah sampai rumah. Tapi kakiku sudah tak sanggup lagi untuk berjalan.

Rasanya aku sudah tidak memiliki tenaga cadangan. Kucoba untuk berdiri, tapi aku kembali terduduk. Aku menyerah. Kemudian aku duduk  sambil mengatur perasaanku.

Sebuah motor sport berwarna hitam berhenti didepanku. Aku mendongak. Aku tidak bisa melihat siapa namja yang mengendarai motor itu.

Pengendara itu membuka helmnya. Aku terperangah.TernyataJinki. Dia tersenyum. Aku ingin tersenyum tapi tidak bisa.

Diapun turun dan berjongkok didepanku. “Kau kenapa? Kau habis menangis?” tanyanya panik. Aku hanya menggeleng lemah.

“Ayo! Kuantar kau pulang!” serunya. Aku pulang dengannya. Dia menuntunku hingga masuk ke ruang keluarga.

Aku memberikan belanjaanku ke eomma.Danberanjak kekamar. “Kau tidak mau makan?”

“Aku sudah kenyang.” Ujarku lemah. Lalu beranjak kekamar. “Tapi kau belum makan, Nichan-ah!”

Aku langsung tiduran dikasurku. Aku belum makan tapi sudah kenyang. Kenyang akan kenyataan pahit yang aku tahu barusan.

Sarang cham appeuda. Ne, pajo. Cinta memang sangat menyakitkan dan menakutkan. Tanpa sadar aku menangis. Apa dia memang sudah menguasai hatiku? Aku menggeleng-gelengkan kepalaku kuat-kuat.

“Lupakan dia! Lupakan!” seruku pada diriku sendiri. Tapi tetap saja aku masih memikirkannya.

Tok…

Jendela kamarku dilempar batu. Pasti dia! Kenapa tidak mengetuk saja? Kebiasaanya tidak pernah hilang!

Aku berjalan menuju jendela kamar. “Ket…”

“Ketuk jendela saja!” ujarnya. Aku hanya menatapnya. “Itu yang mau kau katakan,kan?” tanyanya. Aku hanya mngangguk singkat.

“Kau kenapa, Nichan-ah?” tanyanya. Aku hanya menggeleng lemah. “Tak biasanya kau seperti ini. Lesu tidak bertenaga. Biasanya kaukanceria, cerewet, …”

“Apa kau pernah patah hati?” tanyaku memutus perkataannya. Dia sedikit kaget. “Kau sedang patah hati?” tanyanya ragu-ragu.

Aku hanya mengangkat bahu. Dia terlihat berpikir. Aku terus memerhatikannya. Tiba-tiba wajahnya menjadi cerah.

Aku menatapnya bingung. “Kenapa kau malah terlihat bahagia?” tanyaku kesal. Dia hanya senyum-senyum nggak jelas.

Aku melihat interior kamarnya melalui jendela. Aku melihat ada grafity disana.  “Saranghaeyo, Park…”

“Kau membaca apa?” tanyanya takut.

“Grafity itu! minggir aku tidak bisa melihatnya sampai selesai!” tukasku. Dia terkaget dan langsung menutup setengah jendela dengan gordyn. Jadilah aku tidak bisa melihat grafity itu.

“Kau menyebalkan!” ujarku. Jinki hanya menjulurkan lidahnya.

“Jinki-ah!” panggilku. Dia menoleh. “Keurom, yeoja yang kau sukai itu,marganyaPark? Keuraeyo?” tanyaku.

“o” jawabnya singkat. “Nichan-ah! Lagu yang aku ciptakan. Otthe?”

“Chuahe. Neomu chuahae. Aku sangat suka instrument dan liriknya. Ngomong-ngomong apa judulnya?”

“All my heart.”

“Jinsim? Ah, johta!”

“Jinki-ah! Waktunya makan malam!Ayoturun!” suruhSunghyoOppa. Dia menatap kearahku.

“Anyeong, Oppa!Lamatidakbertemu!” sapaku.

“Ne, Nichan-ah! Disini sepi tanpamu! Aku senang kau kembali! Jadi tidak ada yang kesepian!” ujarnya sambil melirik kearah Jinki.

