Tags

,

 

Setekah dari kantin, kami langsung berpisah menuju kelas masing-masing. Aku berjalan bersama Jinki sementara Yonghee bersama temannya yang lain karena memang berbeda koridor dari kelasku.

Aku berjalan beriringan dengan Jinki. Kami ngobrol dan karena tak lihat jalan aku menanbrak orang didepanku. Untung Jinki menahan tubuhku supaya tak bertemu dengan lantai.

Dan ternyata orang yang kutabrak adalah Kevin. Aku kaget, dia juga kaget. “Mianhae, jalmot hettoyo!” seruku.

“Kau memang salah. Kalau pacaran yang bener!” serunya menahan marah. Jinki yang malah marah karena Kevin juga menganggap aku salah.

“Dia memang salah. Tapi dia tidak sengaja. Lagipula, kalau mau ngomong jangan asal. Siapa yang pacaran?” Jinki emosi. Kevin terlihat kaget. Tapi ekspresi senang juga ada diraut wajahnya. Tapi dengan cepat dia merubah ekspresi wajahnya seperti semula.

“Siapa yang percaya kalau kalian tidak pacaran?” kali ini ada namja kurus tinggi yang berbicara sambil merangkul pundak Kevin.

“Kau tak perlu ikut campur Cheondung-ah!” ujar Jinki.

“Kau jadi pembela pacarmu, masa sahabatku sendiri tak punya pembela? Aku akan jadi pembelanya.”

“Aku bukan pacarnya!” ucapku emosi juga.

“Lalu kenapa kalian bermesraan dikantin tadi? Pake suap-suapan segala?” ujar Cheondung.

“Kami itu bersahabat dari kecil. Dan 5 tahun lalu aku pindah keluar negeri. Baru seminggu yang lalu aku tiba di Korea. Apa salahnya kalau aku menyupi sahabat yang sudah kuanggap kakakku sendiri?” jelasku. Mereka berdua terlihat shock.

“Jongmal?” tanya Cheondung tak percaya.

“I am not a liar.” Tegasku.

“Tapi berita kalian berpacaran sudah tesebar.LeeJinkimurid terpintar dan popular diSusangjaHigh Schoolberpacaran dengan Park Nichan murid pindahan yang juga ace dariBevelonceHigh School.” Ujar Cheondung tanpa rasa bersalah. Aku dan Jinki hanya menghela nafas berat.

– –

Setelah pertikaian kecil tadi, kami berempat masuk kekelas masing-masing. Tak lama pelajaran dilanjutkan kembali. Hingga sudah waktunya istirahat jam makan siang.

Aku tidak kekantin lagi karena di istirahat sebelumnya aku sudah makan. Jadilah aku pergi keperpustakaan. Tapi aku tak tahu dimana letaknya. Bertanya pada Jinki sajalah. Tapi nanti gosipnya membesar. Kalau bertanya pada Yonghee aku tak tahu kelasnya. Otthe?

“Is anything wrong?” tanya seseorang. Aku menoleh. Ternyata Kevin yang berbicara.

“Ne?”

“You’re seems confuse? What’s wrong?” kenapa dia terus pake bahasa inggris? Mau pamer? Aku juga bisa berbahasa inggris dengan lancar tahu.

“I want go to the library, but I don’t know where is it. Can you tell me?” Jawabku dengan berbahasa inggris.

“The second floor. Right beside the ladder.” Ucapnya sambil menunjuk langit-langit.

“Thank for the information.”

“Anytime.” Jawabnya sambil tersenyum. Aku berdiri lalu melambaikan tanganku padanya dan langsung pergi menuju perpustakaan.

Kemudian aku pergi kelantai 2. Ketengokan kepala ke kanan dan ke kiri. Tapi tak ada perpustakaan. Saat aku balik badan aku menabrak orang.

“Mianhae.” Ucapku. Kudongakan kepalaku.TernyataJinki.

“Kenapa kau ada disini, Nichan-ah? Cari aku, ya?”ucapnya pede.

