Tags

,

“Chan-ah! Apa kau sudah siap?”tanya umma dari bawah.

“Ne.”

“Kalau begitu cepatlah turun! Kita akan berangkat sebentar lagi!” akupun turun. Sebentar lagi aku akan meninggalkankotatempat aku dibesarkan. Aku harus kembali ke negara asalku,Korea.

Appa sudah sampai dibandara untuk chek in. dan kami menyusul. Saat dibandara ternyata pesawat yang kami tumpangi akan take off. Kami bergegas memasuki pesawat.

Pesawatpun lepas landas. Kulihat sekali lagi pemandangankotamelalui jendela. Selemat tinggal Jakarta. Lalupun aku terlelap tidur.

~

Seoul – 18.00 KST

Pesawat yang kami tumpangipun mendarat di bandara Incheon. Rencananya kami akan dijemput olehMinraOnnieyang memang tinggal diKorea.

Saat kami keluar dari pintu kedatangan, Minra Onnie datang bersama Hyunseung yang merupakan namjachingunya.

“Omma~ Appa~ Bogoshipo!” ucapya.

Hyunseung Oppa tersenyum ramah lalu membungkuk. “Anyeong, ahjuma, ahjussi. Bagaimana kabarnya?” Hyunseung Oppa bertanya ramah.

“Kabar baik. Minra tidak nakal,kan?” tanya omma. Hyunseung Oppa terkekeh. “Aniyo. Hanya sedikit keras kepala.” Kemudian kami pulang ke rumah. Sudah 5 tahun aku tidak kesini. selama liburanpun aku tidak berkunjung keKorea.

Aku merindukan semua yang ada di Korea. Aku juga merindukan teman bermainku dulu. Akhirnya sampai juga. Kulihat rumah yang ada disamping kanan rumahku. Sepi sekali. Apa mereka pergi?

Kami mulai memberesi barang. Hyunseung Oppa juga ikut membantu. Sekitar jam 9 malam semua sudah selesai dan berkumpul di ruang keluarga. Kami juga berbincang-bincang. Ternyata Hyunseung Oppa tidak berubah. Masih konyol, keras kepala, dan suka ngeyel. Sahabat baik berubah jadi pasangan kekasih.

Ah, aku mengantuk. Lelah sekali rasanya. “Yorobeun, aku mau tidur dulu, ya!” tanpa persetujuan aku masuk ke kamarku yang dilantai 2.

Esoknya aku terbangun. Hari ini hari sabtu. Aku mau jalan-jalan. Aku kangen sekali tempat ini. Diluar omma dan appa sedang sarapan.

“Pagi sayang!” sapa omma. Appa seperti biasa sedang membaca koran pagi.

“Pagi. Omma aku mau sarapan juga.” Kataku manja. Kemudian omma menyiapkan sarapan kesukaanku. Aku melihat sekeliling tapi tidak menemukan Minra Onnie. Dimana dia?

“eomma, dimanaMinraOnnie?” tanyaku. Kemudian eomma memberikan sarapanku. “Onniemu sudah berangkat ke kampus.”

Kemudian aku makan sarapan. Saat aku sedang bersiap-siap, ada tamu yang datang. Aku membukakan pintu. Aku terkejut melihat siapa yang datang.

“Yoseobie-ya! Bogoshipo!” ujarku lalu memeluk sahabat sekaligus sepupuku ini.

“Nado, Nichan-ah!” kemudian aku memeluk Yukyung ahjuma.

Yukyung ahjuma langsung pergi kedapur dan berbincang-bincang dengan bumonimku. Sementara aku dan Yoseob berbincang-bincang di ruang keluarga.

“Chan-ah, kenapa kau tak pernah berkunjung keKoreaselama diIndonesia?” tanya Yoseob manja.

“Guru-guru Jakarta itu kejam. Memberikan tugas yang banyaknya segunung! Aku sampai pusing mengerjakannya. Lagipula, kalau setiap liburan aku keKorea, bisa bangkrut bumonimku.” Jawabku sambil terkekeh.

“Tapi kami merindukanmu.”

“Nado.”