“Siapa yang kesepian?” tanyaku.

“Hyung, kau turun sajalah dulu! Aku turun 1 menit lagi!”

“Baiklah! Nichan-ah, sampai jumpa lain kali!” katanya lalu keluar dari kamar Jinki. Aku tersenyum sambil menangguk.

“Kakakmu tidak berubah, ya?” tanyaku.

“Nothing’s changing.” Jawabnya.

“Salah. Pasti ada yang berubah.” Kataku. Dia menatapku bingung. “Apa?”

“Waktu. Waktu pasti berubah,kan?” dia hanya terkekeh.

“Kau juga tidak berubah. Masih kekanakan tapi juga dewasa.” Ujarnya.

“Sudahlah, kau turun saja!NantiSunghyoOppamarah.Sana!”

“Kau tidurlah! Matamu merah begitu. Pasti lelah dan mengantuk. Tidur nyenyak ya! Jalja!” ujarnya sambil tersenyum. Aku membalas senyumnya.

Dia menutup jendelanya. Begitu pula aku. Setelahnya aku tiduran di kasurku. Menjernihkan pikiranku.

Tapi tak berapa lama tetap saja wajahKevinmuncul di kepalaku. Aku melihat sekeliling kamarku. Ku berjalan mendekati meja belajar. Surfing sajalah daripada memikirkanKevinterus menerus.

Akhirnya aku surfing hingga aku tertidur dimeja dengan PC yang masih menyala.

-=.=-

Aku merasakan badanku digerakkan. Aku mencoba membuka mataku. Aku mencari orang yang sedang mengganggu tidurku.

Aku melihat Jinki sedang duduk di kasurku dan memamakai seragam. Aku menatapnya bengis.

“Kau kenapa membangunkanku?”

“Aku mau menjemputmu! Lihat jam berapa sekarang!” aku melihat jam tanganku yang menunjukan 07.15.

“Ya! Otthe? Aku terlambat ini!” ucapku sambil lompat-lompat kecil karena panik.

“Mandilah! Cepat siap-siap! Aku tunggu dibawah!” ujarnya lalu berjalan keluar.

-=.=-

Aku turun tangga belum dengan sepatu dan rambut berantakan. Aku menuju ruang makan. Ada Jinki yang sedang membaca buku.

“Kau cepat siapkan mobil!” ujarku. “Bawa ini juga!” aku menyerahkan sepasang sepatu putihku.

Jinki hanya melongo. “Cepat!” perintahku dari tangga. Aku mengambil tas dan memasukan buku pelajaranku.

Aku turun kebawah dan mengambil roti dan susu vanilla cair. Aku mencium pipi eomma. “Aku berangkat, ya!”

Aku segera masuk mobil dan Jinki langsung melajukan mobil menuju sekolah. Aku mengatur nafasku

Setelah itu aku memakai sepatu.Danmenata rambut setelah selesai, aku memakan rotiku. Terakhir meminum susu vanilla.

“Kau kacau sekali pagi ini.”

“Aku ketiduran tadi malam.”

“Sudah kubilang langsung tidur. Kenapa malah surfing?”

“Adaalasan yang aku tidak ingin kau dan yang lainnya tahu.” Jawabku sambil meminum susu.

“Kau mau menghabiskan 1L susu sendiri?”

“Na nagta aniya! Untuk kita berdua. Kau mau?” kataku lalu menyerakan kotak susu itu ke Jinki. “Gomawo.”

“Tadi malam kelihatannya kau menjadi netizen.” Katanya setelah meminum beberapa teguk susu. Aku terkekeh.

“Kali ini apa? K.R.Y?”

Aku kaget. Bagaimana dia bisa tahu kalau aku suka dengan K.R.Y “Bagaimana kau tahu itu?”

“Ingat tidak? Dulu, saat di bandara, aku menyuruhmu mendengarkan lagunya yang berjudul ‘The One I Love’.Danmelihat raut wajahmu saat mendengarnya, aku tahu, kau jatuh cinta dengan grup itu.”

“Kau berlebihan, Jinki-ah!”