“Aniyo. Untuk apa aku mencarimu? Aku mencari perpustakaan. Kau kenapa disini? Mengikutiku, ya?” tanyaku jahil. Dia terlihat gugup.

“Ani. Kelasku disitu.” Jawabnya sambil menunjuk kelas disebelah kananku.

“kau mau ke perpustakaan kenapa disini?”

“Kata Kevin ada disebelah kanan tangga. Tapi yang ada malah tembok.” Jawabku kesal.

“Yang dibilang Kevin itu benar. Tapi tangga yang ada ujung koridor. Kau mau kesana? Bareng aku aja.” Aku hanya mengangguk. Aku berjalan disampingnya. Tapi banyak anak dari kelas lain memandangi kami dan berbisik-bisik.

‘Itu yang namanya Park Nichan?’; ‘Apa hebatnya?’; ‘KokJinkimau sama dia, sih?’; dan beberapa yang lainnya. Aku hanya bisa menghela nafas. Tapi apa Jinki setenar itu?

Kamipun sampai diperpustakaan. Aku langsung mencari rak fiksi tak tahu dengan Jinki. Setelah mendapat buku yang cukup bagus, aku duduk didekat jendela. Aku membaca sambil mendengarkan lagu dari iPodku.

Kemudian ada orang yang duduk disebelahku. Jinki pikirku. Kuteruskan membaca saja. Hingga Jinki duduk didepanku. Lho yang disampingku siapa? Kutengokan kepalaku.

Yang benar saja? Kevin duduk disebelahku? Kupalingkan wajahku menuju jendela. Kemudian aku tersenyum kegirangan sambil mencoba mengkontrol emosiku.

Aku melirik kearahnya lagi. Kulihat buku yang dia baca. ‘The meaning of Family’. Kenapa dia membaca buku seperti itu? apa dia mau jadi psikolog?

“Wae?” tanyanya.

“Bukumu… kau mau jadi psikolog?” tanyaku begitu saja. Dia terlihat sedikit kaget. Dia terlihat kaget dan langsung pergi.

Kenapa dia? Apa ada yang salah dengan perkataanku?KulirikJinki. Dia sedang membaca buku tentang musik. Kurasa dia memang tertarik dengan dunia musik.

“Jinki-ah! Aku penasaran dengan lagumu. Apa sudah selesai?”

“Sudah.”

“Aku boleh dengar?” tanyaku karena aku memang penasaran dengan lagu buatannya. Dia terlihat berpikir.

“Ayolah! Yeojanya sedikit mirip dengan aku. Mungkin aku bisa memberi komentar atau saran.” Bujukku.

“Baiklah. 10 menit setelah pulang sekolah. Aku tunggu!” ucapnya lalu pergi keluar dari perpustakaan. Kenapa dia juga pergi?

“Jinki-ah! Tunggu aku!”

– –

Aku berjalan kekelas sendiri. Aku duduk ditempatku. Kevin belum masuk kedalam kelas. Kemana dia kira-kira. Apa dia bermain basket lagi? Aku hendak menyusulnya, tapi bel sudah berbunyi.

Tak lama Kevin masuk. Aku tersenyum menyapa padanya. Tapi dia hanya melirik sekilas kearahku. Aku sedih karena dia tak meresponku.

Akhirnya aku mengikuti pelajaran dengan tidak bersemangat. Hingga terakhir adalah pelajaran pengembangan diri / BK kalau di Jakarta. Setiap orang akan diberi pertanyaan dan harus menjawab.

Pertanyaan Kevin adalah ‘Menurutmu hal apa yang paling penting?’ dan jawaban sangat tak terduga. Aku pikir dia akan menjawab pengetahuan atau semacamnya. Tapi dia justru menjawab ‘Musik’

“Terakhir, Park Nichan siswi baru. Silahkan maju!” panggil Baek Sonsaengnim. Aku maju kedepan. Dia melihatku dari atas hingga bawah. “pertanyaanmu adalah: Apa arti keluarga dan hal terindah dalam keluargamu hingga saat ini?”