“Eh, bagaimana kalau kita pergi ketaman?” tawar Yoseob.

“Tamanyang dulu sering kita jadikan basecamp?” Yoseob mengangguk.

“Ayo!” kemudian kami berpamitan dengan bumonim masing-masing. Kami keluar rumah. Aku menengok rumah disebelah kanan kami.

“Apa mereka pindah? Kenapa sepi sekali?” tanyaku pada Yoseob.

“Mereka sedang keluar kota. Mungkin nanti siang baru pulang.” Aku mengangguk mengerti. Ternyata mereka tidak pindah.

Kemudian kami pergi ketaman. Kami duduk diayunan. Kami saling bercerita tentang apa saja yang kami lakuakan. Yoseob menceritakan keluh kesahnya saat berusaha belajar untuk ujian akhir. Dan usahanya agar diterima di Seoul University.

“Yoseobie-ya! Kau itu beruntung. Kau dilahirkan dengan wajah bayi dan tumbuh dewasa dengan wajah yang masih seperti anak kecil. Kalau orang stress wajahnya akan terihat tua.”

“Arrayo! Berarti aku akan awet muda. HAHA” ujarnya kepedean.

“Tapi akan aneh saat kau tua nanti. Bayangkan wajah keriput dengan  wajah muda akan terlihat aneh.” Setelah berkata itu Nichan berlari menghindari amukan Yoseob.

Kelelahan akhirnya mereka menyerah satu sama lain dan terkapar di taman. kemudian sebuah BMW X3 hitam berhenti didekat taman. keluar seorang namja dan yeoja dari mobil itu. dan mereka berdua lari ke arahku. Wajah mereka mengingatkanku pada sahabatku.

“NICHAN-AH‼”

“NICHAN ONNIE‼” teriak mereka. Ommo! Ternyata mereka sahabatku! Aku dan Yoseob berdiri. “Bogoshipo!” ucap mereka kompak. Kakak beradik ini selalu kompak. Lee Jinki dan Lee Yonghee.

“Nado!” ucapku  lalu memeluk mereka satu persatu. Kemudian kami duduk bersila dibawah pohon sama seperti dulu.

“Sudah lama, ya kita tidak duduk bersama seperti ini?” tanya Yonghee membuka percakapan. Kami semua mengangguk.

“Jadi apa saja yang kau lakukan selama tinggaldi Jakarta?”tanyaJinki.

“Aku melakukan hal yang biasa aku lakuakan. Hanya saja terasa berbeda karena tidak ada kalian.”

“Onnie, kau akan melanjutkan sekolah dimana?”

“Appa bilang, kalau aku akan bersekolah diSusangjaHigh School.”

“JINJA??” tanya mereka kompak.

“Ne. wae?”

“Itu sekolahku.” Ucap mereka kompak lagi. Mereka tidak berubah masih saja kompak.

“Kekompakan kalian tidak berubah, ya?”

“NEVER.” Jawab mereka kompak lagi sambil berpelukan. Apa mereka sudah latihan dirumah?KulirikYoseob. Dia memanyunkan bibirnya. Yonghee merangkul lengannya.

“Marah?” tanyanya. Yoseob menggeleng. Ah mereka ini. Selalu begitu. Mereka semua tidak berubah.

“Ah, kalian ini! Berhentilah bermesraan! Ayo kita makan es krim dikedai Woo’s saja!”

“Kedainya masih buka ya?” tanya ku. Padahal saat aku pergi kedai itu diambang kehancuran.

“Jangan, iri Jinki-ah! Makanya kau cepat yeoja incaranmu itu! dia sudah pulang,kan?”tanyaYoseob sambil tersenyum jahil. Sementara Jinki terlihat salah tingkah.

“Kau menyukai yeoja? Nuguya?” tanyaku.

“Ppaliwa! Nanti kedainya tutup!” elaknya.

“Yang ada kedainya belum buka!” jawabku. Dia tidak menjawab perkataanku dan langsung mempimpin jalan. Sementara Yoseob dan Yonghee berjalan beriringan sambil bergandeng tangan.