“Siapa biasmu?” tanyanya antusias. Aku hendak menjawab, tapi ia menyelaku. “Chankaman. Biar kutebak. Pasti leadernya,kan?Biasmu Yesung,kan?”

“YA! Aku tidak pernah cerita padamu!”

“Aku sudah lama mengenalmu!Dansetiap mendengar lagu dari idol-group lain, kau selalutanyasiapa main vocalnya.Dancukup dengan itu untukku membuat kesimpulan bahwa biasmu adalah Yesung.”

Kami sudah sampai di halaman dan menuju lapangan parkir. Aku mengambil tasku dan Jinki.

Setelah turun aku memberikan tas Jinki padanya. “Gomawo.” Ujarnya sambil menepuk kepalaku pelan.

Aku tersenyum. Tak sengaja aku melihatKevinyang juga sedang menatapku dengan sayu.

Aku menghindari kontak mata dengannya dan beralih pada Jinki. Aku melihat seragamnya.

“Kurasa vest rajutan lebih cocok untukmu daripada vest kain ini.” Ujarku sambil merapikan seragamnya. “Dancoba kau kancingkan kancing paling atas jas ini.”

Aku mundur 2 langkah dan mengamatinya. “Terlihat lebih baik,kan?”

“Kalau kau bilang bagus, berarti memang bagus.”

Aku merangkul lengannya. Dia terlihat salting sebentar, tapi kembali seperti biasa. “Secara tak langsung kau memuji selera fashionku.”

“Memang bagus, kok.”

“Gomawo.” Ucapku sambil tersenyum senang.Danberjalan menuju kelas masih dengan tangan Jinki yang aku rangkul.

~

Melihat orang yang dicintai pergi dan tersenyum untuk orang lain, rasanya sangat menyakitkan.

Itulah yang namja itu rasakan. Melihat yeoja itu turun dari mobil, membetulkan seragamnya, dan menggelayut manja di lengan namja lain, sangat ingin rasanya dia merasakannya.

Saat dia menatap yeoja itu sayu, sangat ia harapkan yeoja itu tersenyum padanya. Tapi malah yeoja itu menghindarinya.

Hatinya menyeruak, merintih kesakitan. Matanya meneteskan airmata kepedihan yang baru ia rasakan pertama kali.

Sahabatnya menepuk pundaknya. Mencoba menghiburnya.

~

Hari ini kelas Nichan ada pelajaran olahraga. Nichan sudah menggati pakaiannya menjadi seragam olahraga.

“Baik. Materi kita kali ini adalah lari.” Kata Ma sonsaengnim. Nichan menghela nafas pasrah. Ia paling benci namanya olahraga apalagi lari kecuali berenang.

“Semua membentuk barisan!” semuanya langsung membentuk barisan dan bersiap. Aku memilih tempat yang paling depan.

“Rutenya sperti biasa. Tinggal ikuti garis putih ini saja!” ujarnya lalu menunjuk garis putih yang ada di bawah.

“Hana… Dul… Set… GO‼”

Semua langsung berlari. Begitu juga aku. Dalam250 meteraku sudah mulai kelelahan. Aku menurunkan kecepatanku. Aku hanya berlari kecil dan kini berada ditengah-tengah barisan.

Kemudian rutenya melewati bangunan yang direnovasi. Aku mempercepat lariku. Tapi tetap saja, debunya tak dapat dihindari.

Hasilnya aku berlari sambil bersin bersin. Karena tidak memperhatikan jalan, aku jatuh hingga terguling. Siku dan lututku terluka. Aku mencoba berdiri. Melawan rasa perih dari lukaku, aku berjalan terseok-seok.

Seseorang manarik lenganku dan menuntunku. Aku menoleh. Ternyata diaKevin. Jantungku langsung berdetak lebih cepat. Dalam jarak sedekat ini, membuat jnatungku ingin meledak rasanya.

Aku melepasnya. “Aku bisa sendiri.”

Dia meraih lenganku lagi. “Ayolah! Kau luka begini dan wajahmu sudah pucat! Rute kedepan banyak debu. Akan membuat infeksi. Aku akan mengantarmu ke UKS‼”

Di UKSdia membersihkan lukaku dan memberi obat. Tak lupa dia menutup lukaku dengan plester. Dia juga memberiku teh hangat.