Aku mengambil nafas dalam. “menurutku keluarga adalah salah satu pondasi penting dalam hidup ini. Kondisi keluarga menentukan kepribadian kita. Keluarga yang harmonis akan membuat seluruh anggota keluarga merasa nyaman dan aman. Keluarga yang tidak harmonis akan merasa sebaliknya.

Keluarga juga tempat kita untuk berlindung. Jika kita punya masalah, kita bisa pulang dan membicarakannya pada keluarga kita. Dan bersama kita bisa mencari jalan keluar yang baik.

Itu arti penting keluarha menurut saya, Baek Sonsaengnim.”

“Kenangan terindah?”

“Saat saya kembali ke Korea. Saya bisa berkumpul bersama ayah, ibu, dan kakakku. Aku juga bisa berkumpul dengan sepupuku yang juga sahabatku. Begitu juga sahabatku yang lain. Hal terindah dalam keluargaku adalah saat semuanya berkumpul kembali dan berbincang dan bercanda bersama dirumah kami dengan kehangatan keluarga yang tak akan aku temukan ditempat lain.”

“Sungguh pemikiran yang diluar dugaan. Kebanyakan akan menjawab kemana mereka pergi bersenang-senang bersama keluarga mereka. Tapi kau, berbeda dari yang lainnya.”

“Gamsahamnida.” Ucapku sambil membungkuk singkat. Aku melirik kearah Kevin. Dia terlihat sedang memikirkan sesuatu.

“Pantas kau jadi ace disekolahmu yang dulu.” Tambahnya lagi. Aku hanya bisa tersenyum.

“Dan pantas Jinki memilihmu sebagai kekasih.” Ucap seseorang namja dikelas.

“Jinki?LeeJinkidari kelas 3-5?” tanya Baek sonsaengnim tak percaya.

“NE~” ucap sekelas kompak.

“Aniyo! Aku bukan yeojachingunya!” jelasku yang mungkin bisa dikatakan sia-sia.

“Lalu kenapa kau 1 meja saat dikantin?”

“Kenapa kau suap-suapan dengannya?”

“Aku melihatmu berduaan di perpustakaan.”

“Aku melihatmu kencan kemarin dengan Jinki di Kedai es krim milik Kevin.”

“Kalau belum mau jujur juga tak apa.” Ucap Baek sonsaengnim lalu tersenyum.

“Tapi aku benar-benar bukan yeojachingunya. Jinja!”

 

Ding… ding… ding…

 

Bel berbunyi jadilah penyangkalanku sia-sia. Aku teringat janjiku pada Jinki. Tapi aku tak tahu letaknya. Yang lain sudah keluar. Hanya tinggal aku,Kevin, dan beberapa yang lain. Aku mau bertanya padanya, tapi aku takut dia tak akan meresponku.

“Chogiyo!” akhirnya aku memberanikan diri buka suara. Dia tetap mengacuhkanku. “Kevin Woo” panggilku lagi. Dia melirik kearahku.

“Ruang musik, eoddie?” tanyaku langsung. Dia terlihat berpikir.

“Kau tahu tidak?” tanyaku bodoh. Tentu saja dia tahu. Diakan sudah lama sekolah disini. Dia terlihat berpikir.

“Aku bingung mau menjelaskannya. Semua klunya kaupun pasti tak tahu.”

“Wae? Cepat katakan! Jinki sudah menungguku.”

“Nanti kau bingung!” ujarnya sekali lagi

“Kau pikir aku bodoh?” ucapku mulai kesal

“Kajja, aku antar saja.” Ucapnya pada akhirnya. Setelah memasukan buku-bukuku aku mengikuti Kevin menuju ruang musik.

Ternyata benar, kalau aku akan bingung. Tempatnya belok-belok. Susah untuk dijelaskan. Setelah sampai, sudah banyak anak yang ada didepan ruang musik. Ada beberapa anak kelasku juga. Aku tak tahu kenapa mereka semua berkumpul ditempat itu.