Aku ingin melaporkan ini pada Jinki. Dulu dia suka marah kalau ada namja yang mencoba mendekati adiknya. Tapi dia terlihat sedang sibuk dengan pikirannya. Jadilah aku hanya berjalan dibelakangnya.

Sekitar 10 menit berjalan, akhirnya kami tiba dikedai Woo ahjussi. Kami duduk ditempat yang dulu biasa kami tempati. Yaitu dipojok. Kemudian seorang pelayan datang membawakan buku menu.

Ternyata menu disini sudah semakin banyak. Dulu hanya ada 8 menu. Sekarang sudah sekitar 23 menu. Aku memesan seperti biasa. Es krim vanilla dengan toping strawberry.Danyang lain memesan yang dulu mereka biasa pesan.

Tak berapa lama pesanan kami datang. “Jalmokeshimnida!” seru Jinki dan Yonghee bersamaan. Mereka ini. Dimanapun tetap kompak. 15 menit berlalu. Semua es krim dimangkoku sudah berpindah keperutku.

Yonghee dan Yoseob kemudian bermain berdua. “Mereka dari tadi berdua terus, ya?” tanyaku retoris pada Jinki. Dia hanya mengangguk. “Biarkanlah mereka bersenang-senang! Maklum pasangan baru.” Jawabnya.

Pasangan? Apa maksudnya? Yonghee dan Yoseob berpacaran? Setahuku Yoseob memang menyukai Yonghee. Tapi tidak tahu dengan Yonghee. “Mereka berpacaran?” tanyaku.

“Terlalu lama tinggaldi Negaralain membuatmu tertinggal berita. Mereka itu pacaran!” tegasnya. Aish, Yoseob ini. Kenapa dia tak cerita padaku.

“Sudah berapa lama?”

“Sekitar 2 bulan.” Jawabnya sigkat. Aneh tumben dia sedikit ngomongnya. Tapi membicarakan soal hubungan aku jadi penasaran dengan yeoja yang disukai Jinki. Aku penasaran siapa yang bisa membuat hati Jinki luluh? Hatinya kan seperti batu dalam hubungan cinta.

“Jinki-ah! Siapa yeoja yang kau sukai itu?” tanyaku. Dia yang sedang makan es krim jadi tersedak.

“bukan siapa-siapa.”

“Apa aku kenal dengan orang itu?” dia hanya mengangguk. Pandangan matanya beralih pada Yoseob dan Yonghee. Ah, mereka terlihat bahagia.

“Enak kali, ya? Bisa bermain dengan pasangan kita?” tanyaku tak lebih pada diriku sendiri.

“Andai kita berdua bisa seperti itu.” kata seseorang lemah. Walau pelan, aku bisa mendengarnya dengan pasti. Dan aku yakin kalau itu berasal dari Jinki.

“Ne? Apa yang kau bilang tadi?” tanyaku memastikan.

“Apa?” tanyanya polos.

“Kau bilang tadi kita berdua?” tanyaku ragu. Dia mengangguk antusias sambil tersenyum.

“Maksudmu aku dan kamu…” ucapku menggantung karena tak tahu apa kata yang tepat. Jinki terlihat tersadar akan sesuatu. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kita berdua dengan pasangan masing-masing.” Jelasnya.

~

Keesokan harinya aku mengurus tentang sekolahku. Sekarang aku resmi menjadi siswi Susangja High School. Kemudian aku berkeliling melihat sekolah baruku ini.

Kemudian aku sampai di lapangan basket. Ada seseorang namja yang sedang bermain disana. Kuperhatikan dia, caranya mendribble bola, caranya lompat dan melakukan shoot. Tapi sayang aku tidak bisa melihat wajahnya.

Aku terus memeperhatikannya. Entah kenapa aku tidak ingin melepas sedetikpun pandanganku darinya. Sapai akhirnya pandangan kami bertemu. Aku tersenyum padanya. Dia juga membalas dengan senyuman manisnya.

DEG…

Melihat senyumnya, jantungku berdetak tak karuan. Aku suka cara dia memandang. Aku suka senyumya.

Naega anyeong~ illa malhajima

Hapeku berdering. Kuangkat segera telepon dari eomma.

“Yoboseo.”

“kau dimana sayang?”