Kemudian dia menuntunku kembali ke lapangan.

“Kenapa kau bisa jatuh?” tanyanya.

“Aku tidak memperhatikan jalan.”

“Mana mungkin? 95% waktu saat kita berlari, fokus kita pasti pada arenanya.”

“Aku terlalu banyak bersin.”

“Bersin?”tanyaKevintak percaya. Aku mengangguk. “HAHAHAHA” lalu dia tertawa. Aku memanyunkan bibirku kesal.

Dia mulai berhenti tertawa. “Kau lucu sekali saat ngambek.” Ujarnya sambil mencubit pipiku.

Aku merasakan mukaku memanas. Aku memalingkan wajahku yang sepertinya sudah sangat semerah darah.

Aku kembali memandang wajahnya. Dia juga terlihat salah tingkah. Dia melepas gandengannya. Aku oleng dan hampir terjatuh lagi. Tapi dia segera menangkapku. “Mianhae.”

Aku mengangguk singkat. Dia kembali menuntunku. “Kau kenapa bisa bersin-bersin di saat musim gugur?”

“Aku alergi debu. Tadi aku melewati gedung yang masih direnovasi. Banyak debu disana.Danaku mulai bersin. Sudah karena bersin, tidak fokus, aku tidak bisa lari cepat jarak jauh, ditambah keseimbanganku yang buruk. Jatuhlah aku.”

Kamipun sampai di lapangan. Ma sonsaengnim mengamatiku. “Mwohaeyo?”

“Aku tadi jatuh.” Jawabku takut-takut. Ma sonsaengnim beralih padaKevin. “Neo?”

“Aku membantunya membersihkan lukanya dan memberi pertolongan pertama.” Jawabnya santai.

“Dia bisa melakukannya sendiri. Harusnya kau tetap berlari.” Serunya marah.

“Dia murid baru, jadi tidak tahu dimana letak UKS. Lagipula dia tidak bisa berjalan dengan baik tadi.”

“Kau juga. Kenapa bisa jatuh?” bentaknya padaku.

“Ku alergi debu. Jadi aku bersin-bersin. Aku jadi tidak memperhatikan jalan. Makanya aku jatuh.” Jelasku seadanya.

“Keseimbanganmu buruk.” Remehnya.

“Ne. keseimbanganku memang buruk. Begitu juga staminaku. Keduanya sangat-sangat buruk.” Terangku sedikit emosi.

“Baiklah. Selama pelajaran olahraga, aku akan memberikan kau sedikit keringanan. Tapi kau akan mendapat tugas tambahan.”

“Baik.”

“Keurom, kalian duduk dipinggir saja.DanNichansetelah ini kau keruanganku dan ambil tugas tambahan.”

Kevinmenuntunku ke pinggir lapangan. “Kau sabar, ya! Ma sonsaengnim memang seperti itu di awal semester. Kelamaan dia akan baik.”

“Begitukah?”

“Eung.”

“Gomawo karena sudah membantuku.”

“Gwaenchana. Bukannya teman harus saling membantu?” tanyanya retoris sambil tersenyum.

Senyum yang sama saat aku pertama melihatnya. Aku ikut tersenyum bahagia karena dia tersenyum lagi kepadaku.

“Tapi aku jatuh cinta padanya!”

Aku teringat kalimat itu. aku tersadar, dan aku menghentikan senyumanku dan menjaga jarak dengannya.

“Waeyo?” tanyanya sedikit khwatir.

“Gwaenchana.”

Setelahnya tak ada lagi percakapan yang terjadi. Tapi aku sesekali melirik kearahnya hingga semuanya datang.

-=.=-

“Kau kenapa bisa seperti ini?”tanyaJinki panik. Sepulang sekolah dia langsung datang kekelasku.

“Gwaenchanayo. Aku hanya jatuh saat lari tadi.”

Dia melihat-lihat lututku yang terluka. Aku melihat sekeliling kelasku. Banyak teman kelasku yang melihat kearah kami dan berbisik-bisik. Mereka pasti semakin yakin kalau kami pacaran.