Tanpa memerdulikan mereka, aku langsung masuk kedalam ruang musik. Jinki sedang duduk didepan grand piano hitam.

“Anyeong!” sapaku padanya. Dia menoleh kearahku lalu tersenyum. “Jadi mana lagunya?” tanyaku langsung basa-basi.

“kau memang tak berubah. Tak bisa basa-basi.” Ucapnya lalu langsung memainkan piano itu. lalu sebuah melodi indah terdengar dari piano itu. kemudian dia mulai bernyanyi

 

“i geon jinsimiya Baby neoro gadeukhan nae soke gaseume ne soneul daebwa dugoringgoel


meoritsoken ontong neoya sesang ane geottoldeon nal jichin nal salsu itge haejun neoya

 

hanchameul banghwang ggeute (honja) gyeondyeosseo neo eobsi (neo eobsi) ijeya naega chacheum pyeonghwarobge misoreul jitney


eodumeul judeon keoteun (meolri) geodeojun ne songil (ne songil) nunape nega bichwo seulpeum ddawin jiwojyeo

 

ajikggaji mothaejun geumal moki meyeo sikeunhan geumal nuguboda saranghae ojik neowa na nannana nannana nanna

i sungani haengbokhae jeongmal naege waseo gomawo jeongmal nareul da julhan saram ojik neowa na nannana nannana baro neo

geon butakiya Baby naega neomanui namjaro neul gyeote meomulsu itge soneul naemileo


naege jungyohangeon neoya ddeonalggabwa mobsi geobna neol motnwa eoddeohgedeun jikil geoya

 

keun donggwa joheun cha (naege) eobseodo manjokhae (manjokhae) teukbyeolhan neoui jonjaen geu mueotdo ganeumi andwae


neol algo mannan mankeum (jeomjeom) nan heumbbeok bbajyeotji (bbajyeotji) ggumggwotdeon jakeun gibbeum neoreul bomyeon geuryeojyeo

 

ajikggaji mothaejun geumal moki meyeo sikeunhan geumal nuguboda saranghae ojik neowa na nannana nannana nanna


i sungani haengbokhae jeongmal naege waseo gomawo jeongmal nareul da julhan saram ojik neowa na nannana nannana baro neo

 

gugyeojin somanghana pyeolchyeobonda geu soke neowa na geotgo isseo
neomu meoleotdeon nega dagawajul ddaemada nan nunmuli nan Yeah~

 

ajikggaji mothaejun geumal moki meyeo sikeunhan geumal nuguboda saranghae ojik neowa na nannana nannana nanna


i sungani haengbokhae jeongmal naege waseo gomawo jeongmal nareul da julhan saram ojik neowa na nannana nannana baro neo.”

 

permainannya selesai. Jujur aku terkesima liriknya yang dalam, melodinya yang indah, dan suara iandahnya. Aku sangat terkesima.

Aku juga tak menyangka dia bisa membuat lagu seindah ini. Jinki yang setahuku tidak pernah berniat jadi musisi, malah menciptakan lagu untuk wanita yang ia cintai. Aku yakin yeoja yang ia adalah yeoja yang beruntung.

Aku masih tenggelam dalam pertunjukannya tadi, hingga ia menyadarkanku. “Bagaimana lagunya?” tanyanya.

“Wow.” Ucapku. Aku tak bisa menemukan kata yang tepat untuk mewakilinya.

“Apa begitu hebatnya, hingga kau speechless seperti ini?” tanyanya kepedean. Aku hendak menjitak kepalanya tapi aku hanya bisa mengangguk begitu saja. Kulihat dia sangat kaget. Raut senang terlihat diwajahnya sekarang.

“Kau pulang sekarang?” tanyanya, aku mengangguk. “Ayo, sekalian saja.” Tawarnya. Aku hanya mengangguk lagi.

Kamipun keluar dari ruang musik. Anak-anak yang tadi ada didepan ruang musik masih berada disana. Kami tidak mengurusi mereka dan langsung menuju parkiran.