“Aku sedang berkeliling melihat sekolahku. Wae?”

“Aniyo. Cepetlah pulang! Eomma sudah masakan makan siang kesukaanmu. Jinki dan Yonghee juga berkunjung.”

“Arraso.” Jawabku. Lalu memutuskan sambungan telepon. Kulihat namja yang sedari tadi kuperhatikan. Tak rela rasanya kalau aku harus pulang sekarang. Ya sudahlah, semoga besok aku bisa bertemu dia lagi.

Dengan berat kulangkahkan kakiku menjauhi lapangan basket. Dan kulangkahkan kakiku menuju rumahku.

~

Seorang namja sedang mendribble bola dan hendak melakukan shooting, namun ia langsung berhenti dan menatap yeoja yang sedang berjalan menjauh. Di pegangnya dada sebelah kiri. Dan merasakan detak jantung yang cepat, tepat saat yeoja itu tersenyum padanya.

Dia hanya tersenyum, namun sukses membuat jantungnya berdebar cepat. Namja itu hanya bisa tersenyum dan melanjutkan kembali aktifitasnya.

~

“Aku pulang!” seruku saat memasuki ruang tamu. Aku segera masuk ke ruang keluarga. Disana eomma sedang berbincang-bincang dengan Jinki dan Yonghee.

“Onnie, besok kita berangkat sekolah bersama, ya?” pintanya.

“Aku tidak bisa. Aku harus menemui kepala sekolah dulu sebelum masuk. Jadilah, aku harus berangkat lebih pagi.” Terangku. Wajahnya terlihat kecewa.

“Tapi aku janji besok lusa, kita berangkat bersama.” Janjiku. Dia terlihat senang. Dia mengangguk-anggukan kepalanya.

“Kau, dikelas mana, Nichan?” tanya Jinki.

“Mollayo.”

“Semoga kita sekelas. Kalau kau ditanya mau masuk kelas mana, bilang saja kelas 3-5”ujaranya semangat. Aku hanya bisa mengangguk.

“Eomma, pegopa!” kemudian kami makan siang bersama. Sayang Yoseob tidak bisa ikut. Dia harus mengurusi kuliahnya.

– –

Hari sudah malam dan sekarang aku sedang berbaring dikasurku. Tiba-tiba aku teringat akan namja tadi siang. Aku teringat senyumnya yang menawan. Ah cepatlah besok! Aku ingin menemuinya.

Kulihat jendela kamar Jinki melalui jendela kamarku. Lampunya masih menyala, artinya dia belum tidur.

“Jinki-ah!” seruku dari jendela. Tak lama kepala Jinki keluar dari jendela.

“Wae gurae?” tanyanya.

“Aniyo. Kau sedang apa?”

“Aku sedang belajar.”

“Tahun ajaran baru saja belum dimulai, Jinki-ah!”

“Aku sedang belajar membuat lagu, Chan-ah!”

“Lagu? Sejak kapan kau suka dengan musik? Jangan-jangan kau melakukan untuk yeoja yang kausukai, kan? Benar,kan?”

“A.. a.. ani.. aniyo.”

“Mengaku sajalah! Aku sudah kenal lama denganmu, Jinki-ah!” kataku sambil mengoyang-goyangkan telunjukku.

“Kudengar, dia suka dengan namja yang bersuara bagus. Setiap biasnya selalu orang yang berposisi sebagain lead / main vocal. Jadi aku ingin membuat lagu dengan menonjolkan suaraku.” Ucapnya malu-malu. Kenapa yeojanya mirip denganku? Suka namja bersuara dewa.

“JINKI-AH‼ cepat tidur! Sudah malam!” perintah seseorang. Aku menengok kearah pintu kamar Jinki.TernyataSunghyoOppa.

“Kalau begitu, aku tidur dulu, ya, Chan-ah! Jaljayo!” ucapnya kemudian menutup jendela kamarnya.

Aku kembali ketempat tidurku. Apa 5 tahun itu tidak membawa perubahan? Sunghyo Oppa juga masih seperti dulu. Sangat over-protective pada ketiga dongsaengnya. Dia sangat sayang pada keluarganya.