Aku melirik kearahKevinyang sedang mendengarkan lagu. Disampingnya ada Cheondung berdiri dengan melipat tangannya didada sambil memandangi kami.

Aku menjauhkan tangannya dari kakiku pelan. “Aku tak apa. Aku merasa tak nyaman.”

“WAE?? Anchuahaeyo?”

“Bukannya tidak suka. Kau tidak melihat kalau semua orang melihat kita?” kataku berbisik.

Dia berdiri. Memasukan telapak tangannya kesaku celananya. “Keurom, aku akan mengantarmu pulang.”

“Aku tidak bisa, aku ada urusan penting.”

“Aku akan mengantarmu.”

“Aniya! Kau pulang saja! Memang kau tidak punya pekerjaan lain? Aku ingin mandiri.”

“Tapi, keadaanmu seperti ini. Apa kau yakin bisa melakukannya sendiri?”

“Aku bisa, Jinki-ah‼” ujarku sambil mencubit kedua pipinya gemas. Dia mengelus pipinya.

“Araso. Kalau kau minta jemput, telepon saja. Nanti jam 8, jendelanya…”

“Akan aku buka! Kau selalu  melempar batu. Kau mau kacanya pecah?”

“Arrayo! Nanti jam 8, ya!”

“Jalga!”

Aku membereskan bukuku lalu melangkah keluar.

~

Namja itu bersiap untuk pelaran olahraganya. Dia melihat kearah yeoja dambaan hatinya itu.

Dia mengambil posisi paling belakang, supaya bisa mengamati yeojanya itu. Diawal rute, yeoja itu memelankan kecepatannya. Namja itu sedikit khawatir. Dan mencoba menyamakan jarak.

Saat melewati area renovasi, dari sudut pandangan namja itu, yeoja itu terlihat seperti mengangguk-angguk. Dia sedikit tertawa melihatnya.

Tak berapa lama, ada suara dentuman. Yeoja itu jatuh hingga berguling-guling. Rasa bersalah dan khawatir langsung menyelimutinya.

Namja itu mendekatinya dan membantunya berdiri. Dia juga membantunya membersihkan dan mengobati lukanya.

Walau dia khawatir, setidaknya dia bisa mengenal yeoja itu lebih jauh. Dan saat yeoja itu dibentak oleh sonsaengnim, ingin dia melawan. Tapi dia tidak bisa karena dia takut akan memperburuk keadaan.

Dia senang, yeoja itu tersenyum, tapi detik berikutnya ia mengatupkan bibirnya dan berhenti tersenyum.

‘Apa karena dia ingat bahwa ia punya kekasih, makanya ia menjaga jarak denganku?’ itu yang ada dipikirannya.

Sepulang sekolah, melihat yeoja itu dikhwatirkan oleh namja yang disinyalir sebagai kekasihnya, pasti sangatlah membuat hatinya sakit.

Berpura-pura memakai earphone, tapi tak ada suaranya sama sekali, hanya untuk membuat kesan, bahwa ia tidak mengurusinya.

Namja itu dan yeojanya membuat janji jam 8 malam. Dia semakin merasakan sakit hati mengetahaui mereka akan ‘kencan’.

Sahabatnya yang ada disampingnya menepuk bahunya. “Kau lihat sendiri, kan? Semua yang mereka lakukan, sangat mirip dengan orang yang berkencan.”

Dia menundukan wajahnya sedih. Tapi sahabatnya tetap melanjutkan perkataanya. “Kau harus melupakan perasaanmu padanya. Hanya akan membuatmu sakit.”

“Malja.” Dia melepas pegangan sahabatnya itu. lalu berdiri. “Aku harus memastikan kalau dia baik-baik saja, dan selamat sampai kerumah.”

‘Walau dia memiliki kekasih. Tapi selama dia belum mengatakannya langsung, aku tak akan menganggapnya dia sudah berkencan dengan namja lain.

Keuraedo, aku akan mencintainya sampai kapanpun tak peduli dalam keadaan dan situasi apapun.’

T.B.C

Advertisements