Tanpa Yonghee yang memang sudah pulang duluan, kami pulang dengan mobil BMW X3 hitam milik Jinki.

~

Namja itu sedih mendapati yeoja yang ia sukai itu membicarakan tentang kebersamaan keluarga yang sudah ia anggap tabu. Sebenarnya ia sedih, marah dan juga iri.

Saat yeoja itu mengajak ia berbicara sambil tersenyum, entah kenapa ia melupakan semua itu. dan mencoba mejadi lebih ramah.

Saat ia menanyakan sebuah tempat dan ada namja yang menunggunya, dadanya merasakan sesak lagi. Ia tak tahu perasaan apa ini.

Dan saat ia sudah mengantar yeoja itu dan namja lain menyanyikan lagu ciptaannya, rasanya ia ingin menangis dan menghajar namja yang sedang bermain piano itu. tapi untungnya dia pandai untuk mengatur emosinya

Saat ia simak baik-baik lagu itu. lirik yang menceritakan perasaan seseorang dengan gamblang diiringi dengan melodi yang idah, jujur ia ingin bertukar posisi dengan namja itu.

Dan saat mereka keluar dari ruangan itu dengan senyum indahnya, namja itu hanya bisa tersenyum samar melihat yeoja itu tersenyum.

Namja itu serta sahabatnya, dan yang lainnya memang sengaja menuggu mereka. Melihat apa yang mereka lakukan dan membuktikan tentang kenyataan yang sesungguhnya. Kemudian dia mengikuti yeoja itu dan melihatnya pergi begitu saja.

“Setelah melihat ini semua. Suap-suapan, membaca buku bersama, kekedai es krim berdua, pulang bersama dan terlebih love song barusan. Mengatakan kalau mereka itu tidak pacaran itu rasanya tidak mungkin, benar kan?”

Mendengar pernyataan itu, namja itu hanya bisa menggenggam tangannya kuat-kuat menahan rasa sakit didadanya, hingga akhirnya ia menyadari akan satu hal.

“Aku jatuh cinta pdanya, Cheondung-ah!”

~

 

Setelah mengantar aku pulang, aku tak tahu Jinki pergi kemana. Tak ada kabar darinya. Hingga tanpa sengaja otakku memikirkan Kevin lagi.

Aku teringat saat pertama kali aku bertemu dengannya. Aku sungguh-sungguh tak bisa melupakan senyumnya saat itu. senyum yang berhasil membuat jantungku berdetak cepat.

Anehnya, saat aku hanya memikirkannya saja, aku merasakan kebahagiaan yang belum pernah aku alami. Jantungku juga berdetak cepat tapi tak secepat waktu itu.

Aku memutuskan untuk pergi keumah Yonghee. Sekalian mencari tahu keberadaan Jinki. Sebelumnya aku sudah mengirim sms jadi dia sudah menunggu diluar.

“Onnie~ tumben pake sms? Dulu saja langsung masuk seperti rumah sendiri?” celotehnya.

“Dulu itu masih sd. Sekarang aku sudah sma kelas 3 harus sopan. Nanti kalau sudah sering, aku akan seperti dulu lagi.” Ujarku lalu terkekeh.

“Kau ini. Eonnie, mau lemon squash?” tawarnya.

“Perlu jawaban?” tanyaku balik. Dia sudah sangat mengenalku, lalu dia beranjak kedapur. Aku mengamati sekeliling. Interiornya tidak banyak berubah. Tak lama Yonghee datang dengan membawa segelas lemon squash dan jus strawbeery.

“Ini untukmu Onnie. Lemon squash  dengan setengah sendok gula.” Ujarnya bak pelayan. “gomapta”

“Jinki kemana?” tanyaku.

“Molla. Aku tak tahu apa yang ia kerjakan akhir-akhir ini. Katanya ini special.DasarOppamemang aneh!” ucapnya sambil ber-bbm ria dengan pacarnya. Saking asiknya sekitar 10 menit aku tidak dia ajak bicara.