Kuambil iPod touch putih kesayanganku. Dan karena milikku satu-satunya. Kubuka playlistku. Kumainkan Let Not dari K.R.Y

Aku suka karakter suara Yesung Oppa. Suaranya bukan suara manusia. Beruntunglah kamu Oppa memiliki suara seindah malaikat. Aku sangat suka saat ia memberikan adlib / improvising.

Tak lama aku terlelap dalam tidurku. Ditemani dengan 3 suara namja yang sangat luar biasa indahnya.

– –

Aku sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah. Lalu kami sarapan dengan nasi goreng kimchi. Kemudian aku berangkat ke sekolah bersama appa.

Appa memberhentikan mobilnya didepan gerbang. Kemudian aku berjalan memasuki lapangan. Kutengokan kepalaku melihat lapangan basket. Aku ingin kesana tapi aku harus menemui kepala sekolah. Kuputuskan aku menemui kepala sekolah terlebih dahulu.

Ternyata aku masuk ke kelas 3-13. Sayang sekali aku tidak satu kelas dengan Jinki. Setelah melakukan beberapa wawancara kecil dan menandatangani beberapa surat, akhirnya aku diantarkan kekelasku.

Sekarang sudah jam 08.45 ternyata.Dansekarang sudah jam belajar. Aku berjalan dibelakang kepsek Cho. Setelah melewati 3 koridor akhirnya sampai juga dikelasku.

Kepsek Cho mengetuk pintu. Kemudian seorang Sunyeo membukakan pintu.

“Nam Sonsaengnim, ini adalah siswi baru.NamanyaParkNichan.” Ucapnya. Lalu aku membungkukkan badan 90 derajat. Kepsek Cho langsung pergi setelah aku berdiri tegap lagi.

“Well, kids. Kita kedatangan warga baru dikelas kita. Ayo, perkenalkan dirimu!”

“Anyeonghaseyo, yorobeun, naneun Park Nichan imnida. Bangapseumnida. Tolong kerja samanya.” Kataku diakhiri dengan membungkukan badan. Setelah itu aku melihat sekeliling ruangan.

Danapa yang kudapat? Aku sekelas dengan namja yang kemarin ku temui. Aku tersenyum padanya. Dia juga membalasnya. Senang rasanya bisa melihatnya tersenyum seperti itu.

“Nah, Nichan! Aku Nam Sukbin. Aku guru bahasa inggris sekaligus wali kelas disini. Jadi kalau kau mau bertanya sesuatu bisa kau tanyakan padaku.” Kata Nam sonsaengnim sambil tersenyum. “Or you can ask Kevin.” Tambahnya.

Lalu namja itu berdiri dan menganggukan kepalanya sekali. Oh, jadi namanya,Kevin? “Well, kau bisa duduk disebelah,Kevin.”

Dengan ragu aku menuju tempat duduku tepat disebelah Kevin. Entah kenapa aku jadi gugup.

Tapi aku berusaha keras masuk mengkontrol emosiku. Dan aku berhasil mengikuti pelajaran dengan baik.

Ding Ding Ding

2.5 jam sudah berlalu. Sekarang waktunya istirahat. Aku memberesi barangku. Aku menengok kearah kiriku. Kevin sedang mendengarkan musik dari iPodnya sambil membaca buku.

“Kau yang main basket kemarin, ya?” tanyaku mencoba basa basi. Dia menengok kearahku. Aku tersenyum. Lalu dia melepas satu earphonenya dan membalas senyumku lalu mengangguk.

“Apa kau ketua kelas disini?” dia menggeleng dan menunjuk yeoja yang sedang duduk di sudut kelas sambil menulis di jurnal kelas.

“Kau American-Korean, ya?” sekali lagi dia mengangguk. Kenapa dia tidak mau berbicara sih. Akukan mau mendengar suaranya.

“Park Nichan imnida!” kenalku padanya.

“KevinWoo.” Jawabnya dengan aksen amerika. Ah dia bermarga Woo. Suaranya juga lumayan.

“Korean?”

“Woo Sunghyun imnida.””