“Yang asik pacaran, sahabat lama dilupakan.” Cibirku. Dia menoleh lalu terkekeh.

“Mianhae. Tapi jujur, satu hari tak bertemuYoseobieOppa, rasanya lebih lama dari pada tak bertemu Onnie selama ini.” Jawanya santai.

“Aish, kau ini! Artinya kau akan merindukan Yoseob yang 1 hari tak bertemu dari pada aku yang 5 TAHUN pergi?” jawabku pura-pura kesal dan memberi penekanan pada kata 5 tahun.

“Keuromyo!” jawabnya santai.  Segera kujitak kepalanya. “Aku tak akan merestui hubunganmu!” hardikku.

“Coba saja!” tantangnya. Aish. Ancamanku tak berguna lagi untuknya. Beberapa menit terlewat, Jinki sudah pulang.

“Kau habis dari mana?” tanyaku langsung.

“Ke suatu tempat.” Jawabnya singkat sambil menaruh tubuhnya disofa.

“Apa yang kau lakukan?”

“Melegakan perasaanku.” Aku hanya mengernyitkan dahi tanda tak mengerti. “Aku sudah menunjukannya lagu yang aku ciptakan.”

“Lagu apa, Oppa?” tanya Yonghee tak mengerti.

“Lagu yang aku ciptakan untuk yeoja yang aku sukai itu.” sedetik kemudian Yonghee melirik kearahku. “Apa reaksinya?”

“Speechless.”

“Jawabannya?”

“Aku tak tahu. Kurasa dia masih belum mengerti.” Jawabnya putus asa.

“Yeoja itu belum mengerti juga? Apa dia bodoh? Liriknya sudah menggambarkan perasaanmu dengan gamblang.” Seruku berapi-api. Yonghee hanya mengelus-elus punggungku prihatin.

Naega anyeong~ illa malhajima…

Segera kuangkat telepon dari omma.

“Yoboseoyo!”

“Nichan-ah, tolog kau belikan bahan masak, ya! Terserah bahan masak untuk memasak makanan apa saja!”

“Ne, omma!”

“Beli di mini market dekat sekolah saja. Omma dengar sedang ada promo.”

“Arraso.” Kututup teleponku.

Aku berpamitan dengan Jinki dan Yonghee. Jinki sebenarnya mau mengantarku, tapi aku tolak. Aku memutuskan untuk pergi sendiri.

Setelah selesai membeli bahan makanan, aku mampir kesekolah. Ku langkahkan kakiku menuju lapangan basket.

Seperti dugaanku, ada Kevin disana. Ada Cheondung juga. Aku berjalan mendekati mereka.

Kevin sedang bermain basket dengan ekspresi marah dan kecewa. Aku juga bisa melihat bekas air mata dipipinya. Dia tetap bermain basket dengan keadaan seperti itu. padahal sekarang sudah jam 7 malam.

Kulihat Cheondung yang berusaha menghentikan permainan Kevin. Semakin lama, yang aku lihat bukan mereka bermain 1 lawan 1. Justru Cheondung yang berusaha mengambil bola agar Kevin mau berhenti.

Aku berjalan lebih dekat. Ingin menanyakan alasan mengapa Cheondung melakukan hal itu dan merusak kesenangan Kevin. Tapi sesuatu menghentikan langkahku.

“KEVIN-AH‼ Jigeum keumanhae! Hentikan semua ini!” pintanya.

“SHIREO‼”

“Kau belum berhenti semenjak dia pergi. Kau butuh istirahat!” Cheondung mengatakan ini sambil memohon.

“Aku tak mau berhenti. Hanya dengan ini aku bisa bertemu dengannya!” serunya.

“Lupakan dia! Dia bukan milikmu!” katanya sambil menarik lengan Kevin.

“Tapi dia bilang dia bukan pacarnya!” ucap Kevin emosi. “dia BUKAN pacarnya!” serunya lagi sambil membanting bola.

“Kumohon, lupakan dia! Dia sudah punya kekasih.”

“Tapi aku jatuh cinta padanya!”

Advertisements