“PARK NICHAN‼” panggil saudara kompak itu. Aku menoleh kearah mereka. Jinki memanggilku dengan mingibaskan tangannya.

“Racemanalta Park then.” Kenalku dengan nama baratku. Kemudian aku berjalan mendekati 2 sahabatku itu. kemudian mereka mengajakku kekantin.

Keadaan kantinnya bagus, teratur, dan rapi. Aku memesan ayam barbeque dengan es jeruk. Kemudian aku membawa nampan makananku kemeja kosong.

KemudianYongheedatang dengan sate ikan dan jus strawberry. Tak lama Jinki datang dengan bulgogi dan es jeruk.

Kamipun makan bersama. Jinki melirik kearahku. “Chan-ah, itu menu apa? Menu baru ya?”

“Mana aku tahu ini menu baru atau tidak. Ayam barbeque. kau mau?” tanyaku sambil menyumpit potongan ayamku. Dia mengangguk antusias. Kemudian aku menyuapinya.

“Mashita!”

“Buatmu ayam selalu enak, Jinki-ah!” kataku dan kami semua tertawa kecil.

“Kau mau bulgogiku? Kau suka daging, kan?” tawar Jinki dengan menunjukan potongan daging yang terapit sumpitnya.

Aku membuka mulutku dan dia menyuapiku. Enaknya. “Gogi selalu enak buatmu!” ucap mereka berdua kompak. Aku hanya memanyunkan bibirmu.

“Senjata makan tuan ini namanya.” Kataku dan mereka berdua tertawa. Aku semakin memanyunkan bibirku.

“Mianhae!” seru mereka sambil mengatupkan tangan didepan dada mereka.

“Ini aku suapi. Kau suka dagingkan?”tanya Jinki. Aku mengangguk. Kemudian aku juga menyuapinya dengan ayam. Jadilah kami saling suap-meyuap.

“AH‼YoseobOppakesinilah! Kembailah SMA. Masa aku jadi pajangan disini?” ucapnya penuh dramatisasi.

“YA! Kau mau dia tidak lulus SMA, ya?” ucapku tak terima.

“Bukan begitu. Aku jadi tidak ada teman. Kalian mesra. Aku?”

“Telepon saja Yoseob!” saranku.

“Aku ingin melihat wajahnya.” Rengeknya.

“Adavideocall, Yongie-ya!” Jinki juga ikut menyarankan.

“Jangan panggil aku Yongie lagi! Aku mau memeluknya.” Rengeknya lagi. Aduh anak ini. Kebanyakan permintaan.

“Pulang sana! Pacaran terus. Tidak usah sekolah. Masa depan hancur.” Celetuk Jinki kejam.

“Oppa, kau jahat!” kata Yonghee hampir menangis. Jinki malah terlihat tak peduli. Akhirnya Yonghee memutuskan untuk melakukan video-call. Aku dan Jinki melanjutkan suap-suapan. Kami berempat juga bercanda melalui video-call.

~

Namja itu bahagia mendapati pemilik senyum itu dekat dengannya sekarang. Yeoja itu memberi beberapa pertanyaan, sayang namja itu takut bersuara, karena dia tak pernah dekat dengan yeoja sebelumnya.

Diikutinya yeoja itu hingga kekantin. Namja itu mengamati dari pintu kantin. Kemudian ada sesuatu yang membuat dadanya sesak. Hatinya seperti tertusuk ribuan benda tajam. Dan jantungnya serasa berhenti berdetak, saat melihat yeoja itu bermesraan dengan namja lain.

Walau hatinya sakit, dia tetap melihat pemandangan menyakitkan itu. Namja itu melihat bagaimana yeoja itu menyuapi namja yang ada disampingnya. Bagaimana dia memandang namja itu. hatinya semakin sakit.

Tapi dia ikut tersenyum, saat yeoja itu tersenyum dan tertawa bersama. Melihat senyumnya, membuat ia melupakan sakit dihatinya. Sekaligus membuat hatinya lebih sakit menyadari senyum itu bukan untuknya.

Namja itu pun memutusakan untuk pergi dari tempat itu. mencoba melupakan yeoja impiannya itu.

~

T.B.C

Advertisements